NovelToon NovelToon
Sugar

Sugar

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:51.9M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!

Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.

Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.

Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.

Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.

"Apa kamu adalah kak Niko?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Lara

*

*

Satria keluar dari ruang ganti dengan stelan jas rapinya. Menemukan Lara duduk bersandar di kepala ranjang. Menunggunya.

"Hari ini kamu keluar kota?' tanyanya, menatap pria yang hampir sepuluh tahun ini menjadi pendamping hidupnya.

"Tidak. Tapi mungkin akhir pekan ini aku pergi ke Bunaken, ada pembukaan hotel kita yang baru disana." Satria menjawab dingin, membenahi dasi di depan cermin. Kemudian menyemprotkan parfum hingga wanginya menguar di seluruh ruangan.

"Aku boleh ikut?" Lara tiba-tiba, membuat pria 40 tahun itu membalikkan tubuhnya, menatap heran istrinya tersebut.

"Kenapa tiba-tiba kamu ingin ikut? Selama ini kamu tak pernah mau menemani aku pergi, apalagi untuk urusan pekerjaan." jawab Satria, curiga.

"Aku hanya ingin sesekali menemani suamiku." jawabnya, datar.

Lara menatap Satria lekat-lekat. Suaminya itu memang tampan. Usia tak berpengaruh padanya, sekalipun dia tak semuda saat awal mereka menikah. Namun Satria terlihat semakin gagah di usia matangnya.

Hatinya berdebar. Mengapa setelah sekian tahun, perasaan itu baru muncul kali ini. Saat segalanya telah berubah, ketika keadaan tak lagi sama.

Hari ini, pertama kali dalam sepanjang pernikahan mereka, Lara dapat memperhatikan Satria dari dekat. Suaminya itu memang sulit dijangkau, yang terutama karena pekerjaan yang membuatnya begitu jarang dirumah. Membuat mereka jarang bersama. Belum lagi karena sikap dingin dan pendiamnya yang tak pernah berubah sejak pertama kali mereka bertemu.

Satria keluar dari kamarnya, menuju ruang makan. Lara mengikuti dari belakang.

Mereka makan dalam diam.

Satria bangkit ketika sarapan di piringnya hampir habis. Menyisakan sepotong kecil roti dan daging asap.

"Aku pergi." ucapnya, membalikkan tubuhnya, hendak keluar.

"Apa aku sudah bilang kalau aku sudah lepas KB?" ujar Lara, dengan kepala menunduk menatap piring sarapannya yang masih utuh.

Deg!!

Satria menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuh menghadap istrinya.

"Maksud kamu?" keningnya berkerut.

"Aku mutuskan untuk melepas KB. Sekarang aku sudah tidak menggunakannya lagi." jawab Lara, memberanikan diri menatap wajah suaminya.

"Kenapa?" Satria melangkah mendekati Lara, dengan wajah yang berubah tegang.

"Aku ingin punya anak." Lara dengan suara bergetar.

"Kenapa? Bukannya dulu kamu bilang tidak ingin punya anak? Kamu tidak ingin direpotkan dengan tangis anak dimalam hari, tidak ingin diganggu rengekan manja anak kecil di rumah ini?" Satria menelisik.

"Setelah aku pikir-pikir, mungkin sebaiknya kita punya anak." Lara, takut-takut.

"Kenapa kamu berubah pikiran?" Satria berhenti tepat di depan perempuan 35 tahun itu yang masih menatapnya dengan raut yang tak dimengerti nya.

"Kenapa? Bukannya kamu dulu bilang ingin punya anak?" Lara mengingatkan saat-saat awal mereka menikah.

"Ya, sebelum akhirnya kamu yang memutuskan untuk tak memiliki anak, yang kamu bilang akan mengganggu semua kesenangan yang kamu miliki." Satria dengan tatapan tajamnya.

"Orang berubah seiring waktu, Satria." Lara mengalihkan pandangannya.

"Apa yang membuat kamu berubah pikiran?" Satria menyelidik.

Lara terdiam. Matanya berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya serasa diremas-remas.

"Sejak kapan?" tanya pria itu, menarik dagu istrinya agar kembali menatapnya.

"Sejak tiga Minggu yang lalu, sebelum kita ..."

"Aku sudah terlambat." Satria segera membalikkan badan, berjalan dengan langkah lebarnya keluar dari rumah, masuk kedalam mobil dan segera memerintahkan sopir pribadinya untuk meluncur menuju kantor tempatnya bekerja. Tak ingin mengingat apapun yang telah terjadi antara dirinya dan Lara.

Perempuan itu memejamkan mata, kedua tangannya meremas kuat ujung rok selutut nya. Setetes air lolos dari pelupuk matanya.

Mengapa ini rasanya sakit?

