NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Sang Predator

“Ingin melarikan diri ke mana, gadis nakal?”

Suara itu terdengar rendah, serak, dan penuh seringaian yang menusuk tepat di telinga Shasha. Jantung Shasha seolah berhenti berdetak. Matanya bahkan membelalak lebar dan seluruh sendinya mematung seketika. Hawa panas dari napas Jake yang menerpa kulit lehernya menjadi bukti nyata bahwa pria itu sama sekali tidak sedang menjemput maut.

“Kenapa? Kecewa melihatku baik-baik saja?” Jake memiringkan kepalanya, menatap Shasha dengan pandangan predator yang turun meneliti setiap jengkal ekspresi wajah gadis itu yang kini pucat pasi dan tidak karuan.

“K-kau... masih... hidup?” tanya Shasha terbata, suaranya nyaris hilang ditelan keterkejutan.

Alis Jake terangkat sebelah, tampak terhibur dengan pertanyaan itu, “Kau berharap aku mati?”

Shasha segera memalingkan wajah, tidak sanggup menatap kilat kemenangan di mata pria itu. Ia berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, namun tangan kekar Jake melingkar begitu erat di pinggangnya, mengunci posisinya tetap di atas tubuh pria itu.

“Lepaskan aku!” seru Shasha sambil meronta.

Alih-alih melepaskan, tangan Jake yang bebas justru bergerak cepat menyentuh kepala Shasha. Jari-jarinya menyusup di antara helai rambut gadis itu dan mendorongnya ke bawah. Gerakan itu memaksa wajah mereka beradu dalam jarak yang sangat dekat, hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Shasha panik dengan mata yang semakin melebar, napasnya memburu tidak teratur.

“Mencicipi bibir manismu,” ucap Jake cepat. Dan tanpa memberi ruang untuk protes, Jake langsung menerjang bibir Shasha. Ia menekan kepala gadis itu dengan kuat, memastikan Shasha tidak memiliki celah sedikit pun untuk kabur dari ciuman paksa yang menuntut itu.

“Sss....” desis Jake tiba-tiba. Ia melepaskan tautannya dengan gerakan mendadak, membiarkan Shasha menjauh darinya.

Shasha segera merangkak mundur, lalu berdiri sejauh mungkin di pojok ruangan dengan napas tersengal dan bibir yang berdenyut. Sementara itu, Jake menyentuh bibirnya sendiri. Ia menatap ujung jarinya yang kini dipenuhi bercak merah segar. Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya.

“Kau memang suka menggigit, dan aku menyukainya,” ucap Jake sambil bangkit berdiri dengan gerakan luwes yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sakit perut semalam.

“Dasar gila!” umpat Shasha dengan suara bergetar karena emosi yang meluap.

Jake hanya tersenyum tipis, lalu melangkah dengan angkuh melewati Shasha begitu saja menuju kamar mandi. Namun tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia membalikkan badan.

“Kau sudah membuat sarapan untukku?”

“Menurutmu?” tanya balik Shasha dengan nada ketus dan tidak bersahabat sama sekali.

Jake mengangguk pelan beberapa kali, seolah jawaban itu sudah ia duga, “Baiklah. Aku akan membersihkan diriku dulu. Kau boleh pergi sekarang. Atau....” Ia menjeda kalimatnya dengan sengaja, memberikan tatapan yang menggoda sekaligus mengancam, “....Kau boleh ikut aku mandi.”

“Bajingan! Lebih baik aku memandikan singa daripada pria brengsek sepertimu!” teriak Shasha. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam kemarahan yang membuncah, lalu melesat keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi. Bahkan pintu besar itu ditutupnya dengan dentuman keras yang sampai menggetarkan penjuru koridor.

Jake menatap pintu kamarnya yang tertutup dengan gelengan gemas, seolah baru saja memenangkan sebuah permainan kecil, “Tunggu saja gadis nakal, kau akan menyukai kejutan dariku,” gumamnya dengan nada penuh misteri sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Sementara di luar, langkah Shasha menghentak keras di atas lantai dan setiap gerakannya seirama dengan gerutu yang tidak henti keluar dari bibirnya, “Bodoh! Seharusnya aku tidak mencarinya!” maki Shasha tertahan sembari mempercepat langkah menuju dapur.

Amarahnya memuncak. Bukan hanya karena dikerjai, tapi karena ia membiarkan pria itu kembali menyentuhnya. Rasa panas di bibirnya masih tertinggal, menjadi pengingat yang menyebalkan atas kelancangan pria itu.

Sesampainya di dapur, Shasha bergerak dengan kasar. Ia menyendok nasi putih yang masih mengepul ke dalam dua piring. Sedangkan tumis telur tomat yang mulai mendingin di dalam teflon dipindahkannya dengan gerakan cepat, lalu menatanya sedemikian rupa di atas meja makan. Ia meletakkan satu piring di ujung meja, tempat singgasana kekuasaan Jake dan satu lagi di ujung seberangnya, tempatnya duduk.

