NovelToon NovelToon
Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Status: tamat
Genre:Duda / Anak Genius / Cerai / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:143.3k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Season 1
Season 2( on going)

Bagi sesama Author yang mampir silahkan like doang Ok, baca n like, Alhamdulillah. Hadiah, apalagi senang banget. Bagi pembaca, like n baca wajib ya Cuy, biar sama-sama ngeunah endol takendol-kendol. Kali ini nama pemerannya yang agak nyeleneh, gak mau yg bagus2 biar sdkt humor.

Dicegat saat bawa motor kala pergi bekerja, membuat Sensi Vera (23) mengerem mendadak motor matiknya sampai hampir standing. Sensi, begitu dia dipanggil terkejut dan penasaran siapakah yang telah mencegatnya.

Saat Sensi mendekat, rupanya orang itu mengalami sakit asma. Sensi terkejut setelah menyadari ternyata yang mencegat adalah Bos di kantornya. "Pak Rangka!" kejutnya.

Rangka Baja (35), seorang Bos di perusahaan kertas ternama di kotanya, mengalami sesak nafas saat dia masih di jalan menuju kantornya. Rangka meminta tolong pada orang yang berhasil dicegatnya untuk membelikan obat ke apotek terdekat. Tanpa Rangka sadari, rupanya orang yang dia cegat adalah s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Tragedi Gigitan Itu

Mobil Pak Rangka mulai dijalankan menjauh dari halaman rumah orang tuaku. Aku sempat ingin bertanya akan kemana Pak Rangka. Tapi mendadak bibirku ini kelu untuk bicara.

"Kamu sudah makan?" Tiba-tiba Pak Rangka bertanya.

"Sudah, Pak. Tadi jam dua siang," sahutku jujur.

"Mau makan lagi?"

"Nggak, Pak, saya masih kenyang," tolakku sembari mempermainkan tali tas sampirku.

"Kamu cantik banget," pujinya tiba-tiba. Tidak meleleh bagaimana dipuji seperti itu? Namun pujiannya malah membuat aku tersipu malu dan tidak bisa bergerak bebas.

"Kamu sepertinya gelisah, apakah setiap berjalan dengan saya, kamu selalu gugup dan gelisah?" tudingnya dengan tatapan mata mengarah padaku kemudian ke jalan secara bergantian.

"Tidak, Pak, saya tidak gugup atau gelisah," sangkalku dan berharap Pak Rangka tidak bertanya lagi.

"Tapi, kamu terlihat gelisah dan gugup begitu," tudingnya lagi.

"Tidak, Pak. Saya hanya tidak biasa jalan sama laki-laki," ujarku meyakinkan.

"Ohhh, begitu. Jadi artinya kamu jalan dengan laki-laki baru dengan saya doang?"

"Emmm, iya sih, Pak." Jawabanku dibalas dengan senyuman oleh Pak Rangka.

"Saat di Banjarmasin, apakah itu bukan jalan dengan laki-laki?" Aissss! Pak Rangka malah mengungkit Mas Krisna yang sempat minum bersamaku saat di hotel tempat nginap kami. Aku langsung gelagapan dibuatnya, tidak bisa jawab.

"Ya sudah tidak perlu gugup begitu, anggap saja saya tidak pernah bertanya," pungkas Pak Rangka sembari membelokkan mobilnya ke sebuah ruko. Aku jadi bingung dan heran, mau apa Pak Rangka ke ruko?

Saat turun dari mobil, di depan ruko sudah ada Satpam menyambut. "Pak Rangka, silahkan Pak," ucap Satpam tersebut mempersilahkan Pak Rangka masuk. Saat kami berdua berdua masuk, rupanya ruko ini adalah sebuah kantor. Ruko yang berlantai dua ini merupakan tempat penyimpanan kartu dan kertas cetakan yang telah siap diantarkan ke customer di luar daerah.

