mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: tubuh naga abadi
Langit di Timur Laut mulai gelap, awan hitam menggulung di atas gunung berbentuk rahang naga yang mematikan. Di bawahnya, Lin Xieng berdiri, tubuhnya diselimuti oleh aura naga merah keperakan yang bersinar-sinar di malam hari. Ia melangkah dengan tegas, namun di dalam hati, masih terbayang percakapan dengan Yufei dan kakek pencari jamur yang misterius.
“Gerbang Kedua… Gerbang Abadi… di sana mungkin ada jawaban lebih banyak,” gumam Lin Xieng, matanya terfokus pada jurang yang menganga di depannya, di mana rahang naga raksasa tampak menunggu.
Tapi saat ia melangkah lebih dekat, kakinya terhenti oleh suara langkah yang terlalu ringan, tidak sesuai dengan suasana yang penuh ketegangan ini.
“Lin Xieng, aku harap kamu tidak terlalu serius… kamu bisa mati kalau terus-terusan menyeringai begitu.”
Lin Xieng berbalik, hanya untuk melihat Chu Qingli berdiri di belakangnya, matanya penuh kebingungan. Wanita itu mengenakan gaun pejuang dengan jaket kulit, dan sikapnya, meskipun tenang, menunjukkan bahwa dia selalu siap dengan segala hal yang datang—termasuk terjangan komedi dadakan yang selalu ia bawa.
"Apa maksudmu? Aku serius," jawab Lin Xieng sambil menyipitkan mata, berpura-pura tidak tertarik pada kedatangannya.
“Oh, aku yakin,” jawab Chu Qingli dengan nada sinis, sambil melangkah mendekat. “Tapi senyum lebar di wajahmu itu… seperti sudah makan cokelat batangan tanpa rasa khawatir.” Ia tertawa pelan, meski sedikit nakal.
Lin Xieng mendengus. “Kamu tidak perlu datang ke sini untuk mengganggu, Qingli. Aku tidak butuh bantuan.”
"Ah, siapa bilang? Aku sudah dengar bahwa kamu bisa membutuhkan ‘bantuan’ untuk melewati rintangan ini. Lagipula, siapa yang tidak ingin ikut mencari warisan naga?"
Lin Xieng hanya bisa tertawa pelan, meski hatinya tidak sepenuhnya merasa ringan. “Kenapa kamu benar-benar ingin ikut? Kau tahu bahwa ini bukan perjalanan yang biasa, kan?”
Chu Qingli menggoda, “Siapa yang bilang ini bukan perjalanan yang menyenangkan? Kita bisa berdebat tentang ke mana harus pergi—meskipun kamu sudah jelas tidak bisa melakukannya tanpa aku.”
Lin Xieng tidak bisa menahan senyumnya yang mulai merekah, meski ia mencoba menutupinya dengan tegas. “Selesaikan masalah ini duluan, lalu kita bicara soal lainnya.”
Tiba-tiba, sebuah gemuruh datang dari dalam tanah. Lin Xieng terkejut, namun ia cepat menyiapkan diri. Namun, Chu Qingli malah tertawa terbahak-bahak. "Dengar, itu hanya seekor monster atau batu besar yang jatuh, jangan terlalu khawatir!"
“Apa?” Lin Xieng menatapnya bingung.
“Benar-benar terlalu serius. Sesekali tertawa dan sedikit santai tidak ada salahnya, kan?” jawab Chu Qingli, dengan senyum penuh kepercayaan diri.
“Boleh juga, ya,” jawab Lin Xieng sambil mengangkat alis, mencoba menurunkan ketegangan sejenak.
Ketika gemuruh itu mulai mereda, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju rahang naga yang terbuka lebar, di mana Gerbang Kedua menunggu. Seiring berjalannya waktu, aura mereka semakin mendalam. Lin Xieng merasa tubuhnya dipenuhi kekuatan, namun di sisi lain, perasaan aneh mulai menyeruak. Ada ketegangan yang berbeda dari sebelumnya—lebih kepada sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan.
---
Di dalam gua yang dipenuhi dengan sisa-sisa naga kuno, Lin Xieng mengangkat pedangnya, bersiap untuk bertarung. Tiba-tiba, gerakan dari belakang membuatnya terkejut.
“Kamu… benar-benar ikut?”
Chu Qingli berdiri dengan tatapan serius. “Aku tahu kamu kuat, Xieng. Tapi aku sudah ikut dari awal. Lagipula, jika kamu mati, siapa yang akan mengurus masalah kita?”
“Apa kamu pikir aku tak bisa mengurus diri sendiri?” Lin Xieng mencoba menahan tawa.
“Tidak, aku tahu kamu bisa,” jawabnya dengan santai, lalu senyumnya melunak. “Tapi… Aku sudah terlalu terikat dengan petualangan ini untuk berhenti sekarang.”
Lin Xieng menatapnya, matanya mencerminkan kebingungan yang samar. "Qingli… kamu selalu membuat semuanya terasa begitu ringan, padahal kenyataannya…”
“Kenyataannya kita bisa mati kapan saja? Iya, aku tahu. Tapi kenapa kamu tidak mencoba menikmati sedikit kebersamaan kita? Lagipula, kita bisa melakukan hal yang jauh lebih besar bersama.”
Lin Xieng terdiam. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, dia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar misinya. Sesuatu yang lebih lembut, lebih manusiawi. “Jangan beri aku alasan untuk… merasa berbeda,” bisiknya.
Chu Qingli tersenyum tipis. “Aku tak akan memberimu alasan apapun. Kita hanya perlu terus berjalan. Itu sudah cukup.”
---
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya berdiri di depan Gerbang Kedua—sebuah pintu raksasa berbentuk naga yang tertutup rapat. Suasana di sekitarnya dipenuhi dengan aura gelap yang sangat kuat, namun di antara mereka berdua, sebuah rasa kebersamaan terbangun perlahan.
“Ini dia,” ujar Lin Xieng dengan tegas. “Saatnya membuka gerbang ini.”
Chu Qingli menyentuh bahunya dengan lembut. "Ayo, Xieng. Kita buka ini bersama. Ini milik kita."
Lin Xieng mengangguk, perasaan berat kini mulai berubah menjadi lebih ringan. Dengan satu gerakan, mereka mengaktifkan gerbang itu, membuka jalan menuju rahasia yang lebih besar.
Namun, di balik gerbang itu, sebuah bayangan menunggu mereka. Sebuah tantangan yang belum mereka siap hadapi.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