Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
TRAAANG!!!
Getaran dahsyat dari cangkul yang menghantam tanah mengguncang seluruh tulang mereka. Debu tanah bercampur butiran merah berterbangan, menyerbu hidung dan mata. Petani tua itu menjerit, bukan suara manusia, tapi raungan panjang yang bergema seperti guntur yang pecah tepat di atas kepala. Tubuhnya membesar, memanjang, kulit keriputnya robek memperlihatkan daging hitam yang berdenyut, dan matanya menyala merah membara seperti dua bola api. Entitas yang tidak asing, makhluk raksasa yang pertama kali dilihat ketika awal bencana yang muncul pasca penebangan pohon.
Itu bukan manusia. Itu adalah penghuni asli tempat ini. Penjaga yang ditakdirkan untuk menyiksa dan memakan jiwa-jiwa yang tersesat.
"LARIIIIII!!!"
Teriak Sulaiman memecah kebisuan yang mencekam. Naluri bertahan hidup yang tersisa mendorong tubuh mereka yang sudah lemas untuk bergerak lebih cepat dari yang pernah mereka bayangkan. Mereka tidak lagi peduli arah, tidak peduli duri yang mencakar kulit, tidak peduli akar yang menjepit kaki. Yang ada di pikiran mereka hanya satu: Jauh dari suara cangkul itu. Jauh dari mata merah itu.
Mereka berlari menerobos hutan yang hidup dan ingin menahan mereka. Cabang-cabang pohon mencengkeram baju mereka, akar-akar menjalar mencoba menjegal, dan suara teriakan makhluk jin tua itu terus mengejar dari belakang, bergema dari segala arah, seolah dia ada di mana-mana.
"KEMBALIIII... JADILAH PUPUKKKK!!!"
Suara itu tidak pernah menjauh. Itu terus membayangi, menusuk-nusuk ke dalam otak, memacu adrenalin mereka hingga batas maksimal yang bisa memecahkan pembuluh darah.
Mereka berlari tanpa arah, napas mereka memburu seperti kereta uap, paru-paru terasa dilempar ke pembakaran, kaki terasa seperti menginjak ribuan jarum. Hingga akhirnya, di antara rerimbunan ilalang tinggi dan semak belukar yang tak tersentuh, sesuatu yang besar dan gelap menarik perhatian mata mereka yang membelalak ketakutan.
Sebuah benda logam.
KOTAK BESI YANG MATI
Itu adalah sebuah truk tua. Truk jenis pick-up atau truk angkut barang yang bodi besinya sudah termakan usia. Catnya mengelupas parah, berkarat merah bata di mana-mana, dan ban-ban nya sudah kempis total, tenggelam ke dalam tanah dan lumut. Kendaraan itu tergeletak miring, seolah sudah ada di sana puluhan tahun, membusuk bersama hutan ini.
Namun bagi mereka bertiga, truk itu adalah harapan. Itu adalah tanda peradaban. Tanda bahwa pernah ada manusia yang lewat di sini sebelumnya.
"Masuk! Masuk ke dalam sana! Sembunyi!" perintah Sulaiman dengan suara parau dan tergesa-gesa.
Mereka menceburkan diri ke dalam kabin truk itu. Pintunya berdecit keras saat didorong, bunyinya seperti jeritan tulang yang dipatahkan. Debu tebal dan semerbak besi berkarat bercampur bau tamparan yang sangat menyengat langsung menerpa wajah mereka. Mereka duduk berselonjor di kursi kulit yang sudah retak-retak dan keras seperti batu.
Deri dan Herman langsung memeluk lutut mereka, terengah-engah, tubuh mereka gemetar hebat seisi badan. Sulaiman mencoba mengintip dari kaca depan yang sudah buram dan kotor, mencari tahu apakah makhluk jin tua itu masih mengejar.
Hening. Tidak ada siapa-siapa di luar sana.
Hanya suara napas mereka sendiri yang terdengar keras dan memekakkan telinga di dalam ruang sempit itu.
