( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tersakiti, Memilih Untuk Menyakiti
8 Februari. Malam hari di rumah Oscar.
Oscar mengintip keluar jendela dari dalam rumahnya. Ia menggendong anjing kesayangan dalam diam, berupaya sebaik mungkin agar mereka yang turun membawa bencana tidak menyadari keberadaan mereka.
Saat itu, sang anjing yang dipeluk Oscar menoleh ke atas. Kebingungan naluriahnya aktif karena mendapati tuan yang menyayanginya saat ini tengah bergetar hebat sembari meneteskan air mata beberapa kali ke bulu lebatnya.
Monster bertangan empat dan bertubuh kekar di depan rumah Oscar kini sedang menginjak-injak halaman penuh bunga, dan terlihat sedang melakukan hal yang membuat Oscar meneteskan air matanya.
Ternyata, Oscar memiliki satu lagi anjing yang sangat disayanginya. Hewan itu sedang dipukul-pukul dan diinjak-injak di halaman bunga rumah Oscar.
Merasa tidak terima, naluri sang anjing yang berada di dekapan Oscar langsung aktif. Membuatnya marah dan membangkitkan rasa untuk melindungi. Sang anjing turun dari gendongan Oscar, lalu menggonggong keras lurus ke arah monster kekar yang tampak sedang asyik dengan mainannya itu.
Tentu saja si monster yang mendengar gonggongan dari dalam rumah itu tersenyum, karena tahu dirinya akan mendapat mainan baru yang masih segar dan belum rusak.
Oscar saat itu juga langsung menutup moncong anjing yang bersamanya dengan gelagapan, memohon agar si anjing dapat tenang. Namun, nasi telah menjadi bubur.
Si monster sudah di depan pintu. Oscar yang matanya kini tengah melotot memandangi bayangan di pintu itu langsung berlari memojok, memeluk erat anjingnya.
Brakk!
Monster yang tersenyum itu memukul pintu kayu rumah Oscar, secara instan menghancurkan gumpalan kayu murah itu dan menghampiri "mainan" barunya.
Sambil terkekeh kecil, monster itu menampar kepala Oscar hingga tak berdaya. Membuat tubuh pria itu lemas dan hanya bisa melihat anjingnya dilempar ke sana kemari di dalam rumah kayu sempitnya.
Pada klimaksnya, si monster membelah anjing itu menjadi dua di hadapan Oscar yang tak berdaya. Ia memasukkan seluruh tubuh anjing yang terbelah dua itu ke mulutnya sambil tersenyum dengan mulut penuh darah. Tepat di depan wajah Oscar, monster itu mengunyah-ngunyah makanannya.
Oscar tidak berdaya, namun dirinya tahu betul bahwa tidak ada lagi gunanya untuk hidup.
Ya Tuhan... Kenapa Engkau selalu merebut segalanya dari ku?
Pikiran itu berkali-kali terlintas di otak Oscar. Tubuhnya lemas, ia hanya tinggal menunggu giliran untuk menjadi mainan bagi si monster.
Tidak. Oscar tidak mau menjadi mainan. Lagipula, tidak ada artinya pula untuk melanjutkan hidup.
Oscar menajamkan matanya. Meskipun tubuhnya lemas, Oscar tetap memaksa badannya untuk bergerak, lalu mencakar wajah si monster dengan tangannya.
Dan secara ajaib, tangan Oscar mengeluarkan cahaya merah. Rasanya sedikit sakit, tapi si monster seketika berteriak-teriak dengan keras. Bagaimana mungkin cakaran lemah membuatnya begitu kesakitan?
Oscar memandangi tangannya yang bercahaya. Meskipun dihantam rasa penuh pertanyaan, dirinya sekarang hanya tahu satu hal. Kekuatan ini adalah berkah yang diberikan dari setan.
Oscar duduk di atas perut monster yang terjatuh dan meringkuk kesakitan itu. Ia mengarahkan tangannya ke arah kepala si monster, lalu melesatkan tangannya dengan cepat menembus kepala makhluk itu dan membuatnya tewas seketika.
Setelah si monster tidak lagi menunjukkan tanda-tanda pergerakan, Oscar berdiri dan berjalan menuju pekarangan bunga yang rusak. Ia memeluk salah satu dari dua anjingnya yang kini tubuhnya sedikit penyet terpijak-pijak oleh monster tadi.
Tangannya diarahkan ke bangkai anjing tersebut, dan cahaya merah darah bersinar kembali dari tangan Oscar. Saat itu, rasa sakit luar biasa dirasakan oleh Oscar dari tangannya yang bercahaya, dan bangkai anjing yang ia peluk seketika menghilang.
Namun, saat dirinya meninju-ninju tanah dengan tangannya yang bersinar, sebuah gundukan tanah muncul dari bawah tempat tertinjunya tanah tersebut.
Guk!
Guk!
Growrrr!!
