✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)
Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?
✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)
Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?
___
Semoga novel ini satu selera denganmu 😊
Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~
Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan Langka
1 minggu lebih Zack melakukan perjalanan bisnis dan malam ini baru saja sampai di Casa Felise. Selama di luar kota Stella setiap hari selalu mengekori kemana pun dirinya pergi. Bahkan Stella datang dari jauh sampai menyewa sebuah kamar di hotel yang sama dengannya.
Hingga di Casa Felise pun Stella masih tidak berhenti. Zack sudah jenuh melihat tingkah Stella yang semakin hari semakin tidak mau mendengarkannya. Untuk yang kesekian kalinya Zack mengusir Stella kembali, tetapi perkataannya masih tidak digubris. Stella masih berkeras hati mengikuti seperti seorang penguntit.
"Aku tidak akan pergi."
Stella menarik dasi yang menggantung di leher Zack. Membuat wajah mereka mendekat dan bibir saling bersentuhan. Zack mengkernyitkan alis dan segera melepaskan ciuman sepihak itu. Kesabaran sudah habis karena ulah Stella yang berani melakukan hal yang tidak diinginkannya.
Plak..
Tamparan mendarat di pipi Stella dan pelakunya adalah Ainsley. Tanpa sepengetahuan mereka ternyata Ainsley telah menyaksikan apa yang sedang terjadi barusan. Ainsley yang tadinya akan memasuki Casa Felise tidak sengaja melihat Zack bersama wanita yang pernah datang ke apartemen.
Ainsley cemas jika terjadi pertengkaran yang sama seperti waktu itu. Kecemasan itu mengundangnya untuk melangkah ke tempat Zack berada. Namun tidak pernah diduga ternyata sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ainsley mendapat pemandangan yang sama sekali tidak ingin dilihat olehnya. Hatinya seakan hancur berkeping-keping.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?! Aku masih butuh waktu untuk melupakanmu. Ini tidak mudah bagiku." menggigit bibir yang bergetar menahan tangis.
Zack meraih pergelangan tangan Ainsley untuk menghentikan langkah yang akan pergi meninggalkannya. Tanpa sadar Zack sudah mencengkram kuat tangan itu, sehingga membuat Ainsley meringis kesakitan dan meminta untuk dilepaskan.
Tiba-tiba seseorang yang lain ikut andil dalam pertengkaran. Lewis yang tadinya berniat menunggu sampai Ainsley benar-benar masuk ke Casa Felise juga tidak sengaja melihat Zack. Situasi di mana Ainsley menampar seorang wanita membuat Lewis harus turun dari mobil.
Zack dan Lewis saling memandang marah satu sama lain. Sekian lama sudah tidak bertemu, akhirnya sekarang dipertemukan kembali dalam situasi yang tidak menyenangkan. Zack adalah suaminya Ainsley, sedangkan Lewis adalah orang yang menyukai Ainsley.
Awalnya Lewis akan menyerah setelah melihat kemesraan Ainsley dan Zack di konferensi pers. Saat itu Lewis berpikir bahwa mereka berdua sangat mencintai dan hidup bahagia sebagai sepasang suami istri. Tidak ada celah dan keberanian untuk Lewis merusak kebahagian itu.
Namun yang Lewis lihat sekarang lain. Ternyata rumah tangga yang menurutnya bahagia, tidak seperti yang dibayangkan. Pertengkaran dan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Ainsley sudah bisa menjelaskan jika Ainsley tidak bahagia berada dalam hubungan yang mana hanya Ainsley lah yang berharap.
"Aku berubah pikiran. Aku tidak akan menyerah." melepaskan cengkraman tangan Zack.
Kedatangan Lewis yang tiba-tiba sudah membuat Zack geram. Apalagi mengetahui bahwa Ainsley memiliki hubungan dengan Lewis, orang yang tidak pernah disukainya.
Menghindari perdebatan semakin panjang, Ainsley membawa Lewis pergi bersamanya. Setelah jauh baru lah Ainsley menumpahkan tangisannya. Lewis yang melihat kepedihan itu memeluk Ainsley. Membiarkan Ainsley meluapkan rasa sakit itu dalam pelukannya.
