Akibat menolak menjadi istri kedua dari atasanya yang merupakan kakak kelasnya dulu. Adifa, gadis berusia 25 tahun. Yang bekerja di perusahaan transportasi di pelabuhan Tanjung Priuk, harus menerima jika ia di mutasi, dari sebagai staff administrasi, menjadi seorang Korlap, atau Koordinator Lapangan. Jabatan yang sembilan puluh sembilan persen di lakukan oleh seorang pria.
Akankah Adifa bertahan dari pekerjaanya karena begitu banyak cobaan ketika ia menghadapi para supir? Atau justru menerima tawaran menjadi istri kedua dari mantan kakak kelasnya? Namun, keputusan Adifa itu justru mempertemukanya dengan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirga Mode Waras
Disaat Dirga sedang menemui tamunya, Adifa memilih pergi tak perduli Dirga memintanya untuk menunggu. Akan kemana? Adifa juga tidak tahu akan kemana kakinya melangkah. Kata-kata manis Dirga tak menggoyahkan hatinya yang beku karena kesalahanya sendiri tak mampu menjaga hatinya.
Ya, Adifa lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri atas kehancuran hatinya.
"Dif." Adinda menahan bahunya saat berpapasan di depan pintu, Adinda baru tiba di kantor. "Kamu kenapa?" tanya Adinda heran kenapa Adifa tidak menyapanya, dari wajah Adifa yang kacau Adinda bisa menebak jika sahabatnya sedang ada masalah. Karena Adinda belum mengetahui apa yang menimpa sahabatnya beberapa waktu lalu karena Adinda baru kembali dari kampung halaman ibunya.
Adifa hanya melirik Adinda sekilas. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, kemudian memilih melangkah keluar menuju parkiran karena tadi Dirga sudah mengatakan tidak memberinya izin lagi menjadi korlap.
Menyadari ada yang aneh dari sahabatnya, Adinda segera meletakkan tas dimejanya. Adinda yang melihat Dirga sedang sibuk dengan tamunya menyusul sahabatnya.
"Dif kamu mau pulang? Nggak kerja?" tanya Adinda bertanya dengan memegangi pundak Adifa yang sudah menyalakan sepeda motornya.
Adifa hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Adinda mencabut kunci motor Adifa. "Kamu nggak boleh kemana-mana dalam keadaan kayak gini, Dif. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Adinda tegas juga khawatir.
Adifa menatap sahabatnya dengan mata yang mulai di genangi cairan tipis yang langsung dipeluk oleh Adinda.
"Please maafin aku karena nggak tahu masalah kamu. Kita ke kantin sebentar yuk," ajaknya kemudian karena Adinda tahu pasti disana sepi dijam sibuk seperti sekarang sehingga bisa untuk mereka berdua bercerita.
Adifa menurut, ia mengikuti langkah Adinda menuju kantin. Mereka duduk saling berhadapan di meja panjang itu.
"Cerita ke aku, Dif. Apa yang terjadi? Apa pak Dirga nyakitin kamu lagi? Atau dia maksa kamu buat nikah sama dia lagi secara sekarang dia sudah jadi duda keren." Tebak Adinda asal sebab melihat Adifa keluar dari ruangan Dirga. Toh setahu Adinda memang Dirga yang selalu mengganggu hidup Adifa, tak terpikirkan jika yang membuat sahabatnya seperti ini adalah Mahawira. "Kalau memang pak Dirga ngelakuin itu lagi dan kamu nggak mau, ayo kita resign sama-sama, kita berkelana lagi cari kerja."
Adifa menatap mata Adinda, dia tahu jika Adinda sama seperti dirinya yang merupakan generasi sandhwich yang mana harus memenuhi kebutuhan keluarga yang sebenarnya masih menjadi tanggung jawab orang tua. Tidak mungkin menumbalkan Adinda karena masalahnya? Tapi Adifa masih berat untuk membuka suara.
