ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23—Rumbai-Rumbai Harga Diri dan Serangan Balik Adik Kelas
Aula SMA Garuda yang biasanya digunakan untuk rapat guru kini disulap menjadi area latihan tertutup. AC dinyalakan maksimal, namun suhu di dalam tetap terasa "panas"—bukan karena cuaca, tapi karena pemandangan di depan mata yang benar-benar merusak pemandangan.
"Satu... dua... tiga... Go Trio Star! Go!"
Suara Alfian terdengar lemas, nyaris seperti orang yang sedang mengucap wasiat. Ia dan Rozak berdiri di sisi panggung, masing-masing memegang rumbai-rumbai berwarna emas mengkilap.
Alfian mengenakan kaos bergambar wajah Rahmat dengan tulisan "I'm a Good Boy" di bawahnya—hukuman karena kekalahan telak.
"Kurang semangat, Alfian! Rozak! Goyangkan rumbai-rumbainya lebih tinggi! Kalian ini cheerleaders atau orang lagi ngusir lalat?" teriak Kanaya dari tengah panggung. Sang idol nasional itu tampak sangat menikmati penderitaan kedua ketua sekte tersebut.
"Ini penghinaan martabat..." gumam Rozak sembari mengayunkan rumbai-rumbainya dengan gerakan robotik. "Kalau anggota sekteku lihat, reputasiku sebagai penakluk hati Kanaya bakal tamat."
"Diem lo, Zak," bisik Alfian pedas. "Gue lebih parah. Kacamata gue embunan gara-gara keringet dingin nahan malu."
Rahmat yang duduk di depan piano hanya terkekeh pelan. Ia menoleh ke arah Alya yang sedang melakukan pemanasan vokal di sampingnya.
"Gimana, Alya? Cukup menghibur buat ngilangin tegang?"
Alya tertawa kecil, wajahnya tampak jauh lebih rileks dibanding hari-hari sebelumnya.
"Kamu jahat banget, Rahmat. Tapi jujur, melihat mereka berdua seperti itu... rasa gugupku jadi hilang."
Rahmat meletakkan jemarinya di atas tuts piano. Seketika, aura konyol di ruangan itu lenyap. Pandangan Rahmat berubah tajam. Ia mengaktifkan skill [Master of Music - Resonance Mode].
TING!
Satu dentuman nada rendah menggema, membuat Alfian dan Rozak otomatis berhenti bergerak. Mereka terpaku. Nada itu seolah-olah memiliki berat yang menekan dada.
"Alya, masuk di barisan kedua. Kanaya, ambil harmonisasinya di nada tinggi," instruksi Rahmat tanpa menoleh.
Musik mengalir. Ini bukan lagi sekadar latihan sekolah. Jemari Rahmat menari dengan kecepatan dan presisi yang tidak masuk akal—sebuah komposisi orisinal yang ia beli dari Toko Sistem seharga puluhan juta. Melodi itu megah, namun memiliki ruang bagi vokal Alya untuk bersinar.
Alya mulai bernyanyi. Suaranya yang murni dan lembut mengisi setiap sudut aula. Kemarin ia mungkin ragu, tapi hari ini, dengan iringan piano Rahmat yang begitu suportif, ia merasa seperti memiliki sayap.
Kanaya kemudian masuk dengan vokal powerful-nya. Kontras antara kelembutan Alya dan kekuatan Kanaya menciptakan harmoni yang membuat bulu kuduk berdiri.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: SYMPHONY OF THE STARS]
* Progress Latihan: 85%.
* Sinkronisasi Tim: Meningkat Tajam.
* Efek Spesial: Penonton di luar aula mulai berkerumun (Curiosity Peak).
━━━━━━━━━━━━━━━
Di pinggir panggung, Alfian yang tadinya hanya diam, tiba-tiba mematung. Matanya menatap punggung Rahmat dengan tatapan yang sangat dalam. Ia tidak lagi melihat Rahmat sebagai "Sultan Ducati" yang menyebalkan, tapi sebagai sesuatu yang jauh lebih besar.
Latihan berakhir dengan satu nada panjang yang memudar perlahan. Keheningan total menyelimuti aula selama beberapa detik sebelum akhirnya Alfian dan Rozak refleks bertepuk tangan kencang, melupakan harga diri mereka.
"Gila... itu tadi gila banget!" teriak Rozak antusias.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka perlahan. Sesosok gadis dengan seragam SMA Batu Bara mengintip malu-malu dari balik pintu. Sebuah topi ala telinga kucing mencuat darisana.
Itu Bella. Di tangannya, ia membawa kantong plastik besar berisi minuman dingin dan beberapa bungkus makanan ringan.
"Anu... permisi? Aku tadi dengar suara musiknya sampai ke gerbang depan, jadi aku nekat masuk..." ucap Bella dengan wajah memerah.
Kanaya langsung tersenyum dan melambaikan tangan. "Kamu lagi? ?masuk aja jangan takut gitu."
Bella menunduk kaku, tapi kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Rahmat dengan binar mata yang jujur.
