Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tak butuh waktu lama, Kartini pun tiba di lobi gedung perkantoran yang megah itu. Ia berjalan cepat memeluk map yang Arga minta, ingin segera tiba di ruangan. Jika tidak cepat sampai, singa galak itu pasti akan menerkamnya.
"Kakak Ipar?" Sapa seorang pria terdengar kencang di telinga Kartini.
Kartini yang terburu-buru pun akhirnya berhenti, menatap sepupu Arga itu. "Saya Tuan."
"Emmm... pengantin baru kok bukan berbulan madu ke Eropa atau paling tidak keliling Indonesia. Eh, suami kamu itu malah langsung kerja. Saya kok curiga kalau pernikahan kalian itu hanya pura-pura," Kenzo menyelidik.
"Mas Arga akan menyelesaikan pekerjaannya dulu, Tuan," Kartini terpaksa mengarang cerita. Ia awalnya tidak mau menanggapi, tapi rupanya Kenzo sudah bisa membaca pikiran Arga. Ia harus hati-hati, jika Kakek sampai tahu bahwa ia dengan Arga berbohong tentu saja merasa jadi orang paling jahat kepada kakek.
"Hahaha... Kamu ternyata belum sadar Tini, Arga itu menikahi kamu hanya karena mempertahankan jabatan Ceo," sindir Kenzo tertawa meledek.
"Maaf Tuan, saya terburu-buru," Kartini segera menjauh dari Kenzo.
"Hai, kenapa Kakak terburu-buru?" Kenzo mengejar Kartini lalu berjalan bersebelahan.
"Maaf Tuan, Arga menunggu saya," Kartini tidak lagi menoleh pria di sebelahnya. Namun Kenzo terus mengejar.
"Tini, apa kamu akan terus bertahan padahal Arga menikahi kamu tidak tulus? Saya hanya kasihan kepadamu, Arga itu sudah mempunyai pacar yang sangat dia cintai," Kenzo membujuk Kartini agar meninggalkan Arga sebelum kecewa terlalu dalam. Tentu saja Kenzo ada kepentingan pribadi jika Arga dan Kartini akhirnya berpisah.
"Maaf Tuan, saya terburu-buru, dan tolong jangan mencoba untuk membujuk saya. Biarlah rumah tangga saya dengan Arga kami yang jalani, orang lain tidak boleh ikut campur!" Tegas Kartini.
"Hebat-hebat, menikah baru kemarin tapi kamu sudah menjadi istri bijak," Kenzo tidak mau berhenti meledek. Merasa Tini tidak terpengaruh dengan kata-katanya Kenzo kesal lalu menahan tangan Kartini.
Kartini kaget menghempaskan tangan Arga, keduanya melempar tatapan dengan ekspresi yang berbeda.
"Kamu ternyata cantik juga," Kenzo menjilati bibirnya dengan ekspresi wajah mesum. Tanpa ia sangka Kartini mendorong tubuh Kenzo kuat-kuat hingga pria itu sempoyongan.
"Jaga sikap Anda, berani macam-macam saya adukan pada Kakek!" Ancam Kartini mendelik merah. Ia tidak takut walau Kenzo adik Arga.
Tuuut... tuuut...
Handphone Kartini bergetar, setelah melihat nama Bos Galak muncul dia letakkan di telinga.
"Cepat, kenapa kamu lama sekali!" suara Arga menggelegar. Kartini menjauh dari Kenzo menjawab sambil berjalan.
"Sudah di lobi Bos, sabaaaarrr..." jawab Kartini panjang, lalu matikan handphone. Dia masuk ke dalam lift, hanya hitungan detik pun terasa lama karena perasaan takut Arga semakin marah.
Begitu lift terbuka Kartini tiba di lantai lima, karena belum tahu di mana ruangan Arga, ia akan bertanya. Kebetulan berpapasan dengan beberapa karyawan yang pernah datang ke rumah dan kebetulan mengenal dirinya menyapa dengan ramah.
"Eh, Mbak Kartini! Mau ke mana?" Tanya supir Arga.
"Saya di panggil Tuan Arga Pak," Kartini berharap supir itu tidak tahu jika ia menikah dengan Arga. Kartini melanjutkan perjalanan dan bertemu lagi dengan beberapa orang. Ternyata wajah Kartini sudah banyak juga yang mengenal.
"Kok tumben Mbak Kartini ke kantor?" Tanya staf entah bagian apa, pria itu beberapa kali datang ke rumah, Kartini yang membuatkan minum bila bibi maupun Milah sedang repot.
