Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Permainan voli semakin ramai. Sorak sorai terdengar di seluruh pantai. Selena akhirnya berdiri ketika Dira memaksanya ikut bermain.
“Ayo sekali aja! Masa istri CEO Zenithra nggak ikut seru-seruan!” kata Dira.
“Aku dokter, bukan atlet,” protes Selena.
“Tapi kamu tinggi!” balas Dira.
Selena akhirnya menyerah. Pasir terasa hangat di telapak kakinya saat ia berjalan ke lapangan kecil itu.
Saat bola pertama dilempar—semua berjalan normal. Tawa, teriakan, keseruan ringan sampai sebuah smash keras meluncur terlalu cepat ke arahnya.
Selena refleks menutup wajah. Namun bola itu tidak pernah mengenainya, sebuah tangan menangkap bola tepat di depan wajahnya.
Elvano berdiri di sana, tepat di depannya. Gerakannya cepat, hampir refleks.
“Fokus,” ucap Elvano tenang.
Selena berkedip, jarak mereka terlalu dekat hingga Selena bisa merasakan hembusan napas Elvano.
“Terima kasih,” kata Selena pelan.
Elvano hanya mengangguk kecil sebelum melempar bola kembali. Sorakan teman-teman langsung pecah.
“Wih pelindung pribadi!” teriak Dira.
Selena memutar mata malu. Namun Elvano sudah kembali berdiri di sisi lapangan, tetap mengawasi tanpa terlihat mencolok seolah itu hal paling alami di dunia.
**
Langit di atas pantai Anambas perlahan berubah warna. Jingga yang tadi terang kini melembut menjadi ungu keemasan, seolah hari enggan benar-benar berakhir.
Suasana villa terasa jauh lebih sunyi dibanding pagi tadi. Oma Ratna dan Nenek Asti sudah kembali ke Jakarta sejak siang. Tamu undangan satu per satu pamit pulang. Bahkan Nia, Dira, dan Darian memilih kembali lebih dulu sore tadi karena pekerjaan yang menunggu.
Kini hanya tersisa dua orang di villa pesisir itu. Elvano dan Selena.
Angin laut berhembus perlahan, membawa aroma asin yang bercampur wangi lilin kecil di atas meja makan yang tertata rapi di tepi pantai. Lampu gantung sederhana menyala hangat, menciptakan lingkar cahaya intim di tengah gelap yang mulai turun.
Selena duduk menghadap laut, kedua kakinya menyentuh pasir lembut. Gaun tipis warna champagne yang ia kenakan bergerak mengikuti angin. Ia memandangi ombak beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
“Rasanya… tiba-tiba sepi sekali ya,” ujar Selena pelan.
Elvano yang duduk di seberangnya mengangkat pandangan dari gelas wine yang ia pegang.
“Sepi?” tanyanya tenang.
Selena mengangguk kecil. “Iya. Tadi ramai sekali. Sekarang rasanya kayak… habis pesta lalu semua orang pulang, dan kita baru sadar dunia jadi sunyi,” jelas Selena sambil tersenyum tipis.
Ia memang terbiasa dengan keramaian. Rumah sakit yang sibuk. Live streaming dengan ribuan penonton. Komentar followers yang tidak pernah berhenti. Kesunyian terasa asing baginya.
Namun, berbeda dengan pria di depannya. Elvano justru terlihat nyaman, ia menatap laut seperti seseorang yang sudah lama bersahabat dengan sunyi.
“Menurutku,” kata Elvano pelan, “ini bukan sepi.”
Selena menoleh. “Lalu?”
Elvano meraih tangan Selena di atas meja. Sentuhannya hangat, tenang, tanpa tergesa.
“Ini ruang,” jawab Elvano. “Ruang untuk kita akhirnya berhenti jadi versi publik diri kita masing-masing.”
Selena terdiam, kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.
Elvano mengusap punggung tangan Selena perlahan. “Selama ini kamu selalu jadi Dr. Sunshine,” lanjutnya. “Dan aku selalu jadi Elvano Alvendra yang semua orang lihat.”
Ia menatap langsung ke mata Selena. “Sekarang cuma ada kita.”
Hembusan angin terasa berbeda setelah itu.
Selena tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. “Iya juga,” balas Selena lembut. “Aku bahkan belum benar-benar mengenal suamiku sendiri.”
Sudut bibir Elvano terangkat tipis. “Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal,” katanya.
Pelayan villa datang menyajikan makan malam lalu pergi tanpa suara, meninggalkan mereka dalam suasana privat yang nyaris seperti dunia terpisah.
Mereka mulai makan perlahan, tidak banyak percakapan besar—justru obrolan kecil yang terasa hangat. Tentang makanan favorit, tentang kebiasaan tidur. Tentang Selena yang ternyata tidak bisa tidur tanpa lampu redup. Tentang Elvano yang selalu bangun pukul lima pagi bahkan saat libur.
“Perfeksionis ya,” goda Selena sambil tersenyum.
