Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Malam itu, sedan hitam yang membawa Anggara Widjaja memasuki halaman mansion dengan suasana yang jauh lebih mencekam daripada malam sebelumnya. Langit, dengan sigap seperti biasanya, langsung turun dan membukakan pintu untuk sang mertua.
Anggara keluar dari mobil, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu berhenti tepat di depan Langit. Ia menatap menantunya itu dengan tatapan tajam yang tak terbaca, sementara Langit tetap tegak dengan posisi hormat yang sempurna.
"Malam ini, jangan berisik!" ucap Anggara dengan suara berat dan penuh penekanan.
Langit hanya bisa terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Kalau kalian memang tidak bisa menahan diri..." Anggara melanjutkan, suaranya mengecil tapi terdengar sangat menusuk, "Mending main di lantai saja kamu! Karpet di kamar itu cukup tebal, tidak akan membuat tempat tidur barumu berderit sampai ke ruang kerja saya!"
Setelah menjatuhkan "bom" instruksi teknis yang sangat memalukan itu, Anggara melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
Di dekat bagasi, Bintang dan Pak Bambang yang mendengar penuturan itu secara langsung hanya bisa geleng-geleng kepala. Bintang menutup mulutnya rapat-rapat agar tawanya tidak meledak, sementara Pak Bambang menepuk bahu Langit dengan wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Sabar, Ngit. Instruksi Bapak itu bersifat strategis. Karpet memang lebih kedap suara daripada dipan kayu," bisik Pak Bambang sebelum menyusul masuk.
"Bang... mau gue pinjemin matras yoga nggak? Biar lutut lo nggak lecet di lantai," ledek Bintang sambil ngacir lari sebelum Langit sempat melayangkan tendangan mautnya.
Langit baru saja hendak melangkah menuju tangga saat sebuah bayangan melesat dari lantai atas.
"MAS!!!"
Aurora berlari menuruni anak tangga dengan daster satin tipisnya yang melambai-lambai.
"Jangan lari-lari, Ra! Nanti jatuh!" peringat Langit panik, ia segera merentangkan tangannya untuk menangkap sang istri.
Bruk!
Aurora langsung menghambur ke pelukan Langit, melingkarkan kakinya di pinggang pria itu hingga Langit harus mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan.
"Ihh, aku kangen! Seharian ini sepi banget nggak ada kamu!" seru Aurora sambil menciumi pipi Langit bertubi-tubi.
"Ra... ada Bapak di dalam... malu," bisik Langit, meski tangannya secara otomatis menahan bokong Aurora agar tidak terjatuh.
"Bodo amat! Papa udah masuk kamar. Ayo Mas, ke kamar aku! Aku udah siapin 'medan perang' yang baru!" Aurora menarik kerah kemeja Langit, matanya berkilat penuh kenakalan.
Di Kamar Aurora (23:30 WIB)
Instruksi Anggara ternyata benar-benar dipikirkan oleh Aurora. Di tengah kamar, Aurora sudah menggelar selimut tambahan di atas karpet bulu yang tebal dan empuk. Lilin aroma terapi menyala di sudut ruangan, memberikan suasana yang sangat intim.
Langit baru saja selesai membersihkan diri saat Aurora menariknya ke tengah ruangan, tepat di atas karpet.
"Mas... denger kan kata Papa tadi? Kita disuruh main di lantai," bisik Aurora sambil melepas kancing kemeja tidur Langit satu per satu.
Langit menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Gairah yang sempat ia tekan seharian karena omelan Anggara kini memuncak. Ia menarik Aurora ke dalam pelukannya, mencium bibir merah itu dengan rakus.
"Kamu benar-benar mau mengikuti saran Bapak?" tanya Langit di sela-sela ciumannya. Suaranya serak, penuh dengan gairah yang membara.
"Demi ketenangan Papa, Mas... dan demi kepuasan kita," jawab Aurora dengan desahan yang menggoda.
Langit menjatuhkan tubuhnya di atas karpet bersama Aurora. Sentuhan karpet yang lembut dan tebal memang benar-benar meredam suara benturan, tapi tidak bisa meredam suara-suara lain yang keluar dari bibir mereka.
Malam itu, di atas lantai yang seharusnya dingin, mereka menciptakan api yang membakar. Langit bergerak dengan ritme yang lebih liar, seolah ingin melepaskan semua beban status 'ajudan' yang ia sandang di luar kamar. Ia mencumbu setiap jengkal kulit Aurora, membuat wanita itu melengkungkan tubuhnya dan mencengkeram punggung Langit hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Mas... ahh... Langit... iya di situ..." rintihan Aurora mulai mengisi ruangan.
Meskipun mereka tidak menggunakan tempat tidur, suara desahan dan pekikan kenikmatan Aurora tetap saja merambat melalui celah pintu yang tidak kedap suara.