"Saya di suruh bos Arga mengantar berkas yang tertinggal!" jawab Kartini lalu bertanya di mana ruangan Arga.
"Mari saya antar, Mbak," kata karyawan pria muda menunjukkan ruangan Arga. Dalam perjalanan tanpa Kartini sadari pria itu selalu melirik Kartini. Dia tersenyum tipis, ternyata di balik badan yang lebar, Kartini sangat cantik. "Ternyata cewek ini cantik juga," batinya. Tetapi pria itu harus kecewa ketika tiba di depan ruangan Ceo tentu saja segera berpisah.
Tok tok tok.
Kartini mengetuk pintu ketika tiba di depan ruangan besar bertuliskan nama lengkap Arga, berikut jabatan Ceo.
Sita, sekretaris yang sedang sibuk mengetik di komputernya. Begitu mendengar suara pintu di ketuk kemudian melangkah ke arah pintu.
"Maaf, saya ingin bertemu Tuan Arga," ucap Kartini, tentu ingin memberikan berkas itu sendiri.
"Maaf, Mbak ini siapa? Ada keperluan apa dengan Pak Arga?" tanya Sita sopan, matanya meneliti penampilan Kartini yang tampak sederhana masih mengenakan baju piama.
"Saya Kartini pengasuh Tuan Chandresh, Mbak. Saya disuruh Pak Arga mengantar dokumen ini," Kartini mengangkat map warna biru tersebut.
Mendengar penuturan Kartini dan melihat berkas yang memang khas untuk rapat, Sita paham.
"Oh, jadi Mbak Kartini yang dimaksud Pak Arga. Silakan masuk, beliau sudah menunggu dari tadi," kata Sita lalu berjalan mendahului Kartini membukakan pintu ruangan.
Kriyyk...
Pintu terbuka lebar. Sita mengantar Kartini masuk hingga ke depan meja kerja Arga.
"Pak, ini orang yang dimaksud sudah datang membawa berkasnya," lapor Sita dengan hormat.
Arga yang sedang mondar-mandir gelisah menunggu berkas seketika menoleh. Matanya bertemu pandang dengan Kartini. Ia buru-buru melangkah maju, berniat mengambil berkas itu, tapi karena merasa punya perhitungan dengan Kartini ia menyuruh Sita keluar.
"Kamu menunggu di luar!"
"Baik Tuan."
"Kamu! Kenapa lama sekali?!" Tandas Arga, tatapan sayu tadi berubah tajam.
"Ada masalah di jalan sedikit, Bos," Kartini tidak mau mengatakan jika di lobi tadi Kenzo yang mengganggu.
"Terus di telpon tadi ngomong apa, kamu?!" Ketus Arga sambil melangkah maju sepertinya ingin mengadili istri kontrak-nya itu.
"Memang ngomong apa saya, Bos?" Kartini pura-pura tidak tahu padahal sebenarnya tahu yang Arga maksud ketika ia menyebut burung betet milik tetangga.
"Jangan pura-pura lupa, kamu!" Arga membungkuk menekan dua sisi bibir Kartini, menatap wajah Kartini lekat.
Bukan hal yang sulit untuk Kartini melepaskan diri. "Bos, ini berkasnya, katanya mau cepat-cepat," Kartini mengalihkan. Jika dia ladeni, Arga semakin senang melihatnya tertekan.
"Jawab dulu, kamu tadi menyamakan saya seperti apa."
"Tidak-tidak! Saya minta maaf," Kartini menangkupkan tangan di dada. "Bos ganteng seperti aktor drakor, Bos tidak seperti Burung betet," Kartini menekan kata "Burung betet. Lalu berjalan melipir di pinggir tembok mendekati meja kerja. Dia letakkan berkas di meja tersebut.
"Sudah ya, Bos, saya pamit pulang. Di rumah Kakek sudah menunggu," Kartini bergegas keluar melewati Sita lalu minta pamit.
"Hati-hati Mbak Kartini," Sita tersenyum ramah.
"Sama-sama, Mbak Sita," Kartini membuka pintu dengan perasaan lega karena terbebas dari Arga. Namun, ia justru menabrak wanita yang ia kenal.
"Maaf-maaf, saya tidak sengaja," Panik Kartini karena wanita itu menatapnya tajam.
"Jalan itu lihat-lihat, Woe!" Bentak wanita itu.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau