Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
...~•Happy Reading•~...
Rafael membuat minuman hangat buat mereka berdua dan letakan di atas meja makan. Dia tetap duduk menunggu Laras keluar dari kamar sambil memegang cangkir kopi instan yang disediakan pihak perusahaan.
"Kau sudah minum?" Tanya Laras yang baru masuk ke ruang makan dan melihat Rafael sedang memegang cangkir dengan kedua tangan.
"Aku sedang menjaga minuman tetap hangat dengan tanganku." Rafael berkata kiasan, karena lama menunggu dan agar tidak menyinggung Laras. Namun dia tidak meletakan cangkir, tapi langsung menyeruput kopinya.
"Kau bikin kopi instan buatku?" Laras terkejut cium aroma kopi. "Aku minum teh." Laras duduk di depan Rafael sambil lihat isi cangkir, hingga tidak melihat perubahan wajah Rafael.
Rafael meletakan cangkir kopi dengan kedua tangan lalu menatap lurus ke wajah Laras yang tidak menyadari situasi. "Laras lihat aku." Nada suara Rafael naik satu oktaf.
"Aku bukan orang tuamu yang mengurusimu sejak lahir, jadi bisa mengerti yang kau bilang mau minum apa aja itu adalah teh."
"Yang aku pelajari dan mengerti kata apa aja, adalah ini, yang ada ini, sesukanya yang sediakan." Rafael menunjuk cangkir.
"Mengapa kau marah cuma karna itu?" Laras terkejut melihat wajah Rafael yang tiba-tiba gelap.
"Marah? Kau tidak mengerti, kalau aku sedang berusaha selaraskan pikiran kita?" Rafael jadi menyingkirkan cangkir kopi di depannya dan serius menatap Laras.
"Yang kau mau, jari telunjuk. Tapi kau sebut jempol." Rafael menggerakan jari tangannya di depan wajah Laras. "Di pikiranmu aku akan berikan jari apa?" Nada suara Rafael tidak turun melihat mata Laras membulat.
"Gak usah perpanjang." Ucap Laras sambil menggerakan tangan, karena melihat emosi Rafael mulai naik.
Namun cara dan sikap Laras bukan meredam, tapi membuat Rafael makin emosi. "Aku bukan ikan, yang kau biarkan menyelam cari plankton tidak berujud di laut pikiranmu yang luas." Rafael berbicara dengan wajah yang sangat serius, sebab Laras tidak menunjukan sikap sudah salah bicara.
"Kau bicara apa, sih? Bawa segala ikan dan plankton." Laras balik memarahi, sebab tidak terima dimarahi Rafael.
"Kau tidak paham kan? Apa lagi kau minta aku pahami isi kepalamu yang cuma kau tahu isinya."
"Sana berdiri. Silahkan bikin minum apa aja sesuai pengertianmu." Rafael menggerakan tangan agar Laras berdiri. Kemudian dia mengambil cangkir lalu menyeruput pelan seakan tidak melihat wajah kesal Laras saat berdiri.
Setelah Laras berlalu, Rafael menghembuskan nafas kuat. 'Mungkin dengan begitu, dia akan mengerti. Suami istri perlu komunikasi yang jelas. Supaya tidak salah paham atau berpaham salah.' Rafael membatin sambil mengambil kopi Laras dan letakan di depannya.
'Pantas Mama pesan di bandara. Rafa, tolong sabar dan bimbing Laras, ya." Rafael ingat Mama mertuanya yang baik hati dan sayang padanya.
Dia kembali menghembuskan nafas panjang. 'Sabarku mungkin bisa panjang dan lebar. Tapi untuk bimbing Laras, itu cerita lain.' Rafael kembali membatin.
'Membimbing orang seperti Laras yang menganggap sudah tahu semua jalan, akan terjadi perang tarik-menarik urat saraf.' Apa yang terlintas di pikirannya membuat suasana hati Rafael berubah lebih tenang.
'Kalau dia kerbau, bisa dipasang kuk ke tengkuknya. Supaya bisa dipaksa ngikut.' Pemikiran itu membuat Rafael tetap meletakan cangkir di bibir, agar kalau Laras masuk lagi tidak melihat dia sedang senyum.
Sekian lama Laras lama di dapur, Rafael tidak berusaha menyusul untuk melihat yang dikerjakan. Dia tahu ada teh celup di kitchen set, jadi dia membiarkan Laras membuat teh sesuai seleranya.