Lewis menawarkan untuk tinggal di rumahnya sampai perasaan Ainsley membaik, karena jika tetap pulang dan bertemu dengan pria yang membuat pertengkaran itu hanya akan menabur garam di atas luka. Ainsley akan semakin sakit lagi nantinya dan Lewis tidak ingin Ainsley merasakannya.
Ainsley menggeleng menolak tawaran Lewis. Masalahnya sekarang adalah tanggung jawab dirinya dan juga Zack. Ainsley tidak ingin melibatkan orang lain di dalam masalah pernikahannya. Walaupun sangat sakit, tetapi Ainsley memilih untuk bertahan menghadapinya.
Setelah hati sedikit tenang baru lah Ainsley pulang. Di depan pintu apartemen sudah ada Zack yang menanti kedatangannya. Ainsley ingin mengabaikan, tetapi sekali lagi pergelangan tangannya dicengkram. Kali ini cengkraman itu begitu lembut dan tidak menyakitinya.
Zack menyuruh Ainsley untuk duduk menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian Zack datang dengan kompres di tangan. Kompres itu diletakkan di pergelangan tangan yang tadinya dicengkram kuat olehnya. Sambil mengompres Zack mengatakan bahwa kejadian tadi tidak seperti yang Ainsley bayangkan.
Melihat sikap Zack yang menjaga perasaannya membuat Ainsley sangat marah. Seharusnya Zack tidak perlu melakukan itu. Sikap Zack sekarang seolah sedang mengasihani dirinya dan membuatnya terlihat seperti orang ke-3 di antara hubungan Zack dan wanita bernama Stella.
"Kau bisa saja berbuat hal yang lebih dengannya di belakangku. Bukankah itu sangat menyenangkan? Lalu kenapa menjelaskannya pada orang yang bukan siapa-siapa untukmu?"
Ainsley bangkit dan pergi ke kamar. Di kamar tangisan tidak bisa dibendung lagi. Ainsley melepaskan semua kesedihan kembali. Sedangkan Zack duduk mematung di lantai. Kompres yang dipegangnya tidak berpengaruh apa-apa sebagai permintaan maaf. Padahal Zack tidak pernah berpikir menjadikan Stella sebagai tempat untuk menyakiti Ainsley.
Keesokan harinya Robin memberi kabar buruk. Kejadian kemarin telah menghebohkan pemberitaan. Berbagai macam asumsi bermunculan. Mereka menganggap Zack sudah berselingkuh dengan wanita lain. Stella dituduh sebagai orang ke-3. Satu lagi yang menjadi berita besar adalah Ainsley berselingkuh dengan Lewis.
"Aku sudah tau ini pasti akan terjadi. Untuk sekarang fokus saja dengan pelanggan. Suruh James dan Alvin untuk menghapus berita mengenai aku dan Ainsley."
"Baiklah, tuan. Tetapi suara tuan terdengar berbeda. Apa tuan tidak apa-apa?"
Zack memang tidak sehat pagi itu. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa panas. Zack terkena demam setelah pulang bekerja kemarin. Robin yang mendengar kalau Zack sakit, mengusulkan untuk membawanya ke rumah sakit atau membiarkan Ainsley mengurusinya. Akan tetapi Zack menolak dan menyuruh Robin membawakan obat saja untuknya.
***
"Kejadian kemarin sangat memalukan dan juga menyedihkan. Bagaimana bisa aku menampar Stella dan meneriaki Zack? Biar bagaimanapun Zack sudah memberi aku waktu untuk melupakannya, tetapi aku saja yang keras kepala menyimpan rasa ini untuknya." bergumam sendiri.
5 menit kemudian..
"Haah.. Tidak mungkin Stella akan menikah dengannya, bukan? Mereka tidak saling mencintai, bukan? Aku tidak ingin dimadu dengan wanita sepertinya." wajah mencium buku.
Ainsley yang kala itu sedang belajar di hari libur, tiba-tiba mendengar bel berbunyi membuat aktifitasnya terhenti. Ainsley menoleh ke lantai atas. Tidak ada suara atau pergerakan apa pun. Ainsley berpikir jika Zack sudah pergi bekerja.
Orang yang membunyikan bel adalah Robin. Pagi itu Robin datang membawa 2 bingkisan. Robin mengatakan isi dari bingkisan itu adalah obat dan bubur. Ainsley bertanya mengapa Robin membawakan semua itu untuknya, padahal dirinya tidak sakit.
