ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV—{Chapter 1}: Permainan Kelompok Asrama
Langit mulai bertransformasi dari semburat jingga yang membias di balik cakrawala, berangsur-angsur menjadi kelam, menggelap seiring matahari tenggelam sepenuhnya. Awan-awan tipis tersapu angin senja, menyisakan langit biru tua yang kemudian mulai ditaburi berbagai macam bintang. Jalanan besar lenggang seperti biasanya, sementara pepohonan bergoyang pelan diterpa embusan angin. Daunnya berdesir, bergesekan hingga menciptakan irama melodi alam yang menenangkan.
Keteduhan pada suasana menjelang malam juga turut menyusup ke dalam gedung besar yang memiliki pemandangan atrium menakjubkan dari atas. Gedung asrama yang biasanya dipenuhi oleh suara tawa dan langkah riuh gadis-gadis remaja, malam ini tampak berbeda. Sepanjang koridor dari lantai satu sampai atap, tidak terlihat satu orang pun ada yang berkeliaran sambil membawa selimut atau camilan seperti malam-malam sebelumnya. Semuanya menghilang ke dalam kamar masing-masing guna mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar rutinitas harian; Permainan Kelompok Asrama.
Sesuai namanya, seluruh rangkaian acara dimainkan di kamar masing-masing. Di setiap lantai, sepuluh orang—terdiri dari guru dan petugas asrama—bertugas sebagai panitia; mencatat nilai, dan menjaga ritme permainan. Karena semua aktivitas berlangsung serentak di lima lantai yang saling terbuka secara visual, ketegangan dan antusiasme dapat menyebar dengan cepat, seperti gema yang berulang dari atas ke bawah. Tiap sorakan, tawa gugup, atau pekikan kejutan bisa terdengar dari lantai lain, memicu rasa penasaran dan semangat kompetitif yang makin membuncah.
Nah, sebelum mencapai titik itu, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati. Pertama-tama dan yang yang paling utama, tentu saja adalah kekompakan tim. Mereka diuji dengan segala tantangan yang menuntut kontribusi masing-masing anggota tanpa terkecuali. Contohnya pada saat ini. Walau dari luar koridor tampak tenang dengan kesunyiannya, deretan pintu menahan segala keriuhan di dalamnya. Di dalam sana, segala sesuatu tengah bergerak cepat. Tangan dan kaki yang cekatan berpindah tempat, sorot mata yang dipaksa fokus, dan napas memburu yang kadang tertahan. Baju-baju dilipat ulang, seprai dirapikan tanpa kerutan, bahkan rak buku yang sebelumnya berantakan oleh macam-macam benda kini tertata dengan sangat baik seperti pajangan pameran. Mengilap dan licin, seolah lalat pun akan terpeleset bila mendarat di atasnya.
Tiap anggota tim sudah menyusun strategi; siapa yang bertugas menyapu, siapa yang mengepel, siapa yang merapikan balkon, siapa yang merapikan ranjang, dan siapa yang bertanggung jawab atas kesegaran aroma ruangan. Benar, permainan pertama adalah ‘Pemeriksaan Kebersihan dan Kerapian Kamar’. Ini bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang presisi, keharmonisan, dan bagaimana lima kepala dapat menyatukan standar estetika dalam waktu tiga puluh menit.
“Kalian terlihat lelah, ya.” Bu Kaila mencibir. Sembari ia memegang papan catatan di tangan kirinya, atensinya diedarkan ke segala sudut ruangan.
Villy, Ayaa, Karinn, Erica, dan Irene berdiri berdampingan di depan ranjang, saling lirik satu sama lain. Napas mereka yang masih memburu pun dapat terdengar jelas di telinga; merupakan kombinasi antara perasaan gugup dan sekarat.
Sekarang pukul delapan tujuh lebih lima belas menit. Begitu bel berdentang panjang, Permainan Kelompok Asrama telah resmi dinyatakan dimulai. Musik diputar melalui klub penyiaran di gedung sekolah, memancarkan gelombang suara secara merata ke seluruh penjuru. Sementara itu, tiap kesepuluh juri berkeliling bersama pasangan yang telah ditetapkan, melakukan tugasnya untuk membuat penilaian kamar secara bergilir. Di lantai 5-A (pada sisi kanan), pasangan juri yang ditunjuk adalah Bu Kaila dan Pak Sion.