"Maaf ganggu ya kakak kakak. Aku cuma mau kasih ini buat Kak Rahmat dan teman-teman. Soalnya... suara musik Kak Rahmat tadi terdengar sangat sedih tapi juga kuat. Aku jadi ingin memastikan Kak Rahmat baik-baik saja."
Rahmat tertegun. Di antara semua pujian tentang "teknik sempurna" dan "kehebatan piano"-nya, hanya Bella yang menyadari emosi di balik nada yang ia mainkan.
Rahmat berdiri, berjalan menuruni panggung, dan menerima minuman dari Bella. "Terima kasih, Bella. Kebetulan sekali, tenggorokanku memang sedang kering."
Melihat Rahmat tersenyum begitu hangat pada Bella, Alya dan Kanaya saling pandang. Mereka tahu satu hal naluri nya mengatakan bahwa rival bertambah satu.
"Nih, kak masih ada beberapa botol minuman lagi. Buat dua teman kakak itu." Bella menunjuk ke arah rozak dan alfian.
Sebelum itu Rahmat terlihat tersenyum lalu mengelus permukaan kepala bella yang sontak membuat gadis itu membeku dan merona malu.
Telinga kucing dari topi itu seperti bergerak ke kanan ke kiri menunjukkan rasa malu yang luar biasa
"Makasih, Bella. Kamu jauh jauh kesini demi kakak?"
"Iya. Hehe, habis aku lihat postingan kalau kakak bakal naik di konser. Jadi bella mau dukung."
Rahmat tersenyum. Sungguh alasan yang menggemaskan. Sebagai orang yang mengidolakan seseorang adik cewek sejak dulu, dipanggil kak berulang kali terutama oleh gadis yang usianya lebih muda membuat pertahanan dia menurun.
Dia terus mengelus kepala itu. "Sungguh baik hati sekali, bella anak pintar."
Elusan tangan Rahmat di kepala Bella membuat suasana di aula mendadak hening seketika. Bella menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus, sementara telinga kucing di topinya bergoyang-goyang lucu seiring dengan detak jantungnya yang tidak karuan.
"I-iya Kak... Bella cuma mau Kak Rahmat semangat!" cicitnya pelan, hampir tidak terdengar.
Di sisi panggung, Kanaya dan Alya merasa ada sesuatu yang retak—mungkin harga diri mereka, atau mungkin tembok pertahanan yang mereka bangun susah payah. Melihat Rahmat yang begitu lembut pada gadis luar sekolah itu benar-benar memberikan serangan mental yang tak terduga.
"Dunia serasa milik berdua ya," gumam Rozak sinis, meski tangannya tetap memegang rumbai-rumbai emas.
Rahmat terkekeh, lalu mengambil dua botol air mineral dingin dari kantong plastik Bella. Pandangannya tiba-tiba menajam, beralih ke arah Alfian yang masih melamun menatap lantai aula.
Tanpa aba-aba, Rahmat melemparkan botol pertama ke arah Rozak dengan lemparan biasa yang mudah ditangkap. "Nih, Zak. Minum dulu."
"Oh, makasih Mat!" Rozak menangkapnya dengan kikuk.
Lalu, Rahmat berbalik kilat. Ia melemparkan botol kedua ke arah Alfian.
Namun kali ini, lemparannya berbeda. Rahmat menggunakan sentuhan kemampuan fisik sekitar 30%, membuat botol itu melesat seperti peluru, berputar cepat dan nyaris tak terlihat oleh mata orang awam.
WUSH!
Botol itu melesat tepat ke arah wajah Alfian. Jika itu orang biasa, hidungnya pasti sudah patah.
HAP!
Dengan respon yang apik, dia melompat tangan kanan Alfian melesat ke atas secepat kilat. Ia menangkap botol itu tepat di depan matanya dengan genggaman yang sangat stabil. Tidak ada getaran, tidak ada kepanikan. Hanya bunyi plak yang mantap saat botol itu mendarat di telapak tangannya.
Alfian terdiam sesaat, baru kemudian ia mendongak dengan wajah bingung yang dibuat-buat.
"Waduh! Mat, lo kalau lempar kira-kira dong! Untung tangan gue reflek gara-gara kaget!"
Namun, Rahmat tidak tertipu. Ia melihat bagaimana jemari Alfian tidak sedikit pun bergeser saat menerima hantaman botol berkecepatan tinggi itu. Sesuai dugaan dia bukan orang biasa.
"Reflek yang bagus, Al" ucap Rahmat dengan nada datar namun penuh selidik. "Untuk ukuran orang yang kaget, tangkapanmu barusan terlalu... bersih."
Alfian meneguk air itu dengan cepat, berusaha menghindari kontak mata. "Halah, cuma hoki itu mah! Eh, Bella, makasih ya minumannya! Lo beneran malaikat penyelamat di tengah perbudakan rumbai-rumbai ini!"
Bella, yang masih merona karena elusan kepala Rahmat, hanya mengangguk lucu. "Sama-sama Kak kacamata!"
"Yah, karena minumannya sudah datang, kita istirahat 15 menit. Setelah itu, latihan full set tanpa rumbai-rumbai konyol itu lagi. Aku pusing melihatnya."
"ASIIIIK! BEBAS DARI RUMBAI-RUMBAI!" teriak Rozak kegirangan.