"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 27~ Haruskah Aku
"Kak Nay, jangan buat kita semua khawatir dong. Keadaan Ai gimana?" tanya Arrayn.
"Keadaan Ai stabil, hanya dia perlu banyak istirahat. Jangan sampai terlalu banyak pikiran. Kalian bisa ketemu sama Ai, Dia sudah sadar, tapi jangan ajak dia bicara terus ya." jelas Nayla walau ia sedikit berbohong.
"Maaf semua, Nay harus berbohong lagi untuk kesekian kalinya." batin Nayla
Flashback On
"Syukurlah kamu sudah sadar Ai. Aku akan kabarin mereka." ucap Nayla dan hendak keluar namun ditahan oleh Ai.
"Kak, kondisi Ai baik-baik aja kan?" tanya Ai lemah.
"Ai kondisi kamu makin hari semakin stabil kan beberapa waktu lalu." ucap Nayla.
"Ai tanya kondisi Ai yang sekarang kak." ucap Ai.
"Kondisi kamu.. Kondisi kamu kurang baik Ai. Kamu terlalu banyak beban pikiran. Seharusnya tidak seperti ini Ai. Apalagi melihat check up kamu beberapa bulan terakhir yang terlihat baik. Namun hari ini kondisimu cukup buruk Ai." jelas Nayla lirih.
"Apa itu artinya hidup aku ga lama lagi ya kak?" tanya Ai dengan tatapan sendunya.
"Kamu ga boleh bilang gitu Ai. Kakak pastiin kamu pasti sembuh. Kakak janji sama kamu." ucap Nayla sembari memeluk Ai.
"Kalo gitu kakak keluar ya buat kasi tau yang lain kalo kamu udah sadar." ucap Nayla sembari berjalan menuju pintu. Namun langkanya terhenti ketika Ai memanggilnya.
"Kak Nay.. " ucap Ai
"Iya Ai, kenapa?" tanya Nay.
"Jangan kasi tau kondisi aku yang sebenarnya ke mereka ya." ucap Ai.
"Sampai kapan Ai?" tanya Nayla.
"Sampai aku siap untuk semua ini kak." ucap Ai. Nayla memberi seulas senyum tanda menyetujui.
Flashback Off
"Syukurlah, baiklah kami masuk dulu ya." ucap Surraya.
"Silahkan Bun. Nay permisi untuk menangani pasien yang lain dulu ya." ucap Nayla.
Nayla pun meninggalkan mereka. Arya dan Surraya langsung masuk ke dalam ruang rawat Ai. Revan yang berada di sana hendak masuk namun ditahan oleh Arrayn.
"Mau kemana lo? Siapa yang ngizinin lo buat masuk? Mending lo pergi dari sini atau lo bakal tau sendiri apa yang bakal gue lakukan." ucap Arrayn sinis pada Revan.
"Lo mau apa sih. Gue mau ketemu pacar gue. Gue mau lihat kondisi Ai dan lo ga bisa ngelarang gue." ucap Revan.
"Cihhh, lo bilang apa tadi? Pacar? Adik gue aja ga pernah nganggap lo lagi jadi bagian dari hidupnya sejak tiga tahun lalu. Nah lo dengan bangganya bilang lo adik gue itu pacar lo. Lo tuli atau gimana sih." ucap Arrayn ketus sembari mengepal tangannya dan bersiap untuk memulai pertandingan tinju.
"Arrayn, Revan hentikan. Ini rumah sakit bukan arena rinju. Selesaikan masalah kalian di tempat yang seharusnya." ucap Arsyad seraya memberi kode pada Arrayn untuk berpindah lokasi. Arrayn yang diberi kode pun mengerti langsung menarik paksa Revan.
"Lepasin gue, gue ga ada waktu buat berantem." teriak Revan.
"Davier lo masuk aja, Ai butuh lo sekarang ga usah pikiran masalah Revan. Biarkan Arrayn yang menyelesaikannya." ucap Arsyad.
"Baiklah, gue masuk dulu." ucap Davier.
~Di Kamar Rawat~
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" ucap Surraya.
"Bunda, Ai baik-baik aja kok. Nih Bunda liat sendiri Ai sehat-sehat aja." ucap Ai sembari melenggangkan tubuhnya ke sana ke mari.
"Kamu nih ya, Ayah dan Bunda itu panik sama kamu, dan kamu malah cengar-cengir gini." ucap Surraya.
"Ih Bunda lebay banget sih. Ai itu ga papa kok." ucap Ai.
"Kamu harus istirahat . Kamu ga boleh kelelahan dan banyak pikiran. Empat hari lagi kamu akan melangsungkan pernikahan." ucap Arya.
"Serius? Ya ampun ga lama lagi don berarti. Ai ga lagi mimpi kan?" tanya Ai.
"Kamu ga lagi mimpi. Jangan terlalu banyak pikiran." ucap Davier yang baru saja masuk dan langsung menghampiri Ai.
"Davier, kamu ga papa kan? Ga ada yang luka kan?" tanya Ai.
"Aku ga papa kok. Kamu tuh yang harus banyak istirahat supaya saat hari pernikahan kita kamu sehat." ucap Davier.
"Aku baik-baik aja kok. Nih ya aku liatin." ucap Ai sembari turun dari brankar dan berjalan mondar-mandir.