“Sangat bagus.” Bu Kaila kembali setelah memeriksa balkon, berkomentar sekaligus terpukau dengan hasil kerja tim para anggota.
Sementara itu, Pak Sion menghampiri beberapa benda dan menyekanya menggunakan ujung jarinya, memeriksa apakah ada debu yang tertinggal di atasnya. Dia tersenyum tipis, hasilnya mengatakan bahwa kamar ini nyaris sempurna dari segala aspek. “Kau sudah memeriksa semua tempat, Bu Kaila?” tanyanya saat ia juga kembali ke area para gadis berkumpul.
“Kurasa begitu. Aku hampir tidak menemukan kesalahan kecil pada tempat yang agak khusus seperti lemari dan jemuran baju. Semuanya tampak sempurna.”
Karena pintu kamar dibiarkan terbuka selama permainan berlangsung, kamar yang telah selesai dinilai menjadi semacam panggung mini yang dapat dikunjungi oleh para gadis—seperti kamar nomor 55 ini. Mereka berdatangan, jumlahnya tak pernah berkurang kecuali untuk mundur ke belakang demi melepaskan tawa. Ada yang sekadar hanya penasaran, ada juga yang asyik menonton sambil membawa camilan ringan, mengambil foto, hingga melakukan siaran langsung demi sebuah koin bintang yang dapat ditukar dengan uang. Suasana makin ramai oleh sorak-sorakan dan tepukan tangan yang bersahut-sahut.
“Memangnya boleh, ya, memeriksa tempat yang agak khusus seperti itu?” Pak Sion bertanya lagi. Suaranya agak direndahkan dari sebelumnya dengan maksud menghormati privasi para gadis.
Bu Kaila tersenyum. “Tentu saja, itu semua masuk ke dalam kategori penilaian.”
“Ah, begitu. Jadi aku boleh memeriksa kamar mandi?”
Bu Kaila mengangguk, lantas Pak Sion pun berbalik badan dan beranjak berjalan menuju kamar mandi.
Karinn yang semula sedang menunduk dan melamun karena perutnya keroncongan, tiba-tiba kepalanya terangkat secara spontan. “Apa Pak Sion akan memeriksa kamar mandi?”
Erica merangkul pundak Karinn, berbicara dengan penuh percaya diri. “Irene sudah membersihkan dan memastikan semuanya mengilap. Aku yakin lalat pun akan terpeleset bila berjalan di atasnya. Kau tidak perlu khawatir.”
Karinn menegak ludah, semburat panik dan was-was membayang jelas di wajahnya. Ucapan Erica serasa angin yang berembus dari telinga kanan ke telinga kirinya, dia bahkan tidak mendengarkannya walau sepatah kata. “Gawat..” gumamnya.
Tidak sampai semenit Pak Sion menikmati hasil kerja pada tempat terakhir yang harus diperiksanya, ia langsung memutarbalikkan badan dan pergi meski kakinya belum dilangkahkan masuk. Bu Kaila bingung dengan reaksi di wajah partnernya itu, maka ia pun memutuskan untuk pergi memeriksanya sendiri.
“Irene, kau yakin tidak melakukan kesalahan, kan?” Ayaa menyikut orang di sebelahnya, bertanya bisik-bisik.
“Tentu saja.” Dia menjawab tanpa ragu.
“Lalu kenapa Pak Sion dan Bu Kaila bereaksi begitu?”
Reaksi yang dimaksud adalah Pak Sion berjalan kembali ke tempat semula sambil menundukkan kepala, sementara Bu Kaila yang sedang berdiri di daun pintu kamar mandi bereaksi dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Tahu ada yang tidak beres, keempatnya kecuali Karinn pun bergegas pergi. Betapa kagetnya semua mata yang berkumpul itu menyaksikan sebuah balon melayang di udara dengan sebuah bra berwarna biru muda terikat di bawahnya.
“Itu bra milikmu yang hilang dari jemuran, bukan?” Erica menolehkan kepalanya kepada Irene, membuat kedua senior juga bereaksi serupa.
Irene menggigit bibir bawahnya. Segera manik matanya mencari satu-satunya orang yang tidak ada di sana bersama mereka. Dia berteriak dengan lantang. “KARINN!!”
