Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pertempuran mereka membuat keduanya kelelahan. Nathan benar-benar menunjukan sisi lembutnya sehingga Bian yang tadinya ketakutan di buat melayang. Wanita berdarah Amerika-Korea itu kini tengah terlelap di dalam dekapan Nathan.
Pria bertindik di hidung itu tak hentinya memandang wajah cantik istrinya. Perasaannya merasakan sebuah kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan bersama mantan-mantannya dulu.
"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan." lirihnya mengecup lembut kening sang istri. Kemudian, dia menggeserkan tubuhnya ingin membersihkan diri.
Baru saja bangun, bel kamar hotel berbunyi. Nathan mengambil handuk lalu melilitkannya di pinggang menutupi bagian intinya yang tidak memakai apapun.
Ting..tong..
Klek...
Baru saja pintu dibuka, wajah yang ia tidak sukai nongol ingin masuk namun, segera ia cegah.
"Eeeh.. kau mau ngapain main nyelonong saja?" cegah Nathan mendorong tubuh Sean.
"Mau ketemu Bianlah, masa ketemu kau. Tidak sudi aku." Sergah Sean mendengus kesal.
"Nnggak, saya tidak mengizinkan kau ketemu Bian!" Nathan berdiri di depan pintu dengan bertelanjang dada. Tangan kirinya mencak pinggang, tangan kanannya ia senderkan di pintu menatap dingin pria di hadapannya.
"Saya Kakaknya, jadi saya berhak ketemu dia. Saya cuman ingin tahu keadaan adik saya, itu saja kok sewot." sergah Sean mendelik sebal.
"Dia baik-baik saja." Jawab Nathan jutek menatap curiga pada pria di hadapannya.
Sean membalas tatapan ini tak kalah curiga melihat penampilan Nathan yang hanya mengenakan handuk dengan rambut terlihat berantakan.
"Ngapain kau menatapku seperti itu?" tanya Nathan merasa tidak suka dengan tatapannya.
"Kau habis ngapain tidak pakai baju?"
"Kepooo..."
"Ck, saya males kepo tapi, saya hanya penasaran apa yang telah kau lakukan pada adikku." sahut Sean mencebik kesal.
"Bukan urusanmu. heh, kau sering menyebut Bian adikmu, ada hubungan apa kalian? aku masih tidak percaya kau dan Bian adik Kakak."
"Kita bicara di restoran. Saya tunggu kau di sana!" titah Sean tegas lalu berlenggang pergi meninggalkan Nathan yang sedang mengernyit kebingungan.
"Dasar pria aneh, tapi aku penasaran." Nathan kembali masuk. Dia membersihkan dulu badannya kemudian menuliskan sesuatu di kertas dan menyimpannya di atas bantal yang ia tiduri. Lalu, Nathan mengecup kening Bian terlebih dulu.
"Aku akan segera kembali," bisiknya.
***********
Kedua pemuda seumuran dan berpenampilan sama yaitu memakai anting magnet warna hitam di telinga saling beradu pandang.
"Ada apa kau menyuruhku kemari? aku tidak bisa berlama-lama di sini meninggalkan istriku sendirian," ujar Nathan bersidekap menatap dingin Sean.
"Aku hanya ingin menunjukan ini!" Sean memberikan sebuah map coklat ke hadapan Nathan.
"Apa itu?" tanyanya menaikkan sebelah alis menatap heran.
"Buka saja! Kau akan tahu isinya apa." Jawab Sean kemudian mengambil kentang goreng di colekkan ke saus.
Nathan membukanya, matanya membaca setiap kata yang ada di sana dan melihat foto-foto orang yang ia kenal.
"Elizabeth, anak dari mucikari asal Las Vegas, Nevada. Salah satu karyawan yang bekerja di bawah naungan Austin Papanya sendiri." Nathan terkejut, alamat itu sama dengan alamat tempat tinggal Bian.
"Jauh sebelum dia menjadi kekasihmu, Eliza sudah bekerja di salah satu club malam yang ada di Las Vegas. Kedatangannya ke Amerika serikat untuk mewujudkan impiannya menjadi model terkenal papan atas dengan memanfaatkan kekayaanmu. Dia sudah memiliki kekasih sebelum denganmu dan Eliza sudah menikah dua setengah bulan yang lalu dengan kekasihnya," tutur Sean. Dan Nathan mendengarkannya seraya melihat foto-foto kemesraan Eliza dengan Suaminya.
"Dia tidak sebaik dan sepolos yang kau kira. Dia pura-pura menjadi korban pelecehan demi mendapatkan perhatianmu dan memanfaatkan uangmu demi tujuannya. Ayah Eliza juga yang sudah menjual Ibunya Bian ke Daddy ku."
