Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Benteng Kedap Suara
Mobil SUV antipeluru itu berhenti di depan sebuah gerbang baja raksasa yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan di kawasan perbukitan yang sunyi. Setelah pemindaian retina dan sidik jari oleh penjaga bersenjata lengkap, gerbang itu terbuka pelan, menyingkap sebuah mansion megah bergaya arsitektur modern-minimalis yang didominasi kaca gelap dan beton ekspos.
Bagi orang awam, ini adalah mahakarya arsitektur. Namun bagi Aisyah, tempat ini tampak seperti benteng kematian yang dingin.
"Turunlah, Aisyah. Kau aman di sini," ucap Arkan.
Suaranya sudah kembali datar, otoritas alaminya pulih setelah aksi baku tembak di stasiun tadi.
Aisyah melangkah keluar dengan ragu. Gamisnya tersapu angin perbukitan yang dingin. Ia menoleh ke belakang, melihat mobil lain yang membawa kakaknya, Hamdan. Leo dan dua anak buah Arkan lainnya mengawal Hamdan turun. Wajah Hamdan merah padam, rahangnya mengeras karena amarah yang tertahan.
"Lepaskan saya! Aisyah, jangan ikut pria ini!" teriak Hamdan. Suaranya bergema di pelataran parkir yang luas itu.
Arkan berhenti sejenak, lalu menoleh pada Leo. "Bawa Tuan Hamdan ke paviliun timur. Berikan dia fasilitas terbaik, perpustakaan, dan makanan yang layak. Tapi jangan biarkan dia melangkah keluar dari area paviliun tanpa izin dariku."
"Baik, Tuan," jawab Leo singkat.
"Tuan Arkan, tolong! Jangan sakiti kakak saya!" Aisyah berlari kecil mendekati Arkan, tangannya secara tidak sadar memegang lengan jaket kulit pria itu.
Arkan menatap tangan mungil Aisyah yang memegang lengannya. Ada getaran aneh yang menjalar di jantungnya—sensasi yang jauh lebih kuat daripada rasa sakit peluru yang pernah menembus kulitnya. Ia menatap mata Aisyah yang berkaca-kaca di balik cadar.
"Aku tidak menyakiti keluargaku, Aisyah," ujar Arkan lembut, namun kata 'keluarga' itu terdengar sangat posesif. "Dia adalah tamu terhormat selama kau kooperatif. Jika kau mencoba lari lagi, barulah aku akan mempertimbangkan cara lain untuk membuatnya tetap duduk tenang."
Aisyah melepaskan pegangannya, merasa ngeri dengan ancaman terselubung itu. Ia terpaksa mengikuti Arkan masuk ke dalam rumah.
Bagian dalam mansion itu luar biasa luas.
Lantainya terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap hingga Aisyah bisa melihat bayangan dirinya sendiri. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan warna-warni. Hanya ada lukisan abstrak berukuran besar dengan warna-warna gelap dan beberapa patung perunggu yang terlihat sangat maskulin.
"Ini kamarmu," Arkan membuka sebuah pintu ganda di lantai dua.
Aisyah terpaku. Kamar itu lebih luas dari seluruh apartemennya. Ada jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan pinus, sebuah tempat tidur king size dengan sprei sutra abu-abu, dan sebuah ruangan kecil di sudut yang ternyata adalah musala pribadi lengkap dengan sajadah tebal dan rak buku-buku agama yang masih baru.
"Anda... Anda menyiapkan musala?" suara Aisyah bergetar.
Arkan bersandar di bingkai pintu, melipat tangannya di dada. "Aku tahu kau tidak akan bertahan satu jam pun di sini jika tidak ada tempat untuk mengadu pada Tuhanmu. Anggap saja itu upaya agar kau tidak terlalu membenciku."
Aisyah berjalan menuju jendela, menatap pemandangan luar yang indah namun terasa seperti penjara. "Anda membeli semua ini untuk apa, Tuan Arkan? Keamanan? Atau obsesi?"
"Keduanya," jawab Arkan jujur. "Duniaku sedang terbakar. Klan Scorpio sudah mulai menyerang secara terbuka. Mereka tidak lagi peduli dengan aturan lama. Mereka akan melakukan apa pun untuk menjatuhkanku, termasuk menggunakanmu. Di sini, sistem keamanannya adalah yang terbaik di Asia. Bahkan seekor lalat pun tidak bisa masuk tanpa seizinku."
Arkan melangkah mendekat, membuat Aisyah secara refleks mundur hingga punggungnya menyentuh kaca jendela. Arkan tidak menyentuhnya, namun ia berdiri cukup dekat hingga Aisyah bisa merasakan panas tubuhnya.
"Kau membenciku karena aku memaksamu ke sini," gumam Arkan, matanya menelusuri garis mata Aisyah yang indah. "Tapi kau harus tahu satu hal, Aisyah. Malam itu di pelabuhan, saat kau berdiri di depan peluru untuk melindungiku... itu adalah pertama kalinya seseorang melakukannya tanpa mengharapkan bayaran dariku. Dan aku tidak akan membiarkan keberanian itu terbuang sia-sia."
"Saya melakukannya untuk setiap orang yang terluka, bukan hanya untuk Anda," sahut Aisyah teguh.
"Mungkin. Tapi bagiku, kaulah satu-satunya yang tersisa di dunia ini yang masih murni. Dan aku akan mengotori tanganku sesuka hati asalkan kemurnianmu itu tidak tersentuh oleh bajingan-bajingan di luar sana."
