"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Mahiya diam saja, duduk di sisi kael yang nyetir dengan raut wajah marahnya. Dia nggak mau kena sembur kael juga, wajah pria itu terlihat jelas sedang menahan emosi.
"berani-beraninya dia mau ngadu ke oma!" gumam kael kesal, berulangkali tangannya memukuli setir mobilnya.
"apa dia pikir aku nggak tahu bahwa dia ingin menikahi clarissa juga karena punya tujuan tertentu"
"kak.." panggil mahiya hati-hati, dia nggak mau kael karena kesalnya sampai lupa nurunin dia di kampus, kampusnya sudah dekat.
Kael menoleh, jelas terlihat raut wajahnya tersentak. Mahiya memang nggak menyadari, tapi kael malu sendiri. Gimana bisa dia ngomel-ngomel di depan bocah ini.
"kampusku di depan kak!, turunin aku"
Kael menghentikan mobilnya tepat di depan, dia udah mau ikut turun tapi mahiya melarang. Kepala gadis itu udah menggeleng sambil membuka pintu mobil terburu-buru.
"nggak usah turun kak, aku udah terlambat. Kakak hati-hati yah"
Kael cuman bisa ngangguk, matanya mengikuti langkah mahiya yang berjalan setengah berlari, mengejar beberapa temannya yang menunggu.
"tumben lakik lo nggak turun?" tanya gaby yang berdiri menunggu mahiya, mata gadis langsing itu masih sempat melirik mobil kael yang barusan pergi.
"kak kael lagi buru-buru" sahut mahiya santai sambil ngatur nafasnya yang terasa sedikit sesak, dia melangkah di samping gaby yang mulai melangkah.
"ada pertemuan penting dengan klien katanya"
Gaby manggut-manggut, nggak lagi berkomentar apapun, dia mengikuti langkah mahiya yang berjalan terburu-buru.
"mahi..!" panggil gaby setengah berbisik, mahiya menoleh alisnya naik sebelah.
"kemarin dihya curhat ke aku!, tuh cowok patah hati karena kamu"
Kening mahiya semakin mengerut, kerutan di pangkal hidungnya menebal heran.
"dia beneran patah hati, mahi. Dihya beneran suka ama kamu"
"trus aku harus gimana?"
Mahiya tetap melangkah, terlihat banget wajahnya nggak perduli.
"aku nggak pernah memberinya sinyal-sinyal apapun, lah kenapa dia patah hati, aku harus tahu!"
Gaby menoleh kaget, nggak nyangka jawaban mahiya yang dingin banget.
"kamu kan tahu gab, gimana aku"
"iya.." angguk gaby lemah, tapi matanya masih menatap mahiya lekat.
"tapi nggak gitu juga kali, jawaban kamu dingin amat!"
Mahiya mengedikkan bahunya,meletakkan tas di atas meja.
"patah hati dihya bukan tanggung jawab aku gab, kalau aku sekarang sok-sokan perhatian ama dia, apa menurutmu nggak semakin bahaya?"
Gaby ngangguk juga, wajah manisnya terlihat mengerti maksud mahiya.
"aku nggak mau ada pria yang salah menafsirkan perhatianku gab, dulu aku nggak boleh pacaran, sekarang aku sudah punya suami, banyak hal yang harus aku jaga"
"iyee, gue paham kok. Cuman aku rada kasihan ngelihat dihya kemarin, dia beneran patah hati"
"udah deh, nggak usah pikirin orang lain, fokus aja ama ujian semester ini, jangan sampai beasiswa kita melayang"
Gaby mengangguk cepat,
"benar juga yah, oke deh!"
Mahiya tersenyum manis, gigi kelincinya terlihat jelas banget.
*******
Kael termenung duduk di kursi empuknya, wajah tampan pria itu terlihat begitu serius. Kedatangan rifki sama sekali nggak menganggu lamunannya, rifki yang meletakkan sebuah dokumen di depan kael, terlihat penasaran.
Apa gerangan yang bosnya ini pikirkan sampai nggak menyadari kehadirannya,
"tanda tangani pak kael, dokumen ini harus segera diserahkan ke tim eksekutif"
Rifki meletakkan pena di atas dokumen terbuka itu, kael yang tersentak mendongak kaget, matanya memicing.
"sejak kapan kamu di sini?"
"sejak kamu ngelamun!" sahut rifki sambil menghela nafasnya sedikit kasar.
"kamu kenapa sih?"
Kael melirik rifki malas, dengusan nafasnya terdengar keras.
"makanya kalau masih sayang ngomong aja, jangan denial terus"
Kael menatap tajam, mata elangnya melotot.
"pake acara nikahin anak orang lagi!, bingung sekarang kan?"
"sok tahu lo.." semprot kael kesal,
"sok cenayang.."