"Rafaaa... Airnya sudah gak panas. Tehnya pucat begini, apa enaknya?" Terdengar suara Laras dari dapur. Rafael yang sedang minum kopi, hampir menyemprot kopi yang ada di mulutnya. 'Dia tidak bisa menyalakan kompor?' Ucap Rafael dalam hati sambil berdiri.
"Kalau sudah tidak panas, nyalakan kompor lagi supaya panas." Rafael berkata dengan wajah santai, seakan tidak tahu kalau Laras tidak bisa menyalakan kompor.
"Nyalaiiin..." Ucap Laras sambil mundur dari depan kompor untuk memberikan tempat kepada Rafael.
Walau heran, Rafael menahan hati untuk tidak berkomentar, agar dia tidak tertawa melihat wajah Laras yang panik. Dia menyalakan kompor dan letakan teko di atasnya, lalu kembali ke ruang makan.
'Ini'lah yang dikatakan; manusia tidak sempurna dan bisa lakukan segalanya.' Rafael membatin sambil duduk. 'Semoga dia belajar sesuatu di pagi ini.' Rafael berharap.
"Aaauuuu..." Tiba-tiba terdengar suara Laras mengadu.
Rafael berdiri dan kembali masuk ke dapur. "Pegang pakai ini, Nona." Rafael mengambil cempal, lalu berikan kepada Laras untuk mengangkat teko. Kemudian dia mematikan kompor.
"Tapi di rumah gak panas. Jadi gak perlu pakai ini." Ucap Laras sambil mengibaskan tangannya.
"Kau tidak sedang di rumah orang tuamu. Jadi pakai yang disediakan di sini." Rafael meletakan cempal ke tangan Laras.
"Bikinin..." Laras mengembalikan cempal. Dia minta Rafael membuat teh untuknya. Kemudian Rafael menuang air ke dalam cangkir teh, lalu keluar dari dapur. Agar Laras yang melanjutkan sendiri.
Tidak lama kemudian Laras masuk ruang makan sambil membawa cangkir. "Kita cuma minum ini untuk sarapan?" Laras baru menyadari tidak ada sesuatu yang lain di meja makan untuk dimakan. Rafael mengangguk.
Laras melihat dua cangkir di depan Rafael. "Benar? Kita cuma minum?" Tanyanya lalu meniup teh di cangkir sambil melihat Rafael.
"Sepertinya tadi ada yang bilang mau keluar cari sarapan apa aja." Rafael berkata tenang.
"Jangan mulai, deh. Kau mau meledekku lagi?" Laras meletakan cangkir teh ke atas meja.
"Aku serius. Kau pikirkan dan terjemahkan sarapan apa aja itu seperti apa. Supaya kita tidak cari dan ngubek seisi kota." Rafael berkata serius.
"Kalau begitu, mari kita pergi." Ucap Laras sambil meletakan cangkir teh ke atas meja. Dia tidak mau terus membahas yang dikatakan Rafael tentang apa aja.
"Minum tehnya sebelum keluar. Jangan sampai kau pingsan sebelum dapat sarapan yang belum tahu wujudnya." Rafael berkata tanpa beranjak. Dia ingin Laras minum yang hangat, agar perutnya tidak kosong saat mencari sarapan sesuai selera Laras.
"Tapi ini masih panas." Protes Laras dengan wajah kesal, sebab sudah capek meniup.
"Pergunakan sendoknya." Rafael menunjuk sendok di samping cangkir dengan alisnya. "Sendok itu bukan cuma untuk mengaduk. Tapi bisa digunakan untuk menyicil teh ke mulut." Rafael memberikan contoh dengan menyendok kopi lalu memasukan ke mulutnya.
"Aku bukan Juan yang perlu kau ajari." Bentak Laras. Dia kesal, tapi lakukan yang dikatakan Rafael.
"Ah, Juan. Aku jadi rindu padanya. Padahal baru sehari tidak melihatnya."
"Ayo, pergi. Nanti kau telpon dia berjam-jam." Laras berdiri sambil minum teh yang mulai hangat.
"Sebutkan nama sarapan apa aja mu." Ucap Rafael sambil berdiri.
Laras melihatnya dengan marah. "Kau mengulang lagi?"
"Aku cuma ingatkan. Dua kata biasa itu, sudah jadi luar biasa dan nyaris merusak suasana pagi keluarga seumur kecambah." Ucapan Rafael disambut lemparan tissu dari Laras.
...~•••~...
...~•○♡○•~...