NovelToon NovelToon
King Mafia Di Zaman Kuno

King Mafia Di Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: BUBBLEBUNY

Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.

Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Puncak Dunia

Setelah berhasil membereskan sarang para perampok itu dengan begitu rapi, dingin, dan tanpa ampun, Xiao Ling dan Ye Chen tidak memilih untuk berlama-lama berada di tempat tersebut. Udara di sana masih terasa berat oleh sisa-sisa pertempuran dan bau darah. Mereka tahu ada urusan yang jauh lebih penting menanti, sehingga tanpa membuang waktu sedetik pun, mereka segera berbalik dan melangkah pergi, menuju kediaman utama yaitu pusat dari seluruh kekuasaan Sekte Tianmo. Di sanalah leluhur dan penguasa tertinggi yang memegang takdir seluruh wilayah ini bersemayam. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda bagi Xiao Ling. Jika di masa lalu, setiap kali ia melangkah menuju tempat ini, dadanya selalu dipenuhi rasa takut, gemetar, dan perasaan rendah diri yang mendalam, kini segalanya telah berubah. Setiap injakan kakinya di tanah terasa begitu mantap, memancarkan keyakinan yang kokoh dan wibawa yang tak tergoyahkan. Tubuhnya terasa ringan bagaikan melayang di atas awan, namun di dalamnya tersembunyi kekuatan dahsyat yang seolah mampu mengguncang bumi dan membelah langit kapan saja. Transformasi itu bukan hanya pada kekuatan, tetapi juga pada jiwanya yang kini telah matang. Akhirnya, mereka tiba di hadapan Aula Utama yang megah nan agung. Bangunan itu menjulang tinggi, sunyi, dan memancarkan aura keabadian yang menekan dada siapa saja yang memandangnya. Di puncak tangga yang paling tinggi, di atas singgasana yang terbuat dari material langka yang berkilauan, duduklah seorang pria paruh baya. Wajahnya tenang bagaikan danau yang tak berombak, namun tatapan matanya begitu dalam dan misterius, seolah menyimpan seluruh rahasia alam semesta. Aura yang dipancarkannya begitu agung dan mendalam, membuat orang merasa seolah-olah pria itu bukan lagi sekadar manusia, melainkan telah menyatu dengan langit dan bumi itu sendiri. Itu adalah ayahanda Ye Chen, sosok yang memegang kendali mutlak dan kekuasaan tertinggi di seluruh wilayah ini. Merasakan kehadiran sosok yang begitu berwibawa itu, Ye Chen perlahan melangkah maju. Gerakannya tenang dan penuh hormat. Saat ia berdiri di tengah aula, ia perlahan menundukkan tubuhnya, membungkuk dengan sopan santun yang sempurna, menunjukkan rasa bakti dan penghormatan tertinggi kepada pemimpin klan mereka.

"Ayah..." Panggil Ye Chen dengan suara yang terdengar lembut namun tetap memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Latihan Xiao Ling sudah selesai. Fondasi tubuhnya sudah sempurna, teknik bertarungnya sudah matang dan mengalir layaknya air, serta mentalitasnya sudah ditempa sedemikian rupa hingga menjadi sekeras baja yang tak bisa dipatahkan. Dia kini benar-benar siap untuk menghadapi kerasnya dunia luar." Ujar Ye Chen dengan nada yang tegas dan penuh keyakinan, matanya memancarkan rasa bangga yang mendalam.

"Selama berbulan-bulan ini, aku tidak hanya mengajarinya cara bertarung, tapi juga cara bertahan hidup dan membedakan mana kawan dan mana lawan. Tubuhnya kini mampu menampung kekuatan dahsyat, dan jiwanya sudah cukup kuat untuk tidak goyah meski dihajar oleh badai sekalipun. Tidak ada lagi yang perlu aku ajarkan padanya di sini. Sudah waktunya dia membuktikan dirinya sendiri." Ujar Ye Chen dengan nada mantap, suaranya penuh keyakinan akan kemampuan muridnya.

"Jika dia terus berada di sini, di zona nyaman di mana aku selalu melindunginya, dia tidak akan pernah bisa tumbuh sepenuhnya. Dunia luar adalah tempat terbaik baginya untuk mengasah kemampuan, bertemu lawan yang tangguh, dan akhirnya... menemukan jalannya sendiri menuju puncak kekuasaan." Tambahnya lagi dengan tegas, menatap ayahnya dengan harapan agar permohonannya dikabulkan.

