NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Penyangkalan

Lift di belakang mereka tertutup kembali dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar, seolah tidak ingin mengganggu apa pun yang sedang terjadi di lorong itu. Tidak ada yang bergerak setelahnya, tidak ada langkah yang berlanjut, hanya keheningan yang perlahan menekan dari segala arah. Orang-orang masih lalu lalang di kejauhan, suara roda troli sesekali melintas, namun semua itu terasa jauh, seperti berada di dunia yang berbeda dari titik tempat mereka berdiri sekarang.

Zayden masih memegang pergelangan tangan Elvara, genggamannya tidak keras, namun cukup untuk memastikan wanita itu tidak akan melangkah lebih jauh. Sentuhan itu terasa nyata, hangat, dan tidak memberi ruang untuk diabaikan begitu saja. Elvara menatapnya beberapa detik tanpa bicara, napasnya masih belum sepenuhnya stabil, dan detak jantungnya terasa terlalu cepat untuk situasi yang harusnya ia kendalikan.

Ia menarik napas lebih dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri, mencoba mengembalikan kontrol yang hampir lepas dari tangannya. Ia tahu ia tidak boleh runtuh di sini, tidak di depan pria yang sudah melihat terlalu banyak hal yang seharusnya tetap tersembunyi. Perlahan ia mengangkat dagu, memaksa dirinya untuk tetap tegak meskipun tekanan di sekitarnya semakin terasa.

"Apa yang kamu katakan tadi terlalu jauh."

Suaranya akhirnya keluar, tidak sekuat biasanya, namun cukup jelas untuk terdengar tanpa keraguan. Ada jeda kecil setelah kalimat itu, seolah ia sendiri memastikan bahwa kata-katanya tidak goyah di tengah situasi yang semakin sulit. Zayden tidak langsung menjawab, tatapannya tetap pada wajah Elvara, tidak berpindah sedikit pun, seolah ia sedang membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

Elvara mempertahankan posisinya, berusaha terlihat tenang meskipun di dalam dirinya semua terasa berantakan. Ia tidak boleh terlihat ragu, tidak boleh memberi celah sekecil apa pun. Ia tahu satu kesalahan kecil saja bisa membuat semuanya runtuh.

"Rheon bukan anakmu."

Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan, seolah jika ia menahannya lebih lama, ia tidak akan sanggup mengatakannya sama sekali. Nada suaranya terdengar lebih tegas di akhir, namun ada sesuatu yang tidak sepenuhnya utuh di dalamnya. Zayden tetap diam, tidak ada perubahan ekspresi yang jelas, dan justru itulah yang membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

"Kamu terlalu jauh berasumsi."

Elvara melanjutkan, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun tenggorokannya terasa kering. Ia tidak memberi jeda terlalu lama, karena ia tahu jika ia berhenti berpikir terlalu lama, keraguannya akan terlihat. "Mungkin kamu melihat kemiripan, mungkin kamu merasa ada yang cocok, tapi itu tidak berarti apa pun."

Ia berhenti sejenak, menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya, sebelum akhirnya melanjutkan dengan lebih pelan.

"Itu hanya kebetulan."

Kata itu kembali diucapkan, namun kali ini terdengar lebih lemah dari sebelumnya, seolah bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya percaya pada apa yang ia katakan. Zayden masih tidak berbicara, ia hanya menatap lebih lama, lebih dalam, seolah tidak melewatkan satu detail pun dari reaksi di depannya.

Keheningan itu menjadi masalah.

Karena semakin lama ia diam, semakin sulit bagi Elvara untuk bertahan.

Ia mengalihkan pandangan sejenak, hanya sepersekian detik, namun cukup untuk terlihat. Dan Zayden melihatnya, melihat cara matanya menghindar, melihat perubahan kecil pada napasnya, melihat bagaimana kata-kata yang diucapkan tidak sejalan dengan apa yang terpancar.

Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya berbicara lagi.

"Bilang lagi."

Suara itu rendah dan tenang, namun membawa tekanan yang tidak bisa diabaikan. Elvara langsung menoleh kembali, sedikit terkejut dengan permintaan itu, meskipun ia tahu ke arah mana ini akan berjalan.

"Apa."

"Katakan lagi."

Tatapan Zayden tidak bergeser sedikit pun, tetap terkunci pada wajahnya. "Bahwa dia bukan anakku."

Elvara membeku sesaat, menyadari apa yang sedang dilakukan pria itu, menyadari bahwa ini bukan sekadar meminta jawaban. Ini ujian, ujian tentang seberapa jauh ia bisa mempertahankan kebohongan yang mulai retak.

Ia menggenggam tasnya lebih erat, mencoba menahan getaran di tangannya.

"Rheon bukan anakmu."

Ia mengulang, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, namun tidak lebih meyakinkan. Kalimat itu terdengar sama, tetapi kekuatannya tidak lagi utuh seperti sebelumnya.