Ctik..! Bunyi dentingan pemotong kuku terdengar nyaring. Dua gadis duduk berhadapan dan saling menyerahkan kaki kanan mereka untuk mendapatkan perawatan kuku kaki. Sementara itu, kerumunan pasif di daun pintu menjadikan pemandangan ini sebagai tontonan gratis dan bahan untuk melepaskan tawa. Beberapa dari mereka ada yang memotret dan merekam menggunakan ponsel, lalu mengunggahnya ke forum anonim sekolah. Komentar-komentar pun bermunculan beserta stiker meme khas obrolan para gadis.
Lima menit lalu, usai penilaian kamar berakhir dengan aksi kejar-kejaran dan sedikit gulat, Villy sebagai ketua kamar kemudian memutuskan untuk memberikan hukuman kepada Karinn dan Irene. Keduanya diperintahkan untuk saling memotong kuku kaki lawannya sambil memberikan kalimat-kalimat pujian.
“Irene, kau tahu? Kau terlihat sangat manis saat tidak mengerutkan dahi.” Karinn menunjukkan senyum, matanya tenggelam oleh kelopaknya.
“Ak!” Irene menjerit, buru-buru menarik paksa kakinya dari tangan Karinn. Dia mendecak. “Terima kasih. Tapi aku khawatir kau tidak bisa melihat wajah manisku lebih lama. Umurmu sebentar lagi, kan?”
Karinn memicingkan mata, mengacungkan jari tengah.
“Kau benar-benar mau mati, hu?” Irene menjatuhkan pemotong kuku, lantas tangannya bergerak cepat menyambar kerah baju Karinn.
“Sial, kau, bocah kunyuk!” Tak terima, Karinn balas menyambar tudung hoodie Irene. Begitulah kemudian akhirnya mereka saling melempar pandangan selama beberapa menit.
“Ekhem..” Villy membuat suara, menyita kembali hak berbicara kedua junior yang tengah menerima hukuman.
Ayaa dan Erica duduk mengawasi di sebelah Villy. Masing-masing memegang buku-buku catatan dan kartu hafalan dari lembaran kertas yang telah dicetak. Banyak yang harus dipersiapkan untuk permainan berikutnya, jadi kesempatan kali ini mereka gunakan untuk menghafalkan lebih giat tentang teori sejarah, foto para ilmuwan sains, rumus matematika, simbol unsur kimia, pengetahuan umum, dan teka-teki psikologi. Kuis Lima Detik pada putaran kedua adalah permainan yang sangat memainkan adrenalin. Para anggota kamar akan diuji daya ingat dan kecepatan menjawab di bawah tekanan waktu. Setiap dari salah satu anggota gagal menjawab, mereka harus merelakan satu bahan makanan hilang dari hadiah yang mereka dapatkan. Oleh sebab itu permainan ini bukan hanya dapat mendatangkan atmosfer menegangkan, tetapi juga dapat menciptakan perang kecil di antara anggota.
“Kak, sebentar lagi giliran kita.” Erica mencolek lengan si ketua kamar, memberikan informasi untuk segera bersiap-siap.
Dengan ini, hukuman Karinn dan Irene pun disudahi. Mereka segera bergegas menyimpan buku-buku catatan dan pergi ke luar kamar. Di sepanjang koridor dari lantai satu sampai lantai lima, sudah tersedia lima kursi di depan masing-masing kamar. Inilah tempat yang nantinya akan dimulai permainan putaran kedua; Kuis Lima Detik. Para panitia datang dari kamar pertama dan terus bergeser ke kamar berikutnya.
“Tim kamar nomor 54 berhasil mencapai poin 16 dari 25. Akankah kalian bisa menandinginya?” Pertanyaan yang diajukan Bu Kaila sebelum memulai permainan mendatangkan para penonton dari kamar lain. Berbondong-bondong mereka mengambil posisi ternyaman sambil menyantap camilan ringan di beberapa area lantai koridor.
“Ya! Kami yakin kami bisa!” Karinn menjawab tanpa ragu. Suaranya terdengar mantap sampai-sampai membuat keempat anggotanya menoleh serempak.
“Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu, lho,” sahut Irene, nada bicaranya terdengar mirip seperti sedang mengancam.
Tanpa memedulikan reaksi tak acuh dari salah seorang anggota yang tidak menyukainya itu, Karinn dengan percaya diri mengacungkan jempol.
“Baiklah. Mari kita mulai urutan kuisnya dari Erica. Dua puluh lima poin dalam waktu sepuluh menit. Jawab secepatnya atau kalian akan kehilangan bahan makanan. Kalian siap? Kuis ... dimulai!”
