NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elvy Anggreny

Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.

Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.


Bagaimana kisah selanjut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Tentang uang yang selalu di kirimkan Dewi pada Ayah "

Semua terdiam......

Mariam dan kakak laki-lakinya membeku mendengar itu. Mereka tau jika itu adalah perbuatan ibu mereka.

"Kak gimana ni ?" Bisik Mariam pada kakaknya, terlihat kakak Mariam dengan raut wajah yang gelisah. Dia juga salah satu yang ikut menikmati semua uang kiriman Dewi.

Randi menatap Mariam, ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanya pada istri keduanya.

"Temui saya di samping rumah ibu, ada yang ingin saya tanyakan" Randi mengirimkan pesan pada Mariam

"Ya kak...jam sembilan malam aja ya "

"Baiklah "

"Baiklah, kita selesaikan masalah ini malam ini. Kita tunggu ibu, biarkan mereka beristirahat sebentar " Kata adik laki laki Dewi.

Dan tepat pukul tujuh malam, di rumah ibu Mariam.. mereka sudah duduk berkumpul.

Ibu Mariam sudah tau jika dia akan di tanya, jika ada suaminya dia yakin anak anak tirinya tidak akan mengusik tentang uang ataupun tentang Mariam dan Randi.

Sementara di samping rumah Randi dan Mariam sedang duduk berdekatan, hanya mereka berdua.

"Dek... apakah bener yang di katakan kakak kamu kalau Dewi nggak mengirimkan uang pada ayah? "

"Saya nggak tau juga, ibu yang tau gimana tentang uang itu kak" Jawab Mariam mengelak

"Syukurlah kalau kamu nggak tau, saya nggak mau kamu juga ikut campur urusan orang tua kamu "

"Lagian ngapain kak Randi peduli dengan uang yang di kirim kan Dewi? nggak ada pengaruhnya kan sama kak Randi?"

"Nggak seperti itu dek, karena saya tau Dewi nggak pernah terlambat mengirimkan uang bulanan untuk orang tua kita"

"Atau kak Randi takut Dewi di salahkan? Jangan bilang kak Randi punya perasaan sama Dewi?"

"Kamu ngomong apa sayang, itu nggak mungkinlah. Kamu tau sendiri kan saya menikahi Dewi karena om Irwan sudah memohon mohon agar menerima permintaan nya untuk menikahi kakakmu itu dengan persyaratan jika dalam dua tahun pernikahan kami Dewi nggak hamil. Saya bisa menikah dengan kamu. Karena ayah kamu tau, wanita yang saya cintai itu kamu dek. Saya sempat menolak ketika di jodohkan sama Dewi. Entah apa lagi yang di janjikan ayahmu pada ibu saya sampai ibu juga ikut memaksa saya harus nikah sama Dewi" Jelas Randi

"Jadi kak Randi nggak pernah cinta sama Dewi kan?" Tanya Mariam.

"Ah..ya...ya.. engg...nggak sayang, dia nggak bisa ngasih saya anak. Dewi itu mandul. Dia nggak mungkin punya anak lagi. Mungkin yang di katakan Rani sama Reni bener. Dewi udah minum obat pencegah kehamilan " Kata Randi lagi sedikit gugup.

Tanpa mereka tau, di balik pohon tempat mereka duduk Dewi mendengarkan semua pembicaraan mereka. Ponsel Randi yang di tangan Dewi bergetar karena tangan Dewi gemetar. Dewi marah, Namum dia masih ingin mendengar apa yang di katakan sepasang suami istri itu.

"Kak.. ayah kan udah nggak ada. Kenapa kakak nggak ceraikan dia aja? Lagian apa gunanya sih kakak sama dia, toh dia mandul kan ?" Kata Mariam

Cerai? Dewi terpaku mendengar itu.

"Nggak... nggak.... saat ini bukan ini yang saya mau saat ini Ya Tuhan. Saya nggak mau Rama mengambil anak anak saya. Rama nggak akan berani mendekati anak anak kalau ada Randi. Jangan sekarang Tuhan " Guman Dewi denga suara tercekat.

Tatapan Dewi masih terpaku pada dua sosok yang sedang membicarakan dirinya tanpa mereka sadari bahwa Dewi mendengarkan semua pembicaraan mereka.

Randi diam tidak menjawab kata kata Mariam, Randi terpaku menatap rerumputan yang di injaknya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Menceraikan Dewi ? Kata kata itu juga terus berputar putar dalam kepala Randi. Bayangkan Rama yang pernah bicara dengan Dewi membuat Randi semakin tidak tenang.