Anjing yang tadinya dipeluk Oscar kini muncul dari gundukan itu. Bentuknya berbeda, seperti bangkai yang diberi nyawa dan hidup kembali, berlari-lari mengelilingi Oscar sembari menggonggong.
Di dunia yang sudah mulai tidak berwarna, hanya itulah satu-satunya hal yang membuat Oscar tersenyum.
Oscar mengangkat anjingnya itu dan berjalan menuju gelapnya hutan dengan peliharaan tersayang di pelukannya.
Di sisi lain, di sebuah desa miskin...
Pencurian dan pembunuhan adalah sahabat akrab penduduknya. Yang terkuatlah yang akan bertahan. Yang baik maka akan tertipu, yang jahat maka akan menipu. Siklus itu terus terjadi entah sudah berapa generasi di desa itu.
Saat siang hari pada tanggal 7, insiden langit terlihat dan penduduk desa itu kalang kabut berlarian ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Namun, sebelum insiden itu terjadi...
Seorang gadis memimpin sebuah geng anak muda yang tugasnya mencuri makanan untuk diberikan pada anak-anak yang lebih kecil yang tidak memiliki orang tua. Gadis itu menerima siapapun yang ingin bergabung dengan geng mereka. Anak muda bertugas mencuri, anak kecil bertugas membersihkan markas, dan sang pemimpin—atau yang biasa disebut Leona—tugasnya adalah mengatur kelompok dan mengawasi anak-anak muda yang berusaha mencuri makanan.
Geng kecil itu hidup bahagia meskipun mereka hidup dari hasil curian dan seringkali mendapat masalah luar biasa karena gaya hidup mereka.
Tapi tidak apa-apa, Leona si "kepala keluarga" akan menanggung itu semua dan berhasil mengatasi masalah tersebut di belakang anggotanya. Mereka tidak tahu pasti cara apa yang digunakan Leona untuk "membetulkan" masalah dengan penduduk yang tidak terima oleh kelakuan anggota-anggota Leona.
Hari ini, pada siang hari ini, para pria dewasa datang mengamuk dan berteriak-teriak memanggil Leona, sebelum akhirnya mendekati salah seorang anak kecil di markas mereka yang berada di bawah jembatan.
"Nak, di mana pemimpin grup busuk ini? Dia belum memberi kami 'jatah' untuk membayar masalah yang kalian sebabkan!"
Si anak menggeleng-gelengkan kepala karena tidak tahu pasti posisi Leona. Tetapi anak itu merogoh-rogoh sakunya, mengeluarkan uang-uang kecil sembari mengucapkan sesuatu dengan nada gemetar ketakutan.
"A- Aku tidak tahu Kak Leona a- ada di mana. Te- tetapi mung- mungkin ini cukup untuk menutupi sebagian ja- jatah anda."
Salah seorang pria tersenyum kecil sembari mengayunkan tangannya ke tangan anak yang menunjukkan uang kecilnya, membuat uang-uang receh itu terlempar ke mana-mana.
"Uang? Kami tidak butuh uangmu, Nak. Sekarang panggil ketuamu sebelum aku memukulimu dan menghancurkan tempat rongsokan ini!"
Pria-pria dewasa yang totalnya ada lima orang itu lalu tertawa terbahak-bahak, sebelum akhirnya dari kejauhan terdengar suara keras tanda perintah.
"Berhenti. Jangan sakiti anak itu. Sesuai perjanjian, aku akan memberi kalian 'jatah' masing-masing."
Ah! Sekarang si anak bisa tenang, karena sang ketua hebat yang bisa diandalkan sekarang ada di sini!
Leona menghampiri anak yang ketakutan itu.
"Apa kamu tidak apa-apa? Sekarang semuanya baik-baik saja. Aku ada di sini. Soal uang-uangmu... Nanti aku akan ganti, ya. :)"
Leona mengatakannya dengan senyum riang di depan anak itu.
Salah seorang pria botak yang menghempaskan uang tadi sekarang menaruh tangannya di pundak Leona.
"Kalau kamu tidak mau anak ini tersakiti, maka ayo kita pergi sekarang."
Leona dan kelima pria dewasa itu pun pergi meninggalkan markas. Wah, saat itu rasanya sangat melegakan bagi si anak kecil.
Aku ingin menjadi seperti Kak Leona yang selalu berdiri saat kami memiliki masalah. Lihat saja dia tadi, dapat membereskan masalah menakutkan sambil menenangkanku dan tersenyum. Dan aku juga mau punya uang sebanyak Kak Leona, dia dapat membayar jatah yang diminta pria-pria dewasa yang marah itu. Kira-kira uang sebanyak apa yah yang harus dikeluarkan Kak Leona?
Pikir anak itu, sembari terus tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Leona dan lima pria dewasa yang berjalan bersama menuju ke arah gang gelap yang entah di mana akhir dari tujuan mereka.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.