NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 25: "Langkah yang Berbeda dan Rahasia di Balik Meja Makan"

​Pagi di Kediri menyapa dengan sisa-sisa aroma tanah basah yang menyegarkan. Matahari malu-malu mengintip dari balik awan kelabu, menyiram kompleks pesantren dengan cahaya keemasan yang lembut. Suara lantunan selawat dari pengeras suara masjid sayup-sayup terdengar, berpadu dengan riuh rendah santri yang mulai beraktivitas menuju madrasah.

​Di dalam kamar rumah mungil Zain dan Shania, Shania masih berdiri di depan cermin besar. Ia merapikan gamis berwarna moka yang dipadukan dengan jilbab instan dan cadar yang senada. Berkali-kali ia menghela napas, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih sisa dari "pertempuran" semalam dan sesi tahajud yang begitu emosional. Namun, saat ia mencoba melangkah menuju pintu, sebuah sensasi asing menyerang otot-otot kakinya.

​"Aduh," gumamnya pelan.

​Langkahnya terasa kaku, sedikit melebar, dan ada rasa pegal yang tidak biasa di pangkal pahanya. Shania meringis, mencoba berjalan sealami mungkin, namun tetap saja terlihat ada yang tidak beres dengan koordinasi kakinya.

​"Kenapa? Karpetnya licin?" sebuah suara bariton yang sangat ia kenal menyapa dari arah pintu kamar mandi.

​Zain berdiri di sana, menyampirkan handuk kecil di lehernya. Rambutnya yang masih basah memberikan kesan segar yang luar biasa, membuat wibawa ustadz-nya sedikit luntur berganti dengan pesona pria dewasa yang maskulin. Matanya yang tajam langsung menangkap cara berjalan Shania yang tidak biasa.

​Shania mematung, pipinya langsung merona.

"Enggak, Mas. Cuma... kakiku agak kesemutan. Mungkin karena tadi kelamaan duduk saat dzikir."

​Zain mendekat, langkahnya tenang namun pasti. Ia berhenti tepat di depan Shania, melipat tangan di dada dengan senyum simpul yang membuat Shania ingin menghilang saat itu juga.

"Kesemutan atau... efek 'mahar janji' semalam yang terlalu mendalam?"

​"Mas Zain!"

Shania memukul lengan Zain pelan, yang hanya dibalas dengan tawa rendah.

"Jangan keras-keras, nanti kedengaran santri di luar!"

​"Santri tidak akan dengar, Sayang. Tapi cara jalanmu itu... kalau Abah atau Ummi lihat, mereka pasti langsung tahu kalau menantunya sedang tidak baik-baik saja secara fisik, tapi sangat baik-baik saja secara batin," goda Zain lagi, matanya mengedip nakal.

​"Ih, Mas Zain kok jadi menyebalkan begini sih? Mana Ustadz Zain yang dingin dan kaku itu?"

Shania bersungut-sungut, mencoba melangkah melewati Zain menuju pintu, namun gerakannya yang kaku justru membuatnya hampir limbung.

​Dengan sigap, tangan kekar Zain melingkar di pinggang Shania, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Zain merunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Shania hingga bulu kuduk wanita itu berdiri.

"Ustadz yang dingin itu sudah mencair semalam, Sayang. Dibakar oleh semangat 'Zain Junior', ingat?"

​Shania mencubit pinggang Zain, membuat pria itu mengaduh namun tetap tidak melepaskan pelukannya.

"Sudah, ayo ke Ndalem. Aku lapar, Umi meminta kita sarapan di sana. Dan martabak semalam sudah lari entah ke mana energinya."

​"Tentu saja sudah jadi energi. Energi yang luar biasa produktif," Zain terkekeh, akhirnya melepaskan pelukannya namun tetap menggenggam tangan Shania erat.

"Mari, biarkan saya menuntun 'singa' saya yang sedang mengalami kendala teknis pada kakinya ini menuju Ndalem."

