Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Sinyal dari Kubur
Sinar matahari pagi musim dingin memantul dari permukaan Danau Zurich, menembus dinding kaca penthouse tempat Araya dan Arkanza menginap. Arkanza masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya terlihat jauh lebih damai setelah badai di kastil semalam.
Araya, yang sudah bangun sejak satu jam lalu, duduk di meja kerja sudut ruangan. Ia mengenakan kemeja kebesaran milik Arkanza, rambutnya diikat asal. Namun, matanya tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk. Ia sedang menatap tajam ke arah layar laptopnya, sementara liontin Safir Biru itu terhubung dengan sebuah kabel data tipis.
Sebagai "Z", instingnya tidak pernah bisa benar-benar rileks. Sebuah perangkat yang diklaim sebagai Kill Switch global pasti memiliki sistem komunikasi tersembunyi.
"Ayo, tunjukkan isi perutmu," gumam Araya. Jarinya menari di atas papan ketik.
[Memindai Perangkat... Dekripsi 85%... 100%]
Mata Araya membelalak. Di layar laptopnya, muncul sebuah log aktivitas yang sangat janggal. Liontin itu mengirimkan sebuah "ping" sinyal kecil setiap sepuluh menit sekali. Dan yang membuat darah Araya berdesir dingin adalah alamat tujuannya.
Sinyal itu tidak dikirim ke server Aditama Group, melainkan ke sebuah satelit pribadi yang sudah dinyatakan non-aktif sejak lima tahun lalu—satelit milik Bramantyo Aditama.
"Bagaimana mungkin satelit mati bisa menerima data?" bisik Araya.
Ia segera membuka log jaringan Wi-Fi hotel untuk memastikan keamanan mereka. Saat itulah ia menemukan keganjilan kedua. Semalam, tepat pukul 02:00 pagi, ada sebuah koneksi keluar dari balkon kamar ini menggunakan perangkat telepon satelit terenkripsi.
Araya menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Hanya ada satu orang yang memiliki akses ke balkon semalam selain dirinya dan Arkanza.
Leon.
Araya segera mencabut kabel data dan menutup laptopnya saat mendengar suara kunci pintu terbuka. Arkanza mulai menggeliat bangun, namun Araya lebih fokus pada Leon yang masuk membawa nampan sarapan dengan wajah tenang seperti biasanya.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Leon datar. "Mobil sudah siap di bawah. Kita harus segera menuju bandara untuk kembali ke Jakarta."
Arkanza duduk di tepi ranjang, memijat keningnya. "Terima kasih, Leon. Siapkan semuanya."
Araya berdiri, berjalan perlahan menuju Leon. Matanya menatap tajam asisten pribadi suaminya itu. "Leon, semalam udara di luar sangat dingin. Kau tidak kesulitan mendapatkan sinyal di balkon?"
Gerakan Leon yang sedang meletakkan cangkir kopi terhenti sesaat—hanya sepersekian detik—sebelum ia kembali tegak. "Saya hanya memastikan keamanan perimeter, Nyonya. Sinyal di sini cukup stabil."
Araya tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Begitu ya? Karena aku mendeteksi ada sinyal hantu yang keluar dari sini. Sinyal yang menuju ke tempat yang seharusnya sudah tidak ada."
Suasana di ruangan itu mendadak mencekam. Arkanza yang menyadari ada ketegangan di antara istri dan asistennya langsung berdiri, mengabaikan rasa sakit di kakinya. "Araya, apa maksudmu?"
Araya mengeluarkan ponselnya, menunjukkan koordinat transmisi semalam. "Arkanza, seseorang di ruangan ini sedang melapor pada 'hantu'. Seseorang sedang mengirimkan koordinat Kill Switch ini ke pihak ketiga yang menggunakan identitas kakekmu."
Arkanza menatap Leon dengan tatapan tidak percaya. "Leon? Katakan padaku ini hanya salah paham."
Leon diam seribu bahasa. Ia tidak membela diri, tidak juga menyerang. Ia hanya berdiri tegap dengan tangan di belakang punggung, namun matanya menatap Araya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa hormat dan peringatan.
Tiba-tiba, ponsel Leon bergetar di atas nampan. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang bisa dibaca oleh Araya:
..."Keluarga Lin sudah mendarat di Zurich. Evakuasi Target sekarang."...
"Leon!" bentak Arkanza, ia mencengkeram
kerah baju Leon. "Siapa yang kau hubungi?!"
"Tuan," suara Leon tetap tenang, "saya tidak berkhianat pada Aditama. Tapi ada hal-hal yang belum saatnya Anda ketahui. Jika kita tidak pergi sekarang, Keluarga Lin akan meratakan hotel ini demi kalung di leher Nyonya Araya."
Tepat saat itu, suara ledakan keras terdengar dari lantai bawah hotel. Guncangan hebat membuat kaca-kaca jendela bergetar.