Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 27
CARA YANG LICIK
Sebulan suara cecapan terdengar jelas, tatkala dia bibir menyatu, berpadu dalam ciuman serta lumatan. Tubun seorang wanita masih bergerak atas dan bawah— saat ciuman di lepas, barulah suara merdu itu terdengar lagi.
“Ahhh~ sihhh, ahhh~ faster...” desah wanita cantik berambut pendek hitam tadi yang mendongak seraya menutup mata.
Sementara kedua tangan Matteo mencengkram kedua pinggul wanita itu yang masih bergerak di atasnya. Gerakan yang semakin cepat dan cepat, lalu berpindah posisi ketika Matteo membaringkan wanita itu dengan kasar dan membuatnya tengkurap ala doggy, tangan kanan Matteo menjambak rambut pelayan tadi hingga mendongak.
Tentu mereka sama-sama menikmatinya saat permainan kembali terjadi. Hentakan tubuh Matteo bertabrakan dengan pantat pelayan tadi. Namun saat dia menatap wanita di depan yang kini sedang doggy itu, seketika Matteo membayangkan wanita lain yang membuatnya tak berhenti berpikir sejak pagi tadi.
“Ahhh~ fuck~ ” desah Matteo yang menggertakkan giginya dan semakin kasar hingga pelayan tadi benar-benar merasa kesakitan namun juga nikmat.
...***...
Ban mobil menggerus kerikil halus saat Rolls-Royce hitam itu berhenti di halaman mansion. Lampu temaram dari teras menyorot debu yang menari di udara malam. Mesin mati. Hening.
Pintu pengemudi terbuka lebih dulu. Lorenzo keluar, mantel dan kemejanya masih sama, tapi auranya tetap tajam. Dia tidak menoleh ke rumah utama. Matanya mengawasi sekeliling, ke semak, ke atap, ke gerbang. Kebiasaan.
Pintu mobil terbuka pelan. Aria turun. Langkahnya hati-hati, satu tangan tanpa sadar melindungi perutnya. Dia tidak bicara. Tidak sejak kedai tadi. Otaknya masih penuh dengan nama Don Vito dan tawaran gila itu.
Dia berbalik, berjalan menuju rumah kedua. Rumah yang Lorenzo siapkan untuknya. Jauh dari Monica. Jauh dari semua mulut berbisa.
“Aria.”
Langkahnya terhenti. Dia berbalik saat Loren memanggilnya.
Lorenzo masih berdiri di samping mobil. Wajahnya setengah diterangi lampu temaram. Tidak ada ekspresi. Datar seperti biasa. Tapi matanya tidak.
“Dengarkan aku.” Suaranya rendah. Bukan permintaan. Perintah. “Selama aku belum pulang dari sana, kau tidak keluar dari mansion. Tidak ke toko. Tidak ke taman luar. Tidak ke mana pun.”
Aria menatapnya. Bibirnya rapat. Dia mau membantah. Mau bilang dia bukan tahanan. Tapi ingatan tembakan di toko roti masih segar. Ingatan tawaran (“Jaminannya dia”) juga.
Lorenzo melanjutkan, selangkah lebih dekat. “Jauhi orang-orang yang menurutmu buruk. Siapa pun itu. Pelayan, tamu, keluarga. Kalau instingmu bilang buruk, kau pergi. Mengerti?”
Hening dua detik.
Aria mengangguk. Pelan. “Hm, aku mengerti.”
Suaranya hampir hilang. Bukan karena takut. Karena lelah. Karena sadar Lorenzo tidak main-main.
“Bagus.” Lorenzo menatapnya sekali lagi, lama. Seolah menghafal wajahnya. “Masuklah.”
Aria tidak menjawab lagi. Dia berbalik. Langkahnya pelan tapi mantap, menaiki tiga anak tangga menuju rumah kedua. Dia tidak menoleh namun ia benar-benar merasa aneh akan sikap Lorenzo yang benar-benar memperhatikannya.
Lorenzo tetap di tempatnya. Menatap punggung itu sampai pintu tertutup. Suara kunci diputar dari dalam terdengar jelas di malam yang sepi.
Baru setelah itu dia menghela napas. Berat. Kasar.
Langkah kaki mendekat dari arah garasi. Fabio— Wajahnya serius, rahangnya menegang. Dia sudah tahu ada yang tidak beres dari cara bosnya pulang tanpa pengawal.
Lorenzo tidak menunggu Fabio bicara. “Fabio.”
“Ya, Tuan.”
“Jaga dia.” Lorenzo menatap ke arah rumah kedua. “Mulai malam ini sampai aku kembali dari Sisilia, kau tidur di depan pintunya kalau perlu.”
Fabio mengangguk. “Saya mengerti.”
“Ada dua pria asing yang akan datang. Mereka akan berjaga dari jauh. Mereka anak buah Don Vito.” Lorenzo menekan nama itu dengan gigi terkatup. Mendengar itu Fabio juga kaget dan berkerut alis. “Mereka bilang hanya pengamanan untuk Aria. Aku tidak percaya. Awasi mereka. Kalau mereka melangkah satu meter lebih dekat dari batas, tembak saja.”
Mata Fabio menyala. “Anda jangan khawatir.”
