"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kondisi Seruni berangsur pulih. Ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa tertatih. Anak-anak nya juga sudah melupakan semua kejadian yang menimpa mereka beberapa Minggu yang lalu.
Selama beberapa Minggu ada di rumah, hampir setiap hari Adam akan datang ke sana. Alasan nya, Adelia yang menyuruh nya untuk menjenguk Seruni.
Karena kondisi Adelia yang sedang hamil muda, jadi wanita itu tidak bisa menghibur Seruni. Dan jadi lah Abang nya yang ia suruh untuk melakukan hal itu.
Setiap kali kedatangan nya, Pak Adam juga membawa banyak sekali cemilan dan juga buah-buahan untuk Seruni dan anak-anak nya. Mainan kesukaan mereka juga tidak pernah dilupakan oleh pria matang itu. Padahal jelas sekali, jika Pak Adam hanya lah orang asing dan tidak memiliki hubungan darah dengan Seruni dan juga anak-anak nya.
"Bu, diluar ada mobil baru yang baru di antarkan. Kira-kira mobil siapa, ya?" Tanya Rima yang baru saja bermain dari teras.
"Mungkin punya tetangga kita."
"Bukan, Bu. Ada Om Adam juga."
"Oh, apa? Pak Adam? Tapi,..."
"Apa mungkin Om Adam membelikan kita mobil baru?"
"Ah, itu tidak mungkin. Kita ini cuma di bantu oleh nya. Jangan berharap yang tidak-tidak, nak."
"Baiklah, bu. Rima main lagi."
Selang beberapa menit kemudian, salah satu tetangga yang bekerja dengan Seruni malah memanggil nya ke dalam. Seruni yang saat itu sedang menggiling bumbu, terpaksa menghentikan pekerjaan nya.
"Seruni, ada Pak Adam. Biar pekerjaan nya saya yang ambil alih."
"Baik, Bu. Saya akan keluar untuk melihat beliau."
Setelah mematikan mesin penggiling bumbu, Seruni pun keluar dan melihat Pak Adam yang saat itu sedang berbicara dengan seseorang.
"Bu Seruni, mobil ini sekarang menjadi milik Ibu. Silahkan Ibu tandatangani surat-surat nya." Tanpa basa basi, Pak Adam langsung mengatakan hal itu.
"Hah! Apa maksud nya semua ini? Saya sama sekali tidak membeli mobil."
"Bu Seruni memang tidak membeli mobil. Tapi, mobil ini saya berikan pada Ibu, karena Ibu adalah salah satu karyawan saya juga. Demi memudahkan Ibu untuk datang ke perusahaan saya. Anggap saja, ini adalah fasilitas dari kantor."
"Tapi, ini kenapa atas nama saya?"
"Memang semua karyawan saya begitu. Terima saja, Bu."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan bekerja dengan giat supaya karyawan di perusahaan Pak Adam bisa makan makanan enak dan juga bergizi."
"Baik. Terima kasih untuk kerja sama nya. Saya permisi dulu, Bu Seruni."
Pak Adam berjalan perlahan dan berharap Seruni mencegah nya pergi. Entah mengapa, ia masih ingin berlama-lama berada di rumah janda anak enam itu.
"Tunggu dulu, Pak Adam. Silahkan masuk dulu. Saya akan membuat kan teh. Saya juga baru saja selesai membuat cemilan."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Ayo lah masuk."
"Anak-anak dimana?"
"Mereka ada di dalam kok."
Dengan senyum dan rasa bahagia, Pak Adam masuk ke dalam rumah itu. Aroma masakan mulai tercium. Sungguh membuat nya sangat lapar.
Tidak lama kemudian, satu piring cemilan sudah tersedia di atas meja. Lalu menyusul minuman dan juga beberapa cemilan berat lainnya.
"Eh, ada Pak Adam. Sudah lama datang nya, Pak?"
Bapak nya Seruni begitu senang saat melihat kedatangan bos dari anak nya itu. Selain Pak Adam sopan, beliau juga tidak pernah macam-macam dan berbicara hal yang tidak baik selama berada di rumah Seruni.
Lalu kemudian, empat anak-anak itu seperti tahu jika Pak Adam datang dan sedang berbicara dengan kakek mereka. Ke empat nya langsung berhamburan ke dalam pangkuan Pak Adam. Seruni sampai melongo di buat nya.
"Om Adaaaam... Kami rindu."
Kata-kata itu, tidak pernah anak-anak nya ungkapkan di depan Ayah kandung mereka sendiri. Tapi ini, Pak Adam malah mendapatkan pengakuan itu.
"Iya. Om Adam juga rindu kalian. Padahal, baru beberapa hari saja tidak kesini."
"Om, Tari baru selesai menggambar Om dan Ibu." Ucap anak itu sambil memperlihatkan gigi nya yang ompong bagian depan.
"Bagus. Tari memang berbakat. Siapa yang ajarin?"
"Pak Restu. Kan beliau guru seni. Tari ikut les sama Pak Restu."
"Tapi, kamu kan sudah lulus Tk."
"Kata Pak Restu, nggak masalah. Kalau Tari mau les sampai tua pun boleh." Anak itu pun tertawa cekikikan.
Pak Adam begitu gemas melihat anak-anak perempuan yang begitu imut. Ia jadi teringat ketika Adelia kecil. Sungguh Hamdan begitu rugi karena melepaskan anak-anak yang pintar dan berbakat seperti mereka.
"Sudah dong kak Tari. Adek kan mau juga dekat Om Adam."
"Nggak mau."
"Eh, kalian ini. Kok jadi rebutan Om Adam. Kakek kan ada."
"Baiklah. Kami mengalah. Biar Om Adam untuk adik-adik saja." Ungkap Rima yang berjalan ke arah kakek nya.
Seruni benar-benar tidak enak saat melihat hal itu. Karena kurang nya kasih sayang seorang ayah di masa lalu, mereka malah sangat dekat dengan Pak Adam saat ini.
"Anak-anak, Om bawa mobil baru untuk kalian. Bukan itu saja, setiap pagi akan ada supir yang akan mengantar kalian sekolah. Jadi, Ibu kalian tidak perlu takut lagi kejadian tempo hari akan berulang."
"Wah... Kami udah seperti orang kaya saja ada supir nya. Horeeeee....."
Seruni hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku anak-anak nya dan juga Pak Adam.
Sungguh antara senang dan sedih melihat apa yang ada di depan mata nya saat ini. Semoga saja, anak-anak itu tidak berharap lebih pada Pak Adam. Karena Seruni takut, mereka akan kecewa suatu saat nanti.