Pak Sion membuka lembaran kuis pertama, menunjukkan sebuah gambar wajah seorang ahli Botani berkebangsaan Austria yang dikenal sebagai Bapak Genetika.
“Satu ... dua ... tiga ... empat,” Bu Kaila mulai menghitung.
“Pak Mendel! Gregor Mendel!”
Bel berwarna hijau berbunyi, Erica berhasil menjawab. Pak Sion membuka lembaran kedua. Bu Kaila mulai menghitung lagi.
“..Apa itu? Dalam sistem tertutup, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama? ...Ah, itu ... Hukum Lavoisier! Hukum kekekalan massa!” Ayaa berseru penuh semangat. Walau sesaat ia sempat kebingungan, beruntungnya jawaban yang keluar dari mulutnya benar.
Pak Sion membuka lembaran ketiga. Giliran Irene untuk menjawab. Kali ini soalnya adalah rumus senyawa Kimia.
“...CH3COOH? Itu asam ... asam asetat! Asam cuka!”
Bel berwarna hijau menyala. Pak Sion membuka lembaran keempat.
“...Berapa jumlah kotak bidak pada papan catur? ..Hu? Memangnya ada yang pernah menghitungnya?” Karinn menggaruk tengkuk kepalanya, dilanda panik saat Bu Kaila mulai menghitung dan angkanya mulai mendekati batas. “...Aku tidak tahu? Berapa? Seratus?”
Bu Kaila membunyikan bel berwarna merah, jawaban salah.
Seketika itu pun keempat anggotanya langsung bangkit dari kursi, menatap Karinn secara serempak. Namun alih-alih mengomel seperti para penonton, mereka hanya bereaksi dengan berkacak pinggang sembari menjepit bibir dan mengepalkan tangan. Sahut-sahutan pun mulai bermunculan.
“Enam puluh empat! Oi, enam puluh empat!”
“Sherlock, bagaimana bisa kau tidak tahu itu?”
“Apa kau tidak pernah main catur semasa hidupmu?”
Karinn membalas lebih galak, “Daripada memainkannya, lebih tidak masuk akal menghitungnya!”
Bu Kaila mengangkat tangannya ke udara, isyarat supaya para gadis menghentikan keriuhan. “Makanan apa yang akan kalian relakan?” Selembar kertas ukuran A4 diserahkan kepada ketua kamar. Di dalamnya, tertera 25 gambar bahan makanan untuk acara api unggun malam nanti; marshmallow, telur, bihun, jagung, daging ayam, daging sapi, bakso, sosis, steak mini, nugget, tahu, permen jelly, kentang, beras, keripik singkong, mi instan, kerupuk, dll.
Para anggota saling berbisik di kursi masing-masing, memutuskan jawaban secara musyawarah. Pada permainan sebelumnya—Pemeriksaan Kebersihan dan Kerapian Kamar—terjadi kesalahan di luar dugaan mereka. Ditemukannya sebuah bra dalam keadaan terikat oleh seutas balon menjadikan anggota tim kamar 55 mendapatkan poin -7, cukup bagi para gadis untuk kehilangan dua bahan makanan karena kesalahan tersebut merupakan kesalahan fatal yang tidak dapat ditoleransi. Dan bahan makanan yang mereka pilih saat itu adalah tahu dan kentang, menyisakan dua puluh tiga macam lainnya yang akan terus berkurang bila mereka terus mengalami kegagalan.
“Bagaimana dengan permen jelly?” Erica memberi saran, suaranya terdengar penuh yakin seolah sudah dipikirkan matang-matang.
“Ah, aku setuju. Terakhir kali aku memakannya, rasanya asam dan sedikit pahit seperti kayu. Tidak enak.” Ayaa menganggukkan kepala, memberi tanda setuju dengan testimoni akurat menurut pengalamannya. Villy dan Irene segera kompak mengacungkan jempol, sepakat.
Permainan Kuis pun dimulai lagi. Kini urutannya berlanjut ke anggota terakhir; Villy. Pak Sion membuka lembar berikutnya.
Villy mencondongkan sedikit badannya ke depan, memantapkan matanya guna menyiapkan diri untuk membaca pertanyaan. “Gurun terbesar di dunia ... Gurun antartika!”
