NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

prolog 1

Prolog

"Udah, nikahin aja."

"Gak mau."

"Gak bisa! Kamu mencoreng nama keluarga." Rahang pria berusia 41 tahun itu menggeras. Mata tajamnya penuh amarah dan juga kekecewaan. Melihat hal itu, gadis cantik berbulu mata lentik dengan wajah tirus itu terisak. Perihalnya baru kali ini papanya semarah ini.

Dia nakal dan jahil. Sekalinya marah papa hanya akan tegas dan memberikan hukuman. Tidak sampai meninggikan suara atau bahkan menatapnya seperti ini.

"Pa, dengar Langit du-"

Tangan pria itu naik seolah tidak mau mendengar apapun lagi. Apa yang dia lihat dan Pak RT beserta satu warga lihat sudah membuat orang salah faham. Bagaimana mungkin masuk-masuk putrinya tengah bersama laki-laki lain dengan posisi yang tidak sepantasnya.

Dia menjaga anak-anaknya dengan baik.

Memberikan penegasan. Tingkah jahil Langit masih bisa ia terima. Tapi jika sudah seperti ini, ia teramat kecewa dan merasa tidak becus dalam mendidik putri kesayangannya.

"Om kami tadi-"

"DIAM KAMU!" Emosinya pada anak laki-laki yang berdiri di samping putrinya.

"Beraninya kamu masuk ke rumah saya dan membuat putri saya seperti ini."

"Pa, ini gak se-"

"Langit DIAM! TIDAK USAH MEMBELA PACAR KAMU!" Wajahnya merah padam. Urat-urat lehernya menonjol. Orlin sontak menenangkan suaminya yang sudah tersulit emosi.

"Mas, tenanglah dulu. Kita kecewa.

Bukannya gak baik jika dilanjutkan dalam keadaan marah? Hm?"

"Lihat putri kamu Orlin!"

"Iya. Orlin tahu Mas. Biarkan Orlin bicara dengan mereka. Mas wudhu lah dulu biar tenang."

Amarah yang sudah memuncak itu mulai reda akan usapan lembut istrinya. Tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir

Ezhar lagi. Ia menatap tajam putrinya lalu pergi begitu saja menuju kamar.

"Langit dan kamu duduklah."

"Ma, Langit gak gitu. Langit gak kecewain Papa Mama. Langit sayang kalian. La-" Nadanya bergetar menjelaskan.

"Mama bilang duduk kan Langit?" Orlin menatap tegas putri pertamanya. Air mata Langit mengalir. Tangannya sejak tadi bergetar. Pun tubuhnya. Gadis itu menurut.

Cowok yang berdiri di sampingnya menatap tidak tega. Dia mengusap kasar wajahnya lalu juga ikut duduk.

"Tunggu di sini!" Orlin menunjuk tempat mereka duduk. Keduanya hanya memberi anggukan pasrah, sedang wanita empat anak itu keluar dari ruang tamu sesaat.

"Gue ... gue minta maaf." Sorot sesal dalam manik mata hitam laki-laki itu beralih pada Langit yang menutup wajahnya dan terus terisak.

"Langit gue-"

"Papa mama gak pernah semarah ini," cicitnya takut. Membayangkan bagaimana tatapan Ezhar, bagaimana kecewanya wajah

Mereka. Hatinya sakit. Semua ini salah paham tapi...

"Ini salah gue. Gue akan jelasin sama Pak RT dan orang tua lo."

"Gak guna. Lo tahu ini gak guna! Papa gue marah. Mereka salah paham. Ini gak akan terjadi kalau lo gak-" Ia tersedu.

Orlin datang kemudian membawa dua gelas air minum. Menyuruh keduanya minum dahulu. Waalupun emosi juga menguasai dirinya, Orlin tentu juga marah. Sama seperti Ezhar. Hanya saja dia bisa mengendalikan.

"Kalian berdua lihat mata Mama."

Suaranya tidak tinggi, namun tegas. Setelah membiarkan keduanya sedikit tenang usai minum. Setelah putrinya sudah terisak lagi, ia baru bicara.

Netra keduanya sama-sama menatap ke depan. Netra putrinya yang sembap, memerah dan menyesal. Sedang anak laki-laki di samping putrinya, dengan raut gusar dan bersalah.

"Mama bisa bicara?"

Langit memberi anggukan lemah. Ia meremas jari-jemarinya di atas paha.

"Tan, saya bisa jelaskan kronologinya."

"Ya. Jelaskan sedetail mungkin kenapa kamu bisa masuk ke rumah saya." Orlin akan membiarkan keduanya menjelaskan. Mendengar dulu sudut pandang dari mereka. Tidak hanya dari apa yang mereka lihat.

"Saya hanya berniat lihat Langit. Tapi kami kalau ketemu selalu ribut dan ..." Dia menghela nafas panjang. Entah dari sudut manapun, ini salahnya. "Posisi tadi karena saya enggak sengaja dan jatuh ke tubuh Langit. Saya berniat jahil tapi malah-"

"Ma, tadi Bumi-"

"Biarkan dia menyelesaikannya Langit."

Langit menatap nanar.

"Saya sadar ini salah saya." Kepalanya menunduk dalam.

