Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Angin memacu adrenalin hingga ke titik nadir. Di ketinggian ribuan kaki di atas California tahun 6020, gravitasi bukan lagi sekadar hukum alam, melainkan pemangsa yang siap meremukkan tulang. Bumi merasakan paru-parunya seolah mengecil, tersedak oleh udara dingin yang menghantam wajahnya dengan kecepatan gila. Di bawahnya, kota California membentang bak sirkuit elektronik raksasa yang bercahaya.
Tahun 6020 tidak banyak berubah jika dibandingkan dengan ingatan samar Bumi tentang tahun 6026. Arsitekturnya masih didominasi oleh logam, kaca, dan ambisi. Namun, malam ini, kota itu terasa lebih menyesakkan. Di sela-sela jalan tol satu arah yang melayang dan saling bertumpuk seperti mi lidi raksasa, wajah-wajah raksasa memenuhi cakrawala.
Itu adalah foto-foto kampanye Led Hamlich. Video hologramnya berputar looping tanpa henti di udara, memancarkan cahaya biru neon yang dingin. Led, dengan senyum politis yang dipaksakan, tampak kontras dengan lawannya—presiden petahana yang fotonya terlihat jauh lebih tua, dengan rambut dan jenggot putih yang menyiratkan kelelahan panjang.
"Pam! Kita akan mati!" teriak Bumi, suaranya tertelan oleh deru angin yang memekakkan telinga.
Mereka jatuh bebas. Di belakang mereka, bulan menggantung sangat besar, seolah-olah satelit bumi itu telah bergeser lebih dekat hanya untuk menyaksikan kematian mereka. Pam, yang berada tepat di sampingnya, tidak tampak gentar sedikit pun. Rambut panjangnya mencambuk udara, menutupi sebagian wajahnya yang kaku karena konsentrasi.
"Tenang!" teriak Pam. Suaranya tajam, memotong kepanikan Bumi.
Tanpa peringatan, Pam menyambar tangan Bumi. Kekuatannya mengejutkan. Ia tidak membiarkan mereka melayang tak tentu arah. Dengan gerakan yang terlatih, Pam memosisikan tubuhnya dengan kepala menghadap ke bawah, merapatkan lengannya, mengubah dirinya menjadi peluru manusia yang mengincar jantung kota.
Bumi, yang tidak punya pilihan lain, bergegas pegangan erat pada lengan Pam. Ia memejamkan mata saat melihat betapa cepatnya permukaan gedung-gedung itu mendekat.
"Kita mau mati?" bisik Bumi tepat di telinga Pam. Ia hampir tidak bisa mendengar suaranya sendiri karena kencangnya angin yang meniup rambut panjang gadis itu.
"Itu!" Pam mengabaikan pertanyaan Bumi dan mengarahkan tubuh mereka sedikit bergeser ke kanan.
Target mereka adalah sebuah rooftop gedung tinggi yang tampak kumal di tengah gemerlapnya distrik elit. Gentingnya bukan terbuat dari logam antikarat atau kaca pelindung radiasi, melainkan lembaran terpal tebal yang diikat serampangan.
BOOM!
Benturan itu terasa seperti ledakan di dalam kepala Bumi. Mereka menghantam terpal dengan kecepatan tinggi. Bunyi robekan besar terdengar memilukan saat material sintetis itu gagal menahan beban dua tubuh manusia. Mereka jatuh menembus kegelapan, melewati kerangka penyangga, dan akhirnya mendarat di atas sesuatu yang empuk namun basah.
Bumi terbatuk, menghirup aroma tanah dan oksigen murni yang tajam. Ia membuka mata dan menyadari mereka jatuh di tengah sebuah taman rahasia di atas gedung. Tanaman-tanaman hidroponik yang berpendar redup hancur tertimpa tubuh mereka.
"Di mana kita?" tanya Bumi dengan suara bergetar. Ia berusaha bangkit, lututnya masih terasa seperti jeli. Ia mengulurkan tangan, menolong Pam berdiri dari gundukan media tanam yang berhamburan.
Pam membersihkan debu dari jaketnya dengan gerakan efisien. Matanya yang tajam mengawasi sekitar, waspada terhadap sensor keamanan yang mungkin terpicu. "Rumahku," jawabnya pendek.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Pam menarik lengan Bumi menuju sebuah pintu baja berat di sudut taman. Ia memasukkan kode pada panel digital yang tertanam di dinding. Pintu itu berdesis, terbuka untuk memperlihatkan sebuah interior yang gelap dan sunyi.
Bumi melangkah masuk dan merasa seolah-olah ia baru saja melangkah ke dalam otak sebuah superkomputer. Ruangan itu luas namun sesak oleh tumpukan perangkat keras. Monitor-monitor holografik yang dalam posisi standby memancarkan cahaya biru tipis, menyinari sudut-sudut ruangan yang penuh dengan kabel serat optik yang menjuntai seperti akar pohon perak.
Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar dipenuhi dengan skema-skema rumit. Bumi mendekat dan matanya membelalak melihat sebuah blueprint pesawat kapsul yang sangat detail. Itu bukan teknologi sembarangan; itu adalah rancangan kendaraan yang mampu menembus lapisan eksosfer dengan kecepatan cahaya.
Tiba-tiba, langkah kaki bergema dari arah lorong panjang di belakang ruangan. Suaranya berat dan teratur.
Pam langsung bereaksi. Ia menyambar kerah baju Bumi dan menyeretnya menuju sebuah lemari buku raksasa yang menempel di dinding. "Sembunyi!" bisiknya ketat.
Mereka menyelinap ke dalam celah sempit di balik lemari. Di dasarnya, terdapat tumpukan buku-buku kertas bekas—sebuah benda langka dan ilegal di era digital ini. Bumi menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat saat ia mengintip melalui celah sempit di antara jajaran buku-buku tua itu.
Dua sosok muncul dari kegelapan lorong. Jantung Bumi hampir berhenti berdetak saat ia melihat salah satu dari mereka.
Itu adalah Pam.
Tapi bukan Pam yang berdiri di sampingnya. Wanita itu mengenakan pakaian taktis yang berbeda, wajahnya tampak sedikit lebih muda namun dengan gurat keletihan yang lebih dalam di bawah matanya. Di samping "Pam Masa Lalu" itu, berjalan seorang pria berambut hitam legam dengan rahang tegas. Wajahnya tipikal orang Jepang, mengenakan jubah teknisi yang longgar.
"Kita harus punya sniper itu, Yuta!" kata Pam masa lalu dengan nada mendesak. Ia menghempaskan dirinya ke sebuah kursi logam di depan meja kerja. "Led tidak akan memberi kita kesempatan kedua. Jika kita tidak menghabisinya dari jarak jauh, operasi ini bunuh diri."
Bumi melirik Pam yang asli di sampingnya. Gadis itu terdiam kaku, matanya terpaku pada dirinya sendiri yang sedang berbicara di luar sana. Pam asli menempelkan telunjuk di mulutnya, memberi isyarat agar Bumi tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Pria bernama Yuta itu mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya—sebuah belati kecil dengan bilah yang berpendar hijau neon, menandakan adanya lapisan neurotoksin di permukaannya. Ia memutar-mutar belati itu dengan jari-jarinya yang cekatan.
"Nggak," jawab Yuta tenang, suaranya berat dan penuh wibawa. "Terlalu berisiko ketahuan bodyguard-nya Led. Sistem pertahanan mereka bisa mendeteksi panas laras senjata dari jarak dua kilometer. Sniper itu terlalu berisik, meski tanpa suara."
Yuta meletakkan belati itu di atas meja, tepat di atas blueprint pesawat kapsul. "Ini lebih ampuh. Dekati dia, jadilah bagian dari bayangannya, dan tusuk di titik yang tidak bisa dideteksi oleh sensor medisnya."
Pam masa lalu menatap belati itu dengan ragu, sementara Bumi di balik lemari buku merasa dunianya seolah jungkir balik. Ia berada di tengah-tengah konspirasi pembunuhan yang melibatkan gadis yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Ketegangan di dalam ruangan itu begitu pekat hingga Bumi merasa bisa memotongnya dengan pisau. Di luar sana, hologram Led Hamlich masih terus tersenyum, tidak menyadari bahwa di sebuah sudut California yang gelap, takdirnya sedang ditentukan oleh sebilah belati kecil dan seorang pria Jepang yang tenang.
Bumi menggenggam tangannya yang berkeringat. Ia tidak tahu apa yang lebih menakutkan: jatuh dari ketinggian ribuan kaki, atau kenyataan bahwa ia kini terjebak di tengah pusaran waktu dan pengkhianatan yang bisa mengubah sejarah dunia selamanya.
Tiba-tiba di jendela ada motor pesawat kecil melayang. Pam masa lalu membuka jendela. Tampak Sally masa lalu sedang mengendarai pesawat kecil itu.
“Kalau mau ambil sniper, sekarang!” kata Sally.
Pam masa lalu melirik Yuta. Yuta akhirnya bangkit. Mereka berdua naik ke motor pesawat Sally, lalu pergi.
Pam dan Bumi keluar dari lemari buku itu.
Bumi melongo ke jendela yang masih terbuka, “Itu Yuta yang dari masa lalu?”
Pam menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu. Bisa jadi itu Yuta dari masa kita.”
“Terus gimana caranya kita menghentikan Yuta? Yuta yang mana yang harus dihentikan?” tanya Bumi heran.
“Kita bunuh keduanya,” jawab Pam singkat, sambil mengambil beberapa barang, seperti jam yang ada GPSnya dari laci.
“Aku nggak mau ngebunuh siapa pun,” kata Bumi menjauhi Pam.