Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Lumpur Kelapa Gading
Herman menghentikan langkahnya di tepian tanggul tanah yang becek. Makelar properti itu berkali-kali menyeka lehernya yang basah oleh peluh dengan sapu tangan kusam. Sepatu pantofel kulitnya amblas sedalam mata kaki, terbenam dalam lumpur hitam Jakarta Utara yang berbau anyir garam bercampur sampah membusuk.
Di depan mereka, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan genangan air rawa keruh yang ditumbuhi tanaman eceng gondok liar. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma payau yang mencekik tenggorokan siang itu.
"Gue nggak paham sama jalan pikiran lu, Re," keluh Herman, meludah ke arah kubangan air di bawah kakinya. "Kita baru aja lepas dari bankir tua sekelas Pak Soegeng di Cikini. Gue pikir lu mau ajak gue balik ke Sudirman atau Menteng buat urus ruko digital lu itu. Kenapa kita malah terdampar di ujung dunia ini?"
Regan berdiri tegak di sebelah Herman. Kaos oblong kusamnya berkibar diterpa angin laut. Sepatu kanvas hasil jahitan ulangnya kotor penuh noda tanah pekat, namun sorot matanya tetap jernih dan tajam mengunci titik-titik koordinat rawa di depannya.
"Sudirman itu catur hari ini, Bang," jawab Regan pelan. Suaranya datar, tidak terpengaruh oleh panas matahari yang membakar kulit lehernya. "Lumpur Kelapa Gading ini catur kita buat lima tahun ke depan."
Herman mendengus, menarik sebatang rokok Dji Sam Soe dari saku kemejanya. "Mimpi lu ketinggian, Re. Lu lihat tuh di sebelah barat. Cuma ada barisan pohon kelapa sama gubuk pemulung. Tanah di sini labil parah. Fondasi bangunan bisa amblas ke dalam perut bumi kalau lu nekat bikin ruko."
Nara melangkah maju melewati gundukan tanah merah yang basah. Gadis itu memakai kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung rapi hingga siku. Tas ransel kanvasnya tampak menggembung berat oleh tumpukan berkas. Jari jemarinya aktif membolak-balik lembaran cetak biru peta tata ruang kota Jakarta Utara tahun sembilan puluh tiga yang ia pinjam dari perpustakaan pusat.
"Secara teknis, hitungan Herman ada benarnya, Re," kata Nara. Gadis itu menunjuk satu area luas di dalam petanya dengan ujung pensil kayu. "Ini zona rawa basah nomor empat puluh. Daya dukung tanahnya rendah sekali. Biaya buat pengurukan tanah dan pemasangan tiang pancang beton bisa membengkak tiga kali lipat dibanding daerah Pulo Gadung."
Regan menoleh ke arah Nara. Ada dorongan hangat di dadanya saat melihat keseriusan di wajah gadis itu. Nara tidak pernah sekadar ikut-ikutan. Gadis itu selalu datang membawa analisis hukum, angka riil, dan data lapangan. Nara mempersenjatai rencana gila Regan dengan kepalanya yang cerdas.
"Pulo Gadung itu masa lalu, Ra," balas Regan. Ia melangkah mendekati Nara, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wangi sabun mandi melati dari tubuh gadis itu tercium di antara bau anyir rawa. "Dua tahun dari sekarang, sekelompok taipan properti dari grup Summarecon bakal ketok palu di sini. Mereka bakal bangun klaster perumahan mewah paling eksklusif di Jakarta Utara."
Nara mendongak, alisnya bertaut rapat. "Lu dapet rumor dari mana lagi? Nggak ada catatan resmi di bappeda soal rencana perluasan pemukiman mewah di rawa ini."
"Gue membaca arah angin bisnis, Ra," Regan berbohong dengan ritme napas yang sangat teratur.
Otak tua di dalam tubuh remajanya sedang memindai ingatan masa depan yang utuh. Di garis waktu yang lama, kawasan Kelapa Gading ini berubah menjadi tambang emas properti setelah krisis moneter seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan. Saat pusat kota Jakarta membara oleh kerusuhan, kaum elit dan cukong Glodok akan memindahkan seluruh kapital mereka ke pemukiman mandiri yang keamanannya terisolasi ini. Harga lumpur dua puluh ribu per meter hari ini akan melesat menjadi puluhan juta rupiah.
"Eh, itu orangnya datang!" seru Herman tiba-tiba, menunjuk ke arah jalan setapak di ujung tanggul.
Seorang pria paruh baya berjalan terengah-engah menghampiri mereka. Pria itu memakai kemeja batik sutra yang motifnya sudah pudar dan sandal jepit plastik yang dilapisi lumpur kering. Di tangannya, ia memegang sebuah map jinjing plastik berwarna merah.
Pak Salim, sang makelar lokal daerah rawa Jakarta Utara.
"Aduh, Bos Herman!" sapa Salim dengan napas memburu, menyeka peluh di jidatnya dengan lengan baju. "Maaf ya gue telat. Jalannya becek banget habis hujan semalam. Ini lu beneran bawa pembeli yang mau lihat petak nomor empat puluh?"
Herman menunjuk Regan dengan ibu jarinya. "Ini rekan bisnis gue, Pak Salim. Mas Regan. Dia yang punya kuasa penuh soal dana."
Pak Salim menatap Regan dari ujung rambut hingga ujung sepatu kanvasnya yang lusuh. Detik berikutnya, senyum ramah di wajah makelar tua itu langsung berubah menjadi seringai meremehkan. Salim menaruh map merahnya di atas gundukan batu kali, lalu bersedekap dengan gestur tubuh yang merendahkan.
"Lu jangan becanda sama gue, Man," cibir Salim, tawanya terdengar sumbang mengalahkan suara desau angin laut. "Gue kira lu bawa cukong tekstil dari Tanah Abang atau pemilik toko emas dari pasar impres. Ini mah anak kuliahan yang masih bau matahari. Lu mau ajak dia berburu kodok rawa di sini, hah?"
Herman menarik kerah safarinya, wajahnya memerah karena tersinggung. "Pak Salim, jaga mulut lu ya! Mas Regan ini-"
Regan menyentuh bahu Herman perlahan, memberi isyarat agar makelar propertinya itu mundur satu langkah. Gestur Regan sangat rileks, namun aura dingin predator bisnis yang terbiasa mendikte dewan direksi swasta seketika menguar kuat dari sorot matanya.
Pak Salim reflek menghentikan tawanya. Bulu kuduk di leher makelar tua itu meremang tanpa alasan yang jelas saat matanya beradu langsung dengan pupil hitam Regan yang tenang hampir tidak wajar.
"Dua hektar di petak empat puluh," suara Regan mengalun rendah, berat, dan jernih memotong kebisingan angin rawa. "Pemilik aslinya namanya Pak Jaya. Suratnya masih berbentuk Girik letter C, belum naik ke Sertifikat Hak Milik karena dia nunggak pajak bumi dan bangunan selama lima tahun berturut-turut. Benar, Pak Salim?"
Seringai di wajah Pak Salim runtuh seketika. Bibir tuanya yang hitam akibat asap rokok mendadak kaku sekeras papan.
"L-lo... dari mana lo tahu nama Pak Jaya?" suara Salim turun drastis, kepanikannya bocor dari artikulasinya yang tergagap. "Itu berkas internal kelompok tani pasar ikan. Orang luar nggak ada yang pegang data itu."
"Pak Jaya butuh uang tunai lima ratus ribu rupiah sebelum senin besok buat biaya pernikahan anak perempuannya di kampung," lanjut Regan tanpa menaikkan nada suaranya seoktaf pun. Kalimatnya meluncur senada ketukan palu hakim. "Kalau dana itu nggak ada, rentenir pasar ikan bakal sita tanah rawa ini dengan harga cuma seratus ribu rupiah total keseluruhan. Lu sengaja mengulur waktu dari kemarin supaya Pak Jaya makin kejepit, kan?"
Nara menoleh cepat ke arah Pak Salim, matanya menyipit tajam penuh kecaman hukum. "Lu mau pakai taktik jegal harga buat ambil keuntungan komisi di atas penderitaan pemilik asli, Pak Salim? Itu namanya pemerasan bersyarat, melanggar pasal tiga ratus enam puluh delapan KUHP."
Pak Salim menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun dengan liar. Seluruh skenario busuk yang ia susun berhari-hari di warung kopi pelabuhan hancur berantakan ditelanjangi dalam waktu dua menit oleh anak belasan tahun.
"G-gue... gue cuma perantara kok, Neng, Mas," Salim tergagap hebat, egonya patah total dikuliti kenyataan. Tangannya gemetar saat meraih map plastik merah di atas batu kali dan menyodorkannya ke depan dada Regan. "Ini surat suratnya asli semua. Pak Jaya udah tanda tangan kosong di lembar penjualan bersyarat. Dia bilang asal ada duit tunai hari ini, tanah rawa ini lepas."
Regan tidak terburu-buru mengambil map itu. Ia menarik napas pelan, menikmati momen napas sesaat di tengah kesunyian rawa yang kini hanya menyisakan dengung suara nyamuk liar. Siklus dopamin di otaknya berputar sempurna. Papan catur Kelapa Gading ini sudah berada di bawah otoritas mutlaknya.
Nara mengambil map merah itu dengan gerakan cekatan. Ia memeriksa keaslian tanda tangan, segel kelurahan, dan batas-batas patok tanah rawa petak empat puluh.
"Suratnya bersih dari sengketa keluarga, Re," ucap Nara setelah melakukan pemeriksaan hukum yang presisi selama dua menit. "Nilai pajaknya yang mati cuma sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Kita bisa ikat tanda tangan Pak Jaya dengan jaminan pembayaran tunai bertahap."
"Bayar uang muka lima ratus ribu ke Pak Jaya siang ini juga, Ra," perintah Regan tenang. Ia merogoh saku celana jeansnya, mengeluarkan seikat uang pecahan lima puluh ribu gambar WR Supratman hasil bagi proyek seminarnya kemarin. "Bang Herman, lu ikut Pak Salim ke rumah Pak Jaya. Pastikan kuitansi pembayaran bermeterai enam ribu dari kantor pos kelar sebelum jam tiga sore."
Herman menyambar seikat uang itu dengan senyum lebar yang kembali mengembang di wajahnya. "Beres, Re! Gue pastiin penyerahan uangnya legal tanpa celah."
Pak Salim menatap lembaran uang tunai segar di tangan Herman dengan pandangan mata yang lapar sekaligus sarat akan rasa ngeri yang terselubung. Ia memandang Regan kembali dengan tubuh yang sedikit membungkuk hormat, kehilangan seluruh keangkuhannya yang rapuh tadi.
Makelar itu tertawa sampai matanya berkaca-kaca. "Beli tanah rawa? Siap tenggelam, Bos?" Regan menekan stempel. "Beli sekarang, jual sepuluh kali lipat lima tahun lagi."
Nara menutup buku catatannya dengan bunyi bantingan keras. Gadis itu menatap punggung Pak Salim dan Herman yang mulai berjalan menjauh menyusuri tanggul becek Kelapa Gading. Sinar matahari sore kini mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air rawa yang tenang.
Nara melirik Regan dari samping, menyeka anak rambutnya yang berantakan tertiup angin laut.
"Lu beneran dewa judi yang bisa melihat hari esok ya, Re?" tanya Nara pelan. Ada ketegangan romantis yang halus mengalir di sela kata-katanya. Dinding ketidakpercayaannya runtuh satu level lagi siang ini.
"Gue cuma pria yang nggak mau lu putus kuliah gara-gara urusan duit toko, Ra," balas Regan rendah, matanya menatap lurus ke dalam iris cokelat gadis itu.