NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tak bisa di pisahkan

Beberapa hari berlalu, kondisi Yoga sudah jauh membaik. Wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya, meski masih terlihat sedikit lelah. Bella tetap setia berada di sampingnya, duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan setiap gerak-geriknya.

‎Pagi itu dokter masuk ke ruang perawatan dengan membawa map di tangannya. “Selamat pagi.”

‎Bella langsung berdiri. “Pagi, Dok.”

‎Yoga mengangguk pelan. “Pagi.”

‎Dokter mulai memeriksa, memastikan kondisi Yoga stabil. Setelah beberapa saat, ia tersenyum tipis. “Keadaan Anda sudah jauh lebih baik. Kalau tidak ada keluhan tambahan, hari ini Anda sudah boleh pulang.”

‎Bella langsung menghela napas lega. “Alhamdulillah…”

‎Yoga bersandar santai. “Akhirnya juga.”

‎Dokter menatapnya sedikit serius. “Tapi tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jaga pola makan, jangan sembarangan dulu. Istirahat cukup, jangan langsung kerja berat. Dan yang paling penting, jangan sampai kehujanan lagi.”

‎Rafi yang berdiri di belakang langsung menahan tawa. “Kena lagi lo.”

‎Yoga mendecak pelan. “Iya, Dok.”

‎Dokter melanjutkan, “Minum obat sesuai aturan. Jangan diabaikan.”

‎Bella langsung mengangguk cepat. “Iya, Dok, pasti.”

‎Yoga menoleh ke Bella. “Yang sakit aku, kenapa kamu yang jawab?”

‎Bella menatap tajam. “Karena kamu suka bandel.”

‎Dokter tersenyum melihat mereka. “Bagus, ada yang mengawasi.” Setelah itu ia pamit keluar dari ruangan.

‎Begitu dokter pergi, Bella langsung menatap Yoga dengan serius. “Kamu dengar semua kan? Harus diturutin.”

‎Yoga menghela napas panjang. “Iya, iya…”

‎Bella menyilangkan tangan. “Janji?”

‎Yoga menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Iya, aku janji.”

‎Di belakang, Rafi mencondongkan badan ke arah Althea. “Gue bilang juga apa, ini bukan pacaran lagi.”

‎Althea berbisik sambil menahan tawa. “Ini udah kayak suami istri.”

‎Rafi mengangguk pelan. “Serem.”

‎Bella yang tidak sadar hanya kembali duduk, memastikan Yoga nyaman.

‎Beberapa saat kemudian mereka berempat berjalan di koridor rumah sakit. Yoga berjalan pelan, Bella setia di sampingnya, seolah takut ia kenapa-kenapa.

‎Tiba-tiba langkah mereka terhenti.

‎Di depan berdiri seseorang yang tidak asing.

‎Aline.

‎Dengan senyum centil dan penampilan rapi seperti biasa, ia langsung menghampiri. “Yoga…”

‎Bella langsung diam. Wajahnya berubah.

‎Aline mendekat tanpa mempedulikan Bella. “Kamu udah sembuh?”

‎Tangannya hampir menyentuh lengan Yoga, tapi Yoga langsung menghindar sedikit. “Iya.”

‎Jawabannya singkat dan dingin.

‎Aline masih tersenyum. “Kamu kelihatan lebih kurus.”

‎Bella masih diam, tapi jelas tidak suka.

‎Aline melirik Bella sekilas lalu kembali ke Yoga. “Kamu harus dijaga lebih baik.”

‎Kalimat itu seperti sindiran.

‎Yoga mulai tidak nyaman. “Aline, kita lagi buru-buru.”

‎Tapi Aline tetap melanjutkan. “Dulu kan aku yang biasa jagain kamu.”

‎Bella mengepalkan tangan. Cukup.

‎“Sekarang nggak.”

‎Semua langsung terdiam.

‎Aline menoleh ke Bella. “Oh ya?”

‎Bella melangkah sedikit maju, tatapannya tajam. “Sekarang aku yang jagain kamu.”

‎Rafi langsung melongo, sementara Althea menutup mulut menahan reaksi.

‎Aline tersenyum miring. “Yakin kamu bisa?”

‎Bella tidak mundur sedikit pun. “Lebih dari cukup.”

‎Suasana memanas.

‎Aline menghela napas kesal lalu menatap Yoga. “Kamu berubah ya.”

‎Yoga membalas dengan tatapan dingin. “Dari dulu aku memang bukan buat kamu lagi.”

‎Aline terdiam beberapa detik, lalu mendecak pelan dan berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

‎Suasana kembali hening.

