Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut pelabuhan dan langkah nekat
Pagi itu, suasana di kantor pusat Bayu Group terasa sangat mencekam. Arden sudah mengenakan jaket kulit hitam di atas kemejanya, siap untuk memantau penggerebekan lewat ruang kendali. Sementara itu, Danantya sudah berada di dalam mobil operasional menuju pelabuhan Tanjung Priok bersama beberapa tim keamanan profesional.
"Danan, ingat. Jangan gegabah. Tunggu pihak kepolisian melakukan perimeter, baru kamu masuk untuk mengamankan dokumen manifes yang asli," instruksi Arden lewat alat komunikasi.
"Roger, Den. Aku mengerti," jawab Danantya dengan nada dingin yang sangat profesional.
Namun, Danantya tidak menyadari bahwa di baris kursi paling belakang mobil van tim legal, seorang gadis berusia 20 tahun sedang meringkuk dengan jantung berdebar kencang. Evara Swastamita telah menyelinap masuk saat tim sedang sibuk memasukkan peralatan.
Kenekatan Evara
Evara sebenarnya hanya ingin memastikan Danantya baik-baik saja. Baginya, pria itu terlalu sering menghadapi bahaya sendirian tanpa ada yang menghiburnya. Dengan gaya "cegil" yang melekat kuat, ia berpikir bahwa kehadirannya bisa menjadi suntikan semangat bagi Kak Danan-nya.
Saat mobil sampai di area pergudangan yang kumuh dan terpencil, Evara mulai merasa takut. Bau karat dan air laut yang anyir menyeruak. Ketika semua tim keluar untuk berkoordinasi dengan polisi, Evara diam-diam turun dan bersembunyi di balik tumpukan kontainer.
"Kenapa tempat ini seram banget sih?" bisik Evara pada dirinya sendiri. "Violet kalau tahu aku di sini pasti bakal marah besar."
Di Sisi Lain: Kecemasan Violet
Di apartemen Arden, Violet terus mondar-mandir di ruang tengah. Ia merasa sangat gelisah. Meskipun Arden memintanya tetap di rumah demi keamanan, jiwa mudanya yang meledak-ledak tidak bisa tinggal diam.
"Tuan, tolong angkat teleponnya," gumam Violet sambil memegang ponselnya erat.
Ia kemudian menelepon Lavanya Purnama. "Vanya! Evara hilang! Aku cek lokasi GPS di ponselnya, dia ada di pelabuhan. Kayaknya dia ngikutin Kak Danan!"
"Apa?!" suara Lavanya terdengar panik dari seberang telepon. "Anak itu benar-benar gila! Violet, jangan ke sana sendirian. Aku jemput sekarang, kita minta bantuan Kak Kenzo."
Avyana Hazel yang saat itu sedang bersama Kenzo di kantor divisi desain, langsung bereaksi saat mendapat kabar dari Lavanya.
"Kak Kenzo, kita harus ke pelabuhan sekarang. Evara dalam bahaya," ucap Avyana dengan nada yang tetap tenang namun tatapannya sangat mendesak.
Kenzo langsung menyambar kunci mobilnya. "Ayo. Danantya bisa membunuhku kalau terjadi apa-apa pada gadis kecil itu di bawah pengawasannya."
Kekacauan di Gudang Nomor 9
Di gudang nomor 9, penggerebekan dimulai. Suara teriakan polisi dan derap langkah kaki menggema. Danantya masuk dengan sangat hati-hati, tangannya memegang tas berisi alat perekam data.
Namun, di tengah kekacauan itu, salah satu kaki tangan Arjuna melihat Evara yang sedang mengintip dari balik tumpukan drum. Pria itu menyeringai licik. Ia tidak menyangka akan mendapatkan umpan yang begitu berharga.
"Dapatkan gadis itu!" teriak salah satu preman.
Evara berteriak kencang saat tangannya ditarik kasar. Suara teriakan itu membelah keramaian dan langsung sampai ke telinga Danantya.
"Evara?!" Danantya mematung. Wajahnya yang kaku berubah menjadi pucat pasi. Ia melihat Evara sedang diseret oleh dua pria menuju sebuah mobil yang sudah siaga.
Tanpa pikir panjang, Danantya berlari secepat kilat. Ia tidak lagi memedulikan protokol keamanan yang diajarkan di London. Baginya, keselamatan Evara adalah prioritas mutlak melampaui dokumen apa pun.
Bugh!
Danantya menerjang salah satu pria itu dengan tendangan keras. Terjadi perkelahian sengit. Danantya yang biasanya hanya bertarung lewat angka dan logika, kini harus menggunakan ototnya untuk melindungi Evara.
Kedatangan Sang Penyelamat
Tepat saat pria kedua hendak memukul Danantya dari belakang dengan balok kayu, sebuah mobil SUV meluncur kencang dan mengerem mendadak tepat di depan mereka. Kenzo keluar dari mobil, disusul oleh Avyana, Lavanya, dan Violet.
"Lepaskan mereka!" teriak Kenzo sambil membantu Danantya melumpuhkan lawan.
Violet langsung berlari memeluk Evara yang sudah menangis sesenggukan. "Evara! Kamu bodoh ya?! Ngapain ke sini?!"
"Aku cuma mau jagain Kak Danan, Vi..." isak Evara di pelukan Violet.
Danantya berdiri dengan napas terengah-engah, sudut bibirnya sedikit berdarah. Ia menatap Evara dengan tatapan yang sangat tajam, namun di balik kemarahan itu, tersirat kekhawatiran yang luar biasa besar.
"Pulang," ucap Danantya dengan suara rendah dan bergetar. "Pulang sekarang, Evara. Jangan pernah berani melakukan ini lagi."
Arden dan Kemarahan yang Dingin
Satu jam kemudian, mereka semua sudah berada di markas keamanan Bayu Group. Arden berdiri di depan mereka semua dengan tangan bersedekap. Suasananya jauh lebih menyeramkan daripada saat di pelabuhan tadi.
"Kalian semua... masih berumur dua puluh tahun atau kurang," suara Arden terdengar sangat dingin, membuat Violet sedikit menunduk. "Kalian menganggap ini adalah permainan petualangan? Kalian tahu apa yang bisa terjadi kalau tim keamanan terlambat satu menit saja?"
Violet memberanikan diri mendekat. "Tuan, maafkan kami. Evara hanya..."
"Diam, Violet," potong Arden. Ia menatap Violet dengan tatapan yang menunjukkan betapa ia sangat ketakutan kehilangan gadis itu. "Aku melakukan semua ini agar kamu aman. Tapi kamu justru membawa dirimu ke sarang serigala."
Arden beralih ke Danantya. "Dan kamu, Danantya. Kamu membiarkan perasaanmu mengganggu fokusmu di lapangan. Ini kegagalan profesional yang besar."
Danantya hanya menunduk. "Maaf, Den. Aku yang salah."
Lavanya Purnama mencoba menenangkan suasana. "Kak Arden, Kak Danan, tolong mengerti. Mereka masih muda, emosi mereka lebih besar daripada logika. Tapi mereka melakukannya karena peduli."
Arden menghela napas panjang, mencoba meredam amarahnya. Ia menarik Violet ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Violet bisa merasakan detak jantung Arden yang masih tidak stabil.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Violet. Aku bisa gila kalau sesuatu terjadi padamu," bisik Arden di telinga Violet.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...