Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ketika Laura terus menatap penuh konsentrasi penerawangan ke arah gelapnya kebun teh di luar jendela, pikirannya yang terpusat mendadak diguncang. Pengamatannya terdelusi oleh suatu penampakan ilusi yang begitu nyata, seolah-olah tabir antara dunia fisik dan non-fisik menipis, membuat jantungnya mencelos hingga ke dasar perut, membuat penyangga di tulang belakangnya terasa lembek. Dalam pandangan di kedua matanya yang fokus menembus kain kegelapan, ia melihat dua buah gundukan tanah yang mengembung di antara tepian kebun teh, seolah-olah tanah itu hidup dan bernapas, seperti tumpukan tanah liat yang sedang mengandung, ukurannya tidak kecil, namun juga tidak terlalu besar, cukup untuk menggambarkan bentuk dua buah makam baru.
Bersamaan dengan penampakan visual yang aneh itu, sebuah simfoni suara yang tidak berasal dari telinga terdengar mengiringi dari arah gundukan-gundukan tanah tersebut. Suara seperti keramaian yang serentak berbicara, namun tidak dalam bahasa yang dapat Laura pahami. Mereka membentuk koor bisikan-bisikan yang tak jelas artinya, sebuah gumaman kolektif yang dipenuhi resonansi kesedihan dan keputusasaan, namun sangat mencekam. Dan di antara bisikan-bisikan itu, sebuah suara tunggal yang lebih jelas, beresonansi langsung di benaknya, mengucap kalimat-kalimat yang memutar kepalanya:
"Kedua anak manusia yang baru kami panggil telah menjadi bukit, ada rerumputan yang akan tumbuh di atas mereka, tubuh mereka terkikis menjadi tanah, akan ada penyantap yang kelaparan menunggu, tubuh itu menyatu bersama tanah di punggung bumi, maka di mana pun di bumi ini kamu berpijak, di situlah kamu sebenarnya sedang menginjak keduanya."
Kalimat terakhir itu menghantam Laura seperti pukulan yang menenggelamkan kedua kakinya. Sebuah kesadaran mengerikan menyergapnya. Ia terperanjat, ngilu memenuhi seluruh benak dan telapak. Dengan sigap, hampir refleks, Laura lalu menutup jendela, mengunci rapat, seolah ingin mengusir dua gundukan asing itu, mengusir suara-suara yang masih bergaung di kepalanya. Ia berbalik dan melompat ke atas ranjang perlindungannya, tubuhnya gemetar menyembunyikan diri di balik selimut tebal yang ia tarik hingga menutupi seluruh tubuhnya, bahkan kepalanya. Batinnya berusaha memutar roda pikir, berputar-putar mencari jawaban, berusaha menerka kubus dengan sisi warna yang berbeda, memecahkan teka-teki yang baru saja dihadapinya. Selimut yang menutupi wajahnya tak mampu menutupi ketakutannya. Akal yang menutupi kebodohannya tak mampu menutupi kebingungannya yang semakin menjadi-jadi.
Rasa bersalah dan bimbang yang tadi sempat menyergapnya, kini perlahan tergeser berganti menjadi rasa penasaran yang mencambuk, membakar keingintahuan Laura hingga ke sumsum tulang. Namun rasa penasaran itu tak bertahan lama. Dengan cepat ia kemudian berganti lagi menjadi rasa takut yang mencekam, dingin, dan menekan, sebuah ketakutan yang berbeda dari sebelumnya. Ini adalah rasa ketakutan yang paradoks, karena justru ketakutan inilah yang membuat ia melihat, membuat ia menyadari suatu kejadian lain yang tak dapat diamati oleh mata telanjang di kepalanya. Ini adalah tentang mata batinnya yang berjubah penyingkapan, yang terbuka paksa oleh kengerian.
Laura tahu, ia harus selalu siap untuk menerima sejumlah informasi mistik yang bahkan terdengar mengacak-acak kewarasan jiwanya, terlihat menakutkan, bahkan gila dalam pandangan orang yang nyaman dalam kebugilan mata. Ia telah melihat dan mendengar banyak hal di luar nalar sepanjang perjalanan hari-harinya dalam satu bulan terakhir; penampakan kain merah, gaun merah, penglihatan mata yang menghitam lelah, ketulian yang diawali sisi sebelah, dan paling membekas adalah insiden di antara sungai dengan pulau di tengah. Sebuah rantai rentetan berbagai kejadian yang menegaskan bahwa kini hidup Laura seakan memasuki lembaran asing yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Ada teriakan kepunahan yang terngiang-ngiang di telinganya, bukan suara fisik, melainkan gaung dari dimensi lain, sebuah jeritan kesenyapan yang menakutkan. Ada tangis tanpa sedu dan air mata yang seolah membayangi, tangis dari kekosongan, dari ketiadaan, tentang Roni, Ariana, Doni dan jiwa-jiwa yang lain. Sebuah gambaran kelam yang menunjukkan kegagalan dan kekosongan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, yang kini termanifestasi dalam alam kesedihan arwah. Ada usaha tanpa keberhasilan, seperti lebah tanpa madu penghasilan, atau kendaraan tanpa bahan bakar yang tak bisa bergerak maju. Ada pohon besar tanpa penyangga akar yang kokoh, ada benih pengharapan tanpa tunas ketercapaian, seperti mimpi idaman yang tak pernah terwujud. Ada doa panjatan tanpa altar pengkabulan, seperti permohonan yang tak pernah didengar, dan pertaubatan tak sempurna yang dijawab tanpa pengampunan, seperti dosa yang tak terhapuskan. Semua itu adalah gambaran dari kegagalan, kehilangan, dan kekosongan yang kini menjadi identitas ruh yang Laura tak dapat menyebut atau membayangkannya, sebuah peringatan keras yang tiba-tiba juga ditunjukkan tepat ke dirinya sendiri.
"Apakah mereka telah terlambat? Terlambat menyadari makna hidup, terlambat memperbaiki kesalahan, terlambat mencari pencerahan?" Batin Laura bertanya, suaranya memantul di dinding kamarnya yang sunyi, namun esensinya menembus batas dimensi, menanyakan langsung ke arah catatan lembaran para arwah yang seakan-akan baru saja mengunjunginya, yang seakan-akan baru saja melontarkan pesan-pesan mengerikan itu. "Apakah selama ini mereka telah lalai? Lalai dalam menjaga diri, lalai dalam memahami konsekuensi, lalai dalam menimbang setiap pilihan hidup?" Pertanyaan-pertanyaan itu menusuk, mencari akar masalah dari kehancuran yang kini menimpa orang-orang yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal. "Apakah mereka tak pernah mau berpikir tentang hari mereka yang kini mereka berada di dalamnya? Hari pembalasan, hari pertanggungjawaban, hari di mana semua perbuatan akan dihitung dan dibayar lunas?" Laura merasa seolah sedang berhadapan dengan takdir itu sendiri, menanyakan mengapa dan bagaimana ini semua bisa terjadi.
"Apabila aku mendapati keberadaan bahkan sekadar bayangan mereka, itu bukanlah mereka yang sebenarnya." Tegas Laura mencoba mengelak di hadapan banyak gerbang tanda tanya, suaranya kini memaksa penegasan, seolah ada kekuatan baru yang bangkit dalam dirinya. Dengan gerakan cepat dan penuh tekad, Laura menyingkirkan selimut tebal yang tadi memperisai wajahnya. Matanya yang tajam kini memancarkan keberanian, memperhatikan keadaan kamar di sekelilingnya. Meskipun tidak ada sosok fisik yang terlihat, terdapat semacam energi yang tetap saja membuat ia merasa tidak nyaman, sebuah aura dingin yang kentara. Ia merasa serasa diawasi oleh mata yang mengelak, mata yang tak terlihat namun terasa begitu intens, oleh pengendap yang lihai, yang bersembunyi di balik kegelapan dan keheningan malam. Ada semacam sentuhan tanpa sentuhan yang menyentuh perasaannya, sebuah sensasi halus yang merayap di kulitnya, diiringi bisikan-bisikan di batas pendengaran. Ada semacam kedatangan kabar-kabar gaib yang datang tanpa kosa kata, tanpa bentuk visual yang jelas. Ia datang dalam bentuk intuisi suasana yang kuat, sebuah pemahaman yang meresap langsung ke dalam kesadarannya, memberitahunya bahwa ia tidak sendirian di kamar itu, bahwa ada sesuatu yang hadir, menunggu atau mungkin mengamati.
