NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Semenjak kejadian Bima datang ke rumah bibinya, hidup Aira berubah menjadi semacam… sirkus kecil yang tidak lucu. Tidak ada dramatisasi berlebihan, hanya rutinitas aneh yang terus berulang setiap sore, seolah-olah seseorang di luar sana punya terlalu banyak waktu luang dan selera humor yang buruk.

Sore pertama, ketukan itu terdengar biasa saja.

“Paket!”

Aira yang saat itu sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh. Bibinya sedang di dapur, jadi dengan sedikit malas ia berjalan ke pintu. Begitu pintu dibuka, ia langsung disambut wajah yang sangat ia kenal—dan sangat ingin ia hindari.

Bima.

Dengan santainya, pria itu mengenakan jaket ojek online, lengkap dengan helm di tangan, seolah-olah ia benar-benar kurir sungguhan. Di tangannya ada satu kantong plastik kecil.

“Pesanan atas nama Aira,” katanya ringan, seakan ini hal paling normal di dunia.

Aira tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap, mencoba memastikan apakah ini mimpi buruk atau kenyataan yang harus ia hadapi.

Bima menyodorkan kantong itu.

Aira menerimanya dengan ragu, lalu membuka sedikit isi di dalamnya.

Makanan anak-anak.

Porsinya kecil, lengkap dengan sendok warna-warni dan kotak lucu bergambar karakter kartun.

Kesabarannya langsung runtuh.

Tanpa berpikir panjang, Aira melempar kantong itu kembali ke arah Bima.

“Apa maksudmu?!”

Bima hanya tersenyum, tidak tersinggung sedikit pun.

Namun sebelum Aira bisa melanjutkan amarahnya, suara bibinya terdengar dari dalam rumah.

“Aira? Siapa itu?”

Aira langsung menegang.

Bibinya muncul beberapa detik kemudian, melihat makanan yang hampir jatuh ke tanah.

“Aira! Jangan buang makanan!”

Aira terdiam. Ia ingin menjelaskan, tapi bagaimana menjelaskan kalau mantan pacarnya datang pura-pura jadi kurir dan memberinya makanan anak-anak?

Sementara itu, Bima dengan sopan mengangguk ke arah bibinya.

“Maaf, Bu. Ini pesanan.”

Bibinya langsung berubah ramah.

“Terima kasih tapi, kamu sedang kerja jadi kurir.”

"Lagi coba-coba Tante"

Aira hanya bisa menatap kosong, sementara Bima pergi dengan santai, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas mulia.

Ia berharap itu hanya kejadian sekali.

Harapan yang terlalu optimis.

Keesokan harinya, sore yang sama, ketukan yang sama.

“Paket!”

Aira bahkan tidak ingin membuka pintu. Namun bibinya memanggil dari dapur.

“Aira, tolong lihat itu!”

Dengan langkah berat, ia membuka pintu.

Dan tentu saja.

Bima lagi.

Hari ini ia membawa sesuatu yang berbeda.

Susu peninggi badan.

Aira menatap botol itu, lalu menatap Bima dengan ekspresi yang lebih dingin dari biasanya.

“Serius?”

“Bagus untuk pertumbuhan,” jawab Bima santai.

Aira menghembuskan napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak melempar sesuatu lagi dan kena omelan kedua kalinya.

Ia menutup pintu tanpa berkata apa-apa.

Hari berikutnya, variasinya semakin kreatif.

Makanan anak-anak lagi, kali ini dengan bonus mainan karakter kartun kecil di dalamnya.

Bima bahkan dengan bangga menunjukkannya.

“Ada hadiah di dalamnya.”

Aira merasa sesuatu di dalam dirinya hampir meledak.

Hari demi hari, kejadian itu terus berulang.

Sore hari menjadi waktu yang paling ia benci.

Ketukan pintu bukan lagi sekadar suara biasa, tapi semacam alarm mental yang membuatnya tegang bahkan sebelum ia membukanya.

Dan yang paling membuatnya frustrasi, ia tidak bisa benar-benar melampiaskan kemarahannya. Bibinya selalu ada. Dan setiap kali ia mencoba menolak, ia yang justru dimarahi.

Pada akhirnya, kelelahan itu bukan lagi fisik.

Tapi mental.

---

Hari itu, Aira pergi keluar untuk menenangkan diri.

Ia berjalan tanpa arah beberapa saat, lalu berhenti di depan sebuah kafe. Tanpa berpikir panjang, ia masuk.

Ia butuh tempat netral.

Tempat tanpa Bima.

Ia duduk di salah satu sudut, memesan minuman, lalu langsung menghubungi dua orang yang paling ia percaya.

Ayunda dan Desi.

“Aku butuh kalian. Sekarang.”

Pesan itu singkat, tapi cukup jelas.

Sambil menunggu, Aira menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap kosong ke depan. Pikirannya mulai berputar, tanpa ia sadari kembali ke masa lalu.

Masa SMA.

Saat Bima masih menjadi gangguan konstan dalam hidupnya.

Saat ia hanya ingin belajar dengan tenang di perpustakaan, tapi selalu ada seseorang yang sengaja mencari perhatian.

Bima yang menjahilinya.

Bima yang mengganggunya.

Bima yang, entah bagaimana, selalu berhasil membuatnya kesal… dan tersenyum di saat yang sama.

Ia mengingat bagaimana dirinya yang pendiam perlahan berubah. Bagaimana ia mulai terbiasa dengan kehadiran Bima. Bagaimana tawa kecil yang dulu terasa asing, mulai menjadi hal yang sering muncul.

