Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan
Kirana tidak menarik tangannya.
Justru sebaliknya sentuhan itu bertahan lebih lama, seolah dia sedang memastikan sesuatu yang selama ini dia tolak benar-benar ada. Hangatnya tidak berubah. Tidak memudar. Tidak hilang seperti yang dia takutkan.
Dan itu membuat dadanya terasa semakin penuh.
mencoba memahami kata-kata Li Wei barusan.
Bukan meniru.
Tapi menyamakan.
Li Wei tidak menjawab. Tapi jari-jarinya sedikit bergerak menyentuh balik, tipis, nyaris tak terasa. Seperti seseorang yang tahu batas… tapi tetap ingin ada di sana.
Kirana menatapnya lebih lama.
Ada sesuatu yang mulai terasa jelas sekarang.
Bukan hanya tentang masa lalu.
Tapi tentang dirinya sendiri.
Selama ini dia pikir dia membuang sesuatu yang berbahaya.
Sesuatu yang harus dihindari.
Sesuatu yang bisa menghancurkan.
Tapi berdiri di sini
di depan orang yang tetap ada, meski dia sudah menghilang di dimensi yg berbeda
dia mulai melihat sisi lain yang tidak pernah dia izinkan muncul.
“Waktu itu…” suaranya pelan, “…aku nggak cuma takut kehilangan kamu, ya?”
Li Wei tidak langsung menjawab.
Tatapannya sedikit melembut.
“Tidak,” katanya.
Kirana menarik napas pelan.
“Lebih dari itu,” lanjutnya sendiri, hampir berbisik, “aku takut… kalau aku nggak cukup buat bikin kamu tinggal bersamaku”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa ditahan.
Tanpa dipoles.
Dan saat itu terucap
sesuatu di dalam dirinya terasa runtuh… tapi juga ringan.
Li Wei tidak mengalihkan pandangan.
“Dan kamu pikir satu-satunya cara…” dia berhenti sebentar, “…adalah memastikan aku nggak bisa pergi.”
Bukan pertanyaan.
Pengakuan.
Kirana mengangguk kecil.
Tangannya masih di wajah Li Wei.
Tapi sekarang
itu terasa berbeda.
Bukan lagi sekadar ingin dekat.
Tapi ingin memahami.
“Aku nggak percaya sama kata-kata,” katanya pelan. “Aku butuh bukti.”
Li Wei diam.
Kirana menelan.
“Dan aku bikin bukti itu… jadi penjara.”
Sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Tapi kali ini
sunyi itu tidak menekan.
Lebih seperti ruang yang akhirnya cukup luas untuk menampung semuanya.
Li Wei akhirnya bergerak.
Bukan menjauh.
Tapi mendekat sedikit.
Cukup untuk membuat jarak di antara mereka benar-benar hilang.
“Kamu nggak salah karena takut,” katanya pelan.
Kirana menggeleng.
“Aku salah karena caranya.”
Li Wei tidak membantah.
Tapi juga tidak mengiyakan.
Dia hanya melihatnya seperti melihat seseorang yang akhirnya berhenti berlari dari dirinya sendiri.
“Sekarang kamu tahu,” katanya.
Kirana tersenyum kecil.
Tipis.
Rapuh.
“Sekarang aku ngerasain.”
Lebih tepat.
Lebih jujur.
Dan jauh lebih berat.
Tangannya perlahan turun dari wajah Li Wei bukan karena ingin menjauh, tapi karena dia butuh ruang untuk berdiri sendiri di dalam perasaan itu.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Lalu Kirana bicara lagi.
“Kalau aku tetap di sini…” suaranya lebih tenang sekarang, tapi ada sesuatu yang dalam di baliknya, “…aku bakal jadi aku yang dulu?”
Li Wei menatapnya.
“Tidak sepenuhnya.”
Kirana mengernyit.
“Maksudnya?”
“Kamu tetap kamu yang sekarang,” jawabnya, “tapi tanpa bagian yang kamu sembunyiin.”
Kirana diam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi maknanya tidak.
Artinya
dia tidak harus kembali menjadi versi yang sama.
Tapi dia juga tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.
Dia menghembuskan napas panjang.
Pelan.
Seolah melepaskan sesuatu yang selama ini dia pegang terlalu erat.
“Kalau aku pergi…” dia berhenti sebentar, “…aku bakal lupa kamu lagi.”
Li Wei tidak menjawab.
Tapi kali ini
dia tidak perlu.
Kirana sudah tahu.
Dan anehnya
itu yang paling menyakitkan.
Bukan rasa bersalah.
Bukan ketakutan.
Tapi kemungkinan… melupakan lagi.
Melupakan seseorang yang tetap mengingat.
Matanya kembali ke Li Wei.
Lebih lama.
Lebih dalam.
Seolah mencoba menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia bawa pulang.
“Kamu capek nggak?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan sederhana.
Tapi nadanya berubah.
Lebih lembut.
Lebih manusia.
Li Wei terlihat sedikit terkejut.
Hampir tak terlihat.
“Capek apa?”
“Nunggu,” jawab Kirana.
Sunyi sebentar.
Lalu Li Wei menggeleng kecil.
“Kalau itu kamu,” katanya pelan, “aku nggak pernah ngerasa itu nunggu.”
Kirana tidak langsung bereaksi.
Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Dan entah kenapa
lebih dekat dengan keputusan.
Dia melangkah sedikit lagi.
Kali ini tanpa ragu.
Tangannya kembali mencari tangan Li Wei.
Menggenggamnya.
Lebih jelas sekarang.
Lebih sadar.
“Aku nggak mau pura-pura lagi,” katanya pelan.
Bukan ke Li Wei.
Tapi ke dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya
kalimat itu terasa seperti pilihan.
Bukan ketakutan.
Bukan pelarian.
Tapi langkah.
Yang tidak bisa dia tarik kembali.