Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA ASING
Wren Amara punya aturan untuk hidupnya yang kalau ia jujur ia langgar hampir setiap hari.
Aturan nomor satu: Jangan terlibat secara emosional dengan pekerjaan.
Aturan ini lahir dari pengalaman buruk di tahun pertamanya sebagai pengisi suara profesional, ketika ia mengambil proyek membacakan memoar seorang ibu yang kehilangan anaknya, menangis di tengah sesi rekaman sampai suaranya rusak selama tiga hari, dan harus meminta maaf kepada sutradara yang baik hati tapi sudah kehabisan tisu.
Sejak saat itu ia memasang jarak profesional. Ia membaca. Ia tidak ikut tenggelam.
Tapi aturan itu tidak pernah berlaku untuk Suara Asing.
Suara Asing adalah rahasianya satu-satunya bagian dari hidupnya yang ia jaga benar-benar untuk dirinya sendiri. Kanal podcast anonim yang ia mulai dua tahun lalu, awalnya tidak ada niatnya untuk siapapun kecuali dirinya sendiri. Ia hanya ingin tempat untuk membaca surat-surat yang ia temukan surat-surat cinta dan surat-surat biasa dan surat-surat marah dan surat-surat yang tidak selesai dari toko barang antik, pasar loak, kotak-kotak yang dijual di garage sale orang-orang yang tidak tahu apa yang mereka miliki.
Ia menemukan surat pertama di bawah tumpukan buku bekas di Taman Puring, terselip di dalam kamus Inggris-Indonesia cetakan 1987. Surat itu pendek, tiga paragraf, ditulis dengan tangan yang miring ke kiri penanda orang kidal yang dipaksa menulis dengan tangan kanan, berdasarkan trivia psikologi yang pernah ia baca dan mungkin salah tapi terdengar logis.
Surat itu tidak bertanda tangan. Tidak ada nama penerima. Hanya kata-kata yang membuat dadanya melakukan sesuatu yang aneh:
"Aku tidak pandai bilang ini langsung. Kamu tahu itu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa pagi tadi, waktu kamu tidur dan aku duduk di tepi ranjang melihat kamu bernapas, aku berpikir ini. Ini yang namanya cukup."
Wren membaca surat itu di angkot pulang, berdiri karena sudah penuh, diapit orang-orang yang scrolling ponsel masing-masing. Dan ia menangis diam-diam di balik rambut yang sengaja ia biarkan jatuh menutupi wajahnya.
Malam itu ia menyalakan rekorder di laptopnya dan membacanya.
Hanya untuk didengar sekali. Lalu mungkin diarsipkan. Lalu dilupakan.
Tapi ternyata ia mengunggahnya. Dengan nama samaran. Dengan foto profil berupa gambar gelombang suara di atas latar hitam.
Dua hari kemudian sudah ada tiga ratus orang yang mendengarkan.
Sekarang, dua tahun kemudian, Suara Asing punya lebih dari empat juta subscriber dan masuk dalam daftar podcast terpopuler Indonesia empat bulan berturut-turut. Orang-orang membuat fan art. Ada yang tattokan kutipan dari surat-surat yang ia bacakan. Ada yang menulis di kolom komentar bahwa mereka mendengarkan Suara Asing di rumah sakit, di kamar yang gelap, di perjalanan panjang yang tidak ada ujungnya.
Dan Wren, Wren yang wajahnya tidak ada di mana pun, Wren yang nomor ponselnya tidak ada di bio mana pun, Wren yang di kehidupan nyata dikenal hanya sebagai "pengisi suara yang bagus untuk audiobook genre thriller" — tidak tahu bagaimana merasakan semua itu kecuali: takjub yang diam-diam dan hangat, seperti matahari di balik awan yang tipis.
Tapi seri ini berbeda.
Tiga minggu lalu, ia menemukan sebuah kotak kecil di toko antik di Kebayoran Lama. Kotak kayu dengan penutup geser, diisi dengan dua belas amplop yang masih tersegel. Tidak ada yang satu pun terbuka. Semua ditulis dengan tangan yang sama — tulisan tangan yang rapi tapi dengan tekanan yang berubah-ubah, kadang berat kadang ringan, seperti penulisnya tidak selalu dalam kondisi yang sama saat menulis.
