Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silence
"Maaf, Aaron, siapa?" tanya Dalton pada wanita tua yang telah tertunduk kaku di hadapannya. Bagaimana tidak kaku, jika Dalton menatapnya dengan tatapan tajam penuh selidik
Ia sedang menyamar sebagai Bryan, dan berpura-pura tidak tahu seakan nama itu asing di telinganya. Padahal mendengar nama Aaron saja masih terbayang tentang perlakuan sadis pada Ayahnya hari itu.
"Maaf saya salah orang," ucap Nancy.
Wanita itu membungkuk dan masih dengan kepala menunduk tak berani mendongakkan kepalanya apalagi untuk menatap Dalton. Terlebih ia takut pada Nyonya besar di rumah itu, kemudian ia pamit pergi ke belakang.
Nyonya besar memakluminya, tetapi tidak bagi Dalton. Ada hal yang ditutupi oleh Nancy. Pembantunya yang sudah menua itu masih terlihat menyembunyikan gelagat aneh.
"Silahkan diminum Tuan Bryan," ucap Mery, Mamanya Victoria.
"Baik, terima kasih," Dalton lalu meminum teh hangatnya.
"Hemm permisi, dimana toiletnya?" tanya Dalton pada Mery setelah menyesap teh hangatnya beberapa tegukan.
"Lurus saja nanti setelah melewati dapur bersih kau belok ke kiri," jawab Mery sembari menunjukkan jalan
"Terimakasih," Dalton beranjak dari duduknya
Mata Dalton sambil terus berkeliling mengamati rumah besar Joe Stewart. Rumah besar tanpa sekat dinding, hanya bersekat bufet kecil sebagai penyekat ruang tamu dan ruang keluarga, lalu ruang keluarga bisa melihat ruang makan serta halaman kecil diluar karena tidak ada dekat apapun di antaranya. Lalu dapur bersih berada dibelakangnya. Akses yang bagus untuk menempatkan sebuah benda kecil yang di sebut Spy Camera.
Ia berjalan sesuai arahan Mery, sembari menempelkan Spy Camera berbentuk bundar kecil yang bisa ditempelkan di berbagai sudut. Kecanggihan luar biasa ini Dalton dapatkan dari temannya yang bernama Andi Sudirman, orang Indonesia yang sangat cerdas yang kini sedang bekerja di kepolisian Nevada bagian tim penyidik
Ia menempelkannya di berbagai sudut, di sisi lukisan, di dekat tanaman, jendela dapur dan lorong kamar Mandi.
Sebenarnya Dalton ingin melihat aktifitas yang berhubungan dengan Joe Stewart yaitu dikamar atau ruang kerjanya. Namun Dalton tidak memiliki akses kesana.
Ketika Dalton melewati dapur, mata Nancy terus mengawasinya. Wanita tua itu yakin seratus persen dengan penglihatannya dan dibenarkan oleh perasaannya. Ia pun cepat-cepat mengambil memo, kemudian menuliskan sebuah pesan sambil sesekali melihat sekelilingnya.
Sreeek
Nancy merobek kertas memo yang berisi pesannya melipatnya menjadi kecil dan menggenggamnya. Lalu ia melangkah dengan langkah kaki kecil namun dalam tempo cepat. Meski terlihat tua namun Nancy masih bisa berjalan dengan gesit.
Nancy menunggu Dalton di depan pintu kamar kecil. Seperti sebuah patung yang diam tanpa bergerak. Dan tidak ada pergerakkan selama beberapa menit.
Begitu Dalton keluar dari kamar kecil, ia hampir berteriak keras karena sosok Nancy yang diam mematung di dinding dekat pintu kamar kecil mengejutkan dirinya
"Ahh...!" teriak Dalton hampir berteriak keras
"Astaga, Nancy.... kau...,"
Belum sempat Dalton meneruskan ucapannya Nancy langsung mengambil tangan besi Dalton. Ia ingin memberikan kertas yang dilipat. Tapi Dalton dengan cepat melepaskan tangan Nancy yang sempat bersentuhan dengannya.
Kertas yang terlipat kecil tersebut malah terjatuh ke bawah. Nancy yang sempat bersentuhan dengan tangan Dalton pun membatin, "Tangan besi?"
Seketika Nancy teralihkan, dan lupa beberapa detik soal catatan kecil yang terjatuh.
"Maaf Saya tidak terbiasa menyentuh seseorang, terlebih kita adalah asing," sahut Dalton
"Hmm Saya...," Nancy melihat tangannya yang tidak menggenggam apapun.
"Mana sobekan tadi?" batin Nancy
Lalu ia melihat di lantai sekitarnya, tetap tidak ada. Pandangan matanya kini beralih ke arah lantai sebelumnya.
"Dia mencari apa?" batin Dalton seraya mengernyit.
"Kertas itu... " Nancy bergumam
Ia kemudian menelusuri kembali jalan sebelumnya , seperti seakan dirinya sedang pikun.
Dalton menggelengkan kepala karena sikap Nancy. Kemudian, ia melangkah menuju ruang tamu. Tetapi pada saat yang bersamaan, kakinya seperti menginjak sesuatu yang menonjol. Dalton mengangkat sepatunya, ada lipatan kertas disana.
Segera ia memungut sobekan kertas tadi dan membaca isi pesannya kemudian raut wajahnya mengartikan lain, mempersembahkan senyuman nakal.
Dalton mengantongi sobekan kertas itu dan segera kembali ke tempatnya.