Dengan gerakan yang tenang dan penuh wibawa, Ye Chen perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya yang tadinya tertunduk kini beralih lurus, menembus udara dan menatap tepat ke arah sosok agung yang duduk di singgasana tertinggi. Di matanya yang tajam, terpancar aura keyakinan yang kokoh bagaikan gunung yang tak tergoyahkan, bercampur dengan rasa tanggung jawab besar yang ia pikul di pundaknya. Setiap garis wajahnya menunjukkan bahwa ia bukan lagi seorang anak kecil, melainkan seorang pemimpin yang siap menaklukkan dunia.

"Karena itu, aku memohon izin untuk kembali ke Sekte Langit. Sudah cukup lama aku meninggalkan tempat itu, dan aku merasa sudah waktunya untuk kembali. Aku ingin melihat perkembangan para muridku yang lain, serta memantau situasi di dunia persilatan yang mungkin sudah banyak berubah selama kepergianku." Ujarnya dengan nada sungguh-sungguh, suaranya terdengar mantap dan penuh wibawa.

"Dan aku berencana membawa Xiao Ling bersamaku, agar dia bisa melihat dunia yang lebih luas, berlatih di lingkungan yang sesungguhnya, bertemu orang-orang hebat, dan mulai membangun nama besarnya sendiri di panggung utama." Tambahnya lagi dengan tegas, matanya memancarkan tekad yang bulat untuk membawa murid tercintanya melangkah lebih jauh.

"Aku tidak ingin dia hanya menjadi bunga yang tumbuh di dalam rumah yang terlindungi selamanya. Dia harus menjadi pohon besar yang kokoh, yang mampu bertahan dan tumbuh kuat meski diterpa badai dan hujan. Hanya dengan begitu, potensi sebenarnya akan benar-benar terbangun dan dia bisa berdiri setara dengan para ahli terkuat di dunia." Ujar Ye Chen dengan nada yang dalam dan penuh filosofi, matanya bersinar tegas menyiratkan harapan besarnya bagi masa depan muridnya.

Mendengar penuturan yang begitu tegas dan penuh keyakinan dari sang putra, lelaki yang duduk di singgasana tertinggi itu tidak serta-merta memberikan jawaban. Ia hanya duduk tenang, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan, seolah sedang merenungi setiap kata yang baru saja terucap. Sebuah senyum tipis dan misterius perlahan terukir di wajahnya. Matanya yang tajam dan sedalam samudra itu menatap bergantian, menyapu wajah Ye Chen yang penuh tekad, lalu beralih menatap sosok gadis muda yang berdiri dengan anggun namun memancarkan wibawa yang tak main-main di samping putranya itu. Suasana di dalam Aula Utama yang begitu megah dan luas itu seketika menjadi hening total. Hanya suara napas yang terdengar samar, namun tekanan udara di sana terasa begitu berat namun damai. Meskipun tidak ada satu kata pun yang terucap, tatapan mata sang ayah yang tajam dan menembus itu seolah memiliki kekuatan magis. Xiao Ling yang sedari tadi berdiri dengan sikap tenang dan dingin, seolah tak tergoyahkan, perlahan mulai merasakan sesuatu yang aneh. Wajahnya yang biasanya pucat dan dingin itu perlahan-lahan mulai memanas, merona merah samar. Ia merasa seolah seluruh isi hatinya, setiap pemikiran dan perasaan terdalam yang ia simpan rapat-rapat, kini terbaca begitu jelas oleh sosok di hadapannya itu, seakan tak ada satu pun rahasia yang bisa disembunyikan darinya.

"Hmmm... Jadi latihan sudah selesai ya..." Ucap ayah Ye Chen pelan. Suaranya tidak terlalu keras, namun bergema lembut di seluruh penjuru ruangan, penuh dengan makna dan kebijaksanaan yang mendalam.

"Kau membawa gadis ini kemari dalam keadaan rapuh, penuh luka, dan hampir putus asa. Tapi sekarang... kau mengembalikannya dalam keadaan sekuat naga yang baru bangun dan setajam pedang surgawi yang siap menebas segalanya. Kerjamu memang selalu luar biasa, Chen'er. Ayah bangga." Ujarnya dengan nada yang hangat dan penuh penghargaan, matanya memancarkan rasa bangga yang tulus melihat hasil kerja keras putranya.