Kael berdiri dari kursinya, masih menggerutu kesal, dia ninggalin rifki yang masih merapikan mejanya.
"clarissa tadi menghubungi aku kael, dia pengen ketemu ama kamu" lapor rifki, setelah ia menyejajari langkah panjang kael.
"dia nangis-nangis"
"biarin aja.." sahut kael cepat, dia sama sekali nggak melambatkan langkahnya.
"aku keluar, mau jemput istriku dulu"
"kael.." panggil rifki sedikit kesal, mana kael sama sekali nggak menoleh, nggak perduli banget.
Sambil berbalik, rifki ngedumel panjang pendek. Dia tahu kalau kael dan mahiya cuman nikah kontrak, tapi kenapa kok dia ngerasa kael beneran punya perasaan ke gadis itu.
Kael melirik ponselnya yang bergetar,sebuah notifikasi dari aplikasi pesan. Kael mengerutkan keningnya, mata elang coklat kehijauan miliknya memicing.
Sebuah pesan dari omanya membuat dadanya berdebar kencang.
[kamu jumpain oma sekarang juga!, bawa mahiya, jelaskan ke oma semuanya]
Mendadak hati kael merasa resah luar biasa, apakah gerard ngomong sesuatu ke oma, ataukah martin.
Wajah tampan kael gelisah, matanya melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 12 lewat, kael mengarahkan mobilnya menuju kampus mahiya, dia yakin gadis itu pasti sudah selesai ujian.
Kael berdiri di parkiran, bersandar di pintu mobilnya. Matanya tak berkedip menatap ke arah sepasang pria dan wanita yang berjalan lambat ke arah gerbang kampus.
Kael mengernyitkan keningnya, keknya itu mahiya deh. Mendadak hati kael merasa jengah,mahiya serius banget kelihatannya bicara dengan pria yang berjalan di sisinya itu.
Kael menatap tajam, sorot matanya terlihat marah.
"sayang...!, mahiya!"
Mahiya menoleh kaget, wajah cantik gadis itu langsung tersenyum manis. Ntah apa yang mahiya ucapin ke cowok itu, cowok tampan itu mengangguk, tapi tetap menatap ke arah kael lekat.
"udah lama kak?" mahiya masih mengatur nafasnya yang memburu kelelahan, gadis itu mengerjabkan mata indahnya.
Kael melengos jengah, rasa kesalnya masih ada. Tapi melihat mahiya berkedip-kedip imut tak urung kael tersenyum juga.
"siapa cowok tadi?" tatap kael penuh selidik, mengamati mahiya yang baru duduk dan meletakkan tasnya di kursi belakang.
"pacar kamu?"
Mahiya menggeleng cepat sambil tertawa kecil,
"penggemar aku kak"
Kael mengernyitkan keningnya, dia belum berkomentar apapun, matanya masih fokus melihat jalanan yang ramai.
"komting di kelasku"
"pacar kamu?"
Mata mahiya mendelik kaget, kael sampai terpesona melihat mata besar mahiya yang membola itu, mana mulut gadis itu membuka imut.
"kak kael lupakah kalau aku nggak boleh pacaran?"
Kael tak menjawab, dia mengamati jalanan yang padat. Mahiya menoleh, menyadari kael tak menjawabnya.
Matanya celingukan keheranan, baru dia menyadari kalau mereka tidak menuju pulang.
"mau kemana kak?"
Tangan mahiya menjawil lengan kael, membuat pria itu sedikit tersentak, apalagi tangan mahiya nangkring lama di lengannya, bikin dig dug- dig dug jantungnya.
"inikan jalan ke rumah orangtuamu"
Kael mengangguk pelan, sempat melirik sebentar ke muka cantik mahiya yang tiba-tiba gelisah.
"kak kael, akukan udah bilang, kamu jangan terlalu sering membawaku kemari"
Ucapan mahiya terdengar seperti sebuah keluhan di telinga kael, mata elang coklat kehijauannya melirik mahiya heran.
"aku nggak mau terlalu sering bertemu dengan keluargamu kak, terutama oma dan mommy"
"mahi..." panggil kael lembut,
"kita kemari karena oma meminta kita kemari"
Kael memarkirkan mobilnya di depan garasi rumah besar orangtuanya, mahiya terlihat semakin gugup dan gelisah.
"sepertinya gerard atau martin udah ngomong sesuatu ke oma..."
"apaaa.." teriak mahiya setengah kaget, mata indahnya melotot.
"mampus daaahh"
Kael merengkuh bahu mahiya, meremasnya lembut.
"mari kita samakan jawaban nanti yah" bisik kael lembut di telinga mahiya yang mengangguk pelan, mahiya nggak bisa melepaskan diri dari pelukan kael, karena oma menanti mereka tepat di ruang tamu berdiri tersenyum manis di samping mommynya kael yang juga tersenyum.
Bersambung..