Zayden mengangguk kecil, seolah menerima, namun matanya mengatakan hal yang berbeda. Ia melangkah sedikit lebih dekat, hanya satu langkah, namun cukup untuk menghapus hampir seluruh jarak yang tersisa di antara mereka.

"Kamu tidak pandai berbohong."

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, datar, namun langsung mengenai tepat di tempat yang tidak ingin disentuh. Elvara menatapnya tajam, mencoba mempertahankan apa yang tersisa dari keyakinannya.

"Aku tidak berbohong."

"Kalau begitu lihat aku."

Perintah itu sederhana, namun sulit untuk dilakukan. Ada jeda kecil sebelum Elvara akhirnya mengangkat wajahnya, memaksa dirinya untuk menatap langsung ke mata Zayden tanpa menghindar lagi.

Dan di situlah semuanya terlihat.

Ketegangan yang tidak bisa disembunyikan, ketakutan yang berusaha ditekan, dan sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri. Zayden tidak berkedip, tidak butuh waktu lama, karena jawabannya sudah ada di sana tanpa perlu diucapkan.

Ia tertawa kecil, sangat pelan, hampir seperti hembusan napas, namun cukup untuk membuat suasana semakin berat.

"Aku sudah bilang."

Ia menggeleng sedikit, tatapannya tidak berubah.

"Kamu tidak pandai berbohong."

Elvara mencoba menarik tangannya, namun kali ini Zayden tidak langsung melepas. Genggamannya sedikit menguat, bukan untuk menyakiti, tetapi cukup untuk menahan.

"Kalau itu tidak benar, kamu tidak akan seperti ini."

Nada suaranya tetap datar, namun setiap kata terasa pasti, tidak memberi ruang untuk dibantah. Elvara mencoba mengendalikan dirinya, menarik napas perlahan meskipun dadanya terasa sempit.

"Kamu membaca terlalu jauh."

"Kalau hanya satu hal, mungkin."

Zayden menatapnya lebih dalam, tidak terburu, tidak tergesa. "Kalau dua, masih bisa disebut kebetulan."

Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang justru membuat kata berikutnya terasa lebih berat.

"Tapi ini terlalu banyak."

Jantung Elvara terasa seperti dihantam, karena ia tahu apa saja yang dimaksud tanpa perlu dijelaskan lagi. Tanggal, wajah, golongan darah, dan cara Rheon tanpa ragu menggenggam tangan pria ini, semua itu muncul bersamaan di pikirannya.

Ia menggeleng pelan, seolah itu bisa menghapus semuanya.

"Itu tetap tidak membuktikan apa pun."

Kalimat itu keluar, namun bahkan ia sendiri bisa mendengar keraguan di dalamnya. Zayden tidak marah, tidak meninggikan suara, namun tatapannya berubah sedikit, menjadi lebih dingin.

"Kalau kamu ingin aku percaya, kamu harus lebih meyakinkan dari itu."

Elvara terdiam, kehabisan kata, karena semua yang ia siapkan terasa tidak cukup di hadapan keyakinan yang sudah terbentuk. Zayden akhirnya melepaskan tangannya, namun ia tidak mundur, tetap berdiri di sana, menutup jalan yang ingin ia ambil.

"Kenapa."

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba, berbeda dari sebelumnya, tidak menekan, tetapi lebih dalam. Elvara menatapnya, tidak langsung menjawab, karena jawabannya terlalu banyak dan tidak ada yang mudah untuk diucapkan.

"Kenapa kamu tetap menyangkal."

Ia tetap diam, dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Zayden mengamati wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"Kamu boleh bilang apa saja."

Nada suaranya kembali tenang, tetapi kini lebih pasti. "Kamu boleh menyangkal."

Ia sedikit menunduk, menyamakan tinggi pandangan sekali lagi.

"Namun matamu tidak bisa berbohong."

Kalimat itu jatuh pelan, namun terasa seperti sesuatu yang tidak bisa dibantah. Elvara tidak bergerak, tidak bisa, karena ia tahu apa pun yang ia katakan setelah ini tidak akan mengubah apa yang sudah dilihat pria itu.

Zayden berdiri tegak kembali, tatapannya tidak lagi mencari, karena ia sudah menemukan.

"Kalau kamu belum siap mengakuinya."

Ia berhenti sejenak, memberi jeda singkat.

"Aku akan menunggu."

Elvara menelan pelan, namun napasnya kembali tertahan saat kalimat berikutnya keluar.

"Tapi jangan harap aku akan berhenti."

Tidak ada ancaman yang diucapkan secara langsung, namun maknanya jelas dan tidak bisa disalahartikan. Zayden sudah sampai di titik di mana ia tidak akan mundur lagi, sementara Elvara berdiri di tempat yang sama, menyadari bahwa kebohongan yang ia pegang mulai retak sedikit demi sedikit, dan kali ini ia tidak yakin bisa menahannya lebih lama.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!