NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PERMAINAN CATUR DI LERENG GUNUNG

TIK... TIK... TIK... (Suara hujan menghantam atap seng gudang).

Hujan turun rintik-rintik di lereng Gunung Banyak, menyamarkan suara langkah kaki di atas dedaunan kering. Di sebuah ruko tua yang berfungsi sebagai gudang logistik milik perusahaan properti Tuan Jagad, suasana tampak tegang.

Belasan pria dengan jaket kulit hitam berjaga di setiap sudut, menggenggam botol minuman keras dan senjata tajam.

Di tengah ruangan yang remang itu, seorang pria dengan jaket jin lusuh dan helm kusam turun dari motor Honda CB-nya yang menderu pelan. BRRRRRMMM...

Arka Nirwana. Tangannya yang dibalut perban putih tampak kontras dengan kegelapan malam.

"Heh! Tukang buku!" teriak Kancil. PYAARRR! Ia membanting botol ke lantai. "Mana sertifikat ruko itu? Atau gue bikin anak lu yatim malem ini!"

Arka tidak langsung menjawab. Ia melepas helmnya, menyeka air hujan dari wajahnya yang tampak lelah. Matanya sayu, seperti orang yang kurang tidur karena terlalu banyak menyusun rak buku.

"Dafa sudah tidur. Saya ke sini cuma mau ambil kembali tas pinggang saya yang Mas ambil kemarin. Di dalamnya ada uang setoran buku yang harus saya bayar ke penerbit."

Tawa pecah di seluruh gudang. Belasan preman itu merasa sedang menonton pertunjukan komedi. Seorang pria yang nyawanya di ujung tanduk, hanya memikirkan uang setoran buku?

"Hahaha! Lu denger itu? Dia mau uangnya balik!" Kancil melangkah maju, menepuk-nepuk pipi Arka dengan kasar. PLAK! PLAK!  "Duitnya udah gue pake buat beli bir, Goblok! Sekarang, mana sertifikatnya?!"

Arka menunduk, bahunya sedikit bergetar. Orang-orang mengira dia takut. Padahal, Arka sedang mengatur napasnya.

Setiap tarikan napas adalah usaha berat untuk memicu aliran energi melalui meridian tubuhnya yang sedang terbelenggu.

"Kalau begitu... saya tidak punya pilihan," ucap Arka lirih.

"Pilihan apa, hah?!" Kancil mengangkat parangnya. WUUUUSSSHHHH!

DUB!

Suara itu sangat pelan, hampir tidak terdengar. Tangan Arka bergerak dengan kecepatan yang sangat wajar bagi mata manusia, namun memiliki presisi yang mustahil.

Dua jari Arka mematuk pergelangan tangan Kancil.TING!  (Suara dentingan parang yang jatuh ke lantai). Kancil mematung. HAAAH... HAAAH... Paru-parunya kaku. BRUK! Ia jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi.

"Kancil! Kenapa lu?!" teman-temannya mulai panik.

Arka melangkah maju. Langkahnya berat dan sedikit pincang, akting yang sempurna untuk menyembunyikan identitasnya.

Para preman menyerang. BRAAAKKK! BUGH! Arka menghindar dengan gerakan minimalis. TAP... SET...

TAK! TAK! TAK!

Ujung jari Arka mematuk titik saraf mereka. KRETEK! (Suara sendi yang terkunci). Satu per satu mereka tumbang seperti kartu domino. DEBUM! DEBUM!

Di mata pengamat medis, mereka hanya akan terlihat seperti orang yang mengalami kram otot mendadak atau serangan vertigo.

Arka terus berjalan menuju pintu kantor di ujung gudang. Di sana, Tuan Jagad sudah menunggu, duduk di kursi jati besar dengan keris Kiai Setan Kober yang telanjang di atas meja.

"Cukup menarik untuk seorang penjual buku," ucap Jagad, suaranya berat dan penuh wibawa ghaib.