‎Rafi langsung mendekat ke Althea. “Buset…”

‎Althea mengangguk cepat. “Gue merinding.”

‎Rafi berbisik lagi. “Bella naik level.”

‎Bella masih berdiri di tempat, menarik napas pelan.

‎Yoga menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Galak.”

‎Bella menoleh. “Kamu keberatan?”

‎Yoga menggeleng pelan. “Enggak. Justru bagus.”

‎Bella langsung salah tingkah.

‎Rafi nyeletuk, “Anjir makin jadi ini.”

‎Althea tertawa kecil.

‎Dan mereka kembali berjalan bersama, meninggalkan koridor itu dengan suasana yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.

‎..............

‎Mobil melaju pelan meninggalkan area rumah sakit. Jalanan siang itu cukup ramai, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat dengan caranya sendiri.

‎Rafi fokus di depan, kedua tangannya mantap di setir, sesekali melirik spion. Althea duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela, menikmati pemandangan yang berlalu cepat, seolah sengaja memberi ruang untuk dua orang di belakang.

‎Sementara itu, di kursi belakang…

‎Bella dan Yoga duduk berdampingan.

‎Awalnya masih ada jarak.

‎Namun tidak lama.

‎Bella melirik sekilas ke arah Yoga yang terlihat sedikit lelah bersandar di jok. Tanpa banyak bicara, ia menggeser tubuhnya sedikit mendekat.

‎“Capek?” tanya Bella pelan.

‎Yoga menoleh, lalu tersenyum tipis. “Lumayan.”

‎Bella mengernyit. “Masih pusing?”

‎“Sedikit.”

‎Bella langsung menghela napas, tangannya refleks menyentuh dahi Yoga, memastikan suhunya. “Udah dibilang jangan banyak gerak.”

‎Yoga tertawa pelan. “Aku cuma duduk, kamu yang panik.”

‎Bella mendengus kecil, tapi tangannya tidak ditarik. Ia tetap memegang kening Yoga beberapa detik, lalu perlahan menurunkannya.

‎“Sandaran aja, jangan sok kuat,” gumamnya.

‎Yoga tidak membantah. Ia malah sedikit memiringkan tubuhnya… dan tanpa aba-aba, menjatuhkan kepalanya ke bahu Bella.

‎Bella langsung kaku.

‎“Yoga…”

‎“Diam,” jawab Yoga pelan.

‎Bella ingin protes, tapi akhirnya diam. Perlahan tubuhnya rileks. Tangannya justru naik… mengelus pelan rambut Yoga.

‎Dari depan, Rafi melirik lewat spion.

‎“Gue harus nyetir sambil nahan mental kayak gini?” gumamnya pelan.

‎Althea menahan tawa. “Sabar.”

‎Bella yang mendengar sedikit tersipu, tapi tetap tidak menjauh.

‎Beberapa menit berlalu.

‎Yoga tiba-tiba membuka mata sedikit. “Bella…”

‎“Hm?”

‎“Aku lapar.”

‎Bella langsung menoleh cepat. “Barusan dari rumah sakit kamu bilang nggak lapar.”

‎“Itu tadi.”

‎Bella menggeleng. “Nggak boleh sembarangan. Nanti di apartemen makan.”

‎Yoga menghela napas panjang. “Disuruh istirahat, disuruh makan, disuruh ini itu…”

‎Bella menatapnya tajam. “Masih kurang?”

‎Yoga tersenyum tipis. “Enggak… cukup.”

‎Bella mendengus, tapi pipinya sedikit memerah.

‎Tak lama, mobil sampai di apartemen.

‎Begitu turun, Kania sudah menyambut di depan dengan ekspresi heboh.

‎“Kak! Akhirnya pulang juga!” serunya, lalu langsung memeluk Yoga.

‎“Pelan…” gumam Yoga lemah.

‎Kania langsung mundur. “Iya iya, lupa kamu masih sakit.”

‎Matanya kemudian beralih ke Bella. Senyum jahil muncul. “Wah, ada yang nemenin terus nih.”

‎Bella langsung salah tingkah. “Aku cuma…”

‎“Cuma jagain?” potong Kania.

‎Rafi langsung nimbrung, “Jagain plus bonus lain-lain.”

‎Althea menepuk Rafi. “Udah, jangan mulai.”

‎Mereka berlima akhirnya masuk ke dalam apartemen.

‎Suasana langsung berubah hangat.

‎Tak lama kemudian, mereka berkumpul di meja makan.

‎Berbagai makanan sudah tersaji.

‎Yoga yang sudah lapar langsung mengambil piring. Tapi saat tangannya hendak mengambil makanan gorengan—

‎“Jangan.”

‎Suara Bella langsung memotong.