Karena Adifa tak juga menjawab, Adinda kembali berujar. "Dif, kita emang bukan sahabat dari kecil, kita berteman dari semasa kuliah aja. Meski begitu, Aku cukup mengenal kamu selama ini, setiap ada masalah kamu nggak serapuh ini, Dif. Kamu marah-marah, kamu ngoceh nggak jelas ngeluarin semua unek-unek kamu. Tapi kalo kamu kayak gini, itu menunjukkan kalau kamu lemah. Kamu udah biasa kan nolak pak Dirga, kenapa mendadak selemah ini sih? Atau dia ada ngancam kamu?" Lagi-lagi Adinda menebak asal. "Kalau dia ada ancam kamu kita viralin aja ke lambe curah. Jadi kamu jangan takut, kita pasti di bela deterjen."
Mendengar ocehan Adinda Adifa jadi menitikkan air mata yang sejak kemarin begitu sulit untuk ia tumpahkan. Adifa merasa di sayangi oleh sahabatnya.
Adinda memeluk tubuh Adifa menepuk-nepuk punggungnya lembut.
"Menangislah, nggak papa. Menangis bukan berarti kamu lemah, justru kalau kamu kayak tadi itu menunjukkan kalau kamu itu rapuh. Tapi kamu nggak boleh lama-lama begini. Kita ini wanita pejuang yang selalu menunggu hari keberuntungan itu datang. Meski sekarang kita melakukan kesalahan yang membuat kita menyesal, kita harus cepat-cepat bangkit karena yang membuat hidup kita berarti bukan orang lain melainkan kita sendiri. Dan ingat semboyan kita, kita nggak boleh terlihat lemah karena ada orang yang tertawa terbahak melihat keterpurukan kita." Dukungan dari Adinda ini membuat Adifa sedikit merasa lega dan semangatnya yang hilang perlahan hidup lagi.
Dirga yang baru saja mengantar tamunya keluar melihat itu dari jauh. Helaan nafas keluar dari bibirnya.
"Andai sejak dulu kamu menerima ku Adifa, kamu tidak akan merasakan kisah cinta yang berbelit-belit seperti ini. Kamu tidak akan merasakan luka dan sakit karena aku akan selalu membuat mu bahagia."
Tapi heranya dia tidak bisa mendapatkan Adifa hingga saat ini, tapi setelah bercerai dengan Diana, Dirga tidak akan melepaskan Adifa lagi. Perjalanan cintanya sudah terlalu panjang dan melelahkan, Dirga harus mendapatkan Adifa bagaimana pun caranya.
* * *
Karena tak lagi diizinkan Dirga menjadi korlap, akhirnya Adifa kembali bekerja menjadi staff Administrasi memakai pakaian rapih dan formal. Blazer yang dipadupadankan kemeja didalamnya, sangat cantik membuat Dirga betah berlama-lama mencuri pandang Adifa dari dalam ruanganya.
Adifa ini aneh memang, terpaksa menjadi staff karena nyaman menjadi korlap, padahal menjadi staff kantor itu jauh lebih enak, tapi daripada menganggur lebih baik dijalani saja karena belum tentu setelah ia resign bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Sudah sebulan setelah Mahawira menghilang dari hidupnya, Adifa perlahan bisa melupakan laki-laki itu, ya meski terkadang masih mengingat momen manis yang susah dilupakan, tapi Adifa harus cepat moveon.
"Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, aku doakan dia mendapat karmanya," ujar Adinda setelah Adifa mengaku. Perempuan jika berteman seperti itu, yang satunya disakiti, pasti doanya yang buruk-buruk.
Sudah pasti kembalinya Adifa ini membuat karyawan yang lain bertanya-tanya, namun Adifa menulikan telinganya mendengar desas desus tentang dirinya yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga Dirga, melihat bagaimana Dirga seperti mengistimewakan Adifa. Tapi Adifa acuh, buat apa dia memikirkan hal yang bukan kesalahanya? Adifa sudah kembali pada dirinya yang dulu, cuek, tidak ingin memikirkan cinta-cintaan, yang ada dipikiranya, kerja, kerja, kerja, dapat uang.
Adifa keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk berjalan menuju ruang tamu. "Ngga, beliin Kakak handbody sachetan yang seribuan donk di warung bu Lina. Beliin lima ribu, pake duit kamu duli, nanti Kakak ganti." Suruhnya pada Angga.
"Nggak mau." Tolak Angga.