Kemudian ia kembali ke dapur, menyambar kotak susu dari lemari pendingin dan menuangkannya ke dalam dua gelas. Setelah semua tersaji, Shasha langsung mendudukkan diri. Ia menatap kursi kosong di hadapannya dengan tatapan sinis. Persetan dengan sopan santun, ia langsung menyendok makanannya tanpa perlu menunggu raja dari tempat ini.

“Emmm...” gumam Shasha tanpa sadar. Kelezatan masakan rumahan itu sedikit mendinginkan kepalanya. Ia makan dengan lahap, mencoba menenggelamkan rasa kesalnya ke dalam gurih dan asamnya tomat.

Tepat saat suapan terakhirnya tandas, Jake muncul. Pria itu tampak jauh lebih segar, namun kali ini penampilannya berbeda. Ia mengenakan celana panjang hitam dipadukan dengan kaos turtleneck berwarna senada. Kesan formal yang biasanya melekat kini berganti menjadi aura santai yang justru membuatnya terlihat semakin mengintimidasi namun menawan.

Jake melirik sekilas ke arah piring Shasha yang sudah kosong melompong, lalu duduk dengan tenang tanpa berkomentar. Ia menatap piring di hadapannya cukup lama, seolah sedang menganalisa benda asing.

“Kau pasti tidak tahu makanan itu, kan?” tebak Shasha sinis, lalu menyeruput susunya perlahan.

Namun respons pria itu justru membuat Shasha seperti sedang melihat sebuah keajaiban.

Jake tersenyum.

Bukan seringaian meremehkan, melainkan senyum yang membuat tatapannya mendadak menghangat. Shasha tertegun, gelas susunya bahkan tertahan di depan bibir.

“Tumis telur tomat,” ucap Jake rendah.

Shasha meletakkan gelasnya dengan denting pelan, “Kau tahu?”

Jake mendongak, menatap Shasha dengan sorot mata yang sulit dibaca, “Ibuku dulu sering memasaknya.”

Pria itu meraih sendok dan garpunya, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Ia mengangguk kecil, “Lumayan,” lanjutnya singkat, meski cara ia mengunyah menunjukkan bahwa rasa itu membawa kembali ingatan yang terkubur dalam.

Shasha terpaku. Rasa penasaran mengalahkan rasa kesalnya. Mimik wajah Jake berubah begitu drastis hanya karena menyebut satu kata, Ibu.

“Sekarang... ibumu tidak memasaknya lagi untukmu?”

Gerakan tangan Jake membeku di udara. Seketika, aura hangat itu menguap, digantikan oleh raut wajah yang lesu dan sangat muram. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan alat makannya yang baru menyentuh setengah porsi. Ia bangkit dari kursi dan berbalik, melangkah pergi begitu saja meninggalkan meja makan.

“Hei! Kau belum menghabiskannya!” cegat Shasha, bingung melihat perubahan suasana hati pria itu yang begitu cepat.

Jake menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh, “Bersiaplah. Aku akan membawamu keluar,” ucapnya datar, lalu kembali melangkah.

“Keluar?!” Shasha ikut bangkit, jantungnya berdegup kencang. Harapannya selama ini mendadak muncul di kepala, “Kau ingin membebaskanku?!” teriaknya ke arah punggung Jake yang kian menjauh menyusuri koridor menuju ruang pribadinya.

Tidak ada jawaban. Punggung tegap itu perlahan menghilang dari pandangan.

“Ada apa dengannya?” gumam Shasha lirih. Kesedihan yang terpancar dari punggung pria itu begitu nyata, hingga Shasha merasa ada secuil rasa tidak enak hati yang menyelinap. Namun ia segera menggelengkan kepalanya dengan kuat, “Apa yang kau pikirkan, Shasha! Tidak perlu mengasihani pria brengsek seperti dia!”

Ia membuang muka, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Apa pun alasan Jake, kesempatan untuk keluar dari dinding-dinding dingin mansion ini tidak boleh ia lewatkan. Ia harus segera berganti pakaian yang lebih pantas dan tertutup, bersiap untuk kemungkinan apa pun, termasuk pelarian.

Sesampainya di kamar, Shasha langsung menghambur ke arah walk-in closet. Jemarinya menari di antara deretan gantungan baju, menimbang-nimbang pilihan yang ada hingga matanya tertambat pada sebuah gaun panjang berwarna putih gading dengan motif bunga lilac. Ia juga memadukannya dengan cardigan berwarna senada. Setelah mengganti pakaian dan menyambar sepasang sneakers putih, ia bercermin sejenak. Rambutnya tetap ia biarkan terkuncir kuda, praktis untuk rencana pelarian yang terus berputar di kepalanya.

