Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 burung badai
Pesawat mulai berguncang hebat saat memasuki zona udara Pegunungan Jayawijaya. Dari jendela, langit terlihat aneh; awan di sekitar lokasi Gate tidak berwarna putih atau abu-abu, melainkan merah keunguan dengan kilatan petir hitam yang menyambar-nyambar secara konstan.
"Kita mendarat di pangkalan udara darurat" seru Raven sambil mengenakan sarung tangannya. "Natalius sudah menunggu di sana" Lanjutnya saat pesawat berguncang.
Begitu pintu jet terbuka, hawa panas dan lembap bercampur dengan aroma sulfur yang menyengat langsung menerpa mereka. Di depan landasan, berdiri seorang pria bertubuh kekar dengan kulit gelap dan tato tradisional yang melingkari lengannya. Ia memegang sebuah tongkat kayu hitam yang memancarkan aura hijau tua yang menenangkan.
"Selamat datang di tanah Papua, kawan-kawan" sapa Natalius dengan suara bariton yang berat.
Ia menjabat tangan Raven dan mengangguk hormat pada Alina, lalu pandangannya tertuju pada Voltra. Natalius terdiam sejenak, matanya yang tajam menatap Voltra seolah bisa melihat menembus jiwanya.
"Jadi ini hunter Voltra, hunter Rank S ketujuh" ucap Natalius tersenyum ramah.
"Yo" Sahut Voltra.
[Strength: 90/98, speed 78/80, endurance 80/95, mana 60/80].
[skill: meningkatkan kemampuan fisik sebesar 30% jika terluka].
"Ck... Kemampuannya bahkan lebih bagus dari si naga betina" Batin Voltra melihat kekuatan kekuatan natalius.
Kilatan seperti petir merah muncul di sekitar gate. Hanya Voltra yang menyadari kalau mana disekitar gate itu semakin banyak, tidak salah lagi itu adalah kemunculan dari monster tingkat calamitiy, seluruh papua bisa dengan mudah menjadi zona tak layak huni.
"Thunderbird/burung badai" ucap Voltra melihat.
"Apa maksud mu hunter Voltra?" Tanya natalius.
"Yang akan muncul disana adalah Thunderbird" ucap Voltra menujuk kearah gate. "Kemampuannya adalah mengendalikan badai, ditambah ia bisa keluar bersama kawanan kecilnya" Lanjutnya.
Bagi Voltra itu bagus, jika itu benar-benar monster tingkat calamitiy maka besar kemungkinan ia bisa menyerap elemen petir dan angin. Namun Thunderbird berbeda dengan Kraken, jangkauan serangan monster ini akan lebih luas karena membawa badai bersamanya.
"Kita punya waktu setidaknya dua jam, evakuasi semua penduduk untuk lebih jauh dari seharusnya" ucap Voltra pada natalius. "Monster besar akan lebih tertarik pada makhluk lemah seperti penduduk, jadi evakuasi selama masih ada waktu" Lanjutnya.
"Pembual" ujar ivan.
Ivan berjalan kearah Voltra bersama hunter black dragon. Melihat hal ini, bisa disimpulkan jika Ivan adalah pengganti dari bara yang tewas dalam insiden Jepang. Tapi melihat kemampuannya, Voltra menyimpulkan kalau Ivan jauh lebih lemah dari bara.
"Kenyataan setelah bara mati, hanya ada enam hunter rank S di Indonesia. Itu artinya di mentok hanya A+" Batin Voltra tersenyum sinis.
"Jika bisa mengalahkan monster sebelum menyentuh penduduk, bukankah itu lebih efisien" ucap Ivan memandang sombong.
"Lebih efisien dengan ini" ucap Voltra menghantam wajah Ivan keras.
Ivan terlempar kebelakang dengan beberapa gigi yang berterbangan karena pukulan Voltra begitu keras. Alina, Raven dan natalius tercengang melihat kejadian yang sangat cepat itu, Voltra berdiri di depan Ivan yang baru tersungkur.
"Lakukan evakuasi... Siapapun yang menolak akan ku hajar tanpa ampun" Ancam Voltra mengeluarkan aura intimidasi.
Tidak ada yang berani menolak perkataannya sekarang. Aura intimidasi yang dilepaskan Voltra terasa begitu pekat, seolah oksigen di sekitar pangkalan udara itu mendadak hilang. Langit yang memerah di atas mereka seakan merespons kemarahan Voltra, menciptakan tekanan atmosfer yang membuat para Hunter tingkat rendah di belakang Ivan jatuh berlutut.
Ivan berusaha bangkit sambil memegangi rahangnya yang bergeser. Matanya memancarkan kemarahan, tapi saat ia menatap mata ungu menyala milik Voltra, nyalinya menciut. Ia merasakan perbedaan level yang absolut; pria di depannya bukan sekadar Hunter, melainkan predator puncak.
"Kau... kau berani memukul sesama Hunter S?!" geram Ivan dengan suara tidak jelas karena giginya tanggal.
"S?" Voltra mendengus sinis, melangkah maju hingga bayangannya menutupi tubuh Ivan. "Jangan samakan aku dengan pecundang seperti kalian yang hanya peduli pada reputasi sementara dunia di ambang kehancuran. Aku tidak peduli pada politik Asosiasi atau drama Black Dragon. Jika kau menghalangi evakuasi, aku sendiri yang akan melemparmu ke dalam perut Thunderbird itu" Lanjutnya berucap.
"Natalius, cepat gerakkan timmu! Gunakan jalur udara militer untuk memindahkan warga ke zona aman di luar radius 100 kilometer. Raven, bantu koordinasi dengan Asosiasi pusat, katakan situasi berubah menjadi status Calamity!" ujar Alina pertama kali bergerak.
"Kau benar, anak muda. Kebanggaan tidak ada gunanya jika tanah ini musnah. Aku akan pastikan jalur evakuasi aman" ujar natalius melirik Voltra sebentar.
Natalius dan Raven segera bergerak cepat. Sementara itu, Ivan yang sudah kehilangan mukanya hanya bisa mundur perlahan bersama anak buahnya, tidak berani membalas sepatah kata pun.
"Kau terlalu kasar" bisik Alina saat mereka hanya tinggal berdua di depan gerbang yang bergejolak. "Tapi... pukulan tadi sangat memuaskan" Lanjutnya puas.
"Dia berisik" sahut Voltra pendek.
Ia menatap ke langit, di mana pusaran petir hitam mulai membentuk siluet sayap raksasa yang menutupi matahari. Pusaran seperti tornado menutupi gate, lebih tepatnya menyelimuti.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Alina, menggenggam senjatanya erat.
"Rencana terbaik adalah menyerang" Balas Voltra.
Pusaran dingin terbentuk di tubuh Voltra, meskipun memiliki waktu dua jam, namun itu sangat singkat untuk melakukan evakuasi secara besar-besaran. Alina tetap disamping Voltra, ia sudah menyuruh guild untuk membantu Raven dan natalius yang sedang melakukan evakuasi.
"Lewat sini" ucap Raven mengarahkan.
Orang-orang berlarian begitu panik, seluruh langit Papua nampak gelap gulita dan bahkan pencahayaan seolah-olah tidak berguna, Petir berbunyi terus menerus menambah suasana mencengkam