NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : Alasan Menghunuskan Pedang

Kediaman Arba Tanpa huru-hara dentingan logam yang dipukul ataupun gelak tawa. Rumah terasa sepi, terlebih tanpa kehadiran Luna dan Axel yang biasanya selalu menghiasi rumah dengan gelak tawa. Ruangan kerja atau bengkel pandai besi malam itu kosong tanpa orang.

Di ruang makan, hanya ada Ardius dan Arba yang baru selesai menghabiskan makan malam mereka. suasana tampak sangat tenang dan sunyi seolah kehadirannya tak menjadi ruang.

"Bagaimana dengan hari-harimu di dungeon?" tanya Arba membuka pembicaraan sambil meletakan segelas teh hangat tepat di depan Ardius.

"Kurasa tidak ada hal yang menarik. Semuanya berjalan dengan cukup lancar meski banyak masalah," jawab Ardius sambil mengambil gelas itu, hanya untuk digenggam tanpa meminumnya.

Meskipun berkata tak ada yang menarik, dia tetap menceritakan tentang pengalaman dirinya semasa di dungeon. Dia menceritakan mulai dari lingkungan dungeon sampai kegagalannya yang terus terjadi saat menempa Kagerou yang mulai dari meledak hingga logamnya yang meleleh sampai mengenai tangannya.

Meski nada bicaranya datar dan kaku, Dwarf yang telah mengasuhnya itu tetap mendengarkan sambil sesekali tersenyum tipis saat mendengar bagian yang menarik.

Ardius berhenti sejenak lalu meminum teh dalam gelas yang sedari tadi dia pegang sebelum akhirnya kembali melanjutkan. Malam itu, meski terasa lebih sepi dari biasanya, namun keakraban dan kehangatan di meja makan masih terasa meski hanya ada dua orang.

Saat air teh dalam gelas habis, Ardius menyimpannya di meja namun dengan tangan yang masih menggenggamnya dengan erat. Tatapan pemuda itu menoleh ke bawah—tepatnya ke arah gelas yang dipegangnya.

Cerita tidak berlanjut, membuat sebuah jeda yang berlangsung dengan hening seolah topik perbincangan selanjutnya akan mengarah ke arah yang lebih serius.

"Paman! Aku... akan ikut turnamen," seru Ardius dengan nada rendah dan serius.

"..."

Keheningan kembali berlanjut. Dwarf di hadapannya juga memberi jeda sesaat.

"Aku akan selalu mendukung apa yang kamu lakukan. Tapi, biasanya kau selalu menolak keras untuk ikut turnamen itu. Apa ada hal yang membuatmu memutuskan untuk ikut bergabung?" tanya Arba dengan mempertahankan nada bicaranya.

"Aku tahu Luna dan Axel adalah penyihir yang berbakat, dan aku yakin mereka juga akan sampai ke babak akhir. Tapi... ada ancaman serius di babak akhir dan aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka." Ardius menjelaskan dengan nada lebih serius.

Perbincangan kembali berlanjut. Kali ini, Ardius membicarakan tentang orang yang satu kelompok dengannya serta rencana bagaimana dia dapat mencapai babak akhir.

Obrolan serius tersebut berlangsung selama beberapa menit. Arba tetap mendengarkan sampai akhir tanpa menyela ucapan Ardius.

"Kurasa kali ini kamu lebih siap," sahut Arba sambil menuangkan teh hangat ke cangkir miliknya.

"Untuk apa?" tanya singkat Ardius.

"Untuk menunjukkan kepada semua orang jika pedang milikmu itu adalah sebuah bilah yang akan melindungi orang yang kamu sayangi."

Ardius tersenyum tipis. "Ucapan yang terlalu dramatis. Tidak cocok untuk Paman."

Keduanya tertawa bersama-sama setelah pemuda itu melontarkan kata-kata tersebut.

Beberapa jam kemudian. Ardius terbaring di kasur miliknya. Perbedaan kenyamanan kasur lama di kamarnya dengan kasur aneh di rumah dungeon lantai empat benar-benar terasa jelas. Meski kasur di kamarnya sudah berumur lama, namun kenyamanan dari kasur yang keras tersebut seolah telah membekas dan menciptakan kenyamanannya sendiri bagi Ardius.