"Fondasi yang kau bangun untuknya begitu kokoh dan sempurna, jauh melampaui batas yang biasa. Bahkan Ayah pun bisa merasakan bahwa darah dan dagingnya kini telah bertransformasi, menjadi wadah yang suci dan kuat. Dia benar-benar telah terlahir kembali sebagai sosok yang baru berkat tanganmu." Tambahnya lagi dengan nada yang bijak, sambil menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.

"Dulu, matanya dipenuhi ketakutan dan bayang-bayang masa lalu yang gelap. Tapi lihatlah sekarang... tatapannya begitu jernih, dingin, dan penuh semangat juang. Dia tidak hanya menjadi kuat secara fisik, tapi jiwanya juga telah menjadi seberlian yang tak ternilai harganya. Kau telah berhasil menyelamatkan dan mengubah nasibnya sepenuhnya." Ujarnya dengan nada yang dalam dan penuh makna, matanya menatap Xiao Ling dengan pandangan yang sangat menghargai dan bangga.

Setelah mengucapkan kata-kata penuh makna itu, pria di singgasana itu tertawa kecil dengan nada yang hangat dan tulus. Namun, seketika itu juga, sorot matanya berubah drastis menjadi jenaka, berkilat cerdik, dan penuh arti seolah mampu melihat jauh ke dalam pikiran orang lain. Dengan gerakan yang santai namun berwibawa, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang sandaran singgasana yang megah, melipat kedua tangannya dengan tenang di depan dada. Dari posisi itu, ia menatap lekat ke arah putranya dengan senyum yang sangat menggoda, senyum seorang ayah yang tahu persis segala rahasia yang tersembunyi di antara Ye Chen dan muridnya. Tatapan itu seolah berkata bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa luput dari penglihatannya.

"Tapi... hei, nak. Jangan berpikir Ayah tidak melihat apa yang terjadi di antara kalian berdua selama ini." Ujarnya dengan nada yang berubah menjadi menggoda, matanya berkilat penuh seluk makna seolah tahu segalanya.

"Maksud Ayah?" Tanya Ye Chen sedikit terkejut, alisnya sedikit terangkat bingung namun tetap menjaga sopan santun.

"Maksud Ayah?" Ulangnya lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit ragu, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tatapan ayahnya.

"Lihatlah cara kalian berdiri berdampingan, cara kalian saling melindungi tanpa sadar, dan cara kalian saling memandang. Aura kalian sudah menyatu sedemikian rupa hingga sulit dipisahkan, bak bulan dan bintang. Xiao Ling sudah menganggapmu sebagai seluruh dunianya, dan kau... kau sudah menganggapnya sebagai milikmu yang paling berharga yang tak boleh disentuh oleh siapa pun." Ujar sang ayah dengan nada yang tegas namun lembut, menunjuk pada kenyataan yang selama ini tersembunyi.

"Di hadapan orang lain, kau mungkin adalah Ye Chen yang dingin dan tak tersentuh. Tapi di hadapannya... aku bisa melihat kelembutan yang tak pernah kau tunjukkan pada siapa pun. Hubungan kalian sudah melampaui sekadar Guru dan Murid biasa, Chen'er. Itu adalah ikatan jiwa yang jauh lebih dalam dan kuat." Tambahnya lagi sambil tersenyum lebar, menikmati reaksi putranya yang mulai terlihat gugup.

Mendengar kalimat tajam yang begitu tepat mengenai sasaran itu, wajah Xiao Ling yang sedari tadi tampak tenang, dingin, dan penuh wibawa seketika berubah total. Dalam sekejap mata, pipinya yang biasanya pucat itu memerah padam bagaikan kepiting yang baru saja diangkat dari air mendidih, bahkan merah merona itu perlahan merambat hingga ke pangkal lehernya. Gadis itu buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas membara karena rasa malu yang tiba-tiba menyerang. Bahunya yang tegap kini tampak sedikit menegang, dan kedua tangannya yang tergantung di samping tubuhnya perlahan tergenggam erat.

"Y-Yang Mulia..." Panggilnya pelan dengan suara yang bergetar halus, hampir tak terdengar.

"K-Kata-kata Yang Mulia... membuat hamba merasa sangat malu..." Gumamnya lirih, suaranya terdengar lembut dan penuh sungkan, seolah tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun.