"Ini untuk tuan, nona."
"Kenapa kau membawanya kemari?"
Ainsley mengernyit sebelum sadar akan sesuatu. Jika Robin membawa obat itu ke apartemen berarti Zack ada di rumah dan jika obat itu bukan untuknya berarti untuk Zack. Setelah tercerna dengan baik, baru lah Ainsley mengambil bingkisan itu dan mengatakan pada Robin bahwa dirinya lah yang akan memberikannya langsung.
Bergegas Ainsley mendatangi kamar di lantai atas. Ternyata benar Zack masih terbaring di sana. Lantas Ainsley menghampirinya dan memeriksa bagaimana kondisi Zack saat itu. Wajah pucat, suhu tubuh panas, dan keringat yang banyak. Sudah seperti itu Zack masih tidak pergi ke rumah sakit.
Kalau sudah seperti itu Ainsley lah yang harus merawat Zack. Pertama Ainsley akan menurunkan suhu tubuh. Baru setelah itu memindahkan bubur ke dalam mangkuk, menatanya rapi di atas meja beserta obat dan minuman. Sampai nanti ketika sudah bangun Zack tinggal menandaskannya saja.
Ainsley mencelupkan handuk kecil ke dalam air yang sudah diambilnya tadi, lalu memeras airnya. Kompres itu diletakkan kembali ke kening Zack. Saat mengompresi tidak sengaja Ainsley melihat dinding di hadapannya. Sebuah foto berukuran besar memenuhi satu sisi dinding. Terlihat Emily sedang tersenyum di sana.
Seketika Ainsley berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari dinding tersebut. Matanya melebar dan detak jantungnya tidak secepat tadi. Langkahnya mundur setelah mengetahui foto Emily berada di sana, yang mana mengartikan jika Zack masih tidak bisa melupakan Emily.
Ainsley memukul-mukul dadanya. Kenyataan bahwa tidak akan pernah ada ruang untuknya membuat dadanya sangat sesak. Ainsley sadar jika dirinya hanyalah seseorang yang sedang berharap dibalas perasaannya.
Namun hari ini membuatnya sadar jika sampai detik ini, semua yang dilakukan Zack hanyalah untuk Emily. Wajar saja Zack menolaknya karena masih mencintai Emily dan Zack tidak punya perasaan apa-apa padanya. Hanya dirinya lah yang berharap terlalu banyak.
Ainsley beranjak ke kamarnya. Mengambil ponsel dan menghubungi Robin. Perasaannya telah membuat dirinya melenceng dan Ainsley ingin memperbaikinya. Biarlah perasaan yang dirasakannya pada Zack terkubur dalam-dalam. Mulai detik ini Ainsley akan menjadi istri seperti yang seharusnya. Bukan lagi menjadi seseorang yang mencintai suaminya.
Pernikahan tidak boleh berhenti sampai di sini. Ainsley harus fokus menemukan misteri tentang kematian Emily yang belum terpecahkan. Hal itu lebih penting ketimbang harus memikirkan perasaannya. Jika Zack melakukan semuanya demi Emily, maka Ainsley juga akan begitu.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Robin bahwa Stella yang lebih dulu bermain api, Ainsley bertekad untuk menyelesaikan masalah berita itu. Dibantu oleh Robin yang mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk meredamkan situasi. Ainsley menghadiri sebuah acara televisi untuk mengklarifikasi kejadian kemarin.
"Saya yakin nona pasti bisa!" menyemangati Ainsley.
Ainsley menghirup dan menghembuskan napasnya perlahan. Berusaha menyingkirkan perasaan takut pada orang-orang yang akan dihadapinya nanti. Melepaskan cengkraman di baju dan menggantinya dengan kepalan tangan. Ainsley sudah bertekad dan Ainsley sudah siap.
Nama Ainsley pun dipanggil dan diminta memasuki panggung. Para penonton bertepuk tangan menyambut kedatangan Ainsley. Sedangkan Ainsley tidak berhenti menampilkan senyuman ramah pada semua orang. Ainsley duduk di tempat yang sudah disediakan.
Sebelum pertanyaan dimulai, Ainsley memperkenalkan diri terlebih dahulu. Mereka yang mendengar menganggukkan kepala. Dari mereka ada yang sudah tau setelah melihat video konferensi pers dan ada pula yang baru tau siapa Ainsley. Setelah itu tepuk tangan kembali diberikan.
Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan. Diawali dengan pertanyaan umum mengenai bagaimana kehidupan Ainsley dan Zack di rumah. Seperti apa sebenarnya orang yang bagi mereka terkenal misterius itu dan bagaimana pertemuan yang diakhiri dengan pernikahan itu terjadi.
Ainsley menjawab semuanya tanpa ragu. Mengatakan bahwa Zack adalah orang yang baik dan selalu melindunginya dari segala masalah. Bahkan Ainsley juga mengatakan bahwa Zack seperti anak kecil. Hal itu mengundang tawa bagi semua penonton yang menyaksikan.
"Beruntung sekali tuan Zack bisa mendapatkan istri pengertian seperti anda." ujar pembawa acara setelah itu tertawa.
Pertanyaan selanjutnya adalah inti dari pertemuan. Membahas tentang topik yang menjadi perbincangan hangat saat ini yaitu kejadian kemarin ketika Ainsley menampar Stella. Mereka semua sangat menantikan penjelasan dari Ainsley.
"Ah, saya baru saja menikmati acara wisuda bersama teman-teman saya dan salah satunya adalah pria yang kalian lihat di dalam video itu."
"Jadi berita yang mengatakan bahwa anda berselingkuh dengan Lewis itu tidak benar?"
Ainsley menggeleng, lalu mengatakan, "Lewis adalah teman saya."
"Lalu ada juga berita yang menyebutkan kalau suami anda berselingkuh dengan Stella. Mereka juga tertangkap beberapa kali di luar menghabiskan waktu bersama, bahkan juga mereka berciuman. Padahal di konferensi pers tuan Zack menyebutkan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman kerja. Sebenarnya mana yang betul?"
Ainsley tertawa sebelum menjawab pertanyaan yang mana paling sulit untuk dijawabnya. Di antara Zack dan Stella, dirinya harus memilih salah satu. Mengakui yang sebenarnya akan membuat karir Stella runtuh, sedangkan jika Ainsley menolak mengakui berarti Zack lah yang berada diambang kesulitan.
"Saya baru sadar jika suami saya sangat menarik di mata para wanita."
Para penonton dan pembawa acara ikut tertawa. Dalam tawa itu mereka mencerna bahwa perkataan Ainsley sudah menunjukkan jika Stella lah yang menjadi orang ke-3. Apa yang dikatakan Ainsley barusan memang ada benarnya. Stella dikenal sebagai model yang centil selama ini. Bukan tidak mungkin jika Stella mendekati pemilik perusahaan terkenal itu.
"Wah, terima kasih banyak sudah hadir di acara kami. Saya tidak mengira jika anda adalah orang yang ramah." menjulurkan tangan.
Ainsley terdiam sejenak memandangi uluran tangan itu sebelum menjabatnya. Ainsley tidak mengira kalau semuanya tidak sesulit yang dibayangkan. Mereka semua yang ada di sana tersenyum padanya. Sungguh pemandangan langka yang tidak pernah didapatkan.
Pertemuan diakhiri dengan tepuk tangan. Ainsley menenangkan diri setelah keluar dari panggung. Mengusap-usap dadanya seakan telah berhasil bebas dari kegugupan. Sedangkan Robin tertawa kecil sembari menyodorkan sebotol minuman.
"Nona sudah melakukan yang terbaik. Keadaan menjadi lebih baik sekarang."
"Ini semua juga berjalan lancar berkat bantuanmu, Robin. Kau sudah menjelaskan situasi yang sebenarnya padaku."
Di sisi lain Zack yang baru saja bangun meraih handuk kecil yang menempel di dahi. Tidak tau siapa yang mengompresinya. Di meja nakas juga sudah ada obat dan semangkuk bubur. Zack masih berpikir jika semuanya Robin yang melakukannya.
Drrt.. Drrt..
Robin yang menelepon saat itu, mengabarkan padanya jika Ainsley sudah menenangkan situasi dengan cara tampil di sebuah acara televisi. Zack memarahi Robin lantaran membiarkan Ainsley melakukan hal tersebut seorang diri. Namun jawaban yang didapat setelah itu adalah karena Ainsley bersikeras.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?