Bel berwarna hijau menyala. Para penonton bersorak, bertepuk tangan seperti sedang menyaksikan tancapan layar lebar secara nyata.
“Kenapa bisa antartika?” Karinn bertanya lirih, bergumam pada dirinya sendiri.
“Gurun artinya daratan yang menerima curah hujan sangat sedikit. Kau anak TK, hu?” Tak disangka Irene menanggapi monolognya walau dengan nada sinis seperti biasa. “Fokus, sekarang giliranmu,” katanya lagi.
Pak Sion membuka lembaran berikutnya. Kali ini soalnya adalah teka-teki psikologi.
Karinn mulai membaca. “...Seorang pria tua tewas terjatuh dari tangga darurat di sebuah penginapan. Ia adalah seorang pekerja yang dikenal cukup luas oleh para tamu. Seorang staf yang pertama kali menemukannya berkata bahwa sebelum pria itu mengembuskan napas terakhirnya, ia berkata ‘Gadis pirang’ dengan nada suaranya yang lirih. Dengan petunjuk itu, polisi kemudian menemukan tiga orang tersangka berambut pirang. Pertama, seorang wanita berusia 30-an yang telah lama tinggal di penginapan itu selama seminggu. Dia mengaku telah tinggal di sana dalam upaya melarikan diri dari kejaran mantan suaminya. Kedua, seorang gadis mahasiswa yang pergi berlibur ke salah satu tempat wisata terdekat. Dia mengaku cukup terkejut mendengar kematian pria tua itu karena ia baru sampai di penginapan pada hari itu. Ketiga, seorang wanita lajang yang juga merupakan staf resepsionis di penginapan. Dia adalah anak dari si pria tua. Para saksi mengungkapkan bahwa hubungan mereka tidak baik belakangan ini. Wah, panjang juga, ya. Oke, pertanyaannya ... Siapa yang membunuh pria tua?”
“Waktumu lima detik, Karinn. Dimulai dari sekarang! Satu ... dua ... tiga ... empat..” Bu Kaila mulai menghitung, hampir mencapai batas.
Karinn mengangkat tangannya penuh semangat, lalu menjawab, “Gadis mahasiswa! Dialah yang membunuhnya!”
“Apa alasannya?”
Villy mencolek lengan Karinn, berbisik, “Bukankah seharusnya anaknya?”
Karinn menoleh pada si senior, tersenyum tipis. “Karena dia satu-satunya yang memiliki motif? Hmm, Kak Villy, beruntunglah soal ini bukan tiba di giliranmu.”
“Oi, Sherlock! Kau tidak asal menjawab, kan?”
“Kau akan kena masalah kalau ternyata jawabanmu salah, lho.”
“Berikan alasanmu!” Para penonton mulai sahut-menyahut, memprovokasi demi melibatkan diri ke dalam permainan.
Karinn menyilangkan kedua tangannya ke dada, menjawab dengan santai. “Yah, alasannya sesederhana pria tua adalah seorang pekerja di penginapan. Pastinya dia mengenal para tamu yang menginap di sana, termasuk anaknya yang memiliki hubungan buruk.”
“Jadi maksudmu ... kalau benar anaknya adalah pelakunya, alih-alih menyebutkan ciri fisiknya, seharusnya pria tua itu menyebutkan namanya?”
Karinn mengangguk, menghadapkan acungan jempolnya di depan wajah Irene.
Bu Kaila menyalakan bel berwarna hijau, jawaban benar. Para penonton kompak bersorak, menambah pacuan adrenalin di dalam darah.
Permainan terus berlanjut ke anggota berikutnya sampai kemudian mencapai dua puluh lima pertanyaan. Begitulah akhirnya sepuluh menit berlalu tanpa terasa.
Permainan putaran kedua telah selesai, kini tiba permainan berikutnya; Tantangan Whisper. Kelima anggota kamar duduk di kursi masing-masing dengan dipakaikan headband pemutar musik bervolume kencang. Orang pertama yang dipilih harus menyampaikan informasi melalui gerakan mulut, sementara anggota yang lain menebak jawabannya—tanpa suara yang didengar dan tanpa gerakan tubuh, hanya mengandalkan ikatan batin dan ketangkasan membaca ekspresi. Menariknya, setiap tim memiliki strategi untuk menang. Dan strategi itu terus mengalami perubahan dan perkembangan dari bulan-bulan sebelumnya berdasarkan pengalaman yang telah dilewati.