Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 11
Ella tidak langsung menjawab. Tapi tatapannya cukup jelas.
Sisil menghela napas kecil, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu berkata pelan, “Ibu sama ayahmu itu… bukan baru kenal.”
Jantung Ella berdegup lebih keras.
“Mereka sudah lama saling tahu,” lanjut Sisil. “Cuma sepertinya nggak semua hal diceritakan ayahmu ke kamu.”
“Kenapa?” tanya Ella cepat.
Sisil mengangkat bahu. “Mungkin karena kamu dianggap belum perlu tahu.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa. Justru menambah pertanyaan.
Ella melangkah sedikit lebih dekat. “Sejak kapan?”
Sisil tidak langsung menjawab. Ia menatap Ella lagi, kali ini lebih dalam, seolah mencoba membaca sejauh mana Ella siap menerima.
“Cukup lama,” katanya akhirnya. “Lebih lama dari yang kamu kira.”
Hening kembali jatuh. Dan untuk pertama kalinya, Ella merasakan sesuatu yang lebih jelas bukan hanya kejanggalan, tapi rahasia yang sengaja disimpan darinya.
Ia menelan pelan. “Terus… kenapa baru sekarang menikah?”
Sisil tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi. Lalu kembali melihat ponselnya, seolah percakapan itu sudah selesai. Dan itu justru membuat Ella semakin yakin bahwa apa pun yang sedang terjadi, ia masih belum melihat bagian terbesarnya.
***
Sebagai satu-satunya keluarga Pak Tanto yang diketahui publik, setidaknya itulah yang terlihat dari luar, Ella kini menjadi pusat perhatian yang tidak pernah ia minta.
Pernikahan ayahnya dengan Bu Vero belum pernah diumumkan, apalagi diketahui luas, karena dilakukan secara diam-diam dan tergesa. Bahkan sehari setelah akad itu berlangsung, ayahnya sudah pergi dinas dan kemudian mengalami kecelakaan.
Di mata dunia, Ella tetap anak tunggal dari seorang pejabat yang kini dituduh korupsi dan hilang secara misterius. Tidak heran jika sejak kemarin wartawan terus berdatangan, menunggu di depan rumah, mencoba mendapatkan satu pernyataan, satu ekspresi, apa pun yang bisa dijadikan berita. Itulah sebabnya Ella nyaris tidak bisa keluar rumah dengan bebas; setiap langkahnya seolah diawasi, setiap geraknya bisa menjadi konsumsi publik.
Namun pagi ini berbeda. Setelah berhari-hari terjebak dalam rumah yang terasa semakin menyesakkan, Ella memutuskan bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Ia sudah melewatkan ospek, kehilangan momen awal yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanannya sebagai mahasiswa baru. Dan hari ini, hari kuliah pertama, ia tidak ingin kehilangan lagi. Ini bukan sekadar soal hadir di kelas. Ini tentang mempertahankan sesuatu yang masih ia miliki di tengah kekacauan ini.
Ia sudah menyelesaikan semuanya. Memasak sejak pagi, bahkan menyiapkan makan siang. Membersihkan seluruh ruangan, memastikan tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menahannya.
Bu Vero sempat mencoba menghentikannya, menyampaikan keberatan dengan alasan situasi yang belum kondusif, tapi kali ini Ella tidak mundur. Ia tidak membantah dengan keras, tidak juga berdebat panjang, ia hanya berdiri dengan tenang dan mengatakan bahwa ia tetap akan pergi. Dan untuk pertama kalinya, Bu Vero tidak memaksakan.
Maka pagi itu, Ella melangkah keluar rumah.
Udara terasa berbeda di wajahnya, lebih segar, lebih hidup meski ia tahu di luar pagar, kemungkinan besar masih ada mata yang mengawasi. Tapi kali ini ia tidak berhenti.
Langkahnya ringan. Lebih pasti. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa memiliki arah. Menjadi mahasiswi hukum bukan lagi sekadar mimpi lama. Kini itu menjadi alasan.
Jika sistem hukum yang sama kini sedang menjatuhkan ayahnya, maka ia ingin memahaminya dari dalam. Ia ingin tahu bagaimana semuanya bekerja, bagaimana kebenaran bisa diputar, bagaimana tuduhan bisa dibangun, dan bagaimana seseorang bisa kehilangan segalanya hanya dalam semalam.