Hari semakin larut, namun Ardius tidak tertidur. Entah mengapa, matanya sulit tertutup akibat banyak pikiran yang terus mendekat dalam kepalanya.

.

.

.

Beberapa jam yang lalu saat berada di lorong sekolah pada sore hari.

"Itu jelas sekali. Bagaimana juga, kehadiranmu bagi kelompok hanyalah sebuah kutukan yang membawa kekalahan. Terlebih lagi jika kau ikut turnamen tahun ini... kau akan langsung mati." Profesor kembali memotong pembicaraan, kali ini dia menyunggingkan sebuah senyum licik.

"Apa maksud Anda dengan mati?" tanya Ardius mata sedikit melotot dan alis yang mengerut.

"Kau adalah tipe orang bodoh yang ketinggalan informasi. Turnamen Perburuan kali ini melibatkan sebuah monster yang mampu menggunakan sihir tingkat lanjut di babak akhir. Peserta harus membunuhnya bagaimanapun caranya. Tidak peduli mereka dibunuh oleh monster itu atau mereka sendiri yang membunuh satu sama lain." Profesor Calwyn menjelaskan.

"Bukankah itu sesuatu ya—"

"Itu artinya kedua teman jelatamu itu juga dapat mati di medan turnamen. Bagaimanapun juga, tidak akan ada yang peduli soal itu. Aturan mainnya adalah yang mati adalah pecundang." Profesor memotong ucapan Ardius sekali lagi untuk kesekian kalinya.

Mendengar nama kedua sahabatnya disebut membuat Ardius sudah sampai puncak kesabarannya. Dia mengepalkan kedua tangan dengan begitu keras sampai urat-urat menonjol di sekitar kepalan tangannya. Sorot matanya terpampang jelas jika dia menggambar sebuah emosi marah.

"Jangan menyela pembicaraan saat orang lain bicara!" bentak Ardius dengan suara tinggi dan mengancam.

Profesor Calwyn tersentak dan terkejut akibat Ardius yang tiba-tiba membentaknya. Tapi tak lama setelahnya, senyumnya yang pudar sesaat kembali terukir, lebih tipis dan sinis.

"Marah?" tanya dia seolah puas dengan reaksi Ardius. "Lucu sekali, aib para penyihir yang membawa tusuk gigi murahan membentak seorang penyihir kelas atas."

Ardius mengambil napas panjang, berusaha untuk menenangkan pikirannya. Dia tahu betul jika emosi sesaat seperti itu malah dapat membawanya pada masalah yang lebih jauh. Ardius diam sejenak, bukan karena takut, melainkan untuk mengambil keputusan bulat.

"Jika Anda menginginkan saya terbunuh dalam turnamen, maka saya akan mengikuti permainan licik itu!" kata Ardius yang terdengar serius setelah mengambil keputusan tersebut.

Profesor Calwyn terkekeh, kali ini wajahnya tak dapat lagi menyembunyikan ejekannya. Dia berjalan perlahan lalu mencengkeram kerah seragam Ardius dan sedikit mengangkatnya ke atas.

Mata pengajar itu tepat mengarah langsung ke mata Ardius. Tatapannya seolah seperti sebuah jarum tak terlihat yang menancap langsung ke mata. "Ah... jadi akhirnya si produk gagal ini ikutan? Kenapa? Apa karena kau menyayangi mereka? atau beban moral? atau mungkin kau merasa bersalah karena selalu bersembunyi di balik bayangan mereka?"

Ardius tak merespon dengan ucapan. Sebaliknya, dia membalas tatapan Profesor Calwyn dengan tatapan dingin dan tenang tanpa mengedipkan matanya.

Profesor Calwyn mendorong Ardius, membuatnya tersungkur dan mundur beberapa meter ke belakang. Langkah Profesor Calwyn kembali menggema di lorong ruangan yang dihiasi cahaya jingga itu. Langkahnya melewati Ardius dengan menyisakan tatapan kebencian yang penuh dengan ejekan.

"Kau membutuhkan sebuah tim untuk turnamen. Tidak ada orang lain yang akan menerimamu menjadi anggota kelompok mereka, hahaha...." Sosok Profesor Calwyn perlahan menjauh dan menghilang, namun gema suara gelak tawanya masih terdengar nyaring dan membekas dalam pikiran.

