Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi di Balik Tembok Kota
Jauh dari kesunyian hutan pinus di perbukitan, hiruk-pikuk kota besar mulai menggeliat sejak fajar menyingsing. Di gedung asrama bergaya modern minimalis yang menjadi bagian dari SMA Nusantara Excellence, sebuah sekolah swasta paling bergengsi dengan akreditasi A+ dan fasilitas kelas dunia, rutinitas pagi baru saja dimulai. Di lantai tiga, tepatnya di kamar 302, empat pasang mata mulai terbuka seiring dengan bunyi alarm yang tersinkronisasi secara digital.
Kamar itu sangat luas untuk ukuran asrama, lebih menyerupai kamar hotel bintang lima dengan empat tempat tidur ergonomis, meja belajar pribadi yang canggih, dan pendingin ruangan yang tetap stabil di suhu 22 derajat Celsius. Di sinilah Rian menghabiskan hari-harinya selama menempuh pendidikan di kota.
Sebelum langkah kaki mereka menyentuh lantai kamar mandi, obrolan pagi sudah memenuhi ruangan. Ketiga teman sekamar Rian memiliki latar belakang yang beragam, namun semuanya berasal dari keluarga kelas atas—syarat tak tertulis untuk bisa bertahan di sekolah dengan SPP selangit ini.
Ada Kevin, putra seorang pengusaha properti yang selalu tampil trendy dan menjadi informan utama tentang segala gosip di sekolah. Lalu ada Daffa, remaja jenius matematika yang pendiam namun sangat kompetitif dalam hal peringkat. Dan terakhir adalah Bastian, atlet basket sekolah yang memiliki kepribadian paling ceria dan santai di antara mereka berdua.
"Rian, kau dengar tidak?" tanya Kevin sembari merapikan tempat tidurnya yang sangat rapi. "Katanya ujian simulasi minggu depan akan menggunakan sistem kurikulum baru dari Cambridge. Kau sudah siap?"
Rian, yang baru saja selesai melakukan peregangan ringan, mengangguk tenang. "Aku sudah meninjau materi tambahan dari bimbel kemarin sore. Kurasa sistemnya hanya berbeda di bagian analisis logikanya saja."
"Kau ini benar-benar mesin, Rian," sahut Bastian sembari melempar bantal ke arah Rian dengan canda. "Bahkan di asrama pun kau masih sempat memikirkan analisis logika. Ayo cepat, pelayan asrama pasti sudah di depan pintu."
Tepat saat mereka selesai bersiap, ketukan pelan terdengar. Dua orang pelayan asrama berseragam rapi masuk membawa troli makanan. Di sekolah ini, kenyamanan siswa adalah prioritas utama. Makan pagi, siang, dan malam diantarkan langsung ke kamar sesuai jadwal nutrisi yang telah diatur oleh ahli gizi sekolah.
Saat mereka mulai menyantap menu sarapan berupa omelet truffle dan jus jeruk segar, Kevin tiba-tiba menghentikan kunyahannya dan menatap Rian dengan tatapan penuh arti.
"Oh ya, hampir lupa. Kemarin saat aku di minimarket sekolah, aku bertemu dengan Clarissa dari kelas 10-A," ujar Kevin dengan nada menggoda. "Dia bertanya banyak hal tentangmu. Dan dia menitipkan pesan... sepertinya seluruh sekolah sudah tahu kalau Clarissa menyukai kamu, Rian."
Daffa dan Bastian langsung bersorak "Cie!" secara bersamaan. Rian tertegun sejenak, sendoknya tertahan di udara, namun ekspresinya segera kembali tenang seolah berita itu hanyalah informasi cuaca yang tidak terlalu penting.
"Lalu?" tanya Rian singkat.
"Lalu? Rian, Clarissa itu putri pemilik bank nasional! Dia cantik, pintar, dan semua laki-laki di sini mengejarnya. Tapi dia malah mengejarmu yang selalu tampak dingin dan sibuk di perpustakaan," sambung Kevin gemas.
Rian meletakkan sendoknya, menatap teman-temannya dengan sorot mata yang dewasa melebihi usianya. "Katakan padanya terima kasih atas ketertarikannya. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu sekarang."