Setelah itu, ia langsung keluar kamar dan menuruni tangga dengan langkah ringan. Saat melewati undakan terakhir, ia berhasil menangkap keberadaan Kevin yang tampak berdiri tegak di samping sofa ruang tamu sembari asyik dengan ponselnya.

“Selamat pagi,” sapa Shasha dengan senyum yang merekah tulus. Bayangan akan menghirup udara luar setelah sekian lama benar-benar mendongkrak suasana hatinya.

Namun Kevin hanya menghentikan gerakannya sejenak untuk melemparkan tatapan sinis. Bayangan wajah Jake yang pucat pasi menahan sakit semalam masih membekas jelas di ingatannya, memicu rasa benci yang mendalam pada gadis di hadapannya ini. Ia menghela napas kasar, “Berisik,” ketusnya, lalu kembali membuang muka ke layar ponsel.

Shasha mengerutkan dahi, merasa bingung sekaligus jengkel. Ia tidak tahu apa yang salah dengan sapaannya, namun ia sadar bahwa asisten Jake itu memang selalu memperlakukannya seperti musuh bebuyutan tanpa alasan yang jelas.

Tidak lama kemudian, derap langkah lebar dan berat bergema menuju ke arah mereka. Keduanya menoleh serempak. Kevin segera menyimpan ponselnya ke saku dengan sikap siaga, “Tuan, mobil sudah siap,” lapornya patuh.

Jake muncul sembari mengenakan mantel panjang berwarna cokelat tua yang semakin mempertegas kesan otoriter pada dirinya. Ia mengangguk singkat, lalu memberikan isyarat dagu agar Kevin keluar lebih dulu. Setelah tangan kanannya menghilang di balik pintu, Jake melangkah mendekati Shasha.

“Kau akan membawaku ke mana?” tanya Shasha langsung, matanya menatap penuh selidik.

“Ke tempat yang menyenangkan,” jawab Jake pendek, suaranya terdengar datar namun mengandung teka-teki.

Shasha menyipitkan mata, merasa curiga.

“Jika kubilang aku akan membebaskanmu, apa kau akan langsung pergi?” pancing Jake tiba-tiba, menatap Shasha dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Tentu saja!” jawab Shasha tanpa ragu sedikit pun.

Jake terkekeh sinis, sebuah tawa kecil yang meremehkan, “Reaksi yang cepat. Tapi sayangnya, jangan bermimpi atas hal mustahil itu,” ucapnya dingin, lalu melangkah melewati Shasha seolah gadis itu hanya angin lalu.

Shasha mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa simpati yang sempat muncul saat melihat aura muram Jake di meja makan tadi seketika menguap, digantikan oleh bara amarah yang kembali menyala. Pria itu benar-benar tahu cara menghancurkan suasana hati orang lain dalam sekejap.

“Ikut aku, atau selamanya kau akan membusuk di sini,” seru Jake tanpa menoleh sembari terus berjalan menuju pintu utama yang terbuka lebar.

Mendengar ancaman itu, Shasha tidak punya pilihan lain. Ia segera berlari kecil menyusul Jake. Meski ia tidak tahu kejutan apa yang sedang disiapkan pria brengsek itu, tapi setidaknya berada di luar mansion memberinya peluang. Ia bertekad akan mengawasi setiap gerak-gerik Jake, menunggu saat pria itu lengah, dan akan segera melesat pergi begitu ada celah sekecil apa pun.

1
Lovelynzeaa🌷
thor lanjutkan cerita menikahi ayahh pembully dong Thor
Ninik Srikatmini
endingnya kok gitu aja thot..
Ninik Srikatmini
haduuuh thor tega amat bima- shasha dibikin celaka😭😭 knp ga' orang2 jahat itu
Ninik Srikatmini
hasil yg kau tanam jake..
Ninik Srikatmini
wooow bkl ada prahara nih..
Ninik Srikatmini
karma lana..
Ninik Srikatmini
hhhhhhhh apa lg yg dilakuin jake,
Ninik Srikatmini
nikahin shasha jake klu ga' barengin aja ma adikmu lana☺
Ninik Srikatmini
sabar ya nek cucu2 mu emang nakal
Ninik Srikatmini
kasihan bima & shasha mereka jd korban keegoisan lana
Ninik Srikatmini
cucumu sndri yg jahat & licik nek..
Ninik Srikatmini
licik kau lana ini kan tujuanmu... 🙃
Ninik Srikatmini
☺☺
Ninik Srikatmini
untung jake datang menolong shasha..
Ninik Srikatmini
🙃🙃
Ninik Srikatmini
smoga pelarian shasha kali ini berjln mulus & lancak wkwkwk
Ninik Srikatmini
💕💕woow bos mafia gi jth cintroong😃
Ninik Srikatmini
hhhhh kpn shasha bisa kabur dr jake😕
Ninik Srikatmini
kevin judes amat sma sasha jgn2 ada apa2 ya.. naksir sasha ya vin..
Ninik Srikatmini
jake dah mlai luluh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!