Semua ditujukan kepada: Langit.
Hanya itu. Langit. Tidak ada nama belakang. Tidak ada alamat. Hanya nama itu, ditulis di setiap amplop dengan cara yang sama — huruf L yang sedikit lebih besar dari huruf-huruf berikutnya, seperti nama itu layak mendapat sedikit lebih banyak ruang dari kata-kata biasa.
Pemilik toko — Pak Hendra, tujuh puluh tahun, pelupa tapi ramah — menggeleng waktu Wren bertanya dari mana kotak itu. "Banyak yang datang, mbak. Saya tidak ingat satu-satu."
Wren membeli kotak itu seharga lima puluh ribu rupiah.
Di rumah, ia membuka amplop pertama dengan perasaan yang tidak bisa ia namai sepenuhnya — campuran takut merusak sesuatu yang sakral dan rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa takutnya.
Surat pertama:
Langit,
Aku tidak yakin kapan akan mengirim ini. Atau apakah akan pernah.
Tapi ada hal-hal yang terlalu besar untuk disimpan sendirian, dan aku sudah tidak pandai bicara sejak—
Sejak kapan, ya? Sejak SD, sepertinya. Sejak aku tahu bahwa kata-kata yang aku ucapkan tidak pernah keluar persis seperti yang aku maksud. Di kepala aku, semuanya jelas. Di mulut aku,
semuanya jadi lain.
Jadi mungkin ini lebih aman. Kertas tidak memotong aku di tengah-tengah. Kertas tidak menatap aku dengan cara yang membuat aku lupa apa yang mau aku bilang.
Aku mau bilang ini: hari ini aku melihat kamu tertawa dari jauh — kamu tidak tahu aku ada — dan aku berpikir, ada orang-orang di dunia yang kehadirannya membuat ruangan jadi lebih terang bukan karena mereka melakukan sesuatu, tapi hanya karena mereka ada.
Kamu salah satunya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan itu. Jadi aku tulis.
— Seseorang yang lebih baik dalam menulis daripada bicara
Wren membaca surat itu tiga kali.
Lalu ia duduk di lantai studionya — yang lebih kecil dari yang seharusnya untuk empat juta subscriber, lebih tepatnya sebuah kamar tidur yang diubah dengan foam panel dinding dan satu mikrofon kondensor yang ia cicil selama delapan bulan — dan ia duduk di sana cukup lama tanpa melakukan apa-apa.
Seseorang yang lebih baik dalam menulis daripada bicara.
Ia tahu perasaan itu. Tapi terbalik.
Wren justru lebih baik dalam berbicara — dalam menuangkan emosi melalui suara — daripada menulis. Suaranya bisa menyampaikan hal-hal yang tangannya tidak mampu rangkai menjadi kalimat. Tapi ia mengerti konsepnya: ada hal-hal yang terlalu besar untuk saluran yang tersedia.
Ia membuka kotak itu dan menghitung amplop sisanya. Sebelas lagi.
Dan ia tahu — dengan kepastian yang tidak bisa ia jelaskan — bahwa ini bukan konten biasa. Ini bukan satu episode. Ini sebuah musim. Sebuah perjalanan. Dua belas surat dari seseorang kepada Langit, dan ia akan membacakannya satu per satu, setiap minggu, sampai habis.
Tapi malam itu, sebelum ia menutup laptopnya, ia mengetikkan satu hal di kolom deskripsi episode yang belum diunggah:
"Aku tidak tahu siapa Langit. Aku tidak tahu siapa yang menulis ini. Tapi aku tahu bahwa ada orang-orang yang layak didengar bahkan setelah mereka tidak bisa lagi berbicara. Ini untuk mereka. Ini untuk kamu, siapapun kamu."
Tiga minggu kemudian, episode pertama dari seri Untuk Langit sudah didengarkan dua juta kali.
Dan di kolom komentar, di antara ratusan pesan dari orang-orang yang mengaku menangis atau merasa dilihat atau teringat seseorang —
Ada satu komentar yang berbeda.
Akun tanpa foto profil, username acak, hanya dua kata:
"Itu adikku."
Wren membaca komentar itu sembilan kali.
Lalu ia melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan dalam dua tahun menjalankan Suara Asing:
Ia membalas.
"Hubungi saya."