Victoria sudah berada di ruang tamu, ia duduk disana bersama Mamanya dengan balutan dress sepanjang paha, memperlihatkan keseksian tubuhnya pada bagian Dada yang tertutup sebagian. Dalton menatapnya beberapa detik sambil membatin, "Dada Megan lebih besar dari itu.. ahh aku merindukannya,"
Namun yang di pikirkan Victoria berbeda, ia menangkap arti dari cara pandang Dalton, jika pria itu tertarik pada tubuhnya.
"Kau lama sekali ke kamar kecil, apa kau nyasar?" tanya Victoria
"Tidak... aku hanya grogi saja berhadapan dengan wanita cantik sepertimu," ucap Dalton berusaha mengalihkan perhatian Victoria dengan rayuannya.
"Haha... kau bisa saja,"
"Tuan Bryan sangat tertarik dengan putriku rupanya," Mama Victoria tersenyum
"Hmm makanannya sudah siap, kita langsung ke ruang makan saja yuk," ajak Victoria.
Kemudian mereka makan malam dan perbincangan hanya seputar bisnis.
Setelah itu, sang Mama sengaja mengundurkan diri untuk memberikan ruang yang lebih besar pada tamunya hingga Victoria bisa leluasa berbincang lebih panjang dan makin lebih dekat dengan Bryan yang tak lain adalah Dalton.
"Hmm bagaimana kalau kita berpindah, ke kamar ku misalnya," tawar Victoria
"Kamar?" tanya Dalton memastikan
Seharusnya dia senang karena bisa menaruh Spy Camera disana, tetapi Dalton membuat alasan lain.
"Sejujurnya aku ingin membicarakan hal serius pada orang tuamu dan mengajaknya berbisnis ke bisnis yang lebih besar dan menguntungkan," ucap Dalton
"Ayahku sedang ada pertemuan di club," Victoria berbicara sambil melihat kaki Dalton
Dia menyentuh kaki Dalton dari bawah hingga paha dan menuju ke area privat dengan ujung kakinya.
Dalton meremang, bulu kuduknya berdiri. Lantas ia berdehem dan mengusap lehernya.
"Ehemm, sepertinya itu terlalu cepat," ungkap Dalton
"Haha apa yang cepat?" Victoria menatapnya dengan tatapan menggoda, senyum dimaniskan dan ia berdiri dari duduknya kemudian mendaratkan bokongnya tepat di atas paha Dalton.
Satu tangan Victoria melingkar ke belakang leher Dalton dan tangan kanannya menyentuh rahang Dalton yang memiliki bulu-bulu tebal membuat pria itu terlihat lebih macho.
Kemudian tanpa basa-basi Victoria ingin mengecup bibir Dalton.
"Victoria," suara pria yang lebih besar mengejutkan Victoria. Dan Dalton memiliki alasan untuk memundurkan tubuh Victoria dan menjauh sedikit darinya.
"Ayah..." sahut Victoria
"Kau dan Bryan?...." tanya Joe Stewart meminta kejelasan Victoria, karena wanita itu masih duduk di pangkuan Dalton
Victoria pun berdiri dan salah tingkah.
"Oh iya Ayah, dia ingin bertemu denganmu," ucap Victoria tak menjawab pertanyaan Ayahnya malah melempar perkataan lain.
"Hmm benar Tuan Joe Stewart, saya ingin membicarakan bisnis pada Anda," ucap Bryan
"Aku tidak melayani seseorang membicarakan bisnis di rumah. Tapi karena kau sepertinya spesial dimata anakku, maka.... Okay... kita bicara di ruangan kerjaku," ajak Joe Stewart
"Okay, terima kasih!" Secepat cahaya Dalton menyahut ucapan itu dan disambut secara langsung oleh anggukan dari Joe.
Tak ayal perasaan lega bersemayam di dalam jiwanya hal yang sedari tadi diinginkan, ruang kerja Joe Stewart.
Dalton beranjak setelah Joe Stewart lebih dulu pergi, diikuti oleh Victoria dan Dalton berjalan beriringan bersamanya.
Nancy dan pelayan lain berdiri di dekat meja makan, menunggu tuannya hingga selesai makan. Ketika Dalton melewatinya, pria itu menatap Nancy, mengedipkan matanya kemudian mengangkat tangan kanannya dan memegang daun telinganya.
Sebuah isyarat yang Nancy berikan
Nancy terkejut, ia tak menyangka jika Dalton membaca memo kecil yang hilang itu. Memo itu bertuliskan.
Aku tahu kau anak Aaron, mata dan batinku tak bisa dibohongi. Tapi aku perlu bukti. Jika benar, tunjukkan padaku mana tangan yang tak sempurna itu dan pegang daun telingamu, serta kedipkan mata kirimu saat melihat ku.
"Dia-lah pewaris yang sebenarnya," kegugupan Nancy terlihat jelas, wajahnya kian memucat. Kakinya gemetar dan telapak tangannya mengeluarkan keringat berlebih.
Jantungnya yang tidak sehat lagi semakin berdetak diiringi denyut perih. Ada rasa sesak disana, rahasia yang telah lama ia bungkam.
When money talks everyone is SILENCE
(Ketika uang berbicara, maka semua diam)
Akan ada pertumpahan darah diatas hitam dan putih diatas sumpah dan bakti. Tapi kenapa Dalton mengungkap jati dirinya pada Nancy? Padahal ia tidak tahu apakah Nancy baik atau jahat.