seorang gadis SMA menyukai seorang polisi ganteng yang memberikan surat tilang kepadanya saat dia mengendarai mobil nya tanpa SIM, perjuangan berat yang harus dia lakukan untuk melepaskan sang polisi ganteng dari masa lalunya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
author upload pertama gagal, ini yang kedua, kalau jadinya double tolong dimaafkan 🤭
Santai ya, jangan main dorong, kita baca pelan-pelan, ini author udah nulis panjang dua kali lipat dari biasanya ya, jadi Jangan bilang kalau ini pendek ya 😝
Happy reading 😉
---------
Seorang gadis berseragam SMA berlari kencang menuju kantor kepolisian
"Brugkkk!!!"
Dia menabrak seseorang hingga terjatuh bersamaan dengan orang yang dia tabrak
"Aduh!!! Kalau jalan pakai mata!!!" Teriak gadis itu
"Aduh neng, situ yang nabrak, situ juga yang nyolot, lagian dimana-mana jalan itu pakai kaki bukan pakai mata" bantah pria yang ditabraknya
"Kamu!!!" Gadis itu melotot pada pria itu
"Sinta?! Arlan?! Kalian berdua lagi ngapain kayak gitu dilantai? Cari hotel terdekat kali"
teriak seseorang
Gadis itu menoleh pada orang yang memanggilnya
"Kak Nathan, Sinta butuh bantuan kak" ucap gadis itu yang tidak lain adalah Sinta
"Ya sudah, bisa kalian duduk yang benar, posisi kalian tidak enak dilihat" ucap Nathan yang melihat posisi mereka dimana Sinta berada di bawah kungkungan Arlan
Sinta mendorong dan menendang keras tubuh Arlan untuk menjauhi nya
"Aduuh, gila!!! elo cewek tapi tenaga elo kayak Samson!" Teriak Arlan sembari memegangi perutnya yang sakit karena tendangan dari Sinta
"Bodo amat, enggak penting yang penting sekarang kak Nathan harus tolongin Hana ya, please, Sinta mohon" air mata Sinta mulai membasahi pipinya
" Hana kenapa Sinta?" Nathan tidak bisa mengontrol dirinya melihat Sinta menangis saat menyebut nama 'hana'
"Hana dalam bahaya kak" Isak Sinta
"Bahaya gimana?! Katakan dengan jelas Sinta!!" Teriak Nathan, dia mengguncang-guncang kan pundak Sinta yang masih terisak
"Selow bro, elo nyakitin Sinta" kata Arlan menenangkan sahabatnya
"Sorry sin, aku enggak tahu kenapa bisa emosi kayak gini, sekarang ceritakan semuanya oke?" Ucap Nathan lebih lembut, dia menghela nafas berat nya
"Jadi...."
.
~flashback on
"Sinta, gue kok ngerasa bakalan ada yang enggak beres deh, entah kenapa perasaan gue enggak enak" ucap Hana saat mengendarai mobilnya menuju rumahnya sembari menelfon Sinta karena merasa tidak nyaman
"Ya udah santai aja, gue yakin elo pasti enggak apa-apa" jawab Sinta menenangkan Hana, sejujurnya perasaan Sinta juga merasa tidak enak, seperti hal buruk akan terjadi
"Ya semoga aja ya sin, ini gue udah sampai rumah, gue masuk dulu ya" ucap Hana saat dia sudah memarkir mobilnya dan turun dari mobil
"Iya udah kamu masuk gih" perintah Sinta
"Iya sin, telfonnya jangan dimatiin dulu ya, gue cuman ngomong bentar doang kok sama mereka terus gue balik ke tempat kak Nathan lagi, gue juga males kalau harus lama-lama sama mereka"
Ucap Hana, seraya melangkahkan kakinya memasuki rumahnya yang sudah terlihat mama dan papanya sedang duduk di ruang tamu
Hana tidak mematikan telfonnya bersama Sinta, dia memasukkan handphone nya ke saku rok nya
Hingga Sinta mendengar semua nya dan dengan segera merekam semua obrolan Hana dengan keluarga nya dengan ponselnya, karena dia pikir ini bisa untuk digunakan di suatu saat nanti
Hingga terdengar tangis dan jeritan di telinga Sinta dia hanya bisa menangis dan menutup mulutnya untuk tidak berteriak.
Setelah mendengar tidak ada suara lagi dari handphone nya, Sinta terduduk di lantai kamarnya, kemudian segera melajukan mobilnya mencari Nathan kerumahnya, namun tidak menemukan nya, sehingga dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor kepolisian tempat Nathan bekerja.