"Hamba... hamba hanya berusaha melakukan yang terbaik dan belajar dengan sungguh-sungguh demi tidak mengecewakan Guru dan juga Yang Mulia..." Lanjutnya terbata-bata, mencoba menjelaskan namun justru terdengar semakin manis dan polos.

"Rasa terima kasih hamba kepada Guru Ye Chen takkan pernah bisa terbalas. Beliau adalah segalanya bagi hamba, satu-satunya cahaya yang menerangi jalan hidup hamba..." Bisiknya pelan, suaranya bergetar menyiratkan ketulusan yang mendalam.

Mendengar pengakuan tak langsung yang begitu manis dan tulus itu, ayah Ye Chen sama sekali tidak berhenti. Justru dia semakin menikmati pemandangan lucu dan memikat di hadapannya ini. Senyum di wajahnya semakin lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan melihat interaksi manis antara putranya dan gadis muda yang kini bagaikan bunga yang mulai mekar dengan indah.

"Ha ha ha! Lihatlah dia, Chen'er! Betapa tulus dan setianya hati gadis ini!" Seru ayah Ye Chen dengan suara keras yang penuh kegembiraan, tertawa lepas melihat reaksi murid putranya.

"Sudah jelas sekali terlihat dari caranya bicara, dari getar suaranya... dia tidak hanya menganggapmu sebagai Guru, tapi kau adalah dunianya, kau adalah tujuannya hidup. Sungguh ikatan yang indah dan langka." Ujarnya dengan nada yang penuh kekaguman, matanya berbinar melihat ketulusan yang terpancar dari sosok Xiao Ling.

"Di dunia persilatan yang penuh tipu daya dan kepalsuan ini, menemukan seseorang yang bisa memberikan hati dan jiwanya sepenuhnya seperti ini adalah hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekuatan atau harta. Kau sungguh sangat beruntung memiliki kesetiaan seperti itu, Chen'er." Tambahnya lagi dengan suara yang terdengar serius namun tetap hangat, menekankan betapa berharganya hubungan yang terjalin di antara mereka.

Tanpa memberi waktu sedikit pun bagi mereka berdua untuk mencerna dan menenangkan diri dari kata-kata barusan, pria agung yang duduk di singgasana itu justru semakin bersemangat. Wajahnya yang tadi terlihat bijaksana kini kembali berubah, seulas senyum lebar dan penuh seluk makna terukir jelas, seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat menyenangkan namun juga berbahaya. Dengan tatapan yang berkilat jenaka dan penuh rencana, ia tiba-tiba membuka suara kembali, melontarkan sebuah pertanyaan yang sama sekali tak terduga dan keluar dari dugaan siapa pun, menyerang tepat di saat mereka paling lengah.

"Jadi... kalau ikatannya sudah sedalam dan sekuat ini, kapan kalian berencana untuk meresmikannya? Kapan kau akan menjadikan dia istrimu yang sah?" Tanyanya dengan nada santai namun penuh tekanan.

"AYAH?!" Seru Ye Chen terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar tak menyangka ayahnya akan berkata sejujur dan seberani itu.

"K-Kenapa Ayah tiba-tiba bicara soal itu?!" Tanyanya panik, suaranya sedikit meninggi karena kaget, wajahnya yang biasanya pucat kini mulai memerah.

"Belum waktunya untuk membicarakan hal semacam itu! Kita masih punya banyak urusan penting yang harus diselesaikan, Ayah jangan memotong pembicaraan dengan hal-hal yang tidak relevan!" Tambahnya lagi dengan cepat, berusaha mengalihkan topik namun justru terlihat semakin gugup.

Wajah Ye Chen yang biasanya sedingin es, tenang bagaikan danau tanpa riak, dan tampak tak tergoyahkan oleh apa pun di dunia ini, kini perlahan namun pasti mulai mengalami perubahan yang sangat mencolok. Sedikit demi sedikit, pipinya yang biasanya pucat itu mulai tersiram warna merah yang jelas, merambat perlahan hingga ke pangkal telinganya. Sosok yang selalu dijuluki sebagai Kaisar Dingin itu kini tampak benar-benar kehilangan ketenangannya. Dia sedikit tergagap, mulutnya terbuka sedikit seolah ingin menjawab atau membantah, namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar dengan lancar. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya, di hadapan orang lain, dia terlihat begitu bingung, gugup, dan kehilangan kata-kata. Seluruh wibawa dan aura mematikan yang biasa ia pancarkan seakan lenyap seketika, digantikan oleh kecanggungan yang manis layaknya seorang pemuda biasa yang sedang ditanya soal jodoh.