Walaupun berupa bangunan ruko dua lantai, namun kesan kantor tetap mendominasi. Ada ruang resepsionisnya juga. Sebelum kami masuk, Pak Rangka sempat berbincang-bincang dengan Resepsionis. Kemudian Resepsionis itu memberikan beberapa map pada Pak Rangka. Lalu Pak Rangka Rangka pamit dan mengajakku ke lantai dua ruko itu.

Tiba di lantai dua, Pak Rangka mengajakku ke sebuah ruangan. Rupanya ini sebuah kantor mini bisa dibilang begitu, di sana ada beberapa orang pegawai laki-laki yang tengah bekerja. Pak Rangka melewati pegawai tersebut, kemudian memasuki salah satu ruangan, sepertinya ini ruangan Pak Rangka jika ke sini.

"Ok, Sensi kerjakan laporan dalam map-map ini dengan baik dan teliti. Saya tinggal, dan kamu harus sudah selesai saat saya datang nanti. Saya akan ngecek barang yang akan dikirim ke luar daerah sekarang. Kalau kamu haus tinggal ambil, di belakang meja kamu ada kulkas dan rak camilan yang sengaja saya sediakan." Pak Rangka memberi aba-aba sebelum Pak Rangka pergi meninggalkan aku di ruangan itu.

Setelah Pak Rangka pergi, aku segera mengerjakan tugas dari Pak Rangka. Ada tiga map yang diberikan, lumayan tebal dan ini sedikit membuatku mengeluh. Namun dengan tekad dan semangat yang berkobar, satu persatu map itu mulai ku garap.

Akhirnya tepat jam setengah enam aku telah menyelesaikan dua map. Sejenak aku mengistirahatkan dulu tubuhku yang pegal. Otak dan tanganku harus direfresh dulu dengan yang dingin-dingin. Aku bangkit menuju kulkas mengambil satu botol minuman bersoda rasa coconut.

"Ahhhhhh." Tegukan air dingin rasa coconut itu membasahi tenggorokanku diakhiri suara ahhh yang spontan keluar dari mulutku. Alangkah nikmatnya minuman dingin itu. Lalu aku melihat rak, di sana berbagai macam makanan tersedia. Ada roti isi dan kue lainnya serta camilan seperti kacang atom dan coklat. Pertama yang menarik mataku adalah roti isi keladi ungu. Aku sangat suka dengan roti isi yang satu ini, selain rasanya enak juga mengenyangkan.

Sebelum aku menikmati roti isi keladi ungu, tiba-tiba ada yang menarik perhatianku. Di atas kulkas ada bingkai foto. Dengan penasaran aku raih bingkai itu dan kulihat foto yang ada di dalam bingkai. Pak Rangka bersama seorang anak kecil yang imut dan cantik sedang difoto. Sepertinya foto itu diambil saat anak kecil itu ulang tahun. Di sana Pak Rangka tengah menyuapkan kue ulang tahun. Ohhh, manisnya. Setelah puas melihat bingkai foto, aku kembali teringat dengan roti isi keladiku yang sempat tersisih karena terlanjur melihat bingkai foto.

Setelah satu bungkus roti isi selai keladi ungu habis kumakan, rupanya aku masih belum puas. Mataku beralih pada coklat Silverstone yang masih ada di rak. Namanya mirip lencana salah satu Author favoritku yaitu ***Deyulia***. Ha, ha, aku kadang tersenyum membayangkan salah satu karya novelnya yang bikin ngakak. Keren banget, bahkan dia mampu menjungkirbalikan perasaan pembaca. Novel yang mendominasi karya Author ***Deyulia*** kebanyakan semi romantis, yang saat dibaca bikin *hayper*, alias hanyut perasaan.

Saat aku menyudahi mengisi tenaga dan membasahi tenggorokanku dengan minuman dingin dari kulkas tadi. Aku kembali ke meja dan mengerjakan kembali map yang masih tersisa. Sepuluh menit kemudian, azan Magrib berkumandang. Aku hentikan sejenak pekerjaanku untuk ke kamar mandi ambil wudhu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan muncullah sosok tampan yang sejenak mampu aku lupakan saat aku sibuk mengerjakan map tadi.