Adifa sudah mau marah, wajahnya yang tadi tertutup rambutnya menatap galak pada adiknya, matanya melotot melihat sosok Dirga yang tersenyum padanya. Sejak kapan Dirga ada dirumahnya?
"Bapak kok ada disini?" tanyanya ketus. Ini diluar kantor, Adifa tak bisa hormat pada laki-laki itu meski Dirga atasanya yang tidak disadari Adifa jika Dirgalah yang menggajinya untuk menyambung hidup. Tapi heranya ini yang membuat Dirga tergila-gila padanya, wanita jutek yang susah didekati. Membuat penasaran.
"Kakak kok nggak sopan sama atasanya? Dia kan atasan Kakak." Tegur Kinan muncul dari belakang Difa membawa segelas es teh untuk Dirga.
Difa merotasikan mata malas, jadi Dirga memperkenalkan dirinya sebagai atasan agar dihormati orang tuanya? Tapi laki-laki itu memang atasanya.
"Silahkan di minum, Pak Dirga. Maaf kalau Adifa tidak sopan," ujar Kinan sungkan.
"Terimakasih, Bu," ujar Dirga. "Tidak apa-apa, karena saya yang meminta Adifa untuk bersikap biasa saja ketika di luar jam kantor karena kami ini alumni sekolah yang sama," terang Dirga melirik Adifa.
"Oh ya? Satu angkatan."
"Tidak, Bu. Adifa empat tahun dibawah saya. Dulu kan SMA saya dengan SMP Adifa satu sekolah."
Cukup lama Dirga mengobrol dengan Kinan, bisa saja laki-laki mengambil hati ibunya, karena merasa bosan mendengar obrolan basa-basi Dirga, Adifa beranjak hendak ke kamarnya.
"Bu, saya izin ingin mengajak Difa keluar, boleh?" Ucapan Dirga membuat Adifa menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Dirga.
"Oh, boleh. Silahkan." Kinan memberi izin kemudian menatap Adifa. "Nak, kamu siap-siap gih biar Pak Dirga nggak nunggu kelamaan."
Adifa menghela nafas, hendak menolak sudah pasti mamanya memaksa. Tak ingin berdebat, Adifa masuk ke kamar dan berganti pakaian. Tak lama Adifa keluar dengan tampilan sangat santai, kaos lengan pendek dan celana jeans.
* * *
Ternyata Dirga mengajak Adifa makan di sebuah restoran, laki-laki itu minta ditemani Adifa makan malam, tak malu mengajak Adifa meski penampilan gadis itu biasa saja.
"Aku senang lihat kamu ceria lagi, Dif." Dirga melirik Adifa yang duduk dihadapanya. Dirga sangat senang pastinya karena bisa mengajak Adifa jalan berdua.
"Bapak jangan modus-modus lagi datang kerumah kayak tadi dan izin sama mama saya, belum tentu saya mau lagi diajak keluar seperti ini." Adifa langsung memperingati Dirga. "Saya cuma mau hidup tenang, kerja dan gajian." Nggak lebih, hanya itu yang Adifa inginkan.
Belakangan papapanya sudah memberi uang belanja untuk mamanya juga uang sekolah Angga. Jadi Adifa tak mau yang muluk-muluk dalam hidupnya.
Dirga tersenyum, tak ada sakit hati sama sekali. "Kenapa? Kamu trauma dekat sama laki-laki?" Tebak Dirga menaikkan sebelah alisnya.
Adifa tak menjawab, diam menunduk.
"Aku tahu, Difa. Melupakan seseorang yang belum dimiliki memang lebih menyakitkan daripada melupakan seseorang yang sudah pernah dimiliki." Kata-kata Dirga ini sangat menohok Adifa. Apa itu juga yang dirasakan laki-laki itu? Ah, mana mungkin. Dirga laki-laki tanpa berperasaan. "Tapi bukan berarti kamu menutup hati untuk orang lain, Difa. Andai sejak dulu kamu menerima aku untuk menjadi kekasih kamu. Kita tidak akan merasakan sakit yang sama, tapi mungkin memang sudah takdirnya, kita harus menyecap luka yang sama dulu baru bisa bersama, selamanya."