Dan tanpa ia sadari, itu juga yang membuatnya jatuh cinta.

Aira membuka matanya tiba-tiba.

Seolah tersadar dari sesuatu yang tidak seharusnya ia ingat.

“Apa yang aku pikirkan…”

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Lupakan. Lupakan.”

Ia menggeleng pelan, berusaha menghapus ingatan itu.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mendekat.

“Aira!”

Ia langsung menurunkan tangannya.

Ayunda dan Desi berdiri di depannya.

Aira segera memasang ekspresi normal, menyembunyikan sisa kepanikan yang masih tertinggal.

“Kalian cepat juga.”

Ayunda duduk sambil menatapnya curiga.

“Tumben ngajak keluar. Biasanya kamu di rumah terus.”

Desi ikut duduk.

“Ada masalah?”

Aira menarik napas dalam-dalam.

Ia tahu, kalau tidak dikeluarkan, semua ini hanya akan semakin menumpuk.

“Aku… diganggu.”

Ayunda langsung tertarik.

“Diganggu? Siapa?”

Aira menatap mereka bergantian, lalu berkata pelan.

“Bima.”

Hening sejenak.

Lalu—

Ayunda tertawa.

Desi menyusul.

Keduanya tertawa cukup keras sampai menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

Aira menatap mereka dengan wajah kesal.

“Aku serius!”

Ayunda mencoba menahan tawanya, tapi masih gagal sepenuhnya.

“Maaf, maaf… tapi ini lucu.”

“Tidak lucu!” balas Aira cepat.

Desi mengusap air matanya.

“Terus dia ngapain?”

Aira mulai bercerita.

Tentang setiap sore.

Tentang ketukan pintu.

Tentang makanan anak-anak.

Tentang susu peninggi badan.

Tentang semua hal absurd yang terjadi beberapa hari terakhir.

Semakin ia bercerita, semakin Ayunda dan Desi kesulitan menahan tawa mereka.

“Astaga…” kata Ayunda sambil menggeleng. “Bos kita itu niat banget.”

“Ini bukan niat, ini gangguan!” potong Aira.

Desi masih tersenyum.

“Aku setuju sama Ayunda. Ini bukan sekadar iseng. Dia cari perhatian.”

Aira langsung menggeleng keras.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?” tanya Ayunda.

“Dia itu… dia itu…” Aira berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Dia itu atasan. Dan menyebalkan.”

Ayunda tersenyum tipis.

“Dua hal itu tidak saling bertentangan.”

Pelayan datang membawa pesanan mereka.

“Ice coffee untuk Mbak Ayunda, milkshake untuk Mbak Desi…”

Aira tidak terlalu memperhatikan wajah pelayan itu. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Lalu pelayan itu meletakkan satu gelas lagi di depannya.

“Susu hangat untuk adik kecil.”

Nada suara itu.

Aira membeku.

Pelan-pelan ia mengangkat pandangannya.

Dan kali ini bukan hanya wajahnya.

Bibir itu.

Senyum tipis yang terlalu ia kenal.

Ia langsung mengenalinya tanpa perlu memastikan lagi.

Bima.

Seragam pelayan kafe, nampak terlalu pas untuknya. Senyum santai yang sama, seolah-olah dunia ini memang miliknya untuk dijadikan bahan hiburan.

“Apa… kamu… lakukan di sini?” suara Aira terdengar seperti menahan ledakan.

Ayunda dan Desi langsung menutup mulut, berusaha tidak tertawa lagi.

Bima sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Kerja.”

Aira berdiri setengah.

“Jangan bohong!”

Bima mengangkat bahu.

“Sungguh. Part-time.”

Aira hampir kehilangan kendali.

“Kamu menguntit aku!”

Beberapa pengunjung mulai melirik.

Bima dengan santai berkata pelan, cukup untuk mereka dengar.

“Adek kecil tidak boleh ribut. Nanti dimarahi om pemilik kafe.”

Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke api.

Ayunda dan Desi langsung tertawa lagi, kali ini lebih parah.

Aira ingin menghilang dari tempat itu.

Benar-benar menghilang.

Bima kemudian duduk di sebelahnya tanpa izin.

Aira langsung bergeser.

“Pergi.”

“Tidak.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Bima dengan santai mengelus rambut Aira, gerakan yang terlalu akrab untuk situasi seperti ini.

Aira menegang.

Ayunda dan Desi saling pandang.

Ekspresi mereka berubah.

Bukan lagi sekadar hiburan.

Ada sesuatu yang lain.

“Kamu ini sebenarnya mau apa?” tanya Aira dengan nada lebih rendah.

Bima tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil.

“Aku bilang, kan. Kerja.”

Aira menatapnya tajam.

“Berhenti.”

“Kalau aku tidak mau?”

Aira menghela napas panjang.

Kesabarannya benar-benar di ujung.

Bima kemudian menoleh ke Ayunda dan Desi.

“Kalau aku traktir camilan, boleh duduk di sini?”

Ayunda langsung menjawab cepat.

“Boleh.”

Desi mengangguk.

Aira menatap mereka berdua dengan tidak percaya.

“Kalian serius?!”

“Gratis itu sulit ditolak.”

Bima tersenyum puas.

Dan Aira, di tengah semua itu, hanya bisa menatap gelas susu hangat di depannya.

Seolah-olah itu simbol dari semua kekacauan yang sekarang ia hadapi.

Dan yang paling mengganggu bukanlah tingkah Bima.

Tapi fakta bahwa, jauh di dalam pikirannya, ada bagian kecil yang… tidak sepenuhnya ingin ini berhenti.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!