*

*

Sofia berkali-kali mengecek ponsel pintar miliknya, berharap kalau-kalau ada pesan masuk dari Satria yang sudah seminggu ini tak menelfonnya. Terakhir kali, pria itu mengirimkan pesan kemungkinan dia takan sempat mengabarinya karena urusan pekerjaan yang lumayan padat Minggu ini.

Perempuan itu menghela napasnya dalam. Kembali mengalihkan perhatiannya ke komputer di depannya. Memasukkan data-data member fitnes tempatnya bekerja.

"Mbak," suara berat memanggilnya.

Sofia mendongak. Seorang kurir menaruh buket bunga berukuran besar di meja resepsionis.

"Iya?" Sofia dengan suara ramah.

"Ada kiriman bunga untuk ..." kurir tersebut membaca kartu yang terselip di buket. "Mbak Sofia, benar ada nama ini yang bekerja disini?" tanya kurir tersebut.

Sofia terhenyak. "Iya, saya sendiri."

"Oh, .. kebetulan. Ini mbak." sang kurir menggeser buket tersebut ke dekat Sofia yang agak terkejut.

"Iya." jawabnya, dengan tatapan melongo.

"Saya permisi, mbak." kurir itu segera pergi setelah Sofia menandatangani tanda terima. Sementara orang yang dituju masih terdiam dengan tatapan tidak percaya.

"Wah, ... ada yang ngirim bunga. Buat siapa ya?" Disty, salah satu teman satu sift nya yang baru saja menyelesaikan tugasnya membereskan alat-alat fitnes.

Gadis 25 tahun itu meraih kartu ucapan yang terselip, melihat dan membaca tulisannya.

"Ya ampun!! Teteh diam-diam punya pacar ternyata!!" katanya, setengah berteriak. Membuyarkan lamunan Sofia.

"Heuh?" perempuan itu menoleh, merebut kartu ucapan dari tangan Disty yang bertuliskan 'i love you, have a great day.'

"Pacar teteh namanya Niko? aih ... romantisnya!!!" pekik gadis itu. "Orangnya yang mana? kok aku belum pernah ketemu sih?" mulai kepo.

Sofia masih mengumpulkan akal sehatnya yang berlarian entah kemana. Ini pertama kali dalam hidupnya mendapat kiriman bunga seperti ini. Dari orang yang tak diduga sama sekali.

"Ih, dasar curang. Gak pernah kelihatan gandeng cowok, tau-tau ada yang ngirim bunga aja."

"Mmm ... aku, itu ..." Sofia bingung sendiri. Bagaimana cara menjelaskannya?

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari Papi Niko, nama kontak Satria sekarang.

Sofia segera meraih ponsel, dan berlari ke toilet untuk menerima panggilan. Nenutup pintunya rapat-rapat, takut ada yang mendengar.

"Halo?" Sofia dengan suara bergetar menahan gugup.

"Fia?" suara bariton yang seminggu ini dirindukannya.

"Iya?" Sofia dengan jantungnya yang berdebar tak karuan.

"Bunganya sudah sampai?" tanya Satria dari seberang sana.

"Udah, pih." Sofia tergagap. "Papi yang kirim?" pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulutnya.

Satria terdengar mendengus. "Memangnya sudah berapa orang yang mengirimi kamu bunga hari ini?" terdengar Geraman dari nada suaranya.

Sofia menepuk keningnya, menyadari kebodohannya.

"Nggak, maksudnya ..."

"Sudah berapa orang yang mengirimi kamu bunga?" Satria mengulangi pertanyaannya. Kali ini nada suaranya naik satu oktaf.

"Ng ... nggak ada, pih." Sofia dengan suara lemah. Nyalinya menciut begitu saja. Takut mendengar kemarahan dalam suara Satria di seberang sana.

"Yakin?" tanya Satria.

"Ya-yakin, pih." Sofia tergagap.

"Kamu bohong?"

"Nggak. Nggak ada yang ngirim bunga hari ini." Sofia menggelengkan kepala, seolah-olah pria itu dapat melihatnya di kejauhan sana.

"Berarti sebelumnya suka ada yang mengirimi kamu bunga?" Satria salah faham.

"Nggak!" perempuan itu hampir berteriak. Agak kesal sebenarnya, bagaimana caranya bicara dengan pria yang tengah menelfon nya ini.

"Fia cuma tanya, baneran papi yang kirim bunga? Soalnya memang nggak pernah ada yang ngirim bunga kesini buat Fia." ucapnya, menerangkan.

"Menurut kamu?" Satria malah balik bertanya.

"Aih ..." perempuan itu memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.

"Kamu tidak membaca tulisan di kartu ucapannya?" tanya Satria lagi.

"Baca." jawab Sofia, bersandar pada dinding toilet.

"Apa bunyi tulisannya.?" Satria, terdengar mengejek.

"Mmm ..." Sofia ragu-ragu.

"Fia?" Satria memanggil,

"Iya pih?"

