Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Villa di Puncak
Villa Keluarga Pradipa berdiri di puncak bukit Puncak, dikelilingi hutan pinus dan kabut yang tidak pernah benar-benar hilang. Bangunan bergaya kolonial Belanda itu biasanya tampak damai—lampu kuning hangat, suara gemericik air mancur, dan penjagaan ketat yang nyaris tak terlihat.
Malam ini, semuanya berbeda.
Aditya dan Maya tiba dalam waktu 40 menit—rekor untuk rute yang biasanya memakan waktu satu setengah jam. Mobil SUV hitam mereka berhenti di gerbang utama yang sudah terbuka lebar. Tidak ada satpam. Hanya angin dan suara jangkrik.
"Terlalu sunyi," bisik Maya, satu tangan mencengkeram pistol, tangan satunya memegang senter taktis.
Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye. Pandangannya menembus gelap.
Area Terdeteksi: Villa Pradipa.
Status: Diserang 47 menit lalu.
Korban: 4 satpam (pingsan, bukan tewas).
Pelaku: 6 orang. 2 masih di dalam.
Alesha Putri Pradipa: Terdeteksi di ruang bawah tanah—tersembunyi di balik panel dinding.
"Dia bersembunyi di ruang bawah tanah," Aditya berbisik. "Masih hidup. Tapi dua penyerang masih di dalam."
"Dua?" Maya mengecek magasin pistolnya. "Aku bisa urus dua."
"Mereka kultivator. Levelnya mungkin lebih tinggi dari Jaka."
Maya menatapnya. "Kau bisa deteksi mereka?"
"Bisa. Tapi kita harus hati-hati. Skillku cuma bisa dipakai tiap lima menit."
Aditya menyentuh liontin di dadanya. "Aku akan masuk duluan. Kau tunggu isyarat."
"Kau gila? Kau bahkan tidak bawa senjata."
"Aku punya yang lebih baik dari senjata." Aditya memejamkan mata sejenak, merasakan energi di telapak kakinya. "Namanya kejutan."
---
Silent Step diaktifkan.
Aditya melangkah masuk ke villa. Langkahnya tidak bersuara—70% peredaman membuatnya seperti hantu. Lantai marmer di bawah kakinya tidak memantulkan bunyi. Udara di dalam villa berbau asap dan sesuatu yang metalik—darah? Bukan. Cairan dari alat pemadam yang meledak.
All-Seeing Eye memindai setiap sudut.
Lantai 1: Area Aman.
Lantai 2: Area Aman.
Ruang Bawah Tanah: 2 target terdeteksi.
· Target 1: "Kresna", Level Kultivasi 6 (Alam Bela Diri Tingkat Menengah). Kekuatan: 64. Kecepatan: 32. Skill: Pukulan Guntur.
· Target 2: "Nirmala", Level Kultivasi 5. Kekuatan: 28. Kecepatan: 51. Skill: Cakar Angin.
Aditya menelan ludah. Kresna level 6. Bahkan lebih tinggi dari Jaka. Dan Nirmala lebih cepat dari siapa pun yang pernah ia hadapi.
Ia menyusuri koridor menuju dapur—di sana, sebuah lemari besi besar menyembunyikan pintu menuju ruang bawah tanah. Panel dindingnya sudah terbuka. Alesha pintar—ia pasti masuk ke sana saat serangan dimulai.
Tangga batu menurun. Suara-suara terdengar dari bawah.
"Kau yakin dia di sini?" Suara pria—berat, penuh penekanan. Kresna.
"Dia masuk ke sini. Aku lihat sendiri." Suara wanita kali ini—ringan tapi dingin. Nirmala.
"Kalau dia tidak ketemu, Bos akan marah."
"Dia di sini. Bau parfumnya masih ada."
Aditya menurunkan tubuhnya. Silent Step masih aktif—15 detik tersisa. Ia harus cepat.
Di ujung tangga, ruang bawah tanah terhampar—sebuah ruangan luas dengan dinding batu dan lampu gantung tua. Di sudutnya, lemari arsip kuno dan peti kayu jati. Dan di balik lemari itu, sebuah pintu panel rahasia yang nyaris tak terlihat—tempat Alesha bersembunyi.
Kresna berdiri di tengah ruangan. Tubuhnya kekar, kedua lengannya berbalut pelindung logam hitam. Matanya menyipit, menyapu ruangan dengan tatapan predator.
Nirmala lebih kecil, lebih lincah. Rambutnya diikat ekor kuda, jari-jarinya dilapisi kuku palsu dari logam—Cakar Angin, menurut sistem.
"Panel itu," Kresna menunjuk dinding di belakang lemari. "Di sana. Aku dengar napas."
Aditya tidak bisa menunggu lebih lama.
Ia melompat keluar dari tangga dan berteriak: "HEI! KALIAN CARI AKU?!"
Kedua penyerang menoleh.
"SIAPA DIA?!" Nirmala menghilang—kecepatan 51 membuatnya seperti kilat.
Tapi Aditya sudah mengantisipasi.
"Maya, SEKARANG!"
Dari atas tangga, Maya muncul dan melepaskan tiga tembakan berturut-turut. Bukan ke arah penyerang—tapi ke lampu gantung di atas mereka.
Brak!
Lampu jatuh. Pecahan kristal dan percikan api menghujani ruangan. Kresna terlambat menghindar—punggungnya terkena sabetan logam panas. Nirmala, yang sedang melesat ke arah Aditya, terpaksa mengubah arah.
"KAU—!"
Aditya tidak membuang waktu. Ia melompati meja, mendorong lemari arsip dengan sekuat tenaga.
"BU ALESHA, KELUAR SEKARANG!"
Panel dinding terbuka. Alesha muncul—wajahnya pucat, rambutnya berantakan, tapi matanya masih setajam biasanya. Di tangannya, sebilah belati antik dengan ukiran matahari.
"Aku tidak akan mati bersembunyi," katanya dingin.