"Tuh kamu liat aku baik-baik aja kok. Ayah sama Bunda juga liat kan Ai sehat gini kok." ucap Ai.
"Kamu tuh ya pintet bicara ya. Siapa yang ngajarin sih." ucap Davier senbari mengusap pucuk kepala Ai.
"Hem, Ayah sebaik kita pulang deh biarin mereka berdua. Ayah sama Bunda pulang dulu ya sayang." ucap Surraya.
"Eh tunggu Bun. Ai juga mau pulang." ucap Ai.
"Kata Nay, kamu harus nginap sehari di rumah sakit. Besok kamu baru boleh pulang." ucap Arya.
"Tapi, kenapa kalian pulang. Ai ga suka sendirian di rumah sakit." ucap Ai.
"Kamu ga sendiri sayang. Aa Syad dan Davier bakal jagain kamu." ucap Surraya sembari tersenyum.
"Iya deh, tapi kok dari tadi Ai ga ngeliat Aa Syad atau Aa Rayn ya Bun. Mereka kemana Bun?" tanya Ai.
"Eh iya ya. Bunda ga tau sayang. Ayah sama Bunda kan masuk duluan." ucap Surraya.
"Mereka lagi ada urusan Ai, nanti mereka kesini. Tadi pamit sama aku." ucap Davier. Ai yang mendengarnya pun mengangguk paham.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya. Davier Bunda titip Ai ya sama kanu." ucap Surraya.
"Baik Bun. Hati-hati ya pulangnya." ucap Davier.
Punggung Arya dan juga Surraya pun mulai menjauh dan perlahan menghilang. Kini hanya tinggal Ai dan juga Davier di ruang rawat.
"Kamu bener ga papa kan?" tanya Ai membuka suara.
"Aku ga papa kok sayang." balas Davier.
"Apa tadi dia bilang? Sayang? Duh untuk gue bisa netralkan kondisi. Kalo ga kan gue malu blushing di depan dia." batin Ai.
"Kok kamu malah ngelamun sih." ucap Davier.
"Eh ga papa, aku tadi mikirih surat izin. Iya mikirin itu." ucap Ai.
"Masalah itu ga perlu kamu pikirkan. Aku udah urus semuanya. Kamu ga perlu khawatir. Mulai besok kita ga ada jadwal. Kita fokus sama pernikhan kita." jelas Davier dan dibalas anggukan oleh Ai tanda ia mengerti penjelasan Davier.
"Udah, kamu istirahat. Ini udah malam, karanya ga mau lama-lama di rumah sakit tapi aturan ga dipatuhi." goda Davier.
"Ih kamu ngeselin. Aku lagi nunggu Aa, kepo kok dia lama sih datangnya." ucap Ai.
"Mana aku tau. Udah aku bilang istirahat Ai." ucap Davier. Ai pun menurut dan mulai memejamkan matanya.
~Di Halaman Belakang Rumah Sakit~
Arrayn dan Revan sedang berada di sana. Arrayn sejak 3 tahun belakangan ini sudah berusaha menahan emosinya. Namun hari ini emosi tersebut pecah karena sudah tak mampu di bentuk lagi.
"Lo apa-apaan sih bang. Gue cuma mau liat dan mastiin kondisi Ai. Lo kenapa ngehalangim gue." ucap Revan.
"Lo mau liat kondisi Ai. Kemana aja li selama ini? Baru sekarang lo mau peduli sama dia. Datang hanya untuk membuka luka lama buat apa?" tanya Arryn kesal.
"Bang, gue bisa jelasin semua yang terjadi beberapa waktu terakhir. Gue-" Belum sempat Revan menyelesaikan perkataannya sudah di potong oleh Arrayan.
"Dengar gue baik-baik. Lo benar atau salah itu ga akan merubah semuanya. Ai udah jadi milik seseorang yang bisa jagain dan selalu ada buat dia. Dia akan menikah dengan 4 hari lagi. Dan gue harap lo ga gangguin hubungan mereka."
"Lo harus lupakan Ai, lo harus belajar untuk merelakan. Kalo memang lo ga bermaksud ninggalin Ai, tapi itu dulu sekarang situasinya beda. Gue saranin sama lo untuk melupakan dan merelakan. Lo harus lanjutin hidup lo Van. Mungkin menurut lo ini menyakitkan. Tapi apa lo pernah mikir seberapa sakitnta menghadapi ini selama 3 tahun ini." ucap Arrayn panjang lebar.
Ia sebenarnya ingin menyerang Revan saat ini juga, tetapi ia berusaha tenang dan mencoba memberikan ruang untuk Revan menjelaskan.
"Melupakan dan merekalan? Itu ga mudah bang. Apa gue yang harus nerima hukuman atas kesalahan yang ga pengen gue lakuin?" tanya Revan.
"Itu yang terbaik Van." ucap Arrayn.
"Gue harap lo bisa. Hidup harus selalu berjalan maju Van. Yang berlalu biarkan ia pergi bersama angin. Nah lo harus melangkah maju. Good Luck! " ucap Arrayn dan kemudian meninggalkan Revan.
"Apa dia bilang? Melupakan? Merelakan? Apa bagi mereka ini permainan?" teriak Revan.
"Ai, apa ga ada kesempatan lagi buat aku?" batinnya.
----------------Next Update-----------------
Jumat, 26 Juni 2020
Salam Hangat
Author Halu