"Ma, kami gak ada niat apapun. Kami enggak ngapa-ngapain," Langit masih berusaha menjelaskan. "Semua salah paham," cicitnya.

"Kamu bukakan pintu untuk dia Langit?"

"Iya, Ma. Tapi Langit-"

"Papamu pernah bilang kan jangan terima

Tamu laki-laki kalau gak ada siapapun."

"Langit-"

"Berduaan dengan laki-laki lain saja di rumah gak dibenarkan Langit. Walaupun kalian gak ngapa-ngapain. Ini kalian kepergok dengan posisi seperti tadi di depan mata Pak RT, satu warga dan papa kamu."

Dadanya sesak. Ia tahu semuanya salah.

Dari awal karena kecerobohannya. Semua akan baik-baik aja jika dia tidak membukakan pintu dan berakhir seperti tadi.

"Pak RT kenal betul papa kamu. Kamu tahu papamu mendidik kamu gimana kan? Kamu juga tahu bagaimana pandangan mereka sama papamu. Papa juga jadi pengurus mesjid di sini. Hari ini kamu membuat malu harga diri papamu Langit."

"Ma-" Hatinya seakan dihantam karena kalimat itu. Membuatnya kian mengutuk diri. Panggilan kamu yang tak biasa dari mamanya sendiri juga seakan mendorongnya dalam lubang penyesalan terdalam.

Papanya dipandang baik. Hubungan orang tuanya dengan warga baik. Mereka dikenal baik oleh warga, dikenal keluarga islami ia merusak itu semua. namun

"Tan, saya akan bertanggung jawab."

"Ya tentu kamu harus bertanggung jawab."

"Mama setuju dengan papamu. Kalian tetap salah. Kalian gak sengaja atau tidak, mereka lihat langsung. Nikah solusi yang baik untuk kalian."

"Ma."

"Tan."

Keduanya kompak menggeleng penuh permohonan.

"Pak RT akan merahasiakan ini. Pak Samu juga. Ini jalan terbaik bagi kalian. Apa kamu mau namamu tercoreng Langit? Mau dilihatin warga dengan sinis. Mau jadi bahan pergunjingan dan dikucilkan? Ini demi kamu."

"Ma, Langit kelas 12. Langit punya mimpi. Langit-"

"Nikah gak halangi itu semua."

"Tan, tapi saya-"

"Kamu laki-laki. Belajar bertanggung jawab."

"Saya harus sukses untuk Ibu saya, Tan."

"Sukses? Bagaimana hati ibu kamu kalau

Tahu kejadian ini? Kenapa gak berpikir dulu sebelum bertindak?" pertanyaan telak itu membuat bibirnya kelu.

"Tenanglah kalian. Pernikahan ini kita lakukan diam-diam. Kita akan rahasiakan dari sekolah."

"Ma."

"Jalani Langit. Kalian rahasiakan dari teman dan guru kalian sampai lulus. Kalian udah kelas 12."

Ini bukan pernikahan yang mereka inginkan. Dadakan. Membawa malu dan tanpa rasa cinta. Langit menangisi hidupnya yang seperti ini.

"Kamu. Pulanglah dan sampaikan pada Ibumu dengan baik. Kamu sudah besar. Saya yakin kamu mengerti akan tanggung jawab dari tindakan kamu."

Cowok itu bergeming sesaat. Barulah kemudian ia memberi anggukan pelan. "Sebagai pria saya akan bertanggung jawab Tan."

"Hm. Saya akan bicara dengan Papa Langit. Kembalilah besok pagi."

"Silakan."

"Sekali saya minta maaf dan soal Langit saya-"

"Tante tahu kamu anak yang baik.

Pulanglah." Nada Orlin mulai lembut. "Tidak usah khawatir. Tante akan bicara pada Langit."

Ia menatap putrinya yang tidak henti menangis sesenggukan.

***

"Pernikahan kita di rahasiakan."

"Jangan bersikap aneh di sekolah. Jangan sampai ada yang tahu. Gue gak mau berhenti sekolah."

"Oke. Gue akan bersikap biasa."

"Jangan dekatin gue di sekolah."

"Gak bisa. Lo istri gue. Gue tahu tanggung jawab gue Langit. Gue akan awasin lo. Gue akan jaga lo dengan cara gue."

"Di antara kita gak ada rasa apapun. Gue gak butuh lo."

"Lo gak bisa nampik kita punya ikatan."

"Kita rival."

"Ya kita tetap rival."

"Kita musuh."

"Kita akan tetap berantem."

lo." Aisa membuang nafas kasar. "Gue benci

"Tapi lo istri gue."

***

"Maaf." Air mata memenuhi kornea mata gadis itu. Ia mengigit bibirnya dan menunduk dalam-dalam akan raut kecewa lak-laki dihadapannya.

"Kenapa? Bukanya kamu yang ingin ini dari dulu?"

"Gak bisa lagi."

"Apa perasaan itu sirna?"

"Bukan. Perasaan itu masih ada dan nyata.

Tapi kita udah gak bisa."

[ jangan di lupa di dukung novel ini teman teman agar lebih semangat lagi up novel ini]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!