"Setidaknya sekarang kita aman..." gumam Sulaiman, "Tapi jangan terburu-buru, tenangkan diri kalian sampai kalian merasa lebih baik." Tambahnya.
"Bo bo bos, saya sudah tidak tahan lagi, sampai kapan kita seperti ini?..." Rengek Deri yang wajahnya mandi keringat.
Sulaiman lalu menghela napas panjang, mencoba terus menenangkan detak jantungnya yang masih saja terasa berlari.
Tapi, ketenangan itu tidak pernah datang. Karena di dalam kegelapan kabin truk itu, mata mereka mulai terbiasa melihat detail di sekitar. Dan detail itulah yang memulai babak baru teror yang jauh lebih sunyi namun jauh lebih mengerikan.
Sulaiman baru sadar. Dia duduk di kursi penumpang. Di sebelahnya, kursi supir seharusnya kosong. Tapi tidak.
Di sana, duduk tegak sebuah sosok.
Karena gelap dan debu, awalnya terlihat seperti tumpukan kain lusuh atau karung beras. Tapi saat mata mereka menyesuaikan, bulu kuduk mereka berdiri tegak, darah seakan tersendat di pembuluh nadi.
Itu adalah kerangka manusia.
Tulang-belulang yang sudah sangat kering, warnanya kekuningan lebih kecokelatan, seolah sudah berpuluh-puluh tahun berada di sana. Kerangka itu duduk dengan posisi sangat wajar, punggung lurus, kedua tangan kaku terentang seolah masih memegang setir kemudi truk yang sudah lapuk itu. Tengkorak kepalanya menunduk sedikit, seolah si pengemudi sedang mengantuk atau sedang merenung sebelum jalan.
Tapi yang paling mengerikan... di sekitar tulang-tulang itu, masih menempel sisa-sisa kulit yang mengering dan menghitam seperti kertas terbakar, dan rambut panjang yang sudah rapuh masih menempel di tengkoraknya, menjuntai ke bahu.
"Pe pe pe Pak..." suara Herman tercekat di tenggorokan. Matanya tak bisa beralih dari pemandangan mengerikan itu. "Itu... itu siapa?"
"Mati... dia sudah mati lama..." jawab Sulaiman pelan, tapi suaranya bergetar. Dia ingin bergerak, ingin keluar, tapi kakinya berat sekali.
Namun sesuatu yang tidak wajar mulai terjadi.
Gangguan psikis kembali menyerang, kali ini lebih halus tapi lebih menjijikkan dan menyesakkan.
Tiba-tiba, udara di dalam kabin menjadi sangat dingin. Dinginnya benar-benar seperti menyayat kulit, kontras dengan udara hutan yang lembap dan panas di luar.
Krak...
Suara tulang bergesekan terdengar jelas.
Mata mereka membelalak melihat kerangka di kursi supir itu. Perlahan-lahan, dengan gerakan yang sangat lambat, sangat kaku, dan sangat menyakitkan untuk dilihat, tengkorak itu mulai mengangkat kepalanya.
Rongga mata yang hitam kosong itu menoleh... dan menatap lurus ke arah mereka.
"AAAAAAA!!!" Herman menjerit tertahan, tangannya mencengkeram lengan Sulaiman hingga memar. "Dia liatin kita! Dia liatin kita, Pak!"
"Bukan! Itu cuma angin! Itu cuma ilusi!" teriak Sulaiman, tapi dia sendiri melihatnya. Dia melihat rahang bawah kerangka itu bergerak-gerak membuka dan menutup, seakan sedang mencoba berbicara, mencoba mengabarkan sesuatu yang terpendam selama puluhan tahun.
Dan kemudian... ilusi visual mulai pecah.
Di mata Deri, kerangka itu bukan lagi tulang belulang. Dia melihat sosok manusia utuh, tapi kulitnya hitam gosong seperti terbakar, matanya melotot putih, dan mulutnya menganga lebar mengeluarkan asap hitam. Sosok itu seolah-olah mati dalam kebakaran hebat di dalam truk ini.
"Panas... panas sekali..." terdengar suara berbisik lemah, serak, dan terbakar tepat di telinga mereka. "Tolong... tolong matikan apinya... panas... WAAAAA!"
"Itu suara siapa?!" Deri menutup telinganya. "DI SINI GAK ADA ORANG!"
Di mata Sulaiman, truk itu berubah. Dinding besinya memerah panas, setirnya meleleh, dan asap hitam mulai memenuhi ruangan. Dia merasa sesak napas, merasa kulitnya terbakar, merasa seperti sedang terperangkap di dalam oven raksasa.
"KELUAR! KITA HARUS KELUAR DARI SINI!" teriak Sulaiman histeris, menendang pintu truk hingga terbuka lebar.
Mereka bertiga berhamburan keluar seperti orang kesurupan, jatuh bergulingan ke tanah berlumpur, batuk-batuk seolah benar-benar baru saja menghirup asap beracun, padahal sebenarnya, udara di sana tenang dan segar.
Ketiganya lalu bangkit berlari, mereka tidak berani berhenti. Tidak berani menoleh ke belakang. Tidak berani berpikir. Mereka hanya berlari. Terus berlari.
Meninggalkan truk hantu itu, meninggalkan kerangka supir yang terus menatap mereka dengan rongga mata kosongnya.
Langkah kaki mereka berat, napas mereka habis, tapi teror di kepala mereka memaksa kaki untuk terus bergerak. Lari. Lari. Lari. DAN LARI.
Hingga tiba-tiba... cahaya hilang.
Bukan karena kemerahan yang terbenam. Tapi mega di atas kepala mereka yang tadinya masih ada sedikit cahaya remang-remang, tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat. Hitam yang sangat pekat, pekat hingga terasa menyakitkan di mata. Seolah-olah ada selimut raksasa yang terbuat dari arang dan kegelapan murni menutupi seluruh cakrawala.
Waktu pun membeku, terhenti.
Apakah ini malam? Atau siang yang terlalu gelap? Tidak ada yang tahu. Tidak ada bintang, tidak ada bulan, tidak ada sedikit pun tanda di langit yang dapat diamati. Dunia di sekitar mereka kini hanya berupa bayang-bayang hitam yang tak berbentuk.
Suasana menjadi... berat.
Sangat berat.
Udara terasa padat seperti air, menyulitkan mereka untuk bernapas. Setiap tarikan napas terasa seperti menarik cairan kental ke dalam paru-paru. Atmosfer di sekitar mereka menekan, menekan, dan terus menekan mental mereka hingga ke titik terendah.
Di kegelapan total ini, indra penglihatan tidak lagi berguna. Yang tersisa hanya pendengaran dan perasaan.
Dan mereka bisa merasakannya.
Sesuatu yang sangat besar, sangat jahat, dan sangat lapar sedang bergerak di sekitar mereka dalam kegelapan itu. Mereka bisa mendengar suara napas panjang yang lambat. Huuuuuh... Huuuuuh...
Mereka tidak tahu di mana mereka berada. Mereka tidak tahu ke mana harus melangkah. Mereka hanya bisa berdiri saling berpegangan tangan di tengah kehampaan yang hitam legam, sementara rasa takut yang paling purba dan paling mematikan perlahan-lahan mulai memakan akal sehat mereka satu per satu.
"Pak..." suara Herman berbisik sangat pelan, penuh air mata di dalam gelap. "Saya merasa seperti buta, Pak? Saya gak bisa liat apa-apa..."
Sulaiman tidak menjawab. Pria yang paling keras dan paling berani itu kini hanya bisa berdiri terpaku.
Mereka tidak lagi berlari untuk mencari jalan keluar. Mereka berlari karena takut berhenti. Dan di dalam kegelapan yang tak berujung ini, berhenti berarti mati.
Dan sesuatu di dalam gelap itu... sedang tersenyum menunggu hingga mereka merasa lelah.