Ini gila.!

"Kenapa saya nggak rela berpisah sama Dewi? Harusnya ini kesempatan saya menceraikan dia dan hidup bahagia bersama Mariam. Tapi kenapa berat sekali....?" Batin Randi

Mariam juga terus menatap Randi yang terdiam.

"Saya nggak mungkin tertarik padanya, saya mungkin hanya lelah hingga merasakan perasaan seperti ini. Itu saja, Dewi nggak lebih dari wanita yang saya nikahi karena permintaan om Irwan dan karena dia memiliki semua fasilitas yang saya inginkan " Batin Randi lagi.

"Kak Randi..kak...kakak kenapa?" Mariam mengguncang tubuh Randi.

"Ahh kenapa dek ?"

"Kenapa diam, kakak nggak mau menceraikan Dewi ya?"

"Dek... Kenapa nggak kita nikmati dulu semua fasilitas dari kakak kamu itu. Toh dia juga nggak tau tentang kita. Soal bercerai itu gampang, setelah kamu hamil saya akan menceraikan Dewi. Kehamilan kamu nanti kan nggak bisa di sembunyikan dari siapapun "

"Iya kak..kakak bener. Tadi kakak diam bengong gitu. Saya pikir kakak nggak mau tinggalin Dewi "

"Oh.. hahaha itu mungkin kakak kecapean aja, Ya udah kita ke dalam. nggak enak kita hilang bersamaan. Ntar Dewi curiga dek "

Dewi juga segera berlalu dari tempat itu..

"Kakak takut banget ya di lihat sama Dewi ngobrol berdua sama saya ?" Kata Mariam merajuk lagi.

"Dek... nggak seperti itu, sekarang masih suasana duka di rumah kamu. Nanti pulang dari sini baru kita bicarakan lagi ya ?" Bujuk Randi.

"Ya kak, ya udah yuk masuk kak" Mereka berdua segera masuk ke rumah Mariam.

Sementara Dewi terus memperhatikan Randi dan Mariam.

"Kamu sudah membuat pilihan untuk menikmati semua uang dan fasilitas yang saya punya kak Randi, sekarang saya juga membuat pilihan. Saya akan memanfaatkan kamu sebagai ayah dan suami " Batin Dewi

"Saya nggak akan menangis, saya sudah tau kalau pernikahan ini karena permintaan ayah. Saya yakin tujuan ayah dulu agar orang-orang tidak memandang hina saya dan kedua anak saya. Tapi justru kalian memanfaatkan saya " Batin Dewi lagi

Dewi memandang semua orang yang ada dalam ruangan itu, Dewi juga bisa melihat tatapan mata Jack yang terus menatapnya.

"Sekarang di sini, saya sebagai saudara laki-laki Dewi. Saya akan bertanya pada Dewi. Apa bener kamu mengirimkan uang pada Ayah?"

"Setiap bulan dek " Jawab Dewi

"Beberapa minggu yang lalu, ayah pernah mengatakan ingin membeli obat dari salah satu temannya. Dan menurut ibu saya obat itu sangat bagus. Ayah menyuruh kita mengumpulkan uang. Uang yang terkumpul itu sudah lebih dari cukup. Tapi Dewi juga mengatakan dia baru saja mengirimkan uang untuk Ayah lima juta "

"Lima juta?" Jawab beberapa saudara Dewi yang lain dan Dewi hanya mengangguk.

"Jumlah uang itu lebih dari cukup sebenarnya, ibu itu bagaimana? Tanya adik laki laki Dewi yang bernama Jemi kepada ibu sambungnya ibu Mariam

"Karena setelah Dewi mengirimkan uang itu, mau pesan tapi obat itu juga sudah habis "

"Bukannya saat ayah mengatakan mau membeli obat herbal itu kita semua sedang mengumpulkan uang juga Bu ?" Tanya Jemi menatap istri kedua ayahnya.

"Ya... Iya, tap.. tapi kata Ayah kalian tunggu uang kiriman Dewi aja" Jawab ibu Mariam terbata bata

Terdengar helaan nafas dari Jemi dan beberapa orang dalam ruangan itu, mereka sudah tau yang sebenarnya terjadi

"Jadi selama ini, Dewi mengirimkan uang untuk Ayah kan Bu? Itu aja yang kami ingin tau " Kata Jemi lagi.

"Iy...iya... Dew..Dewi sel..selalu mengirimkan uang untuk Ayahnya kok " Jawab ibu Mariam dengan kata kata yang terputus-putus.