~flashback off
.
"Bangggg!!"
Nathan menggebrak mejanya setelah mendengar rekaman tentang obrolan Hana dengan keluarganya yang berakhir Hana tidak sadarkan diri.
Sinta dan Arlan hanya bisa terdiam dan menatap Nathan yang terlihat begitu marah, seolah dia akan menghancurkan dunia ini dengan amarahnya.
"Siapa nama papanya Hana Sinta?" Tanya Nathan penuh kemarahan.
"Seno, Seno Baskara kak" jawab Sinta masih sesenggukan.
"Seno baskara?! Sepertinya namanya tidak asing" ucap Arlan.
"Dia adalah seorang yang memiliki banyak catatan kejahatan bukan?!" Nathan bertambah marah mengingat jika Seno itu adalah seorang penjahat.
"Kalem bro, kita pikirkan cara untuk menghadapi masalah saat ini, apalagi dengan seorang Seno baskara, seingat gue, dia memiliki banyak catatan kejahatan di masa lalu, kita bisa mengorek semuanya dan kita bisa menjadikannya senjata untuk menghancurkannya" saran Arlan pada sahabatnya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri
"Arlan bantu gue buat urus masalah ini secepatnya ya, setelah itu gue harus menyusul Hana secepatnya, atau hal buruk akan terjadi lebih dari apa yang sudah Seno lakukan pada hana" pinta Nathan, sorot matanya masih penuh dengan kemarahan, sedangkan tangannya mengepal kuat
"Sinta kamu tahu dimana mereka tinggal?" Tanya Nathan, tatapan matanya masih seakan ingin membunuh seseorang
"Kurang tahu sih kak, kalau enggak salah mereka tinggal di The Muse Luxury Apartment di 7.02/409 st.kilda road , Melbourne Victoria 3004" ucap sinta ragu-ragu
"Oke, biar kita cek semua nya dulu, setelah siap kita berangkat bareng" kata Arlan pada Nathan
"Enggak Lan, gue enggak mau libatkan kalian semua, Seno Baskara seperti bukan orang yang mudah untuk dihadapi" ucap Nathan, dia takut jika mungkin Seno akan menyakiti semua orang yang dia sayangi
"Tenang lah, aku enggak mau kamu pergi sendiri, kita saudara bukan, kita akan melakukannya bersama" ucap Arlan, Nathan tersenyum pada Nathan
"Thanks bro"
"Santai aja kali"
"Kak, Sinta boleh ikut?" Tanya Sinta, dia juga ingin membantu Hana
"Boleh, tapi ijin dulu sama keluarga kamu, aku tahu meskipun aku menghentikanmu, aku yakin kamu akan terus memaksaku untuk memperbolehkanmu" jawab Nathan yang kini sudah bisa sedikit lega karena setidaknya ada sedikit titik terang pada jalannya yang tadinya terlihat gelap.
"Kita juga mau ikut"
Nathan, Arlan dan Sinta menoleh ke arah orang yang baru saja datang
"Ray, Bella kalian disini?" Tanya Sinta tidak menyangka Ray dan Bella akan berada disana
"Iya, tadinya kita agak khawatir sama Hana, terus kita putusin buat kerumahnya, pas nyampe di sana ternyata kosong, terus kita kerumah elo sin, tapi kata mama kamu, kamu ketempat kak Nathan, dan kita kesana juga kosong. Kita khawatir banget, dan kita kepikiran untuk kesini, dan ternyata benar kalian semua disini, dan enggak sengaja denger kalian mau nyusul Hana, jadi kita juga mau ikutan, boleh kan?" Jelas Bella
Ray menatap papi angkatnya yang terlihat berantakan, emosinya tidak bisa dipastikan, entah marah, sedih, bingung, kecewa, takut dan entah perasaan apa lagi yang di rasakan olehnya, baru kali ini Ray melihat papinya seperti itu.
"Meskipun aku melarangnya, aku yakin kalian pasti akan memaksa nya bukan, kalau begitu minta izin terlebih dahulu pada keluarga kalian, setelah itu kita akan berangkat bersama" jawab Nathan, matanya kembali menatap penuh amarah saat teringat pada rekaman telfon yang dia dengar dari ponsel Sinta
'bertahanlah Hana, aku akan segera menjemput mu' batin Nathan
--------
Author minta doanya ya biar mereka berhasil nolongin Hana 😝
Tap jempolnya ya 😉
ceritanya sangat menarik