Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.26.Hari pertama masuk kantor.2
🏚️ Kediaman Wilson🏚️
" Tuan apakah anda tidak sarapan lagi..? Tanya Rania, saat melihat Suaminya akan langsung bepergian, tanpa mengkonsumsi apapun dipagi hari
" Bagaimana aku bisa sarapan pagi, sementara waktuku sudah habis untuk kau mencarikan dasi buatku. Jawabnya, sembari mendengus kesal.
" Maafkan aku Tuan.." Jawabnya, dengan membingkai senyuman kecil, diwajah cantiknya.
" Ayo Tuan, kita berangkat sekarang. Karena pagi ini, kita ada rapat dengan para pemegang saham. Karena mereka sudah tau, kalau anda yang akan memimpin rapat pagi ini." Ajak Jhon, pada Tuanmudanya.
" Ya sudah, ayo kita pergi sekarang.."
Rania hanya terdiam di tempat, saat melihat kepergian Suaminya, ia terus menatap Henri yang telah melangkahkan kakinya, bersama sekretarisnya menuju pintu utama.
Menghentikan langkah kakinya, saat akan melangkah keluar melewati pintu.
" Ada apa Tuan..?, apakah ada yang tertinggal..?" Tanya Jhon, dengan menatap bingung Tuanmudanya.
Henri membalikkan badannya, dan menatap Rania yang menatapnya dari kejauhan.
" Mau sampai kapan kau berdiam disitu, apakah kau tidak mau mengantar Suamimu sampai Kepintu?, dan mengucapkan hati - hati di jalan Suamiku." Bertanya, dengan menatap kesal istrinya.
Seketika senyuman kecil langsung terukir dibibi, sebab ia mengira Henri sama sekali tidak menginginkan, ia mengantarnya sampai ke pintu.
" Tentu Tuan aku mau." Jawabnya, dengan begitu bersemangat, sembari melangkahkan kaki menuju pintu.
Saat sampai di pintu utama, ada suasana sedikit canggung di antara mereka berdua. Jhon yang sudah menyadari keadaan, seketika berpura - pura menghindar.
" Tuan, aku akan duluan kemobil." Pamitnya, dengan berlalu meninggalkan Rania, dan Henri.
" Baiklah "
Setelah perginya Jhon, Rania tersenyum menatap Suaminya.
" Hati - hati Tuan, cepatlah pulang aku menunggumu." Serunya tersenyum, dengan mengecup singkat bibir Suaminya.
Tersenyum, saat mendapat kecupan singkat dari Suaminya.
" Tentu, aku akan cepat pulang kalau pekerjaanku sudah selesai, dan ingat kalau mau kemana - mana kabari aku. Kalau tidak aku akan membuat hutang - hutangmu bertambah banyak.
' Tentu Tuan.."
Henri segera berjalan kearah mobil, sebab ia harus segera kekantor.
" Hati - hati Tuaan..." Teriak wanita cantik itu, dengan melambai - lambaikan tangannya, saat mobil sudah berlalu keluar dari kediaman Wilson.
**********
Saat berada didalam mobil, Jhon hanya tersenyum, saat melihat Tuan mudanya, terus menyunggingkan senyuman dibibirnya.
" Hari ini sangat indah bukan Jhon..!" Serunya, dengan membuka kaca mobil, dengan tatapan melihat pemandangan pagi hari Kota London.
" Kalau kita sedang jatuh cinta, semua pasti akan terasa indah Tuan..." Jawab Jhon tersenyum, dengan terus melajukan mobilnya.
Raut wajahnya berubah serius, saat mendengar ucapan sekretarisnya.
' Siapa yang kau maksudkan sedang jatuh cinta Jhon?, apakah kau menyindir diriku Jhon..!" Bertanya, dengan volume suara mulai meninggi.
" Ma, maafkan aku Tuan.Yang ku maksudkan adalah Ana, Tuan, dia menceritakan kalau kita sedang jatuh cinta, semuanya terasa indah Tuan.."
" Benarkah..?" Bertanya, dengan senyuman kecil diwajah tampannya.
" Kenapa anda tidak jujur saja Tuan, kalau anda sedang jatuh cinta dengan Nona Rania."
" Ana membicarakan apalagi padamu Jhon..?" Tanya Henri, yang terlihat begitu penasaran.
Jhon hanya tersenyum, saat mendengar pertanyaan Tuanmudanya.
" Ana bilang, kalau kita menyukai seseorang, kita harus segera mengungkapkannya Tuan, kalau tidak orang itu bisa saja di ambil orang, atau mungkin dia akan pergi meninggalkan kita Tuan." Seru Jhon, dengan berusaha menahan tawanya.
Seketika wajah Henri terlihat begitu kesal, saat mendengar ucapan sekretarisnya.
" Siapa bilang dia akan pergi meninggalkan aku, hutangnya saja sangat banyak pada. Dan jika dia pergi, aku akan membuat hutangnya jadi 10 kali lipat, ehh tidak -tidak, 20 kali lipat, agar dia tidak bisa membayarnya." Timpalnya, dengan raut wajah terlihat begitu kesal.
" Apakah yang di maksud anda, adalah Nona Rania Tuan..?"
" Siapa bilang dia Jhon, kau kan tau banyak orang yang meminjam uang padaku, cepatlah kau ingin kita terlambat apa, kau lupa kalau pagi ini aku akan memimpin rapat." Titahnya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Dia larut dalam lamunannya, memikirkan Rania istrinya.
" Apakah dia akan pergi meninggalkan aku, coba saja dia pergi, aku akan membuatnya tidak bisa melunasi hutang - hutangnya." Bathin Henri, dengan senyum devilnya.
*********
Setelah menempuh perjalanan selama duapuluh menit ditengah kemacetan Kota Londin, tiibahlah mereka di sebuah gedung bertingkat , dengan interior yang begitu mewah.
Henri turun, saat Jhon sudah membuka pintu mobilnya, pria tampan itu menurunkan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya.
Ia mendongakkan kepalanya, menatap gedung pencakar langit miliknya, yang berinisial WG. Seulas senyuman tersungging di bibirnya, hingga tak terasa setetes air mata lolos begitu saja, dari kedua pelupuk matanya, karena mengira tidak akan kembali memimpin perusahaan miliknya.
" Ayo Tuan kita masuk.." Ajak Jhon, pada Tuanmudanya.
" Ayo " Jawab Henri, dengan langsung melangkahkan kakinya, menuju kedalam perusahaan.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.