Baginya, identitas manusia yang kini telah menjadi arwah adalah sebuah pertanyaan misteri yang tak terpecahkan, rahasia peredaran entitas seseorang yang telah mati adalah konteks inefabel yang terkubur oleh banyaknya alexithymia, ketidakmampuan untuk mengenali atau menjelaskan emosi, baik diri sendiri maupun orang lain. Ini menyakitkan, sebuah pertanyaan untuk jiwa di seberang sana, yang juga sebuah pertanyaan sama untuk jiwa di dirinya sendiri. Sudah ada berpuluh-puluh miliyar jiwa manusia yang turun ke alam kubur, dan hampir sebagian besar dari mereka kini terselubungi oleh kutub pertanyaan; di manakah keberadaan dan bagaimanakah keadaan mereka yang sebenarnya? Jumlah jiwa yang terkunci dan tak mampu lagi berhubungan dengan dimensi fisik nyaris menghalangi banyak keinginan tentang upaya menghindari jebakan alam maut.
Dan Doni, dengan impiannya yang terucap lima menit sebelum semuanya dibiarkan terkubur, hancur dan ambruk dalam hatinya yang pernah merangkai, sisa dari konstruksi cita-citanya tentang tiga gadis kini meninggalkan bentuk keanehan di sekitar Laura. Dan maut berbicara melampaui kisah cintanya, mendahului dengan kabel tembaga, dan sengatan takdir yang membekukan seluruh keinginannya.
"Apakah sebagian orang akan mengabaikannya? Dan kemudian apa yang diabaikan itu mendatanginya secara tiba-tiba, tanpa peringatan. Apakah sebagian orang mencoba mesederhanakan hal kematian menjadi sesuatu yang dapat dianggap remeh? Dan di kemudian hari hal yang dianggap remeh itu datang dan menimpanya dengan sangat berat, menghancurkan segalanya. Karir yang dititi, target yang diteliti, keluarga yang didekati, cinta yang digeluti, semus hancur dikuliti. Apakah orang-orang itu membiarkan diri mereka berdiri di tengah rel perlintasan kereta maut?" Laura bergumam, mempertanyakan banyak hal, mempertanyakan keluguan yang berkamuflase. Tidak ada yang salah ketika seseorang memiliki arah pikir yang sangat kritis, yang salah hanyalah pola pikir yang dipaksa mengasingkan diri dari kenyataan, sehingga ia tak mampu melihat ke arah lain yang mungkin lebih luas, lebih tinggi dari sekedar atap ubun-ubun, lebih valid, lebih autentik, dan berdasarkan logika substansial kehidupan.
Laura merasa dirinya memperoleh pendidikan tentang hukum kausalitas, hukum yang memberikan sebab yang akan berakibat, inilah permainan domino dari Tangan Yang Maha Kuasa, sebuah tatanan ilahi yang tak terbantahkan. Domino untuk hari ini hingga domino untuk seribu tahun ke depan telah disusun, berjejer sangat rapi, di setiap domino ada cabang dinamika, di setiap dinamika ada skenario tetap yang tak bisa diubah, di setiap skenario ada keadilan yang tak bisa ditawar. Dan disetiap jiwa; ada boneka berupa fisik jasmani, ia akan celaka karena jalur domino yang ia lalui dengan pilihan-pilihan yang salah, dan ia akan selamat karena jalur domino yang ia beruntung diletakkan melaluinya. Dua arah dengan dua lubang kubur, dua liang gelap dengan tangga dan lubang lainnya yang jauh lebih kelam.
...****************...
Akhir tragis selalu diawali, bahkan sejak seseorang itu lahir, untuk menjalani hidup yang bersalah, ia mengambil bagian replika yang berjahit kekurangajaran, dengan kesalahan yang bahkan tak disadari, kelengahan itu membuat seseorang terjatuh, lebih jauh dan lebih dalam, hingga berujung pada petaka yang merupakan bentuk kedatangan hakim tak berwujud.
Ironi kuburan bercampur dilema kematian, empati di atas pusara ditumbuk prasangka bawah nisan, dogma moralitas dibunuh distorsi teori, dan apologi mapan diganggu justifikasi perenungan.
Ini tentang bau mayat yang bercerita melalui hidung, bukan hanya melalui telinga yang mendengung, ada darah yang mengalir di bawah awan mendung, jangan biarkan jiwa terdiam bingung, sebab ombak kematian datang dan menindih seperti gunung.
Bau mayat menembus empat lapis dari hidung, tenggorokan, paru-paru dan sensor otak, lihat empat lapis ke bawah kubur dari nisan, tanah, kayu, kafan dan di sana ada tengkorak botak. Dari kepala yang mencoba melompat seperti katak, tulang leher yang diinjak patah terhentak, diinjak oleh suara yang membentak, tiada henti meski jantung berhenti berdetak, hingga ia dicetak rata dengan tanah dan dibiarkan tergeletak.