"Bunyi tulisannya apa?" ulang Satria.

"I ... love you. Have a great day, ..." jawabnya, pelan.

Suara tawa Satria pecah di seberang sana. Tawa yang renyah, seolah pria itu telah menemukan hal lucu untuk di tertawakan.

"Ih ... malah ketawa?" gumam Sofia, kesal.

Lama pria itu tertawa hingga Sofia sempat menurunkan ponsel itu dari telinganya, perasaan malu menghinggapi hatinya. Wajahnya semerah tomat juga memanas.

"Fia?" Satria yang telah puas menertawakan kekonyolan dirinya sendiri. Dengan sisa tawa yang terdengar berusaha ditahannya.

"Fia?" panggilnya lagi.

"Iya pih?" jawabnya, masih dengan perasaan malu.

"Kamu mau ikut?" tanyanya, membuat Sofia mengerutkan dahinya.

"Kemana?" perempuan itu mengetuk-ngetuk tabung air closset disampingnya kanannya.

"Ke Bunaken." jawabnya, membuat Sofia membulatkan matanya hingga penuh. Mulut kecilnya menganga.

"Kapan?" tanyanya, bersemangat.

"Kita berangkat Jum'at sore." jawab Satria.

"Berapa hari?" tanya Sofia lagi.

"Satu Minggu?" Satria terdengar menahan tawanya lagi.

"Papi serius? nggak kelamaan?" seakan tidak percaya.

"No."

"Ng ..." Sofia berpikir.

"Aku tidak menerima penolakan kamu tahu?" ujar Satria, setengah mengintimidasi.

"Fia lagi nyari alasan buat ayah sama ibu."

Satria terkekeh. "Aku sudah menelfon mereka tadi pagi. Dan bilang kalau kamu harus pergi ke Jakarta Jum'at ini untuk pembukaan cabang gymnasium yang baru."

"Serius? Ih, papi bohong!!" Sofia tergelak.

"Oke, aku akan menelfon mereka lagi dan bilang kalau kamu pergi ke Bunaken untuk menemani aku." ucap Satria lagi.

"Jangan!!" Sofia berteriak. "Alasan yang tadi juga boleh." katanya lagi.

Satria kembali terkekeh, "Oke. Jum'at siang pak Amir jemput kamu, ya.?" Satria meyakinkan.

"Iya." Sofia mengangguk, lagi-lagi bersikap seolah pria di seberang sana dapat melihat apa yang dilakukannya.

"Oke. See u." Satria mengakhiri percakapan.

"Oke, papi." Sofia hampir menutup telfon sebelum akhirnya Satria kembali memanggil.

"Fia?"

"Iya pih?" kembali menempelkan ponsel di telinganya.

"Hati-hati, dan ... i love you." katanya, kemudian langsung mematikan telfon, sementara Sofia membeku dengan mulut mengaga.

*

*

Bersambung ...

like

koment

vote,!!

1
Adeeva Haboo
tenang ada didim,ada daryl sama darren..
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
meninggalkan jejak sek
Adeeva Haboo
setelah puyeng ma emaknya nanti puyeng ma anaknya double pula puyengnya atas bawah 🤣🤣🤣
Adeeva Haboo
ahhh kang jaheeeee
Adeeva Haboo
kangeeeen maaa
Borahe 🍉🧡
Kasian banget si Papa Bear saking paniknya jd kek org bodoh😁
Borahe 🍉🧡
Sabar Fan🙈🤣🤣
Borahe 🍉🧡
Salting 😋
Borahe 🍉🧡
Hahah lucu banget 🤣🤣🤣. Dari dapam kandungan sampai gede anak Satria merepotkan Om Arfan terus🙈😂😂.
Borahe 🍉🧡
Fan Fan. Lucu banget. Calon mertua mu itu Fan di 10 thn yg akan dtg😂😋
Borahe 🍉🧡
Sengaja banget terbar pesona🙄😂
Borahe 🍉🧡
betul fan🙄
Borahe 🍉🧡
tak ada yg luput dari pantauan om Arfan😁
Borahe 🍉🧡
plek ktiplek dgn kisah anaknya🤣ternyata story turunan
Borahe 🍉🧡
Fia gak pernah mens ya🙊🙈. Bercocok tanam mulu
Borahe 🍉🧡
selama masih muda si papi gak pernah pacaran hanya sibuk kerja jd saat ketemu Fia udah kek anak ABG yg baru merasakan cinta cintaan😋😂😂
Borahe 🍉🧡
Calon mertua mu Fan 😁
Borahe 🍉🧡
Salah satu kalimat spesial Papi ke Pasangannya. "Berkat doa kamu saya selalu sehat"😍 sweet banget kalimatnya
Borahe 🍉🧡
kata andalan si Papi. "Move" 😋
Borahe 🍉🧡
Back again. Sesuka itu bacanya🙊😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!