Di Luar Kamar (Koridor & Teras)
Di lantai bawah, Anggara yang sedang mencoba membaca buku di kamarnya kembali menutup wajahnya dengan bantal.
"Ya Tuhan... di lantai pun suaranya masih kedengaran!" gerutu Anggara. Meskipun suara derit tempat tidur sudah hilang, suara Aurora yang memanggil nama Langit dengan nada manja sekaligus penuh gairah tetap saja menembus keheningan malam.
Sementara itu, di teras samping, Pak Bambang dan Bintang kembali menjadi penonton setia "siaran radio" malam itu.
"Wah, Pak... kayaknya saran Bapak soal karpet nggak mempan buat meredam suara Non Aurora," bisik Bintang sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin.
"Masalahnya bukan di lantainya, Bin... tapi di 'vokal' Non Aurora yang kualitasnya memang Dolby Atmos," sahut Pak Bambang sambil menggelengkan kepala.
Tiba-tiba, pintu kamar Haura terbuka. Haura keluar dengan wajah bantal, ia membawa segelas air putih dan berjalan menuju tangga. Begitu sampai di depan kamar Aurora, ia berhenti sejenak, mendengarkan suara-suara aneh dari dalam.
"Kak Aurora belajar Biologinya kok makin semangat ya?" gumam Haura polos. "Kayaknya lagi bab reproduksi tingkat lanjut nih."
Pak Bambang yang melihat Haura dari bawah langsung berteriak pelan, "Haura! Masuk kamar! Minum airnya di kamar saja!"
Haura menoleh, lalu mengangkat bahunya. "Iya, Pak Bambang. Kak Aurora emang rajin banget belajarnya, pantesan nilainya sekarang glowing."
***
Melati dan Elang, yang baru saja menyelesaikan perjalanan bisnis dan kunjungan keluarga di luar kota, turun dari mobil dengan wajah lelah namun lega bisa kembali ke rumah.
Pak Bambang yang sedang berjaga di pos depan langsung berdiri tegak, namun wajahnya tampak pucat pasi. Ia ingin memberi peringatan, tapi lidahnya kelu.
"Malam, Pak Bambang. Bapak belum tidur?" sapa Melati ramah sambil merapikan selendangnya.
"M-malam, Bu. Baru mau, Bu," jawab Pak Bambang terbata-bata.
Elang hanya mengangguk singkat dan melangkah masuk ke dalam rumah diikuti ibunya. Begitu mereka melewati pintu lobi, suasana rumah terasa sangat sunyi, namun ada sesuatu yang janggal. Anggara terlihat duduk di sofa ruang tengah dengan lampu remang-remang, wajahnya ditekuk dan kedua telinganya disumbat dengan kapas.
"Papa? Kok belum tidur?" Melati menghampiri suaminya dengan heran.
Anggara tersentak, mencabut kapas dari telinganya. "Kalian... kok sudah pulang?"
"Iya, urusannya selesai lebih cepat. Papa kenapa? Sakit telinga?" tanya Melati cemas.
Baru saja Anggara hendak menjawab, sebuah suara melengking dari lantai atas memecah kesunyian rumah yang dingin itu.
"AAHHH... MAS LANGIT! IYA... LAGI... TERUSSS!"
Deg.
Melati mematung di tempat. Elang, yang sedang menenggak air mineral dari botolnya, langsung tersedak hebat hingga airnya menyembur ke lantai.
"Uhuk! Uhuk! Pa... itu suara apa?!" tanya Elang dengan mata melotot, menatap ke arah tangga menuju kamar Aurora.
"Itu..." Anggara memijat pelipisnya, suaranya terdengar seperti orang yang sudah menyerah pada hidup. "Itu adikmu... sedang belajar 'biologi'."
"Biologi macam apa yang suaranya sampai bikin plafon getar begini, Pa?" selidik Elang dengan wajah yang mulai memerah antara geli dan syok.
Melati menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah padam. Sebagai seorang ibu, ia tahu persis suara apa itu. "Ya Tuhan... Aurora! Dia benar-benar tidak bisa menunggu sampai kita pindah?"
Di lantai atas, Langit dan Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa penonton mereka baru saja bertambah. Di atas karpet bulu yang kini sudah berantakan, Langit sedang berada di puncak gairahnya. Ia mencengkeram kedua tangan Aurora di atas kepala, mengunci tubuh istrinya dengan kekuatannya yang dominan.
"Mas... ahh... kamu... kamu hebat banget malam ini..." racun Aurora keluar dalam bentuk desahan yang tak terkendali.
Langit tidak bersuara, hanya deru napasnya yang berat dan serak yang terdengar. Ia bergerak dengan ritme yang lebih dalam, memberikan tekanan yang membuat Aurora terus-menerus memekikkan namanya. Keringat membasahi tubuh mereka, berkilau di bawah cahaya lilin yang mulai meredup.