"Sensi, kamu mau sholat, ya?" sapanya menghentikan langkahku.

"Iya, Pak."

"Mukenanya ada?" tanyanya membuatku tersadar bahwa aku tidak bawa mukena dan di ruangan Pak Rangka tidak ada mukena.

"Tidak ada, Pak. Saya tidak bawa," jawabku.

"Ini, pakailah. Saya tadi pinjam punya Icha Resepsionis," ujarnya seraya menyodorkan kresek berisi mukena.

"Terimakasih, Pak," ucapku seraya beranjak ke kamar mandi ruangan itu. Untung saja Resepsionis kantor ini bawa mukena.

Keluar kamar mandi, aku segera mendirikan sholat di ruangan itu. Cukup aku sapukan sedikit lantainya, walaupun sebenarnya tidak berdebu dan kotor. Setelah merasa bersih, lalu kugelar sajadah dan akupun melaksanakan sholat Maghrib lumayan khusu.

"Trekk." Bunyi pintu dibuka, terdengar saat aku masih melipat mukena. Saat ku toleh, rupanya Pak Rangka dengan tangan membawa dua kresek kiri dan kanan.

"Sudah?" tanyanya saat aku memasukkan mukena ke dalam kresek tadi, aku mengangguk. Pak Rangka menyimpan kresek bawaannya di meja kerja yang tadi aku pakai kerja. Lalu meraih kresek yang berisi mukena.

"Tunggu sebentar, saya kasih mukena dulu ke Icha." Pak Rangka keluar ruangan dan membawa mukena itu untuk diantar kembali pada yang punyanya. Tidak berapa lama, Pak Rangka kembali dan menutup pintu ruangan dengan rapat.

"Kamu pasti lapar, ayo kita makan dulu," ajaknya. Sebelum Pak Rangka menggelar makanan bawaannya, aku dengan sigap membereskan dulu meja kerja, menyingkirkan semua map dengan aman.

"Kamu suka tidak makanan ini? Ini saya beli di ruko sekitar sini, bukan dari restoran mewah. Kebetulan ada yang jual bebek gantung dan pecel lele, tapi saya beli bebek gantung sama lotek mentah. Kamu suka tidak?" Saat Pak Rangka menyebutkan lotek mentah, aku langsung kegirangan. Sebab lotek merupakan makanan kesukaanku, apalagi lotek mentah. Terbayang segar di mulut.

"Kamu suka, tidak?" ulang Pak Rangka menyadarkanku dari keterpesonaanku pada lotek mentah yang dibeli Pak Rangka.

"Saya suka, Pak. Apalagi makanan seperti ini. Ini kesukaan saya banget, terlebih lotek mentah, itu. favorite saya sebab Ibu saya sering buat," ujarku antusias.

"Oh ya? Ya sudah, lebih baik kita mulai makan ya," ajaknya seraya berjingkat mengambil dua piring dan sendok yang ternyata ada di rak camilan tadi.

Kami akhirnya mulai makan, bebek goreng dengan sambal terasi tomatnya enak dan cocok banget apalagi suapan nasinya aku campur dengan lotek, wahhh variasi makanan yang benar-benar nikmat di mulut, sehingga aku tidak berhenti menyuap.

"Kamu, sepertinya nikmat banget makan bebek itu dan nasi dicampur lotek dengan suapan tangan. Saya jadi pengen," ucap Pak Rangka menjeda sejenak suapanku.

"Boleh, Pak, dicoba saja menyuap pakai tangan, nikmat kok," ujarku mencoba mempengaruhi. Pak Rangka sepertinya tertarik, lalu dia mengiyakan.

"Saya mau makan sama tangan, sepertinya enak. Tapi saya mau kamu yang nyuapin pakai tangan kamu," ujarnya memerintah membuat aku terbelalak.

"Apa? Saya tidak salah dengar, Pak?"

