menjalani hidup sebagai seorang siswa dan sebagai istri di usia yang masih terbilang sangat muda ada lah pantangan tersendiri bagi Almira Larasati namun ia harus menjalankan walaupun hati kecilnya menolak namun karena ingin mendengarkan jantung nenek yang ada di tubuh orang yang akan di nikahi nya ia bersedia menikah muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qiang ifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa gugup di mobil
Pesawat landing dengan sempurna di bandara Soekarno Hatta. Abi terus merangkul Amira dengan mesra, di tempat ternyaman mereka.
"Tidurnya nyenyak banget, kalau gak bangun kita ke penerbangan selanjutnya." ucap Abi berbisik yang kemudian mengigit daun telinga Amira.
"Yah ,kalau aku sih gak masalah, cuman anak bawel ini bakal lama bertemu dengan papa dan mama." ucap Abi yang kemudian mencium puncak kepala Amira
"Hem em." dengungan Amira sambil menggeliat.
"Kita di mana pak." tanya Amira mengerjapkan matanya.
"Di bandara." sahut Abi membereskan beberapa barang nya.
"Masih ngantuk." tanya Abi melihat Amira yang masih bersandar pada lengan nya.
"Gak juga sih." berdiri sambil merentangkan kedua tangan nya.
Melihat baju Amira sedikit terangkat, Abi dengan sigap menahannya.
"Mau di liatin ke siapa." protes Abi yang langsung menarik tangan Amira.
...Gak bakal kelihatan juga kali. gumam Amira menatap bajunya...
Amira mengikuti Abi, pandangan nya luas menatap bagian kelas ekonomi sidah kosong.
Sementara para pramugari yang berkumpul tersenyum pada mereka sambil memberikan ucapan.
"Sampai jumpa kembali di penerbangan selanjutnya." ucap beberapa pramugari tersenyum dengan sopan.
Amira mengangguk, atas ucapan itu. Sementara Abi hanya cuek, dan terus menggenggam tangan Amira.
"Pak, kalau gak salah ingat, waktu di bandara singapore kayaknya kelas bisnis deh yang lebih dulu turun, kenapa di sini beda." tanya Amira sambil mengingat.
"Em." sahut Abi cuek, mai merangkul tubuh Amira.
"Coba ingat dulu." pinta Amira sambil berfikir.
"Em." Abi semakin mengeratkan rangkulan nya di tubuh Amira.
"Jawab dulu." pinta Amira kali ini dengan nada kesal.
"Kamu mau aku jawab apa." tanya Abi memperhatikan wajah Amira
"Bapak ingat kan, waktu di bandara Singapore kalau kelas bisnis tuh lebih dulu turun." sahut Amira sedikit berkata dengan penekanan.
"Ia sayang." sahut Abi mengelus bibir Amira sejenak.
"Kenapa di sini beda." tanya Amira lebih lanjut.
"Kamu mau tahu." ucap Abi yang langsung di anggukkan Amira.
second time ago on the plane
Beberapa menit lalu saat di pesawat, yang akan lepas landas, Amira masih tidur lelap, sampai landing sempurna di bandara. Pramugara menyapa mereka karena semua kelas bisnis sudah turun lebih dulu.
"Maaf, apakah ada sesuatu." tanya pramugara memastikan.
"Istri saya hamil muda, dan mood nya sangat jelek, bisa tunggu sebentar lagi sampai dia bangun." ucap Abi memberikan amplop pada pramugara itu.
Pramugara terlihat bingung dan menanyakan pada pihak yang bertanggung jawab, setelah itu kembali dengan jawaban diberikan izin. Abi menatap jam nya setelah beberapa saat, lalu mulai membangunkan Amira setelah 30 menit.
Abi menjelaskan bagian besar nya pada Amira.
Amira tak percaya dengan apa yang di dengar nya, memukul lembut lengan Abi yang tersenyum padanya.
"Ya ampun pak, berapa uang yang bapak kasih." tanya Amira penasaran
"Cih, aku kira kamu khawatirnya sama aku." sahut Abi menatap kesal
"Bapak kan bisa bangunin aku, ngapain ngsih mereka uang." protes Amira tak percaya.
"Gak usah khawatirin uang nya, aku kaya, punya uang banyak. Jadi bisa sogok mereka." sahut Abi berjalan ebih dulu.
"Yah, tapi gak gitu juga kali." protes Amira mengejar abi.
Mobil yang menjemput mereka pun sudah ada di depan, Abi langsung menggenggam tangan Amira lagi, membuka pintu lalu menyuruh Amira masuk.
"Oh ia, tadi bapak telfon sama siapa." tanya Amira mendengar percakapan sekilas.
"Sama papah." sahut Abi malas
"Papa nyuruh pulang." tanya Amira memastikan
' Ia, oma hari ini ingin bertemu kamu, makanya baru suruh pulang." sahut Abi.
'Oh, pak, nanti singgah di toko oleh oleh yah.' ucap Abi pada supir.
'Oma ulang tahun, kamu juga sekalian beli buat bapak sama ibu, kita berkunjung ke sana besok." ucap Abi yang langsung membuat Amira memeluk setengah lengan Abi.
"Makasih yah pak." mengelus lengan Abi dengan kepalanya.
"Mau gimana balasnya kebaikan aku." Abi memegang dagu Amira hingga mereka berdua saling tatap.
"Bapak gak iklas." sahut Amira menatap mata hitam Abi.
Ucapan Amira membuat Abi menghembuskan kasar nafasnya.
Setelah itu tak lagi bertanya, bahkan sampai di tempat khusus oleh oleh. Abi tak mau turun dan hanya menyuruh sopir, Amira juga tak di bolehkan turun.
"Tadi nyuruh, sekarang malah gak di kasih turun." singgung Amira kesal.
"Bapak kenapa sih." gerutu Amira tak mau melihat Abi.
Amira terus menerus berucap, dan Abi fokus pada iPad nya, sambil mendengarkan Amira . Tak lama panggilan masuk di ponsel Abi berdering.
'Diam dulu yah, aku angkat telfon." ucapan Abi tak di hiraukan Amira
'Hak mau." sahut Amira memangku tangan.
Abi meraih dagu Amira lagi, lalu ******* lembut bibir itu, sehingga Amira diam. Namun, menatap wajah Abi yang barusan menyuruh nya diam. Hingga suara ponsel itu berhenti, Abi dan Amira masih lanjut dengan aktifitasnya.
Kali ini Amira tidak menampar Abi, nyaris tak ada penolakan apapun. Namun, mata Amira menangkap sosok sang sopir yang terlihat keluar dari toko oleh oleh. Amira memukul lembut lengan Abi agar dirinya berhenti. Abi menarik diri perlahan, telinga nya merah, menatap Amira lalu mengelus bibirnya lembut.
Pak sopir masuk ke mobil, Amira merasa gugup seperti telah melakukan kejahatan, namun Abi terlihat sangat tenang. Kembali menatap iPad nya.
Pak sopir tersenyum mantap mereka dari spion tengah. Menancap gas melaju di jalanan menuju rumah Malendra. Abi terus menggenggam tangan Amira, sepanjang jalan, fokusnya tetap pada iPad di tangan sebelahnya. dan Abi selalu mengelus halus tangan Amira.
Jangan jadi pembaca yang seperti hantu yah, tinggalin jejaknya donk, butuh support nih, yang udah mampir terimakasih