"Kau tidak menggunakan tenaga dalam. Kau hanya menggunakan pengetahuan anatomi. Tapi, pengetahuan tidak akan menyelamatkanmu dari kutukan keris ini."

Jagad berdiri, menggenggam kerisnya. SSSSSS...Asap merah keluar dari bilahnya. Udara di ruangan itu mendadak menjadi panas dan berbau amis darah.

Inilah kekuatan ghaib yang selama ini membuat Jagad menjadi raja diraja di dunia bawah tanah Batu.

Arka berhenti di jarak tiga meter. Ia tampak terengah-engah, memegang dadanya yang sesak. "Tuan Jagad... kenapa harus pakai kekerasan? Saya cuma mau jualan buku dengan tenang di kota ini."

"Dunia ini bukan tempat untuk orang tenang, Arka!" Jagad menerjang. Kerisnya membelah udara, mengeluarkan suara jeritan wanita yang memekakkan telinga batin. HIYAAAAAAKKKK! (Suara jeritan ghaib dari bilah keris).

Arka menghindar, tapi... SREEET!  Karena tubuhnya hanya memiliki akses kekuatan yang sangat kecil, ujung keris itu berhasil merobek jaket jinnya. CESS... Darah segar menetes ke lantai.

Sakit ini nyata, batin Arka.

Jagad tertawa puas melihat korbannya terluka. "Lihat! Kau berdarah! Kau bukan dewa, kau bukan pahlawan! Kau hanya sampah yang beruntung bisa beladiri!"

Jagad kembali menyerang membabi buta. WUTSH! WUTSH! WUTSH!  Lidah api merah menyambar peti kayu di sekitar Arka. DUAAARRR!

Arka terpojok di sudut ruangan, GUBRAK!  Ia menabrak rak besi. Di saat genting itu, Arka memejamkan matanya. Ia tidak memanggil kekuatan elemennya yang tersegel.

Ia memanggil memori saat ia menjadi kuli panggul, memori tentang bagaimana menahan beban yang berat tanpa patah.

Jagad menusukkan keris tepat ke jantung Arka. Pada detik terakhir, Arka menjepit bilah keris dengan telapak tangannya. GRRRRRTTTT!

Perban Arka terbakar. SSSSSS... Kulitnya teriris. Darah mengucur deras. Namun, keris itu berhenti tepat satu inci dari dadanya.

Jagad mencoba mendorong dengan seluruh tenaganya, tapi tangan Arka seolah-olah menjadi dinding baja yang tidak bisa digeser.

"Kenapa... kenapa tanganku tidak bisa bergerak?!" Jagad panik. NGIIIINGGG! (Suara getaran keris yang tertahan).

Arka mendongak. Matanya yang sayu kini menatap tajam ke arah mata Jagad. Tidak ada cahaya ungu, tidak ada ledakan energi. Hanya sebuah tatapan dingin dari seorang pria yang sudah tidak memiliki rasa takut.

"Keris ini haus darah, kan?" bisik Arka. "Sekarang dia sudah minum darah saya. Berarti kontraknya dengan Anda... sudah selesai."

KREKKK! Arka memutar pergelangan tangan Jagad. Dengan satu gerakan yang sangat teknis, ia merebut keris itu dari tangan Jagad.

Ia tidak menggunakan kekuatan supranatural, ia menggunakan teknik pelucutan senjata militer tingkat tinggi.

Begitu keris berpindah tangan ke Arka, SHUUUUUT...  aura merahnya mendadak padam. Keris itu menjadi sepotong besi tua yang dingin dan tidak berdaya. THAK!  Arka meletakkan keris itu di meja dengan tenang.

"Keluar dari kota ini, Tuan Jagad," ucap Arka sambil menekan lukanya dengan sisa perban.

"Ambil semua orangmu. Jika besok pagi saya masih melihat ada jaket hitam di pasar, saya akan datang ke rumah Anda... bukan untuk bicara, tapi untuk menyapu debu."