“Aku ke Sisilia malam ini. Tidak ada yang boleh tahu selain kau.” Lorenzo menatap assistennya lekat. “Dan awasi rumah ini. Semua orang. Terutama Monica dan Vitorio. Catat siapa yang telepon, siapa yang keluar masuk. Laporkan langsung kepadaku.”
“Bagaimana dengan tuan Emilio?” tanya Fabio.
Lorenzo tidak menjawab. Dia menepuk bahu Fabio sekali. “Biarkan saja.” Lalu berbalik, berjalan ke arah mobil, lalu masuk dan bersiap pergi ke Sisilia malam ini.
Entah dia kembali dengan selamat atau hanya tinggal nama, yang terpenting, Lorenzo bisa bertemu terlebih dahulu dengan pamannya itu.
.
.
.
Matteo terengah. Keringat mengalir dari pelipisnya, menetes ke dada bidangnya yang telanjang. Di ranjang kusut, seorang pelayan muda sedang buru-buru mengancingkan seragamnya. Pipinya merah, matanya menghindari Matteo.
Matteo bangkit. Kakinya telanjang menapak marmer dingin. Dia meraih jubah tidur hitam di kursi, mengenakannya. Ujungnya hanya selutut, memperlihatkan dada dan paha yang masih berkilat keringat.
Dia berjalan ke meja, menuang beer ke gelas, meneguknya habis dalam sekali tegak. Napasnya masih memburu.
“Pergi.” Perintahnya pendek. Dia melempar amplop cokelat tebal ke ranjang. “Bayaranmu.”
Pelayan itu mengangguk cepat. Tangannya gemetar saat mengambil amplop. Tanpa bicara, dia bergegas keluar. Pintu ditutup pelan.
Matteo mendengus. Dia mengambil rokok dari kotak perak, menyalakannya. Mengisap dalam. Asap mengepul, memburamkan wajahnya.
Dia berjalan ke jendela besar. Di luar, taman gelap. Di kejauhan, lampu rumah kedua menyala. Kamar Aria.
Ucapan Vitorio tadi siang terngiang lagi di kepalanya. Jelas. Menggoda.
(“Kau anak Monica, Matteo. Tapi kau bukan apa-apa di mata Lorenzo. Dia anak kesayangan Emilio. Kau hanya dapat sisa. Kecuali... kau ambil miliknya yang paling berharga dan hakmu sebagai ayah.”)
Matteo menyeringai. Asap keluar dari sela giginya.
Aria.
Dia bayangkan wanita itu di toko tadi. Wajah pucat tapi keras kepala. Hamil. Milik Lorenzo. Dia meleset saat ingin menghancurkan pria itu dan malah hampir kena ke Aria.
Tangannya yang memegang rokok menegang. Kuku jarinya memutih.
“Kita lihat saja, Lorenzo,” gumamnya. Suaranya serak. Berbahaya. “Seberapa kuat kau lindungi yang kau sayang... kalau aku yang mengambilnya.”
Dia mengisap rokoknya lagi. Dalam. Panjang. Bara menyala merah di kegelapan kamar. “Aku akan mengambil milikku. Anakku...” gumamnya, meski dia yakin dia tak merasa pernah berhubungan intim dengan Aria. Tapi anak yang Aria kandung bisa menjadi boomerang untuknya kelak.
Sementara di ruang kedua. Aria baru saja selesai mengintip dari arah jendela, melihat kepergian suaminya yang benar-benar akan pergi ke Sisilia.
Entah kenapa Aria cemberut seperti merasa kesepian. “Biarkan dia pergi, Aria... Toh dia pria bajingan.” katanya agar terus terdorong untuk tetap membenci Lorenzo.
“Nyonya Aria!” panggil pelayan muda dan cantik bernama Teresa yang tersenyum manis menatap Aria, sehingga Aria berbalik menatapnya dengan senyuman.
“Saya mau kembali ke kamar pelayan, apa Anda butuh sesuatu?”
“Ya. Temani aku tidur malam ini.” kata Aria langsung tanpa basa-basi, sehingga Teresa terkejut dan kedua matanya langsung membulat.
“I-itu tidak mungkin— ”
“Mungkin saja, aku yang memintanya. Ayo.” paksa Aria yang berjalan melewati Teresa sehingga mau tak mau pelayan tadi menunduk patuh dan sungkan bila menolaknya.
“Em.. Anda pergi saja dulu, Nyonya, saya mau mengunci pintu utama.” kata Teresa yang dibalas anggukan kecil oleh Aria.
Mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Saat Teresa hendak menuju ke pintu yang berada tepat di depannya. Seketika Fabio masuk dan menutup serta mengunci pintu tersebut.
Terasa bingung, namun Fabio yang melihatnya. Dia menatap dingin namun lembut, karena orang-orang di sana tahu, Teresa satu-satunya pelayan yang lemah lembut.
“Tuan Loren menyuruhku berjaga. Aku akan berjaga di sini.” kata Fabio singkat dan padat.
Teresa tertegun sejenak, lalu mengangguk faham. “Saya mengerti. Selamat malam, Tuan Fabio.” katanya sebelum akhirnya berbalik menuju ke kamar Aria.
Sementara Fabio hanya diam menatap punggung Teresa, lalu ia berbalik dan berjalan ke arah sofa singel yang tak jauh dari pintu utama.