“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 27
“Kalau udah tau begitu, kenapa kamu juga dateng? Sok-sokan ceramah, Adam masuk rumah sakit juga gara-gara kamu,” dengus Bu Sar sambil melirik sinis.
Hasna menunduk sekilas, senyum manis terulas di wajahnya yang terlihat teduh. Ia lalu mengangkat rantang plastik yang dibawanya. “Saya niatnya mau anter singkong buat Ibu, Wak. Nggak tau juga kalau Adam baru pulang, kalau tau … besok pagi baru saya antarkan singkongnya.”
Mendengar alasan Hasna, bibir tipis Bu berkedut sinis, namun tidak ada sanggahan yang keluar.
Sementara itu, Zaenab yang duduk di samping Farida, menyikut pelan lengan sang tetangga, kepalanya sedikit condong ke telinga kiri Farida seraya berbisik.
“Pinter betul perawan tua satu ini cari alasan.”
Farida terkikik pelan, mata melirik ke arah Bu Sar dan Hasna, lalu membalas bisikan Zaenab. “Persaingan ketat, Nab. Siapa cepat dia dapat.”
Di waktu yang sama, kepala Nadya menyembul dari belakang—pintu kamar mandi, senyum nakal terbit di bibir gadis itu saat mendengar perdebatan kecil Bu Sar dan Hasna. Dengan suara sedikit manja, Nadya memanggil Rizal.
“Abang, minta tolong ambilkan shampoo yang baru kita beli di mall tadi, dong,” teriaknya sedikit di sengaja. “Sama baju baru Adam yang kembaran bertiga itu,” imbuhnya membuat semua yang ada di ruangan itu terhenyak seketika.
Semua mata tertuju pada Rizal yang tanpa menjawab langsung masuk ke kamar Nadya, membawa serta sebotol besar shampo dengan merek ternama dan paperback warna putih dengan brand baju mahal di sampulnya.
Belum selesai dengan keterkejutan itu, mereka kembali di buat bingung saat Nadya kembali dari kamar mandi dengan rambut sudah dibungkus handuk—berjalan santai di belakang Rizal sambil mendorong pundak laki-laki itu.
“Lha, kirain belum mandi, Nad, perasaan baru minta shampoo,” celetuk Farida.
Nadya menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Saya memang udah selesai mandi, Wak, cuma shamponya habis saya pakai, daripada ntar pas Bang Rizal mandi saya yang repot ambilin, mending saya suruh siapin aja sendiri.”
Ia kemudian menoleh ke arah Adam, menggoda bayi gembul itu yang langsung merajuk begitu melihat kehadirannya.
“Sabar, Mami nyisir rambut dulu,” celetuknya.
Seketika, alis Bu Sartini menukik tajam, tatapannya menjurus. “Mami? PD sekali kamu, Nadya.”
“Tapi, dilihat-lihat Nadya ini memang pantes jadi Maminya Adam, lo Sar. Tengoklah, muka mereka aja mirip, Rizal juga keliatan serasi sama Nadya,” ujar Nurjanah.
“Pantes? Dilihat dari ujung tower baru pantes,” sahut Bu Sar. “Kalo ngomong itu minimal dipikir dulu, Nur, di mana-mana bos itu pantesnya sama anak bos, bukan pembantu.” oceh Bu Sar.
“Nah, sapa tau Nadya ternyata anak bos yang lagi nyamar?” timpal Farida.
Hasna yang tadi sedari memperhatikan dari meja makan, turut menyahut. Suaranya terdengar lembut, namun raut wajahnya menyimpan bara. “Wak Farida ini korban drama china.”
“Iya, ntar lama-lama batu di jalanan di pungutin dikira giok langka berumur ribuan tahun,” timpal Dewi yang sedari tadi sibuk makan sisa camilan yang dibawa Nadya dari rumah sakit.
“Sayangnya itu bukan di drama china.” Nadya yang sudah selesai menyisir rambut menyela sambil melangkah pelan. “Kesinikan Adam, Bu Sar, waktunya netek dia,” imbuhnya seraya mengambil Adam dari pangkuan Bu Sar.
Fatimah yang sedari duduk di pojokan turut menyahut dengan wajah penasaran. “Jadi bener, Yu Nadya anaknya orang kaya?”
Nadya tak menjawab, hanya tersenyum tipis sambil menimang Adam.
Melihat tidak ada jawaban dari Nadya, Bu Sar beranjak dari duduknya. “Udah jangan kebanyakan ngayal,” ucapnya remeh, “Di mana-mana anaknya bos itu hidupnya enak, nggak rela jual tetek demi begaya,” lanjutnya sambil berjalan menuju meja makan.
“Bu Sartini ini yakin sekali, kalo benar Nadya anak orang berada bagaimana?” Bu Harmi yang sedari tadi diam turut menyahut seraya menyuguhkan singkong yang dibawa Hasna ke meja tengah.