"Sebut namaku, Ra..." bisik Langit dengan suara rendah yang sangat seksi di telinga Aurora.
"Mas Langit... Suamiku... Ahhh!" Aurora melengkungkan punggungnya saat Langit menyentuh titik paling sensitifnya dengan gerakan yang presisi.
"Papa diam saja?!" Melati menatap Anggara dengan tidak percaya. "Itu memalukan, Pa! Kalau asisten rumah tangga atau Haura dengar gimana?"
"Haura sudah dengar dari tadi, Mel. Dia pikir itu kursus tambahan," jawab Anggara datar. "Papa sudah suruh mereka main di lantai supaya tidak berisik, tapi tetap saja anakmu itu punya vokal sekelas penyanyi opera."
Elang mencoba menahan tawanya, meski ia merasa sangat canggung. "Gila si Langit. Di kantor kaku kayak papan penggilesan, ternyata kalau di kasur—maksud gue di lantai—galak juga ya."
"Elang! Jaga bicaramu!" tegur Melati.
Tiba-tiba, suara di atas mencapai puncaknya. Sebuah teriakan panjang dari Aurora terdengar, diikuti oleh suara erangan rendah Langit yang sangat maskulin.
"MAS LANGIIIIITTT!!!"
Hening.
Suasana mendadak sunyi sesunyi kuburan. Di bawah, ketiga orang itu hanya bisa saling lirik dengan kecanggungan yang bisa diiris dengan pisau.
"Kayaknya... biologinya sudah selesai," gumam Elang sambil memecah keheningan.
Sepuluh Menit Kemudian
Pintu kamar Aurora terbuka. Langit keluar dengan kemeja tidur yang sudah rapi, meski rambutnya masih tampak sedikit acak-acakan. Ia berniat turun ke dapur untuk mengambilkan Aurora air minum.
Namun, begitu ia sampai di bordes tangga dan menatap ke bawah, tubuhnya seketika membeku.
Di ruang tengah, bukan hanya ada Anggara. Tapi ada Melati yang menatapnya dengan pandangan tajam seorang ibu mertua, dan Elang yang menatapnya dengan seringai jahil yang sangat menyebalkan.
"E-eh... Mama? Mas Elang? Sudah pulang?" tanya Langit dengan suara yang mendadak hilang wibawanya. Status 'singa' di kamar tadi langsung berubah menjadi 'kucing' yang ketahuan mencuri ikan.
"Lancar biologinya, Ngit?" celetuk Elang sambil melipat tangan di dada.
Langit menunduk dalam, wajahnya merah padam sampai ke leher. "Mohon maaf... saya... saya hanya mau ambil air minum."
"Ambil air minumnya yang banyak, Ngit. Tenaga lo pasti terkuras habis kan?" goda Elang lagi.
"Elang, berhenti menggoda suaminya adikmu!" Melati berdiri, menghampiri Langit dengan wajah yang berusaha dibuat bijak. "Langit, besok-besok kalau Aurora terlalu berisik, tolong mulutnya disumpal pakai bantal saja ya. Mama capek baru pulang mau istirahat, bukan mau dengar konser."
Langit merasa ingin mati di tempat saat itu juga. "Siap, Bu. Mohon maaf sebesar-besarnya."
Tiba-tiba, Aurora muncul di belakang Langit dengan daster satinnya, wajahnya tampak sangat puas dan segar. "Lho, Mama udah pulang? Kok rame-rame di sini? Lagi nungguin hasil ujian biologi aku ya?"
"Aurora! Masuk kamar!" perintah Melati dan Anggara bersamaan.
Aurora tertawa riang, ia memeluk lengan Langit dan menariknya kembali masuk ke kamar. "Ayo Mas, jangan dengerin mereka. Mereka cuma sirik karena nggak punya partner belajar sekeren kamu. Yuk, lanjut bab berikutnya!"
"AURORA!!" teriak Melati.
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang mantap. Di bawah, Anggara hanya bisa kembali menyumbat telinganya dengan kapas. "Melati, besok kita cari kontrakan buat mereka. Papa menyerah."
Malam itu, keluarga Widjaja mendapatkan pelajaran berharga: bahwa dinding mansion semahal apa pun tidak akan pernah bisa menahan kekuatan cinta (dan vokal) seorang Aurora Widjaja. Dan bagi Langit, kepulangan mertua dan kakak iparnya adalah awal dari penderitaan baru di meja makan besok pagi.
***
Karena aku sayang kalian up 2 kali hari ini hehe 😍
absen dong yang baca siapa aja ini. Komen yaaw.
Tiap nulis mas langit bayanginnya ya ini. definisi gagah, gede, duwur 😍💃💃🤣
aurora gitu dechhhh
penyelamatttt