Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pulang(1)
Hari esok sudah ada di depan mata, "Permisi dimana Aldo saat ini?" tanyaku pada salah seorang pemuda yang kebetulan lewat tak jauh dariku.
"Wah kak Rehan!!!" teriaknya histeris, maklum lah senior hehehe.
"S-sudah sudah, sekarang tunjukkan dimana ruangannya" gumamku sedikit canggung mengingat tujuanku pulang bukan untuk mendapatkan pujian melainkan memastikan sesuatu.
"Masih sama seperti waktu itu kak" katanya menunjuk ke arah ruangan yang kebetulan berada tak jauh dariku saat ini, "Oke makasih ya" balasku pamit, "Iya kak" sahutnya senang.
Sejauh mata memandang hanya ada suasana yang normal, namun saat langkahku mulai memasuki ruangan aku sedikit terkejut, "....Bukankah lebih baik kalau kau menyetujuinya? apa kau benar-benar menginginkan yang terbaik untuk kami!" terdengar suara Aldo menggelegar di dalam ruangan.
"Memang benar, akan lebih mudah mengatakannya, tapi apa ini benar-benar yang kalian butuhkan seharusnya kau memikirkan itu juga!" bentak Nana yang juga tak mau kalah.
Nampaknya mereka berdua tengah berada pada topik yang sedikit serius, namun tiba-tiba saja mereka berhenti, "Sejak kapan kau ada di situ" ujar Aldo memusatkan perhatiannya padaku, "Hehhee... ketahuan" gumamku canggung apalagi saat ini Nana tengah memasang wajah seriusnya.
"Apa aku mengganggu?" batinku was-was.
Aku rasa aku benar-benar sudah salah waktu, "Aku hanya senang melihat kalian akrab" kataku mencoba mencairkan suasana, "Kau sudah sampai" kata Nana mulai tenang.
"Sejak kapan kau datang kak" tanya Aldo mulai mengintrogasi, jauh dari pertanyaan itu "Apa adikku ini sama sekali tidak merindukan kakaknya ini?" pikirku agak kecewa melihat Aldo yang sama sekali tidak terkejut apalagi senang melihatku.
"Aku hanya merindukanmu" gumamku yang rasanya sudah lama sekali tidak memeluk adikku ini, "L-lepaskan kak, aku ngga bisa nafas" pekik Aldo, tapi aromanya yang sudah tidak berbau bedak bayi di tambah bau keringat ala laki-laki remaja benar-benar menggangguku.
"Kemana perginya bayi kecilku dulu" itulah yang aku pikirkan saat ini, aku bahkan tidak ingat kalau saat ini usianya sudah sembilan belas tahun, "Kamu udah tua ya" gumamku lirih.
"L-lepas lah kak" menepis tanganku, "Hehehehe maaf maaf" cengengesan.
Kami hanya berbincang-bincang sebentar sebelum menuju topik yang sebenarnya, "Aldo kamu keluar dulu ya" kataku karena saat ini yang aku butuhkan hanyalah Nana, "Tapi kak-" hendak membantah namun di tahan oleh Nana, "Lima menit aja do" kata Nana nampaknya mengetahui situasinya.
Mau tidak mau Aldo harus mengikutinya karena perintah Nana adalah mutlak, "Okeh lima menit" keluar ruangan.
Sesaat setelah Aldo keluar langsung kutarik Nana ke sebuah lemari untuk menghindari adanya penghubung dari luar, "A-apa yang kau lakukan!" pekik Nana kaget saat aku membawanya ke dalam lemari lalu menutupnya.
Jarak kami hanya beberapa jengkal saja, meskipun Nana ini anak kecil di mataku tapi entah kenapa detak jantungku berdegup kencang, "Sebentar saja" kataku menghela nafas.
"O-okeh lima menit" pekik Nana kaku begitu pun denganku.
Kami mulai menyinggung masalah yang sama-sama kami ketahui, "Jadi katakan apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanyaku pada Nana to the point, sepeti yang aku duga Nana tak langsung menjawabnya ia malah mengatakan hal yang aneh.
"Eh-anu, gini gini biar aku jelaskan okeh" kata Nana terbata-bata, meskipun aku sedikit tidak berguna bukan berarti bis di kelabui anak kecil sepertinya, "Tinggal empat menit" aku harap ia akan mengatakan semuannya tanpa ada yang di sembunyi-sembunyi kan.