Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
''Aku nggak mau pulang,'' bentak Luna saat Devan memaksanya masuk ke dalam mobil.
''Jadi ini alasan kamu membatah ku? Karena kalian ingin bertemu tanpa sepengetahuan ku?'' Devan mendorong tubuh Luna hingga gadis itu terpojokkan.
Luna mundur ke belakang dan tidak bisa bergerak sama sekali karena Devan mengungkung tubuh mungilnya. "Kamu mau apa?" ujar Luna gugup.
Tak!
"Aww, sakit!" pekik Luna saat satu sentilan yang cukup kuat mendarat di keningnya.
Devan menahan tawanya. Seharusnya ia marah karena Luna hampir saja mengijinkan Lucas mencium bibirnya. Namun saat melihat wajah menggemaskannya, Devan mengurungkan niatnya.
"Masuklah. Aku akan menjemputmu nanti sore." ujarnya datar.
"Hah?" Luna melongo.
Bukankan tadi dia terlihat marah? Kenapa sekarang malah diam.
"Ada pertemuan penting hari ini, jadi aku urungkan niatku untuk menghukum kamu nanti." Devan menyuruh Luna untuk keluar, tapi sebelum itu ia menahan Hamster yang berada di tangan Luna sejak tadi. "Biar aku yang menyimpannya."
"Tapi, itu..."
Devan melotot tajam, mau tidak mau Luna memberikannya lalu beranjak dari sana.
"Ck! Apa-apaan si bodoh itu, memberikan hadiah sejelek ini. Dasar tidak punya modal." gumam Devan lalu melanjutkan perjalanan menuju kantor.
.
.
.
Sementara di kantor, Devan duduk tidak tenang karena terus memikirkan Luna. Bagaimana cara Lucas memperlakukan istrinya membuat hatinya panas.
"Ini adalah hari pertamaku bekerja, tapi dia membuat konsentrasi ku buyar,'' gerutu Devan. Matanya fokus pada hamster kecil yang sedang berlari di sebuah lingkaran dan mengejar bola. ''Padahal bukan masalah besar, kenapa aku jadi sangat kesal.''
Suara ketukan pintu membuat Devan mengalihkan pandangannya.
"Permisi, Tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,'' kata Leon sedikit ketakutan, ia tau jika tuannya sedang kalut pagi ini. Terlihat dari matanya saat menatap dirinya sekarang.
Devan mengangkat alisnya. "Siapa? Aku tidak merasa sedang membuat janji dengan siapapun hari ini..."
"Aku!"
Seorang pria yang sangat Devan kenali masuk dan duduk di depannya.
"Untuk apa kamu datang kemari," tanya Devan memangku kedua tangannya di bawah dagu, tentu saja dengan tatapan dingin yang seakan sedang mengibarkan sebuah bendera perang.
"Hei, santai. Aku kemari bukan untuk mengajakmu bertengkar.'' Lucas melirik hadis yang ia berikan [ada Luna berada di depan Devan. "Ternyata hubungan kalian sedekat itu, hum?''
''Katakan saja tujuanmu datang kemari. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu," celetuk Devan. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Lucas.
"Lepaskan Luna, ceraikan dia!''
Deg!
Apa pria ini tidak waras, kenapa dia memintanya untuk menceraikan Luna? Sinting! Bahkan meski dirinya belum mencintai gadis kecilnya itu, dia tidak akan menceraikannya sampai kapanpun.
"Hanya dalam mimpimu.''
"Ayolah Devan, aku tau pernikahan kalian hanya sebuah perjodohan tidak penting. Kalian tidak saling mencintai.''
"Lalu?"
"Aku mencintainya, aku akan membuatnya bahagia." tegas Lucas. Ia bangkit dan berdiri tepat di belakang Devan. "Dan kamu, bisa bebas. Bagaimana, setuju?''
Bugh!
Devan yang sejak tadi sudah tidak bisa menahan emosinya, memukul wajah Lucas. Hingga membuat pria itu jatuh tersungkur ke bawah.
"Kamu memukulku? Aku kakakmu, bodoh!''
"Aku tidak peduli, keluar dan jangan pernah menemui ku lagi!'' usir Devan.
Lucas tertawa seraya beranjak dan merapikan kemejanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika respon Devan di luar dugaan nya. ''Kamu mencintainya?"
Devan tercekat. tenggorokannya seakan kering dan tidak bisa berkata-kata. Ia memang ingin sekali memiliki Luna, tapi apa itu bisa disebut cinta?
"Diam mu adalah jawaban, Devan.'' Lucas meninggalkan pria yang menatap kepergiaannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Tuan, anda biak-baik saja?" tanya Leon.
Sedangkan Devan, ia menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya dan memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Tuan, ponsel anda." Leon memberikan ponsel itu pada Devan.
..."Hari ini tidak perlu menjemput ku, karena aku akan pergi bersama Zelin."...
Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Luna membuat Devan semakin marah dan melempar beberapa barang yang berada di atas meja kerjanya.
"Astaga, Tuan. Apa yang anda lakukan.'' Leon menghela nafas, bukan karena tuannya marah. Tapi berkas yang laporan keuangan yang ia susun rapi jadi berantakan.
"Aku akan menjemput Luna, sisanya kamu bereskan!" Perintahnya lalu beranjak dari sana.
"What?"
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu