NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Dalam hati aku benar-benar bingung. Siapa yang memanggil dan menarikku seperti itu? Aku ini murid baru, kan? Siapa yang mengenalku pada hari pertama masuk sekolah? Terlebih lagi, hal yang membuatku terkejut adalah sosok di hadapanku saat ini. Dia adalah ....

"Tunggu ... kamu ...." Aku terbata-bata, kesulitan menyuarakan apa yang ada di kepalaku saat menatapnya. Terlebih lagi, dia menatapku dengan ekspresi haru, seolah-olah kami adalah kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.

"Ternyata benar, kamu .... Kamu masih ingat aku, kan?!" tanyanya dengan suara yang terdengar agak serak.

"Maya ... kan ...?" jawabku ragu. Aku ragu bukan karena pangling dengan sosoknya, melainkan karena kejadian ini tidak pernah ada di kehidupanku yang sebelumnya.

"Benar ... ini aku, Maya Ayu ... Raka Aditya ...." jawabnya. Tubuhnya seketika bergetar hebat, sepertinya dia sedang sekuat tenaga menahan tangis.

Namun percuma, air matanya telanjur luruh begitu deras dari kedua matanya. Dia terlihat sangat sedih sekaligus sangat lega, membuatku tidak paham kenapa dia bisa se-emosional ini. Seingatku, aku tidak pernah bertemu dengan Maya saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) dulu. Lalu, kenapa tiba-tiba hal seperti ini bisa terjadi? Apa ini yang dinamakan improvisasi dari setiap perkembanganku?

"Kamu .... Kamu masih hidup ... Syukurlah ... Syukurlah kamu masih hidup ... Aku bersyukur kamu masih ada di dunia ini ...," ucapnya lirih dan terbata-bata. Aku tidak bisa berkata apa pun mendengar untaian kalimatnya.

Maya mengucurkan air mata begitu deras di depanku. Kalau diingat-ingat, dia juga menangis sederas ini ketika insiden kecelakaan itu terjadi—seolah-olah dia baru saja kehilangan seseorang yang teramat penting dalam hidupnya. Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat kenangan mengerikan itu lagi? Aku ... bingung.

Kami tidak bisa terus seperti ini di dekat kelas yang terisi penuh oleh siswa-siswi. Jadi, aku mengajaknya pindah ke tempat yang hanya akan ada aku dan Maya. Aku memilih atap sekolah karena di sana tidak akan ada banyak orang. Selain itu, kalau ada yang menguping, kami bisa segera memergokinya. Maya setuju dengan ideku, lalu kami berjalan bersama menuju atap sekolah.

Di rooftop, aku dan Maya berdiri saling berhadapan. Namun, aku tahu Maya masih kesulitan untuk berbicara karena dia masih sesenggukan.

"A ... aku minta maaf karena aku ceroboh waktu itu ...," celetuknya memecah keheningan.

"E-eh ... iya, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Jadi ... kamu juga datang dari tiga tahun yang lalu?" timpalku. Perlahan, Maya mengangkat kepala untuk menatapku.

"Raka ternyata masih menyimpan ingatan dari tiga tahun lalu, ya ...," jawabnya sambil menggenggam kedua tanganku. Aku tersentak ketika Maya dengan mudahnya menyentuhku seperti itu.

Bagiku, ini adalah kejadian yang sangat langka. Tangan cewek!!! Itu tangan cewek yang sedang menyentuh kedua tanganku!! Begitu ramping, mulus, dan lembut!! Ini sungguhan, kan? Aku kayaknya bakal mati tertabrak truk lagi sepulang sekolah. Sepertinya aku harus membeli jimat anti-tertabrak di jalan raya!

"Terima kasih ...," ucapnya. Aku kembali menatap wajahnya.

"Aku pasti sudah mati kalau bukan karena kamu ... Terima kasih banyak ...," ucap Maya melanjutkan kalimatnya. Aku masih tidak mengerti dan hanya bisa terdiam sembari terus menatap wajahnya.

Begitu mendengarnya berbicara, aku merasa kehangatan mengalir di hatiku. Namun, aku harus jujur padanya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kami. Aku melepaskan genggaman kedua tangan Maya, lalu menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku hanya tidak ingin dia salah paham dan mengira kalau aku tidak suka dengan tindakannya yang menggenggam tanganku tadi.