"K-Kita... kita baru saja selesai latihan! Masih banyak hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan! Hubungan kita adalah hubungan suci antara guru dan murid, Ayah jangan dicampuradukkan dengan hal-hal seperti itu!" Jawab Ye Chen berusaha membela diri dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba terlihat tegas tapi justru terdengar seperti pemuda muda yang sedang kaget dan gugup ditanya soal jodoh.

"Oh? Hanya Guru dan Murid?" Ayahnya mengangkat sebelah alisnya tinggi, senyum di wajahnya semakin lebar dan terlihat semakin nakal.

"Tapi kalau hanya guru dan murid biasa, kenapa kau mau menanggung risiko besar membuka rahasia tertinggi kekuatanmu hanya untuknya? Kenapa kau mau menghabiskan waktu berbulan-bulan, menemaninya sehari-hari, menempa dia dengan tanganmu sendiri? Dan kenapa... kenapa kau memandangnya dengan tatapan seolah dia adalah satu-satunya harta berharga di dunia ini yang ingin kau lindungi sampai mati?"

"Apakah ada guru biasa yang rela menumpahkan seluruh ilmu dan darahnya hanya untuk seorang murid? Apakah ada guru biasa yang rela membiarkan muridnya masuk ke dalam ruang latihan pribadimu, berbagi napas dan energi hingga aura kalian menyatu?" Timpalnya terus tanpa memberi celah, matanya berkilat tajam menikmati ekspresi putranya yang mulai kewalahan.

"Jujurlah pada dirimu sendiri, Chen'er. Di dalam hatimu, dia bukan lagi sekadar murid. Dia adalah belahan jiwamu, pendamping hidupmu, dan wanita yang akan berdiri tegak di sampingmu menaklukkan dunia!" Ujarnya dengan nada yang tegas namun penuh kehangatan, seolah sedang menegaskan takdir yang sudah tertulis.

"Guru dan murid? Itu hanya alasan yang kau pakai di awal. Tapi sekarang... semua orang bisa melihat bahwa cinta kalian jauh lebih besar daripada sekadar status itu!" Tambahnya lagi dengan suara yang penuh keyakinan, senyumnya semakin lebar melihat putranya tak mampu lagi membantah.

Pria yang duduk di singgasana itu akhirnya tidak mampu lagi menahan rasa geli dan bahagianya. Ia tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras dan lepas, menunjukkan sisi kemanusiaan yang hangat di balik sosoknya yang agung dan misterius. Suara tawanya yang dalam dan kuat bergema menggema di seluruh penjuru Aula Utama, menghapus suasana tegang yang tadi sempat ada, dan menggantinya dengan suasana yang penuh kehangatan serta keceriaan. Ia tampak begitu puas dan senang, seakan baru saja berhasil mengungkap sebuah rahasia besar atau memenangkan sebuah permainan menarik yang telah lama ia nantikan.

"Sudahlah, jangan menipu dirimu sendiri, Nak. Ayah sudah tua, tapi mata ayah masih sangat tajam. Cinta itu tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, ia terlihat jelas dari cara kalian melindungi satu sama lain dan cara kalian merasa tenang hanya dengan berdiri di samping satu sama lain." Ujarnya setelah tawanya mereda, dengan nada yang bijak namun tetap terdengar jenaka.

"Kalian berdua bagaikan dua bintang yang saling menarik, tidak peduli seberapa keras kau mencoba bersikap dingin atau seberapa keras dia mencoba menyembunyikan perasaannya. Ikatan itu sudah ada, dan tak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa memutuskannya." Tegasnya dengan suara yang dalam, seolah sedang merapalkan sebuah takdir yang tak terelakkan.

"Jadi hentikanlah kepura-puraan itu, Chen'er. Akui saja bahwa kau membutuhkannya sama besarnya seperti dia membutuhkanmu. Jangan biarkan waktu berlalu sia-sia, karena kebahagiaan sejati adalah hal yang paling sulit didapatkan namun paling mudah hilang jika tidak dijaga." Tambahnya lagi dengan senyum penuh arti, matanya menatap putranya dengan penuh harap.