"Tidak, apanya yang salah. Ayo, cepat lakukanlah!" titahnya tidak sabar. Dengan ragu akhirnya aku turuti maunya Pak Rangka. Dan suapan pertama Pak Rangka begitu senangnya, lalu minta disuap lagi. Namun disuapan ketiga tragedi tidak terduga terjadi, Pak Rangka tidak sengaja menggigit jari manisku yang lumayan membuat aku kesakitan dan rupanya berdarah.

"Awww," jeritku. Pak Rangka seketika panik melihat jariku memerah. Lalu dengan sigap Pak Rangka meraih jari manisku dan diisap oleh mulutnya. Darah yang keluar dari jariku diisapnya lalu dibuang ke asbak. Sebenarnya aku mau menolak, namun Pak Rangka terlanjur memasukkan jariku ke mulutnya. Kalau dipikir-pikir adegan ini mirip adegan drakor. Romantisnya.

1
Bo-bo
keren ni Thor👍
Bo-bo
aku mampir di karyamu Thor..semoga sukses selalu 🤲🤲
Lina Zascia Amandia: Mksh byk Kak...
total 4 replies
Pa Muhsid
seperti di toko matrial
Lina Zascia Amandia: Wkwkkwkwk.... iya Bang, saya sengaja cari nama bahan bangunan atau istilah dlm pembangunan gedung. Biar agak lain, soalnya nama2 yg keren udah sering dipakai penulis2 Femez. Semoga suka ya Bang.... mendukung karya ini, supaya rame soalnya pembacanya msh minim.... mksh udah hadir...
total 1 replies
Erny Kurniawati
tokohnya dari bangunan semua
Lina Zascia Amandia: Hehhee iya Kak.... sengaja Kak, nama2 pemeran yg keren udah byk yg make sm penulis2 lain... smg suka ya Kak, mohon dukungannya ya, cerita bahan bangunan dan bunga Sansevera ini.... wkwkwkkwkwkw
total 1 replies
Juragan Jengqol
bagus, ringan, enak dibaca....
Lina Zascia Amandia: Kak ke mana aja blm mampir lagi di karya saya yg lain.
total 1 replies
Juragan Jengqol
ayo cakar, semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
Juragan Jengqol
suruh kursus aja di luar, bos
Lina Zascia Amandia: Iya daripada dimarahin ya?
total 1 replies
Juragan Jengqol
minta maap teroooz, tapi diulangi lagi....
Lina Zascia Amandia: 🤦‍♀️🤦‍♀️😌😌😌😌
total 1 replies
Juragan Jengqol
siapa tau jodoh sama cakar
Lina Zascia Amandia: Hehehheeh..... ✅✅✅
total 1 replies
Juragan Jengqol
salah satu kunci berumah tangga adalah SALING PERCAYA
Juragan Jengqol
a r o g a n
Juragan Jengqol
kamu juga salah, sen. sudah nikah harus bisa jaga diri, jaga hati, jaga kehormatan suami
Juragan Jengqol
maksudmu benar, tapi caramu salah. harusnya kasih tau dulu baik2, kalau belum berubah baru teguran, kalau belum berubah baru teguran keras. ini langsung marah keras.

di perusahaan aja sp1 dulu, ga ujug2 sp3.
Juragan Jengqol
kamu ga bisa jagain hati suami
Juragan Jengqol
salah sasaran tuh marahnya
Juragan Jengqol
kalau kata Sayyidina Ali, sabar itu pada kesempatan pertama. dan kamu sudah gagal sabar di kesempatan pertama, bos
Juragan Jengqol
kalau ga dikasih tau, gimana bisa tau bos? paling sebel sama orang yg suka bikin teka teki.
Juragan Jengqol
delana orang sunda bukan thor? kalo sunda bisa dipanggil teh lana atau ceu lana...
Juragan Jengqol
dian ga ikut rombongan?
Juragan Jengqol
ga usah melongo, bos. kan situ yang bikin sensi jadi bete.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!