Sementara itu Ardius bergegas berlari dengan tergesa-gesa. Terdapat aturan penting untuk tidak berlari di lorong akademi, namun saat ini Ardius tidak memedulikan hal itu karena ada sesuatu yang lebih penting daripada aturan tersebut.

Ardius terus melaju. Wajahnya tampak panik dan khawatir. Dia terus memacu kecepatannya menjadi semakin lebih cepat. Beberapa tempat telah ia lalui seperti taman akademi, halaman perpustakaan, dan halaman belakang.

Sial... aku harap masih sempat bertemu mereka. Jika tidak ada orang lain yang mau menerimaku ke tim, maka aku harus memberitahukan mereka dan membuat mereka tak ikut turnamen.

Matanya melebar tepat saat melihat sebuah gerbang besar terbuka lebar sekitar 50 meter di depan. Ardius menambah laju kecepatan, kakinya melangkah bergantian tanpa jeda. Tempat yang dia tuju sampai-sampai membuatnya berlagak sejauh itu adalah asrama akademi, tempat dimana orang sepertinya dilarang untuk masuk.

Tepat saat tubuhnya melangkah melewati gerbang, sebuah batu berukuran besar tiba-tiba datang dari depan dan menghantam tubuh Ardius sampai-sampai dia terpental jauh keluar dari gerbang dengan dahi berlumuran darah.

"Hey kau murid sialan!" panggil sebuah suara dari depan kepadanya.

Ardius kembali bangkit, di depannya terdapat dua orang penjaga gerbang. Merekalah orang yang menyerang menggunakan sihir batu barusan.

"Kau tahu tempat ini apa?" tanya salah satu di antaranya.

"Asrama akademi," jawab singkat Ardius sembari mengelap dahinya yang berdarah.

"Mencoba menerobos masuk tempat yang tak boleh kau kunjungi? Nyalimuu boleh juga, bocah sialan!" tukas penjaga itu kembali. Dari penampilan dan gaya bicaranya, dia lebih cocok terlihat seperti berandalan daripada penjaga gerbang.

"Izinkan aku masuk! Aku harus menemui seseorang. Jika tidak, mereka akan—"

Tepat sebelum Ardius menyelesaikan ucapannya, penjaga yang lain melayangkan tongkat sihirnya dan membentur wajah Ardius dengan tongkatnya hingga penuda berambut hitam itu kembali tersungkur.

"Apa? Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengar ucapanmu!" kata penjaga itu.

"Aku harus bertem—"

Tongkat kembali melayang, kali ini mengenai perut Ardius yang membuatnya sedikit memuntahkan darah. Tak lama, tubuhnya tersujud akibat pukulan tongkat yang mengenainya tersebut.

"Sudah waktunya menutup gerbang!" ucap penjaga yang memukul Ardius.

"Ya, biarkan saja cacing liar ini."

Kedua penjaga itu bergegas kembali masuk dan menutup gerbang, membiarkan Ardius sendirian di luar. Hari semakin gelap, matahari telah turun dan tertidur digantikan oleh terang rembulan dan bintang-bintang di angkasa.

Tepat sebelum Ardius kembali bangkit, dia mendengar sebuah langkah kaki mendekat. Entah apa masalah yang akan datang lagi kali ini. Baru beberapa jam keluar dari dungeon, dia sudah disambut oleh berbagai masalah.

"Kau tampak menyedihkan," ucap suara yang terdengar familiar namun enggan untuk Ardius kenali.

"Tanpa mengatakannya pun aku juga tahu," balas Ardius yang berdiri kembali sambil memegangi perutnya. "Jadi... apa kau akan menertawakanku? Tuan Muda Lucas?"

Seperti yang dikatakan, tepat di hadapannya adalah Lucas. Seorang penuda keturunan Leonheart yang masih memiliki hubungan darah dengan Ardius. Lucas datang sambil mengenakan pakaian kasual khas era abad pertengahan yang mahal dan berkualitas.

"Kau bukan tipe orang yang suka basa-basi, bukan? Aku akan langsung menuju intinya saja. Ardius... bergabunglah denganku di Turnamen Perburuan." Tanpa banyak basa-basi, Lucas langsung mengarah ke topik utama dengan cepat.