"Tujuanku menunjukan ini semua supaya kau membuka lebar-lebar mata dan hatimu, melihat dengan jelas seperti apa wanita yang kau cintai. Dia tidak sebaik itu." Jelas Sean panjang lebar.
"Aku sudah tidak peduli lagi! Ini sudah tidak menjadi urusanku lagi. Aku sudah memiliki Bian yang akan menjadi masa depanku dan Eliza hanyalah masa laluku," ucap Nathan sedikit melemparkan map-nya ke atas meja.
Sean mengangguk mengerti. "Kau juga harus tahu jika Bian dan aku satu ayah. Bisa di bilang kami saudara kandung. Dan untuk kau, jika kau menyakiti Bian maka aku yang akan menghabisimu dan Daddy akan membawa pergi Bian darimu," ancamnya penuh penegasan.
"Aku tidak percaya!" ucap Nathan belum percaya.
Sean membuka ponselnya, dia menunjukan sebuah foto hasil tes DNA antara Rebecca, Daniel dan juga Bian. "Ini buktinya!"
Nathan melihat ponsel itu, membacanya. Dia semakin terkejut mengetahui fakta bahwa Daniel adalah ayah biologis Bian.
( Pantesan saat di telpon Om Daniel begitu marah pada Papa. Ternyata benar. )
**********
'Aku pergi menemui Sean dulu di restosan, jangan berpikir yang aneh-aneh ya.'
Bian membaca pesan yang di tuliskan Nathan untuk dirinya. Saat bangun, dia tidak mendapati Nathan. Matanya melihat secarik kertas di atas bantal dan membacanya.
Klek...
Nathan masuk, yang ia lihat ternyata istrinya sudah bangun dan sedang duduk selonjoran seraya menunduk meremas jari-jari tangannya. Pria itu tersenyum melihat tingkah laku Bian yang terlihat malu-malu.
"Kau sudah makan?" tanya Nathan duduk di hadapan Bian. Bian menggeleng.
"Kalau belum kita makan siang dulu ya. Tadi aku belum sempat memesan makanan keburu makan kamu."
Bluuss..
Pipi Bian terasa panas, dia semakin menundukkan wajahnya malu. Dan Nathan suka itu.
"Wajahmu kenapa memerah?" Nathan mengusap pipi Bian.
"Ti-tidak."
"Hei, kenapa menunduk hmmmm? lihat sini dong!" Nathan mengangkat dagu Bian sampai wajahnya sedikit mendongak namun matanya masih menatap arah lain.
"Makasih sudah memberikan aku kesempatan," ucapnya. Nathan berdiri menggendong Bian.
"Nathan... kau mau ngapain? turunkan aku!" pekik Bian terkejut seraya mengalungkan lengannya ke leher.
"Kita akan makan. Aku sudah lapar." Nathan mendudukkan Bian di kursi roda kemudian mendorongnya.
"Hei, aku bisa jalan sendiri. Tidak usah pakai kursi roda!" tolak Bian.
"Kaki kamu pasti masih sakit, makanya pakai ini. Sudah, duduk yang anteng!"
"Tapi..."
Cup..
Bian ingin protes tapi Nathan malah membungkamnya dengan ciuman sampai Bian terdiam.
"Kalau kau proses, aku tidak akan segan-segan menciummu di depan umum!"
"Issh, apaan sih." Ujar Bian memberenggut kesal dan juga malu.
***********
Bian menyantap hidangan makanan begitu lahap tak peduli dengan tatapan Nathan. Dari tadi pagi belum makan membuat Bian menghabiskan makanan yang ada di atas meja.
Nathan tersenyum tipis menggelengkan kepala. ( Tidak ada jaim-jaimnya. ) Namun, senyuman itu seketika sirna baru sadar jika Bian tidak memakai warna hitam.
"Kenapa kau tidak memakai warna hitam?"
Bian mendongak dengan mulut penuh makanan. "Kau langsung membawaku jadi tidak sempat."
"Issh. Kita ke kamar! Aku tidak ingin mereka memperhatikanmu." Nathan berdiri mengedarkan pandangannya dan ternyata Bian menjadi pusat perhatian para pria.
( Ingin rasanya ku congkel mata mereka. ) gerutu dalam hati tidak menyukai Istrinya di tatap penuh kagum oleh mereka.
"Ayo!" Nathan mendorong kursi rodanya.
"Hei, aku belum selesai makan." Protes Bian.
Nathan tidak menggubris. Dia terus mendorong kursi rodanya namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggil.
"Nathan..."
Bersambung.....