Dua puluh tahun. Ayahnya mengabdi selama itu. Tidak pernah hidup berlebihan. Tidak pernah menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Dan sekarang dituduh menggelapkan angka yang bahkan tidak masuk akal bagi kehidupan mereka.
Ella mengepalkan tangannya pelan. Ia tidak percaya itu. Tidak akan. Dan jika tidak ada yang mau mencari kebenaran maka ia akan melakukannya sendiri. Dengan caranya. Langkahnya tidak berhenti saat ia menjauh dari rumah itu. Justru dari sinilah semuanya benar-benar dimulai.
***
Mobil yang dikemudikan Ella baru saja memasuki area kampus ketika firasat tidak enak itu langsung terbukti. Dari kaca spion, ia sudah melihat beberapa kendaraan yang sejak tadi mengikutinya tidak berbelok ke arah lain. Dan benar saja begitu ia menghentikan mobil dan membuka pintu, kilatan kamera langsung menyambutnya.
“Ella! Benar ayah Anda korupsi?”
“Apakah Anda tahu soal aliran dana itu?”
“Benarkah ayah Anda melarikan diri?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa memberi ruang untuk bernapas. Beberapa wartawan bahkan terlalu dekat, melanggar batas yang seharusnya dijaga. Mikrofon hampir menyentuh wajahnya, kamera diarahkan tanpa permisi, dan langkahnya langsung terhenti sebelum benar-benar sempat keluar dari situasi itu.
Ella membeku.
Jantungnya berdetak cepat, napasnya tersengal, dan untuk sesaat, semua suara terasa bercampur menjadi satu. Ia ingin berjalan, tapi kakinya seperti tidak mau bergerak. Tatapan mahasiswa lain yang mulai berkumpul di sekitar menambah tekanan bisik-bisik, rasa penasaran, dan sorot mata yang tidak ia kenal membuatnya semakin terpojok.
Ruang itu terasa menyempit. Udara terasa berat. Dan Ella tidak tahu harus ke mana. Sampai tiba-tiba sebuah suara tegas memotong kerumunan itu.
“Cukup.”
Nada suaranya tidak keras, tapi cukup kuat untuk membuat beberapa orang menoleh. Seorang perempuan melangkah masuk ke tengah kerumunan, gerakannya pasti, wajahnya tenang namun tidak bisa ditawar. Ia langsung berdiri di depan Ella, menjadi penghalang antara Ella dan para wartawan.
Ella menatapnya. Dan langsung mengenali. “Tante Rosa!"
Dua pupu dari ibunya (Neneknya punya sepupu, anak sepupu neneknya adalah Tante Rosa, maka Ella menyebut dua pupu)
Juga sahabat lama ibunya.
Seseorang yang sudah lama tidak ia temui, tapi tidak mungkin ia lupakan. Ia tidak tahu sejak kapan Tante Rosa ada di Jakarta. Tidak tahu bagaimana ia bisa muncul tepat di saat seperti ini. Tapi kehadirannya cukup untuk membuat napas Ella yang tadi tercekat mulai kembali teratur.
“Maaf,” kata Tante Rosa, kini menatap langsung ke arah para wartawan, suaranya tetap tenang tapi jelas berisi tekanan, “saya adalah kuasa hukum Ella.”
Kerumunan itu sedikit bergeser. Nada pembicaraan berubah.
“Klien saya tidak berkewajiban memberikan pernyataan apa pun saat ini,” lanjutnya. “Dan saya minta Anda semua menghormati privasinya. Ada batas yang tidak boleh dilanggar.”
Beberapa wartawan masih mencoba mengajukan pertanyaan, tapi kali ini tidak seagresif sebelumnya. Ada yang mundur selangkah, ada yang menurunkan kamera. Tekanan itu perlahan berkurang.
“Silakan hubungi saya jika membutuhkan klarifikasi resmi,” tambah Tante Rosa singkat.
Tidak ada lagi celah. Satu per satu, kerumunan itu mulai pecah. Suara-suara mereda. Dan ruang di sekitar Ella akhirnya terbuka kembali.