"Lagi-lagi kau menolak?" Bastian menggelengkan kepala. "Minggu lalu siswi dari klub biola, sekarang Clarissa. Kau ini benar-benar tidak tertarik dengan perempuan, ya?"
"Bukan begitu," jawab Rian perlahan. "Aku hanya sedang fokus. Kalian tahu sendiri, setiap rupiah yang dikeluarkan untukku di sini tidaklah sedikit."
Rian teringat akan Isaac. Ia sangat sadar bahwa ia berada di sekolah ini karena kasih sayang dan pengorbanan pria yang ia panggil "Bapak" itu. SPP bulanan Rian menyentuh angka 58 juta rupiah, nilai tertinggi karena kategori pekerjaan orang tua/wali yang sangat mapan. Belum lagi biaya kelas tambahan atau bimbel khusus di fasilitas asrama yang mencapai 15 juta rupiah per bulan. Total biaya yang dikeluarkan Isaac setiap bulan untuk pendidikan Rian bisa membeli sebuah mobil bekas yang layak pakai.
Rian tidak ingin mengkhianati kepercayaan itu. Ia tidak ingin uang puluhan juta yang dikirim Isaac setiap bulan terbuang percuma hanya karena ia sibuk berkencan atau bermain-main. Baginya, prestasi adalah cara satu-satunya untuk membalas budi.
"Setiap kali aku ingin bersantai, aku selalu ingat bagaimana Pak Isaac bekerja di kota dan bagaimana panti asuhan menaruh harapan padaku," batin Rian sembari melanjutkan sarapannya.
Tidak hanya unggul dalam akademis, Rian juga sangat aktif di organisasi. Ia menjabat sebagai pengurus OSIS bagian akademik dan juga aktif dalam ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Jadwalnya sangat padat; setelah sekolah berakhir pukul tiga sore, ia akan melanjutkan bimbel hingga pukul enam sore, lalu kembali ke asrama untuk mengerjakan tugas-tugas organisasi.
Fasilitas sekolah memang sangat lengkap. Jika Rian butuh sesuatu di luar jadwal makan, ia cukup berjalan kaki beberapa meter menuju minimarket yang masih berada di dalam area sekolah yang luas. Denah sekolah tersebut sangat terintegrasi, mulai dari kompleks olahraga, auditorium, hingga laboratorium riset yang lebih mirip laboratorium universitas.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Rian," ujar Daffa yang biasanya pendiam. "Tapi aku mengerti. Di sekolah bergengsi seperti ini, jika kau tidak berlari, kau akan tertinggal."
"Aku tidak hanya ingin sekadar berlari, Daffa. Aku ingin mencapai garis finis dengan hasil terbaik agar Pak Isaac bangga saat melihat raporku nanti," sahut Rian dengan senyum tipis yang penuh tekad.
Selesai sarapan, mereka berempat segera menyambar tas masing-masing. Mereka berjalan keluar menuju gedung kelas utama yang hanya berjarak lima menit jalan kaki dari asrama. Di sepanjang koridor, banyak pasang mata—terutama siswi—yang melirik ke arah Rian. Sosoknya yang tinggi, wajahnya yang tampan dengan aura misterius, serta kecerdasannya yang selalu menjadi buah bibir guru-guru, menjadikannya primadona sekolah. Namun, bagi Rian, semua pandangan itu hanyalah kebisingan latar belakang.
Pikirannya sudah tertuju pada materi fisika tingkat lanjut yang akan dipelajarinya hari ini. Di dalam hatinya, ia sudah berjanji, bahwa suatu saat nanti ia bukan hanya akan menjadi siswa beruntung yang masuk ke sekolah mahal, tapi ia akan menjadi orang sukses yang bisa membiayai sekolah ribuan anak lain, persis seperti apa yang telah Isaac lakukan padanya.
Perjuangan Rian di kota baru saja dimulai. Di balik tembok sekolah mewah dengan biaya SPP fantastis itu, seorang remaja perbukitan sedang menempa dirinya menjadi baja, siap untuk mengguncang dunia dan membuktikan bahwa kasih sayang Isaac tidak pernah jatuh di tanah yang salah.