Arkan berbalik untuk pergi, namun ia berhenti di ambang pintu. "Makan malam akan diantar satu jam lagi. Pelayanku, Bi Inah, akan membantumu jika kau butuh sesuatu. Dia wanita baik-baik, jangan takut padanya."
Setelah Arkan pergi dan pintu tertutup dengan bunyi klik elektronik yang halus, Aisyah luruh di atas sajadah barunya. Ia menangis tanpa suara.
Ia merasa seperti ditarik paksa dari kehidupan sederhananya yang damai ke dalam badai yang mengerikan. Namun, di saat yang sama, ia melihat kontradiksi dalam diri Arkan. Pria itu adalah monster yang kejam, namun ia menyediakan musala untuknya. Pria itu mengancam kakaknya, namun ia memanggilnya 'tamu terhormat'.
Dua jam kemudian, pintu kamarnya diketuk dengan lembut. Seorang wanita paruh baya dengan wajah keibuan masuk membawa nampan perak. "Nona Aisyah? Saya Bi Inah. Tuan Arkan meminta saya memastikan Nona makan dengan baik."
Aisyah menghapus sisa air matanya. "Bi... apa Tuan Arkan selalu seperti ini?"
Bi Inah tersenyum sedih sambil meletakkan makanan di meja. "Tuan Arkan itu orang yang kesepian, Nona. Sejak kecil dia hanya tahu cara bertahan hidup di antara serigala. Ini pertama kalinya saya melihat dia begitu gelisah hanya karena seorang wanita. Dia sendiri yang memilih buku-buku di rak itu tadi sore."
Aisyah tertegun. Arkan memilih sendiri buku-buku agamanya?
Malam semakin larut. Aisyah tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar kamar, berharap bisa menemukan jalan menuju paviliun kakaknya.
Mansion itu terasa seperti labirin yang sunyi. Langkah kakinya yang terbungkus kaos kaki tidak menimbulkan suara di atas marmer.
Ia melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Cahaya hangat terpancar dari dalam. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Aisyah mengintip ke dalam.
Itu adalah perpustakaan pribadi yang sangat besar, dua lantai penuh dengan buku dari lantai hingga langit-langit. Di tengah ruangan, Arkan sedang duduk di sebuah kursi kulit besar. Ia tidak sedang memegang senjata atau dokumen bisnis. Di tangannya ada sebuah buku usang.
Arkan tampak sangat rapuh di bawah cahaya lampu meja yang redup. Perban di dadanya terlihat sedikit merembeskan darah, tanda bahwa ia terlalu banyak bergerak hari ini. Ia memejamkan mata, wajahnya menunjukkan guratan rasa sakit—bukan hanya fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam.
"Luka Anda terbuka lagi," suara Aisyah memecah keheningan.
Arkan tersentak dan segera menoleh. Ia mencoba menegakkan duduknya, menyembunyikan kerapuhannya di balik wajah dinginnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya tidur."
Aisyah masuk ke ruangan itu, mengabaikan peringatan di kepalanya untuk menjauh. "Saya calon dokter, Tuan Arkan. Saya tidak bisa melihat perban berdarah dan mendiamkannya begitu saja. Itu melanggar sumpah saya, bahkan sebelum saya resmi menjadi dokter."
Aisyah mendekat, membawa kotak P3K yang ia temukan di meja lorong tadi. Arkan hanya diam saat Aisyah berlutut di samping kursinya. Dengan jemari gemetar namun terlatih, Aisyah mulai membuka kancing kemeja Arkan.
Arkan menahan napas. Ini adalah pertama kalinya ada wanita yang mendekatinya bukan karena nafsu atau uang, tapi karena kepedulian yang tulus—meskipun wanita itu membencinya.
Ia bisa melihat dahi Aisyah yang berkerut serius di balik cadarnya saat sedang fokus membersihkan luka.
"Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja, Aisyah?" tanya Arkan tiba-tiba, suaranya sangat rendah. "Jika aku mati, kau bebas. Kakakmu bebas."
Aisyah berhenti sejenak, menatap luka di dada Arkan. "Karena jika saya membiarkan Anda mati, saya tidak ada bedanya dengan musuh-musuh Anda yang haus darah. Allah memerintahkan untuk menyelamatkan nyawa, bukan menghakiminya. Itu urusan Tuhan, bukan urusan saya."
Arkan menatap puncak kepala Aisyah. "Kau tahu... duniaku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Bahkan jika aku melepaskanmu, mereka akan mengejarmu karena mereka tahu kau adalah satu-satunya hal yang kupedulikan."
Aisyah mendongak, matanya bertemu dengan mata gelap Arkan. Jarak mereka sangat dekat. "Kalau begitu, ubahlah dunia Anda, Tuan Arkan. Berhentilah menjadi alasan mengapa orang-orang saling membunuh."
Arkan tersenyum pahit. "Mengubah dunia mafia itu seperti mencoba menghentikan hujan dengan telapak tangan, Aisyah. Terlalu banyak darah yang sudah tertumpah."
Tiba-tiba, suara alarm di seluruh mansion berbunyi dengan keras. Lampu merah berkedip-kedip di setiap sudut.
"Tuan! Mereka menyerang gerbang depan! Mereka membawa bazoka!" suara Leo terdengar dari interkom di meja Arkan.
Wajah Arkan berubah dalam sekejap. Kelembutan yang tadi sempat muncul hilang tak berbekas, digantikan oleh aura pembunuh yang mengerikan. Ia menyambar senjatanya dari laci meja.
"Aisyah, masuk ke bawah meja! Jangan keluar sampai aku memanggilmu!" perintah Arkan dengan suara menggelegar.