"Hah?" dengus Ardius dengan curiga dan kebingungan.

Keheningan terjadi sesaat di antara Ardius dan Lucas. Ardius yang masih kebingungan mencoba mencari titik lemah dari ucapan Lucas, namun dari ekspresi Lucas sendiri seolah serius dengan ucapannya.

"Sejujurnya aku sudah tahu aturan konyol tentang pertarungan di babak akhir dari turnamen itu yang memperbolehkan adanya korban jiwa sampai menyisakan tiga orang terakhir kandidat yang jadi juara," katanya sambil mengepalkan tangannya seolah Lucas juga tak setuju dengan aturan tersebut.

"Lalu?"

Lucas melanjutkan dengan nada sedikit melambat, "Para siswa diperbolehkan untuk saling menyerang di babak akhir nanti dan aku tidak mau mengotori tanganku dengan pembunuhan yang tak jelas itu. Oleh sebabnya, aku tidak ingin mengikuti turnamen konyol itu. Tapi... orang tua dan keluarga besar Leonheart memaksaku untuk ikut turnamen tersebut meski aku sudah menjelaskan adanya aturan baru konyol itu."

Ardius tak menjawab, dia membiarkan ada jeda pembicaraan di antara mereka. Dalam hatinya, dia masih di ambang oleh kebingungan dan benaknya bertanya-tanya apakah Lucas dapat dipercaya?

Angin yang cukup kencang menerpa kedua pemuda tersebut diikuti dedaunan yang ikut melayang terbawa angin yang melintasi mereka.

"Ardius!" panggil Lucas.

Ardius yang terbawa oleh pikirannya kembali tersadarkan. Matanya tepat menatap ke arah mata Lucas dengan tatapan serius dan dingin.

"Aku menawarkan sebuah kesepakatan. Bantulah aku dalam turnamen ini! Dengan begitu kau bisa melindungi mereka!"

Pemuda berambut hitam itu sedikit terkejut meski tak memperlihatkannya. "Kenapa harus aku? Apa kau tidak takut keluarga besar Leonheart akan tidak senang dengan hal itu?"

Lucas sedikit menundukkan kepalanya. "Aku masih belum paham apakah sebenarnya kau membenci Leonheart atau tidak...," katanya lalu kepala Lucas kembali berdiri dan menatap Ardius dengan tatapan penuh keyakinan. "Tapi kau bukanlah orang yang bertindak sembarangan."

Hembusan angin kembali menerpa keduanya. Rambut dan pakaian yang mereka kenakan terombang-ambing oleh angin yang terus bergerak.

Mata Ardius terpejam sesaat, ia membukanya kembali sambil bertanya, "Kau menguping obrolanku dan Profesor Calwyn, kan?"

Lucas tak langsung menjawab. Dia hanya menaikkan bahu dan sedikit mengangkat kedua tangannya dengan wajah tersenyum tipis.

"Aku tidak tahu apa otakmu sedikit bergeser hingga mau bekerja sama denganku. Tapi... aku akan mempertimbangkannya!"

Malam itu berlalu tanpa terasa. Ribuan pikiran terus berdatangan, membuatnya kesusahan menutup mata. Dalam beberapa jam saat berbaring, dia sempat terpikir apakah kerjas ama dengan Lucas adalah yang terbaik?

Setelah dipikir-pikir lagi, entah mengapa Ardius merasa sifat Lucas seperti berubah saat berada dengannya. Terkadang, Ardius memperhatikan dari jauh jika Lucas adalah seorang pemuda yang haus akan pujian, namun saat dekat dengannya sifat kekanak-kanakan itu seolah sirna.

Mencoba mengabaikan berbagai pikiran dan pertanyaan aneh yang terus bermunculan, Ardius kembali mengenakan seragam beserta jubah akademi miliknya. Tangannya meraih Kagerou yang tertutup oleh sarungnya. Ardius melirik ke arah jendela, bukan mengarah ke luar kaca itu melainkan menatap pantulan bayangan dirinya dari kaca jendela.

"Persetan dengan Leonheart. Meski mereka dan orang-orang akan membenciku, tapi aku melindungi mereka."

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!