"Tapi ibu malah menyalahkan Dewi, kita semua juga menyalahkan Dewi atas kematian Ayah " Kata Jemi adik sambung Dewi.

"Kamu nggak harus menyalakan ibu kami Jemi, Selama ini ibu yang mengurus ayah " Jawab salah satu kakak kandung Mariam.

"Apa ada yang mendengar saya menyalahkan ibu? Ibu kalian ? Saya hanya bertanya karena selama ini apapun tentang ayah,kami selalu tau belakangan ?" Kata Jemi lagi

Semua terdiam..

"Saya hanya mau bertanya tentang uang itu, untuk hal lain. itu urusan ibu dan anak anak ibu. Saya pamit, Bu.. Ayo pulang " Kata Jemi berlalu pergi.

"Jem... Besok pagi-pagi sekali saya dan anak anak langsung pamit pulang" Kata Dewi, Jemi menatap cukup lama wajah Dewi. Ada rasa bersalah pada Dewi. Ada banyak yang ingin dia katakan namun sekali lagi. Jemi mengingat pesan ayahnya agar membiarkan Dewi tau semua sendiri dan mengambil keputusan sendiri.

"Baiklah, Sebagai adik mungkin saya nggak pernah melakukan hal yang seharusnya di lakukan seorang adik pada kakaknya. Saya mewakili ayah hanya bisa meminta maaf untuk semuanya kak.. " Jemi tidak bisa mengatakan semua tentang Randi dan Mariam. Jemi sudah berjanji pada ibunya untuk tidak ikut campur dalam masalah itu.

Dewi hanya mengangguk...satu persatu mereka semua pergi meninggalkan rumah ibu Mariam.

Dewi melihat ibu mertuanya dan kedua anaknya sedang bicara dengan ibu Mariam. Dewi tidak ingin mendekat.

"Kak... Ini ponsel kakak, saya tadi keluar ingin memberikan ponsel kakak tapi sepertinya kakak sedang bicara serius sama Mariam. Saya nggak jadi ke sana kak "

Randi terpaku mendengar Dewi mengatakan dia melihat dia dan Mariam sedang bicara.

"Ka.. kamu ken.. kenapa nggak langsung kasih ke saya aja sayang?" Tanya Randi

"Oh nggak kak, sebelum ke sana saya di panggil sama Jemi " Jawab Dewi beralasan.

"Oh baiklah lah sayang, hummm...saya masih di sini sama ibu dan kak Rani, Reni dan Jack ya sayang"

Dewi hanya mengangguk dan berlalu pergi, Jack terus menatap kepergian Dewi. Jack merasa kasihan pada Dewi. Dia tidak pernah tau ternyata sejahat itu saudara saudara Dewi selama ini.

"Nak... kamu nginap di sini saja ya sama istri kamu. Tidur lah di rumah ibu mertua kamu nak " Kata ibu Mariam.

Randi diam...

Keesokan paginya, Randi ke rumah ibu Dewi namun Dewi dan kedua anaknya sudah pergi tanpa menunggu Randi. Mereka kembali ke rumah mereka di kota.

Bu Martini mengatakan kalau pemilik mobil sudah menyuruh mereka kembali. Dia ingin menggunakan mobil nya juga.

"Dewi nggak ngomong apa-apa Bu?" Tanya Randi pelan.

"Nggak nak, Nak Dewi cuman bilang kalau pemilik mobil udah suruh membawa pulang mobilnya"

Tubuh Randi terasa lemas sekali, dia berbalik masuk kedalam dan menuju kamar di mana kamar itu adalah kamar masa remaja Dewi.

Randi menatap foto Dewi semasa SMA dulu dan Randi melihat ada satu lagi foto di belakang foto Dewi. Randi menarik foto itu.

Randi diam menatap foto yang di ambilnya. Randi tidak suka foto itu di sana. Dia merobek foto itu..

Foto Rama......

.

.

.

.

Bersambung

Juga lupa tinggalkan jejak ya readers 😘 😘

1
Aliya Awina
pasti Jack yg lewat
Aliya Awina
betul2 keluarga Firaun
Aliya Awina
takut ketahuan konon tpi gak bisa klu gak deket dasar laki laki munafik kau rendi
Aliya Awina
keturunan konon macam saja kau org kaya
sudahlah miskin belagu pulak tuh
Aliya Awina
gimana ceritanya dorang bilang klau si Dewi mandul sudah jelas2 Dewi sudah perna melahirkan 2 kali malah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!