Jagad gemetar. DRRRRR...  (Gigi Jagad bergemeletuk ketakutan). Ia merasa seluruh wibawa dan kekuatannya telah dicuri oleh pria di depannya.

Ia melihat anak buahnya yang bergeletakan di luar, semuanya lumpuh secara misterius. Tanpa sepatah kata pun, Jagad berlari keluar gudang, masuk ke mobilnya, dan tancap gas seperti orang gila. VREEEUMMM!

***

Satu jam kemudian, hujan sudah berhenti. Arka sedang duduk di pinggir jalan, memperbaiki rantai motornya yang lepas. KLIK... KLIK... Tangannya kotor oleh oli dan darah yang sudah mengering.

CIIIIIT!

Sebuah mobil jeep hitam berhenti di sampingnya. Reyna Viyanita turun dengan wajah khawatir, membawa kotak P3K. Di dalam mobil, Dafa tampak tertidur lelap di kursi belakang.

"Kau terluka lagi," ucap Reyna sedih. CESS... Ia menuangkan alkohol. "Aw!" Arka meringis. "Padahal kau bisa saja menggunakan satu jentikan jari untuk menghancurkan gudang itu."

Arka meringis saat alkohol menyentuh lukanya. "Kalau aku meledakkan gudang itu, seluruh intelijen dunia akan tahu keberadaanku. Aku ingin mereka menganggap ini hanyalah pertikaian antar preman lokal. Seorang penjual buku yang kebetulan jago silat... itu narasi yang lebih aman."

Reyna menghela napas. "Tapi Tuan Jagad tidak akan diam. Dia akan lapor ke atasannya di Lembah Hitam, mungkin sampai ke level provinsi."

"Biarkan saja," Arka menaiki motornya. "Biarkan mereka merasa menang karena berhasil melukaiku. Selama mereka menganggapku manusia biasa, mereka akan tetap sombong. Dan kesombongan adalah celah terbesar mereka."

BRRREEEEEMMMMM....!

Arka memacu motor bututnya kembali ke arah Kota Batu. Di sepanjang jalan, ia melihat lampu-lampu rumah warga yang mulai padam. Kota ini kembali tenang, setidaknya untuk malam ini.

***

Keesokan paginya, pasar Batu heboh. Kabar tentang "preman-preman Tuan Jagad yang mendadak sakit massal" menjadi buah bibir.

Orang-orang bilang mereka kena kutukan tanah keramat. Tidak ada yang curiga pada "Mas Arka" yang pagi itu sedang sibuk mengecat ulang pintu tokonya yang rusak ditendang kemarin.

Bahkan saat Pak RT datang bertanya, Arka hanya menjawab dengan polos.

"Wah, saya malah nggak tahu, Pak RT. Semalam saya di rumah saja, ngajarin Dafa menggambar. Syukurlah kalau premannya sudah nggak ada, jadi jualan buku saya lebih tenang."

Pak RT mengangguk, merasa kasihan melihat tangan Arka yang dibalut perban. "Kasihan ya Mas Arka ini, udah dagangan sepi, tangannya luka-luka pula gara-gara benerin rak. Sini Mas, saya bantu ngecatnya."

Arka tersenyum ramah, memberikan kuas pada Pak RT. Di dalam saku jaketnya, ia meremas sebuah chip memori kecil yang ia ambil dari kantor Tuan Jagad semalam.

Chip itu berisi data aliran dana Lembah Hitam ke beberapa pejabat tinggi di Jawa Timur.

Ini adalah kemenangan kecil dalam perang sunyinya. Arka Nirwana baru saja memenangkan satu petak di papan catur besar Nusantara.

Tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang menyangka, sang Satria Piningit sedang menyusun strategi untuk meruntuhkan seluruh jaringan mafia itu satu persatu, selembar buku demi selembar buku.

Dunia tetap melihatnya sebagai penjual buku yang gagal. Namun di balik rak-rak tua itu, seorang penguasa sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuka gembok segel berikutnya.

***

Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!