‎Yoga menoleh. “Kenapa?”

‎Bella mengambil tangan Yoga pelan. “Nggak boleh yang itu.”

‎“Kenapa lagi…”

‎Bella langsung mengambil sayur dari mangkuk, lalu menaruhnya di piring Yoga. “Ini aja.”

‎Yoga menatap piringnya. “Serius?”

‎Bella mengangguk. “Serius.”

‎Rafi langsung menahan tawa. “Bro… hidup lo berubah total.”

‎Kania ikut menimpali, “Dulu mana ada yang berani ngatur kak Yoga.”

‎Yoga menghela napas panjang, lalu menatap Bella. “Aku boleh makan yang lain sedikit?”

‎Bella menggeleng tegas. “Nggak.”

‎“Sedikit aja?”

‎“Nggak.”

‎Yoga diam beberapa detik.

‎Lalu… mengalah.

‎“Yaudah.”

‎Semua langsung heboh.

‎“WOOOO!”

‎“Parah ini!”

‎Bella langsung malu. “Apaan sih kalian…”

‎Althea tersenyum, “Gemes aja liatnya.”

‎Bella akhirnya duduk di samping Yoga.

‎Beberapa kali, saat Yoga mencoba mengambil makanan lain, Bella langsung menahannya.

‎“Eh…”

‎“Sayur dulu.”

‎“Bella…”

‎“Nurutin atau aku ambil semua?”

‎Yoga langsung diam.

‎Rafi berbisik ke Kania, “Ini bukan lagi pacar… ini penguasa.”

‎Kania mengangguk serius. “Setuju.”

‎Namun di balik itu semua, Yoga terlihat… menikmati.

‎Ia sesekali tersenyum tipis melihat Bella yang cerewet.

‎Setelah makan selesai, suasana mulai santai.

‎Rafi berdiri lebih dulu. “Gue cabut ya, kerjaan numpuk.”

‎Althea ikut berdiri. “Aku juga.”

‎Kania menguap kecil. “Aku juga mau balik ke kamar.”

‎Mereka bertiga pamit.

‎Sebelum pergi, Rafi sempat berbisik ke Yoga, “Jaga kesehatan… dan jaga dia.”

‎Yoga hanya tersenyum kecil.

‎Pintu tertutup.

‎Apartemen menjadi lebih sepi.

‎Hanya tersisa… Bella dan Yoga.

‎Bella berdiri agak canggung. “Aku juga pulang deh…”

‎“Jangan.”

‎Bella menoleh. “Hah?”

‎Yoga menatapnya. “Nginep aja.”

‎Bella langsung kaget. “Nggak bisa…”

‎“Kenapa?”

‎“Ya… nggak enak…”

‎Yoga menghela napas. “Aku masih sakit.”

‎Bella terdiam.

‎“Kalau kamu pergi… siapa yang jagain aku?”

‎Bella menggigit bibirnya.

‎Beberapa detik hening.

‎“…yaudah,” ucapnya pelan.

‎Yoga tersenyum tipis.

‎Malam pun tiba.

‎Mereka duduk di sofa, menonton TV.

‎Awalnya berjarak.

‎Lalu perlahan… jarak itu hilang.

‎Bella duduk bersandar, sementara Yoga memiringkan tubuhnya, mendekat.

‎“Kamu nonton atau mikir?” tanya Yoga.

‎Bella menoleh. “Nonton.”

‎“Boong.”

‎Bella mendengus. “Kamu aja yang ganggu.”

‎Yoga tersenyum, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Bella lagi.

‎Bella diam.

‎Beberapa detik kemudian… tangannya naik, mengelus rambut Yoga.

‎“Capek ya?” tanya Bella pelan.

‎“Iya.”

‎“Tidur aja.”

‎“Di sini?”

‎“Iya.”

‎Yoga tidak menjawab.

‎Namun beberapa menit kemudian… napasnya mulai teratur.

‎Ia tertidur.

‎Bella menatap wajahnya.

‎Lama.

‎Senyum kecil muncul.

‎Dengan hati-hati, ia menggeser posisi agar lebih nyaman, membiarkan kepala Yoga tetap di bahunya.

‎Tangannya masih mengelus pelan.

‎“Bener-bener…” bisiknya.

‎Namun kali ini, tidak ada keluhan.

‎Yang ada hanya… rasa hangat.

‎Malam itu, tanpa banyak kata—

‎mereka tetap di sana.

‎Dekat.

‎Tenang.

‎Dan tanpa mereka sadari…

‎hubungan itu sudah jauh berubah.

‎Bukan lagi sekadar perjanjian.

‎Melainkan sesuatu yang… nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!