Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Percobaan Berbahaya
Sore itu, Aureliana Virestha duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangannya, tetapi pandangannya tidak benar-benar fokus pada layar. Jari-jarinya sempat bergerak membuka catatan, lalu berhenti begitu saja, seolah pikirannya sudah lebih dulu berjalan ke arah lain. Sejak beberapa hari terakhir, kebiasaannya mulai berubah tanpa ia sadari, tubuhnya berada di satu tempat, tetapi pikirannya terus kembali ke ruang itu.
Ia sudah memahami cukup banyak hal. Cara menyimpan benda, perbedaan waktu, percepatan pertumbuhan tanaman, hingga batas kapasitas yang hampir ia langgar kemarin. Semua itu bukan lagi sekadar dugaan, melainkan sesuatu yang sudah ia rasakan sendiri. Namun justru karena itu, muncul satu pertanyaan baru yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Benda hidup.
Aureliana menatap kosong ke depan, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Tanaman memang hidup, tetapi tidak bergerak seperti hewan, tidak membutuhkan ruang untuk bernapas dengan cara yang sama. Ia mencoba membandingkan semuanya di dalam kepalanya, mencari celah logika yang bisa ia pegang.
“Kalau tanaman bisa… harusnya yang lain juga bisa.”
Kalimat itu keluar pelan, tetapi ia sendiri tahu bahwa perbandingan itu tidak sepenuhnya tepat. Tanaman bertahan dengan cara yang berbeda, sedangkan hewan lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Jika ia salah langkah, risikonya jauh lebih besar.
Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Namun rasa ingin tahunya tidak hilang, justru semakin kuat karena semua percobaan sebelumnya berhasil. Ia tidak bisa berhenti di tengah jalan sekarang, bukan setelah mengetahui sejauh ini.
Aureliana akhirnya bangkit dari tempat tidur, mengambil jaket tipisnya, lalu berjalan keluar setelah memberi alasan singkat kepada perawat. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi ada tujuan yang jelas di dalamnya. Ia tidak ingin menarik perhatian, hanya ingin menyelesaikan satu hal lalu kembali.
Pasar kecil yang ia datangi tidak terlalu ramai di jam itu. Beberapa pedagang sudah mulai beres-beres, sementara sebagian lainnya masih menunggu pembeli terakhir. Aureliana berjalan melewati beberapa lapak tanpa berhenti, hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan deretan akuarium kecil.
Air jernih, cahaya lampu yang memantul, dan ikan-ikan kecil yang bergerak pelan di dalamnya. Pemandangan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya diam beberapa detik.
Ia tidak butuh yang besar. Tidak butuh yang mahal. Hanya sesuatu yang cukup kuat untuk dijadikan percobaan.
“Yang itu berapa?” tanyanya pelan, menunjuk satu wadah kecil.
Penjual menjawab singkat, tidak banyak bertanya. Aureliana mengangguk, lalu membayar tanpa menawar. Ia menerima wadah kecil berisi air dan seekor ikan yang berenang pelan, lalu memegangnya dengan hati-hati.
Perjalanannya kembali terasa lebih cepat dari biasanya. Bukan karena langkahnya berubah, tetapi karena pikirannya terus memutar kemungkinan. Jika berhasil, maka ruang itu bukan hanya tempat menyimpan atau menanam, tetapi sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Sesampainya di kamar, ia langsung duduk di tempat tidur. Wadah kecil itu ia letakkan di pangkuannya, matanya tidak lepas dari ikan yang bergerak di dalam air. Gerakannya tenang, sesekali berputar, sesekali diam di satu titik.
Hidup.
Nyata.
Aureliana menggenggam wadah itu sedikit lebih erat, lalu menarik napas dalam.
“Semoga berhasil…”
Ia menutup mata.
Perpindahan itu datang seperti biasa, tanpa suara, tanpa peringatan. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di dalam ruang itu dengan wadah kecil di tangannya.
Begitu membuka mata, ia langsung merasakan perbedaan kecil. Ruang itu terasa sedikit lebih padat dibanding sebelumnya, seperti ada sesuatu yang tidak terlihat namun bisa dirasakan. Ia tidak terlalu memikirkan itu sekarang, fokusnya hanya pada satu hal.
Aureliana berjalan ke area kosong, lalu berjongkok perlahan. Tangannya bergerak hati-hati saat menaruh wadah itu di lantai.
Ikan itu masih berenang.
Tidak ada yang berubah.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Aureliana menunggu, matanya tidak berkedip, mencoba menangkap perubahan sekecil apa pun.
Awalnya, tidak ada apa-apa.
Namun kemudian, gerakan ikan itu mulai berubah.
Sangat halus.
Hampir tidak terlihat.
Aureliana langsung mendekat sedikit, napasnya tertahan. Ikan itu masih bergerak, tetapi tidak seaktif sebelumnya. Gerakannya melambat, lalu berhenti sesaat sebelum kembali bergerak dengan ritme yang tidak stabil.
Jantung Aureliana berdegup lebih cepat.