Bu Sartini menggeleng cepat, satu tangannya terangkat seolah menolak mentah-mentah kenyataan yang di sodorkan Nadya. Namun, belum sempat wanita itu menyanggah kembali, ucapan Rizal membuatnya mundur seketika.
“Nadya memang anak orang kaya, Mah. Papinya yang punya PT. Amara,” Rizal menghela napas pelan, “dia juga netekin Adam itu karena sedang melakukan penelitian untuk bahan skripsi, bukan cari uang. Nadya itu mahasiswa fakultas kesehatan, calon dokter gizi,” pungkas Rizal penuh penekanan.
Sejenak ruangan itu lengang, beberapa saling bertukar pandang, begitupun Bu Sartini. Namun detik berikutnya, matanya kembali menatap penuh emosi—campuran marah, tidak terima dan sedikit kegelisahan yang berusaha disembunyikan.
Ia beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiri Nadya yang bergoyang pelan—menimang Adam.
“Saya nggak percaya. Mana ada orang cuma mau cari bahan apa itu tadi sampe rela teteknya di hisap bayi, kalau bukan karena ju—”
“Terus kalo, Bu Sar nggak percaya ngaruh sama hidup saya?” sergah Nadya.
“Ya sekarang buktikan kalau memang kamu anaknya yang punya PT. Amara, berani nggak?!” tantang Dewi dengan suara tajam.
Semua orang terdiam, seolah menunggu jawaban yang akan Nadya lontarkan.
“Mau bukti yang kaya mana?” sahut Nadya, seringai licik terbit di sudut bibirnya yang terangkat sedikit.
“Ya mana saya tau lah, kok malah tanya, orang kamu sendiri yang ngaku-ngaku anaknya orang kaya,” cibir Dewi.
Melihat Nadya di serang habis-habisan, Rizal maju selangkah ke depan. Namun, belum sempat laki-laki itu memberikan pembelaan, Nadya lebih dulu mengangkat ponselnya.
“Lihat baik-baik mata kamu,” bisik Nadya tepat di samping telinga Dewi.
Ia kemudian memencet nomor di ponselnya, nomor yang entah sudah berapa bulan tidak pernah dia pedulikan. Panggilan video call tersambung dengan cepat, suara berat Ilyas Zulkarnaen menyahut di seberang.
“Mimpi apa kamu mau menelepon Papimu?”
Nadya menatap dengan saksama, memastikan tampilan layar ponsel sang Papi tidak sedang berada di tempat berbahaya. Senyum tipis terbit dari wajah gadis manis itu saat melihat Papinya sedang berbaring setengah telanjang di kamar pribadinya.
“Papi lagi tidur?” tanya Nadya, suaranya dibuat sesantai mungkin.
Ilyas berdehem pelan. “Hm.”
Nadya memaksakan senyum yang lebih lebar di bibirnya. “Papi, coba dada bentar ke kamera, temen Nadya pengen tau wajah Papi.”
Ilyas tak menjawab, tak juga beranjak dari ranjangnya, hanya melambai sebentar, lalu kembali terpejam.
Nadya dengan cepat mengarahkan layar ponselnya ke depan wajah Bu Sartini juga Ibu-ibu lain yang langsung berdiri dari tempatnya, lalu buru-buru mematikan panggilan videonya.
“Percayakan sekarang? Percaya dong … masak masih nggak percaya,” sindirnya dengan senyum penuh kemenangan.
Bu Sar mundur setengah langkah, lalu menggeleng lagi, sedikit pelan, namun penuh penolakan. Tatapannya tajam seolah mencari celah untuk membantah. Dadanya semakin di penuhi bara amarah saat mendengar celetukan Ibu-ibu yang menyaksikan kejadian itu.
“Matilah kamu Sartini, ternyata yang kamu hina selama ini orang yang ngasih kamu makan,” Suara Nur menghujam bak pedang.
“Aku sih sudah menduga Nadya itu anak orang kaya, tapi siapa sangka kalo ternyata anak yang punya PT. Amara,” timpal Farida.
“Beneran Pak Ilyas, lo itu tadi. Ck, Mau tarok mana muka kamu, Sartini, ternyata Nadya bukan orang sembarangan,” decak Zaenab sambil tertawa pelan.
Sementara itu di sisi meja makan, wajah Hasna terlihat pias, tatapannya sempat terpaku, lalu cepat dialihkan seolah tak memperdulikan kenyataan yang baru di dengarnya. Tangannya sibuk mengelap meja, senyumnya muncul tipis dan dipaksakan, bibirnya bergumam nyaris seperti bisikan.
“Memangnya kenapa kalau dia anak orang kaya, toh cinta sejati tidak pernah memandang harta dan tahta.”
.
.
.
“Istighfar, Bang!”
Bersambung
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