“Elvano versi publik menyebutnya disiplin,” jawab Elvano santai.
“Versi asli?”
Elvano menghela napas ringan. “Sulit berhenti berpikir.”
Selena menatapnya beberapa detik lebih lama, ia melihat sesuatu di balik aura mahal dan tenang pria itu. Seperti kesepian yang tidak pernah diucapkan, ia menggenggam balik tangan Elvano.
“Mulai sekarang… kamu nggak harus mikirin semuanya sendirian,” ujar Selena lembut.
Elvano tidak langsung menjawab, namun genggamannya menguat sedikit dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
**
Malam semakin turun, suara ombak menjadi lebih jelas ketika keramaian benar-benar hilang. Setelah makan malam, mereka berjalan menyusuri garis pantai. Pasir dingin menyentuh kaki telanjang mereka, Selena tertawa kecil saat ombak tiba-tiba mengenai ujung gaunnya.
“Eh! Dingin!” katanya sambil mundur.
Elvano memperhatikannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar tertarik, lebih seperti… menemukan sesuatu yang selama ini tidak ia tahu ia butuhkan.
“Kamu berbeda dari bayanganku,” ujar Elvano tiba-tiba.
Selena menoleh. “Buruk atau baik?”
“Lebih hangat,” jawab Elvano jujur.
Selena tersenyum malu. “Dan kamu,” balas Selena, “lebih manusia dari yang internet ceritakan.”
Elvano terkekeh pelan.
Mereka berhenti berjalan, jarak di antara mereka perlahan memendek tanpa disadari. Angin malam meniup rambut Selena ke wajahnya. Elvano secara refleks merapikannya ke belakang telinga, sentuhan sederhana itu membuat waktu seolah melambat. Tatapan mereka bertemu, tidak ada kata yang terucap hanya kesadaran baru bahwa mereka bukan lagi dua orang asing yang dijodohkan.
Elvano menunduk sedikit. “Boleh?” tanyanya rendah.
Selena mengangguk pelan.
Ciuman malam itu lembut. Tidak tergesa. Seperti percakapan yang akhirnya menemukan bahasa sendiri. Selena merasakan tangannya ditarik perlahan mendekat. Hangat. Aman.
Pintu kamar villa tertutup pelan di belakang mereka. Udara di dalam kamar villa itu terasa semakin hangat, seiring dengan detak jantung mereka yang berdegup kencang dalam frekuensi yang sama.
Elvano tidak lagi menyembunyikan sisi protektif dan posesifnya. Ia memeluk pinggang Selena dengan erat, seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar miliknya seutuhnya mulai malam ini.
Ciuman mereka yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi lebih menuntut, sebuah ungkapan kerinduan dan janji yang akhirnya menemukan pelabuhannya.
Elvano membawa Selena melangkah perlahan menuju ranjang besar yang bertabur kelopak bunga mawar putih, tanpa sedikit pun memutuskan tautan bibir mereka.
Saat tubuh Selena menyentuh lembutnya permukaan sprei sutra, Elvano menumpu berat tubuhnya di atas kedua lengannya, menatap dalam ke mata Selena yang tampak berkilau di bawah temaram lampu amber. Ia menjauhkan wajahnya sejenak, menatap setiap inci paras cantik istrinya dengan penuh pemujaan.
“Selena... apakah boleh?” bisik Elvano dengan suara rendah yang serak, memberikan ruang bagi Selena untuk menentukan pilihannya.
Selena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberikan senyum malu-malu yang sangat manis, lalu perlahan melingkarkan lengannya di leher Elvano, menarik pria itu kembali ke dalam pelukannya. Anggukan pelan dan binar matanya sudah lebih dari cukup sebagai jawaban bagi Elvano.
Mendapat lampu hijau, Elvano kembali menyatukan bibir mereka, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih dalam. Kecupan itu perlahan turun, menyusuri garis rahang hingga ke leher jenjang Selena, memberikan sensasi hangat yang membuat Selena memejamkan mata rapat-rapat. Setiap sentuhan Elvano terasa sangat berhati-hati namun penuh gairah, seolah ia sedang menghadapi mahakarya paling berharga dalam hidupnya.
Saat tangan Elvano mulai menelusuri tulang selangka Selena dengan lembut, gairah di antara mereka mulai membara, meluruhkan sisa-sisa kecanggungan yang pernah ada. Di balik tirai tipis yang bergoyang tertiup angin laut, sepasang suami istri itu akhirnya menyerah pada tarikan emosi yang begitu kuat.
Malam itu, di bawah saksi bisu cahaya bulan yang mengintip dari balik celah gorden, mereka tidak hanya menyatukan raga, tetapi juga menautkan janji dalam keintiman yang sakral. Suasana menjadi sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak di kejauhan yang seolah menyamarkan desahan napas dan bisikan cinta yang mereka pertukarkan dalam kerahasiaan malam pengantin.
***