"Lihatlah dia, Nak. Dia rela mengikuti kemana pun kau pergi, rela menerima segala latihan keras, dan rela meletakkan seluruh nyawanya di tanganmu. Kesetiaan dan cinta semacam itu... sungguh jarang ditemukan di dunia ini. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena terlalu lama menutup hati." Ujarnya penuh nasihat, suaranya terdengar sangat tulus dan bijaksana.

"Jadi, Ayah hanya ingin bertanya satu kali lagi... apakah kau benar-benar hanya menganggapnya sebagai murid? Atau kau sudah siap mengangkatnya sebagai pendamping hidupmu yang sah, wanita yang akan menemanimu sampai ujung waktu?" Tanyanya lagi dengan nada yang lebih serius namun lembut, menatap tepat ke dalam jiwa putranya.

"Dunia ini luas, Nak, dan perjalananmu masih sangat panjang. Akan jauh lebih indah dan bermakna jika kau tidak menempuhnya sendirian. Biarkan dia berjalan di sisimu, berbagi rasa, berbagi kekuatan, dan berbagi takdir. Bukankah itu yang sebenarnya kau inginkan selama ini?" Tambahnya lagi pelan, menembus langsung ke dalam hati Ye Chen yang mulai luluh.

Setelah melontarkan pertanyaan pamungkas itu, pria di singgasana kembali terdiam. Ia membiarkan kata-kata itu melayang di udara, meresap perlahan ke dalam pikiran putranya. Tatapannya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi sangat tenang, mendalam, dan penuh harap, seolah sedang menunggu keputusan besar yang akan mengubah segalanya. Suasana di dalam aula kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa hangat dan penuh makna, bukan lagi menekan. Ye Chen berdiri terpaku di tempatnya. Seluruh argumen dan pembelaan diri yang tadi ia siapkan seketika lenyap tak berbekas. Ia menundukkan pandangannya sejenak, mencoba mengatur napas dan merenungi setiap kata yang baru saja diucapkan oleh ayahnya. Perlahan, ia memberanikan diri menoleh sedikit ke samping, menatap bayangan sosok gadis yang berdiri dengan setia di sebelahnya. Melihat wajah cantik yang masih memerah karena malu, namun menyimpan ketulusan yang tak terhingga, hati sang Kaisar Dingin itu akhirnya runtuh sepenuhnya.

"Ayah..." Panggilnya pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, kehilangan seluruh ketajamannya dan digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.

"Biarkan urusan itu... kita bicarakan dan persiapkan nanti, setelah urusan di Sekte Langit selesai sepenuhnya." Gumamnya pelan, namun kali ini tidak ada lagi penolakan di dalam suaranya. Hanya ada kepasrahan dan penerimaan yang tulus.

"Tapi... Ayah benar. Aku tidak bisa lagi membayangkan masa depanku tanpa ada dia di sisiku." Ujarnya dengan suara yang bergetar halus, matanya memancarkan ketulusan yang dalam dan tekad yang bulat.

"Dia sudah menjadi bagian dari hidupku, bagian dari jiwaku. Ke mana pun aku melangkah, ke mana pun aku pergi, dia akan selalu ada di sisiku, menjadi kekuatan dan penyejuk hatiku." Lanjutnya lagi dengan penuh keyakinan, seolah sedang mengucapkan sebuah sumpah suci yang tak tergoyahkan.

"Aku tidak akan membiarkannya pergi, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya. Dia adalah milikku, dan aku adalah miliknya selamanya." Tegasnya dengan suara yang dalam dan penuh cinta, menatap ayahnya dengan pandangan yang tak lagi menyembunyikan apa-apa.

1
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya ranah Kultivasi ada berapa ranah
BUBBLEBUNY: oh itu ada 6
total 3 replies
BUBBLEBUNY
Bener 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
sekte Hua Shan sedang mengali kubur sendiri🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
baru singgah.. keren thor ceritanya.
BUBBLEBUNY: bagus kalo suka dengan ceritanya
total 1 replies
BUBBLEBUNY
betul 👍
🌹Widian,🧕🧕🌹
ohhh ternyata Ye tianhong adalah ayahnya Ye. Chen ?
BUBBLEBUNY
sabar masih permulaan
🌹Widian,🧕🧕🌹
sekte iblis, tapi pemimpinnya masih punya rasa kemanusiaan..... gimana inih ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!