“Kenapa…”
Ia menatap wadah itu dengan cemas, pikirannya langsung mencari kemungkinan. Airnya sama, wadahnya sama, tidak ada yang berubah dari luar. Namun di tempat ini, sesuatu jelas berbeda.
Beberapa detik kemudian, tubuh ikan itu mulai miring. Gerakannya semakin lemah, seperti kehilangan tenaga sedikit demi sedikit.
Aureliana langsung panik.
Ia meraih wadah itu tanpa berpikir panjang, tangannya sedikit gemetar.
“Jangan…”
Kesadarannya langsung berpindah kembali.
Begitu membuka mata di dunia nyata, ia segera melihat ke dalam wadah. Ikan itu masih hidup, meskipun terlihat lemah. Gerakannya tidak stabil, tetapi masih ada.
Aureliana menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. Ia hampir saja kehilangan percobaan itu dalam hitungan detik.
Ia menatap wadah itu lebih lama, kali ini dengan pikiran yang lebih tenang. Kepanikan tadi perlahan digantikan oleh analisis. Ia tidak bisa hanya mencoba tanpa memahami.
Ada sesuatu yang berbeda di dalam ruang itu.
Ia menunduk, mencoba menyusun kemungkinan. Tidak ada angin, tidak ada sirkulasi udara, tidak ada perubahan yang terasa di permukaan. Namun untuk makhluk hidup, hal kecil seperti itu bisa menjadi penentu.
“Oksigen…” gumamnya pelan.
Kemungkinan itu terasa masuk akal. Air di wadah itu mungkin kehilangan keseimbangan saat berada di ruang tersebut. Atau mungkin ruang itu sendiri memiliki kondisi yang tidak mendukung kehidupan tanpa penyesuaian.
Aureliana menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengambil botol air tambahan. Ia membuka tutup wadah sedikit lebih lebar, lalu menambahkan air baru dengan hati-hati. Gerakannya pelan, memastikan tidak membuat ikan itu semakin stres.
Beberapa menit berlalu.
Ia terus memperhatikan.
Perlahan, gerakan ikan itu mulai membaik. Tidak langsung aktif, tetapi lebih stabil dibanding sebelumnya. Tubuhnya kembali tegak, siripnya bergerak lebih teratur.
Aureliana menarik napas dalam.
“Berarti bukan tidak bisa…” gumamnya.
Ia menatap wadah itu dengan lebih fokus. Ini bukan kegagalan, hanya penyesuaian yang belum tepat. Jika ia bisa menemukan kondisi yang sesuai, maka kemungkinan itu tetap terbuka.
“Sekali lagi…”
Ia menutup mata.
Kali ini, ia lebih siap.
Saat kembali ke ruang itu, ia langsung melihat ke wadah di tangannya. Ikan itu masih bergerak, tidak langsung melemah seperti sebelumnya. Aureliana tidak langsung merasa lega, ia memilih untuk mengamati lebih lama.
Beberapa detik berlalu.
Lalu menit.
Gerakan ikan tetap stabil.
Aureliana mendekat sedikit, memastikan tidak ada tanda-tanda penurunan. Air di dalam wadah terlihat tenang, ikan itu berenang pelan tanpa gangguan berarti.
Ia akhirnya duduk di dekatnya, membiarkan waktu berjalan lebih lama. Tidak ada perubahan buruk yang muncul. Semua terlihat normal, seolah percobaan pertama tadi hanya kesalahan kecil yang sudah ia perbaiki.
Aureliana menutup matanya sejenak, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan hanya lega karena percobaannya berhasil, tetapi juga kepuasan karena ia mulai memahami cara kerja ruang itu sedikit demi sedikit.
Ia membuka mata kembali, menatap ikan itu dengan pandangan yang berbeda. Kini bukan hanya objek percobaan, melainkan bukti bahwa ruang itu bisa mendukung kehidupan jika diperlakukan dengan benar.
Aureliana berdiri perlahan, lalu melihat sekeliling. Tanaman masih tumbuh dengan cepat, sudut penyimpanan tetap penuh, dan kini ada satu tambahan kecil yang membawa arti besar.
Pikirannya mulai bergerak lebih jauh. Jika ikan kecil bisa bertahan dengan penyesuaian sederhana, maka kemungkinan lain juga terbuka. Namun ia tidak ingin terburu-buru. Kesalahan kecil tadi sudah cukup menjadi pengingat.
Ia kembali menatap wadah itu sekali lagi. Ikan itu berenang pelan, bergerak dengan ritme yang stabil, seolah tidak terganggu lagi oleh lingkungan sekitarnya.
Senyum tipis muncul di wajah Aureliana.
Langkah kecil ini berhasil, dan dari sini ia tahu bahwa ruang itu bukan hanya bisa menyimpan atau mempercepat, tetapi juga bisa menopang kehidupan dengan syarat tertentu. Ia tidak lagi melihatnya sebagai tempat misterius semata, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari, diuji, dan dikembangkan dengan cara yang lebih matang.