​Meja makan di kediaman utama Ndalem sudah tertata rapi. Aroma nasi goreng kencur dan telur dadar meruap, membangkitkan selera. Abah Abdullah dan Ummi Zainab sudah duduk di sana, berbincang santai sambil menunggu anak dan menantu mereka.

​Shania menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki ruang makan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berjalan normal, namun setiap langkah terasa seperti pengingat akan kejadian beberapa jam lalu.

​"Assalamualaikum, Abah, Ummi," sapa Zain dengan nada suara yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Waalaikumussalam. Sini, duduk," jawab Ummi Zainab hangat.

Matanya yang jeli beralih pada menantunya yang tampak lebih banyak diam di balik kain cadar mokanya.

"Shania, kok sorot matamu sayu sekali, Nduk? Apa kamu kurang tidur? Wajahmu yang terlihat sedikit di balik cadar itu juga tampak pucat."

​Shania duduk dengan sangat hati-hati di kursi kayu jati itu, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar gugup.

​"Eh, enggak kok, Ummi. Cuma... semalam hujannya deras banget, jadi agak kedinginan," jawab Shania pelan, tangannya sedikit merapikan kain yang menutupi wajahnya agar Ummi tidak melihat rona merah yang menjalar hingga ke pelipisnya.

​Abah Abdullah menyesap teh hangatnya, matanya menatap Shania lalu beralih ke Zain. Sebagai orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan, beliau menangkap sesuatu yang berbeda dari aura menantunya pagi ini. Ada binar yang lebih cerah, namun juga ada kegugupan yang coba disembunyikan.

​"Zain, setelah sarapan, kamu ada jadwal di aula atas?" tanya Abah Abdullah.

​"Ada, Abah. Mengisi kajian kitab Fathul Izar untuk santri senior," jawab Zain santai.

​Mendengar nama kitab itu disebut, Shania hampir saja tersedak air putih yang baru saja ia minum. Fathul Izar. Kitab yang membahas tentang pendidikan seks dan rumah tangga dalam Islam. Ia melirik Zain dengan tatapan tajam, namun sang suami justru membalasnya dengan senyuman paling polos sedunia.

​"Oh, bagus itu. Kontekstualisasikan dengan zaman sekarang ya, Zain. Jangan terlalu kaku," tambah Abah Abdullah.

​"Tentu, Abah. Zain sudah punya banyak 'materi praktik' terbaru untuk dibahas," sahut Zain telak, membuat Shania benar-benar menendang kaki Zain di bawah meja.

​"Aduh!" pekik Zain spontan.

​"Kenapa, Le?" tanya Ummi Zainab bingung.

​"Ini... anu, Mi. Ada nyamuk besar di bawah meja. Gigitannya kencang sekali," kilah Zain sambil mengusap tulang keringnya yang baru saja jadi korban keganasan kaki istrinya.

​Shania pura-pura sibuk dengan nasi gorengnya, meski hatinya bersorak puas. Namun, kemenangannya tidak bertahan lama. Saat Shania hendak mengambil kerupuk yang letaknya agak jauh di tengah meja, ia terpaksa sedikit berdiri. Gerakan spontan itu membuat ototnya kembali protes, dan ia terduduk kembali dengan bunyi 'puk' yang cukup keras di kursi.

​"Shania? Kamu, sakit pinggang?"

Ummi Maryam bangkit, mendekati menantunya itu.

"Keningmu berkeringat, Nduk. Apa mau Ummi panggilkan tukang urut langganan pesantren?"

​"Jangan, Ummi!" sahut Shania dan Zain hampir bersamaan.

​Keduanya saling lirik. Shania merasa wajahnya sudah seperti kepiting rebus di balik cadar.

​"Maksud saya, Mi... Shania cuma butuh istirahat. Dia tadi pagi semangat sekali membantu saya... eh, merapikan perpustakaan pribadi di rumah. Jadi mungkin agak kecapekan ototnya."

Zain mencoba menyelamatkan keadaan, meski kalimatnya justru terdengar semakin mencurigakan bagi Shania.

​Ummi Maryam tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang membuat Shania ingin mengubur diri di bawah lantai dapur.

"Oalah... merapikan perpustakaan sampai pegal-pegal ya? Ya sudah, nanti Ummi buatkan jamu kunyit asam supaya badannya segar lagi. Penting itu buat pengantin baru."

​"Terima kasih, Ummi," bisik Shania lirih, nyaris tak terdengar.

​Setelah sarapan yang penuh dengan "ranjau" godaan itu selesai, Zain mengajak Shania berjalan-jalan sebentar di selasar samping Ndalem yang menghadap ke kebun mawar milik Ummi Zainab. Suasana mulai sepi karena para santri sudah masuk ke kelas masing-masing.

​Zain sengaja memperlambat langkahnya, menyesuaikan dengan langkah Shania yang masih sedikit egrang.

​"Mas Zain, jahat banget tadi di meja makan," protes Shania sambil mencubit lengan Zain lagi.

​"Jahat bagaimana? Saya, kan hanya menjawab pertanyaan Abah dan Ummi," balas Zain tanpa dosa.

Ia kemudian berhenti, memutar tubuh Shania agar menghadapnya. Ia merapikan sedikit letak cadar Shania yang miring.

"Tapi jujur, Shania... melihatmu berjalan seperti itu, membuat saya merasa menjadi pria paling beruntung sekaligus merasa bersalah."

​"Bersalah kenapa?"

​"Bersalah karena sepertinya saya terlalu bersemangat menagih 'mahar janji' itu. Apa sakit sekali?" tanya Zain, kali ini nadanya berubah menjadi lembut dan penuh perhatian, hilang sudah nada jahilnya yang tadi.

​Shania menunduk, memainkan jemari Zain.

"Bukan sakit yang gimana-gimana, Mas. Cuma... ya, kaget saja. Namanya juga pertama kali buat, aku."

​Zain menghela napas panjang, lalu mengecup puncak kepala Shania.

"Terima kasih ya sayang, sudah mau berjuang bersama, saya. Terima kasih sudah menerima semua kegilaan saya semalam. Saya janji, setelah kajian kitab nanti, saya akan memijat kakimu sendiri. Tidak perlu tukang urut langganan, Ummi."

​"Beneran ya? Mas Zain bisa mijat?"

​"Ustadz itu serba bisa, Shania. Dari mijat hati yang galau sampai mijat kaki istri yang pegal, saya ahlinya."

Zain kembali ke mode percaya diri tingkat tingginya.

​Shania tertawa, rasa canggungnya perlahan mencair.

"Dasar narsis."

​"Oh iya, satu lagi."

Zain menahan langkah Shania yang hendak masuk kembali ke dalam.

"Nanti sore, saya mau mengajakmu ke suatu tempat."

​"Ke mana? Beli martabak lagi?"

​"Bukan. Kita ke toko perlengkapan bayi," bisik Zain.

​Mata Shania membulat.

"Mas! Kan belum tentu juga langsung jadi!"

​"Optimisme itu sebagian dari doa, Sayang. Saya, mau kita lihat-lihat dulu, supaya kamu punya motivasi untuk sembuh lebih cepat dari 'kesemutan' itu. Karena nanti malam... siapa tahu ada kuis Umar bin Khattab bab selanjutnya?"

​"MAS ZAIN!!!"

​Shania berteriak gemas sambil mencoba mengejar Zain yang sudah berlari kecil menuju aula, meninggalkan istrinya yang masih berjalan kaku namun dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya di balik cadar.

Di bawah langit Kediri yang mulai cerah, Shania menyadari bahwa hidup bersama seorang ustadz dingin dan kaku tapi puitis bin jahil seperti Zain adalah petualangan yang tak akan pernah membosankan.

​Cinta mereka mungkin berawal dari perjodohan dan perbedaan dunia yang kontras, namun di atas sajadah dan di antara aroma martabak manis, mereka menemukan bahasa yang sama. Bahasa yang tidak butuh banyak teori, hanya butuh ketulusan, kesabaran, dan tentu saja... sedikit godaan di pagi hari.

​Bersambung ....

1
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!