"Aku tidak bermaksud menolongmu ... tapi tak apa, ya. Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi ...," timpalku. Aku melihat Maya terkejut mendengar ucapanku.

"Maksudmu?" tanyanya.

"Bukan apa-apa," jawabku sambil tertawa kecil.

Ini bukan hal yang bisa kukatakan keras-keras kepadanya. Ini cuma tentang trauma pribadiku saja ketika melihatnya menangis begitu pilu dengan air mata yang berlinang seperti itu di hadapanku. Aku tidak ingin dia terus-menerus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Setidaknya, aku sudah mendengar ucapan "terima kasih" dari Maya selain kata "maaf", dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.

"Pokoknya aku bahagia karena Raka baik-baik saja, usahaku enggak percuma," celetuknya. Seketika aku menyadari kembali siapa aku dan Maya di dunia ini.

"Jadi, kamu yang membuat situasi ini terjadi?" tanyaku, sedikit menekannya.

"Iya ... ceritanya agak panjang. Apa kamu bersedia mendengarnya?" timpal Maya dengan senyuman. Aku mengangguk merespons pertanyaannya.

Sebenarnya, bolehkah aku mengatakan jika aku sudah menduganya? Setelah kecelakaan itu, aku yakin aku sudah meninggal dunia, dan Maya ingin sang penyelamatnya kembali dari kematian. Namun, kematian adalah hal yang pasti. Satu-satunya yang bisa dia lakukan waktu itu adalah berdoa kepada Tuhan. Dia juga menceritakan kalau keluarganya adalah orang-orang yang sangat percaya pada kekuatan sebuah harapan dan doa.

Meskipun sangat yakin kalau tidak bisa melakukan apa-apa, dia terus berdoa siang dan malam hingga akhirnya keajaiban terjadi. Maya terbangun tepat ketika kami harus mengikuti MPLS. Dia langsung sadar kalau dirinya telah ditarik kembali ke masa tiga tahun yang lalu, meski awalnya Maya juga sama terkejutnya sepertiku. Lalu untuk memastikannya, dia mencariku sampai ke kelas.

"Kurasa begitu ringkasnya, tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Aku saja belum sepenuhnya meyakini apa yang sudah terjadi. Aku cuma tidak menyangka ini akan benar-benar terjadi," ucapnya mengakhiri cerita.

Setelah mendengar semua perkataannya, sebenarnya banyak hal yang ingin kukeluhkan darinya. Namun, hal yang paling menggangguku saat ini adalah ....

"Seorang gadis yang percaya pada harapan dan doa, lalu semua terkabul dan kita ditarik ke tiga tahun yang lalu? Sebenarnya ini anime, manga, atau sebuah novel?" tanyaku heran.

"Jangan tanya aku, lah," jawabnya ketus.

"Iya juga, sih," timpalku.

Mendadak aku merasa ada hal konyol yang sedang terjadi. Sejenak jika kuingat detik-detik kematianku, ketika itu aku berharap direinkarnasi menuju dunia lain yang penuh sihir, kekuatan, serta kerajaan-kerajaan. Namun jika dipikir lagi, hal yang menimpaku saat ini malah terasa lebih masuk akal dibandingkan dengan apa yang kuharapkan. Yah, meski aku yakin akan kembali mendapatkan masalah setelah ini, setidaknya aku harus mengatakannya ....

"Umm ... hei ... yah, mau bagaimana lagi, tapi terima kasih ya ...," ucapku pada Maya. Dia pun terkejut mendengar perkataanku.

"Sa ... sama-sama ...," timpalnya. Lalu kami kembali terdiam dan saling tatap. Namun, momen itu tidak berlangsung lama karena kami tiba-tiba merasa malu dan langsung membuang muka ke arah lain.

Aku menyelamatkan nyawa Maya, lalu Maya menyelamatkan nyawaku. Aku rasa sekarang posisi kami impas, meski aku merasa agak geli kalau mengingat apa yang telah terjadi.

"Ngomong-ngomong, kenapa harus tiga tahun lalu? Kalau kamu enggak ingin aku mati, kenapa tidak sehari atau seminggu sebelum kejadian saja?" tanyaku memecah keheningan di antara kami. Dia pun mendadak menampakkan raut wajah kesal saat menatapku.

"Memangnya aku tahu? Tanya saja sana sama Tuhan!" jawabnya terdengar dongkol. Jujur saja, aku tidak akan sebingung ini kalau mendapat jawaban sesederhana itu, meskipun aku memahami apa yang coba Maya sampaikan padaku.

"Ah, iya! Bagaimana kalau kita kembali ke tempat kamu berdoa, lalu meminta agar kita dikembalikan ke tiga tahun ke depan?" Aku pun memberi ide agar kami tidak perlu mengulang apa yang sudah pernah kami lalui. Seketika, tatapan mata Maya bergerak ke mana-mana dan kehilangan fokus.

"Eeh ...," gumamnya.

"Kamu memangnya berdoa di mana? Mungkin kita bisa kembali kalau kita berdoa dengan tulus," tanyaku.

"Aaa ... haha ... itu ... yah .... Kurasa ada benarnya, tapi memangnya Tuhan mau mengabulkan harapan yang sama berulang-ulang? Menurutku, kita tidak bisa meminta sesuatu secara berulang-ulang seperti itu, sih ...," jawabnya terbata-bata. Dia terlihat jelas seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kok kamu seperti tahu jawaban Tuhan?" tanyaku menyindir. Suasana di antara kami menjadi agak aneh.

"Apa kamu akan mengalami kesulitan kalau kita kembali ke masa tiga tahun mendatang? Tapi pokoknya, bagaimana kalau kita datangi dulu tempat kamu berdoa, lalu kita coba berdoa di sana?" ucapku lagi dengan sedikit memaksa. Maya terlihat sangat keberatan sembari melipat kedua tangannya di dada.

"Ya, terserah deh," ucap Maya dengan helaan napas panjang. Setelah itu, kami berpisah sementara karena dia harus mengambil tas miliknya yang tertinggal di dalam kelas.

Aku sendiri berjalan menuju gerbang sekolah sambil terus berpikir; kenapa Maya seolah-olah sangat keberatan untuk kembali ke masa tiga tahun mendatang?

Tidak lama menunggu, setelah itu kami bersama-sama menuju ke sebuah tempat ibadah. Di sana Maya mengajakku masuk, lalu kami berhenti di depan sebuah makam yang entah makam siapa. Aku merasa agak ngeri ketika menyadari kami benar-benar mendatangi area pemakaman.

"Seriusan ...?" tanyaku ragu.

"Ya, begitulah ...," jawabnya, lalu dia berjongkok di depan makam itu.

"Lho, katanya mau ikutan berdoa ...," sindirnya kepadaku.

"Eeh ... ooh ... begitu ... Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku bingung.

"Aku sih cuma duduk di depannya sambil mengucapkan apa yang kuharapkan," jawabnya. Maya kemudian terlihat begitu serius memanjatkan permohonan di depan makam tersebut.

Aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Jujur saja, ini benar-benar membingungkan bagiku. Dalam hati aku berkata, “Kumohon kembalikan aku ke tiga tahun mendatang, dan akan lebih bagus lagi kalau aku diberi bakat menulis novel.” Begitu pintaku yang kuulang-ulang terus dalam hati.

Satu jam berlalu ....

"Uuugghh ... lututku sakit!! Kakiku rasanya mati rasa!" keluhku pada Maya setelah satu jam penuh berjongkok seperti ini. Pada saat yang bersamaan, aku mendengar Maya pun merintih kesakitan.

"Kan, sudah aku bilang, Tuhan enggak bakal mengabulkan permohonan yang sama secara berulang-ulang tahu~" keluhnya sambil berusaha meluruskan kaki. Aku pun bersusah payah meluruskan kakiku sendiri.

"Ya, tapi setidaknya kita tahu kalau berdoa dengan cara ini tidak mempan," ucapku padanya. Akhirnya aku berhasil berdiri, begitu juga dengan Maya.

"Tuh, kan, aku bilang juga apa. Aku yakin Tuhan hanya mau melakukannya sekali itu saja. Kamu saja yang keras kepala~" timpalnya. Aku bingung harus menanggapi apa karena bagiku fenomena ini memang sangat tidak masuk akal.

"Lagi pula, apa kamu yakin kalau berhasil kembali ke masa tiga tahun ke depan, kamu akan selamat?" tanya Maya padaku. Aku mengernyit bingung dengan pertanyaannya.

"Maksudmu?" tanyaku heran.

"Bukannya kamu mati karena tertabrak truk? Bisa jadi kamu dikembalikan tepat dua detik sebelum kecelakaan itu terjadi, kan? Lalu kamu mati sekali lagi, dan aku tidak bisa meminta Tuhan untuk mengembalikanmu lagi," jawab Maya tenang seolah hal itu bukanlah perkara berat untuk diucapkan. Aku sampai terdiam beberapa saat, menatap wajah polosnya ketika mengucapkan hal mengerikan itu.

"Ya sudah, aku menyerah! Maka mulai saat ini, aku, Raka Aditya, akan sekali lagi menuntaskan masa SMA walau menyebalkan!" seru ku penuh semangat sambil menatap langit cerah sore itu. Namun, Maya malah menatapku seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang menjijikkan.

"Tapi jujur saja, aku jadi merasa enggak enak hati mengingat kamu harus ikut terseret bersamaku ke masa ini," ucapku sambil kembali menatap wajahnya. Namun, sebuah senyuman manis justru kudapati darinya.

"Enggak usah dipikirkan. Semua orang pasti ingin menyelamatkan orang yang rela mati demi mereka. Sungguh, aku tidak menyesalinya," ucap Maya begitu tulus. Aku sampai terpesona melihat ketulusannya itu. Ditambah Maya memang sosok gadis cantik yang memesona...

"Su ... sungguh baik sekali hatimu ...," pujiku padanya.

"Yah ... bukan cuma itu sih alasannya ...," gumam Maya lirih. Dia kemudian berbalik dan berjalan hendak meninggalkan tempat itu.

"Ayo," ajaknya. Aku pun mengekor di sampingnya, berjalan beriringan.

"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita mengobrol secara normal, ya," ucap Maya memecah keheningan. Aku pun mengingat kembali kenangan yang pernah kulewati dulu.

Ucapan Maya benar. Ini adalah pertama kalinya kami mengobrol sedekat ini. Padahal, di kehidupan masa SMA-ku yang dulu, aku sempat dua tahun sekelas bersamanya. Rasanya aneh .... Aku sampai berhenti berjalan ketika memikirkannya, membuat Maya meninggalkanku beberapa langkah di depan.

"Untuk sekarang, sampai di sini dulu saja," celetuknya lalu berbalik untuk menatapku.

"Kamu dan aku masih punya banyak hal yang harus dibiasakan setelah kembali ke masa tiga tahun yang lalu. Pokoknya, kita berpencar dulu," ucap Maya meneruskan kalimatnya. Aku menghela napas sejenak.

"Baiklah, kamu juga sudah banyak membantu sejauh ini," timpalku. Maya tersenyum begitu manis, semakin menambah daya tariknya sebagai siswi terpopuler di sekolah.

Aku berharap dia tidak tersenyum seperti itu. Pertahanan hati seorang serigala penyendiri tidak akan kuat menahan pesona sedahsyat itu! Aku takut salah paham dalam mengartikan senyuman manisnya. Kalau sudah begitu, berabe, kan?

"Ya, karena kita adalah partner yang kembali dari tiga tahun lalu, bagaimana kalau kita saling berteman di WA?" pinta Maya sambil menyodorkan ponsel miliknya. Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang begitu serius ingin bertukar nomor WA bersamaku.

Dalam benak aku membatin, “Ooh, begini toh cara orang normal saling bertukar kontak WA.” Aku bahkan tidak tahu cara menambahkan teman di aplikasi tersebut. Jadi, aku meminta Maya untuk mengajariku. Maya tertawa geli mendengar pengakuanku bahwa aku tidak pernah menambahkan kontak siapa pun ke akun WA-ku. Meski begitu, dia tetap bersemangat mengajariku caranya sampai akhirnya kami resmi berteman di media sosial itu.

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!