Dea dijebak oleh kakaknya yang berakhir dia harus ditiduri oleh suami kakaknya yang membuat dia harus mengandung anak dari suami kakaknya dan terpaksa menjadi Madu dari sang kakak hanya karena kebahagiaan sepihak.
Menceritakan Liku-Liku perjalanan kakak adik angkat, yang terjebak dalam hubungan rumit dimana mereka harus berbagi suami yang sama dengan keadaan saling mengikhlaskan.
Zara Aridda sesosok wanita tegar dengan rasa penuh perhatian harus menikahkan suaminya dengan adiknya dikarenakan adiknya telah hamil anak suaminya, namun dia menyimpan rahasia yang besar yang hanya dia yang tahu.
Dea Aninda sesosok wanita yang tak kala tegar nya terpaksa masuk kedalam hubungan pernikahan kakaknya dan menciptakan sebuah keadaan rumit dimana dia terjebak dalam keadaan terpaksa dan kenyataan bahwa dia mulai mencintai suami kakaknya yang kini menjadi suaminya
Siapakah yang akan dipilih Tirta dikala Kedua istrinya sama-sama ingin menyerah
Siapakah yang akan bertahan dalam pernikahan tersebut dan siapakah yang pada akhirnya menyerah
Dan jangan lupa sosok Danu yang selalu ada untuk Zara dan masih menanti cinta Zara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 25: Jadilah. istri Seorang Danu
Sudah sebulan semenjak sidang perceraian antara Tirta dan Zara yang membuat mereka resmi berpisah secara hukum dan tentunya Agama, kini mereka berdua sudah sama-sama menata hati di kehidupan baru mereka.
Tirta dengan Dea yang sedang program kehamilan untuk menghadirkan Tirta junior dan Zara yang masih menata hati dan belum membuka hati untuk siapapun.
Dilain sisi Danu yang sudah lama digantung oleh Zara masih sabar menunggu jawaban Zara namun dia sadar bahwa jika dia tidak melamar Zara dan memaksanya menjawab, maka sampai kapanpun dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun terlebih dia sudah tidak muda lagi untuk menyandang status lajang.
Danu menjalankan brionya dengan kecepatan sedang dan menghentikannya didepan sebuah rumah minimalis bercat putih, rumah bagi keluarga kecil Tirta yang sudah meninggalkan apartemennya sejak sebulan yang lalu.
Danu melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah tersebut, jam ditangannya menunjukkan pukul empat sore, seharusnya Tirta sudah pulang mengajar dan menghabiskan sorenya untuk bersantai dengan Dea.
Setibanya didepan sebuah pintu dengan cat putih senada, Danu segera mengetuk nya, sekali ketukan, dua kali ketukan, tiga kali ketukan sampai Dea membukakan pintu untuk Danu.
"Mas Danu?" lirih Dea menatap sosok pria yang sedang tersenyum dihadapannya.
"Tirta, ada?" tanya Danu menerawang masuk kedalam rumah.
"Ada Mas, masuk dulu, Bang Tirtanya lagi sholat," jawab Dea mempersilahkan Danu untuk masuk.
Danu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah milik Tirta dan duduk di sofa ruang tamu tersebut.
"Sebentar yah Mas, aku panggilin Bang Tirtanya," izin Dea masuk kedalam kamar meninggalkan Danu yang mengangguk disertai senyuman setelah kalimat Dea.
Dea masuk kedalam kamarnya untuk memanggil sang suami yang ternyata sedang berbaring malas ditempat tidur dengan baju koko dan sarung yang melilit pinggangnya setelah sholat azar.
"Bang?" panggil Dea duduk diranjang.
Tirta tidak menggubrisnya, dia lebih memilih menggeliat memperbaiki posisi tidurnya.
"Bang, bangun!" panggil Dea mengguncang tubuh Tirta dengan kesal.
Namun bukannya bangun Tirta malah diam tak bergeming yang membuat Dea kehabisan kesabaran untuk membangunkan suaminya itu.
Dea membalikkan tubuh suaminya kemudian menarik janggutnya paksa yang membuat Tirta tersentak kaget dan duduk dari tidurnya.
"Kamu ngapain sih, by?" tanya Tirta meraba dagunya yang sedikit panas dan perih.
Dea tersenyum geli yang membuat Tirta menatapnya tajam. "Kalau ditanya sama suami itu, yah dijawab, ini malah ketawa,"
"Yah Abang sendiri dibangunin kayak kebo, yah kalau habis sholat tuh dirapihin dulu sajadahnya, ini malah tidur," jawab Dea pada Tirta.
"Emang ada apa sih?" tanya Tirta kembali.
"Ada, Mas Danu didepan, temuin gih," jawab Dea.
Tirta terdiam sejenak. "Ngapain Danu kesini? Tumben,"
"Yah gak tahulah, Abang sana kasian Mas Danunya nunggu aku mau buatin teh dulu," jawab Dea berjalan keluar kamar disusul oleh Tirta dibelakangnya.
Sekeluarnya dari kamar Dea langsung ke dapur sedangkan Tirta menemui Danu yang menunggunya diruang tamu.
"Ada apa Dan? Tumben nyari aku," tanya Tirta duduk dihadapan Danu.
Danu membungkukkan tubuhnya kedepan dan memangku tangannya sendiri kehadapan Tirta. "Aku mau melamar dia,"
"Siapa?" tanya Tirta kembali.
"Zara," jawab Danu mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin dengan mata biru.
Ekspresi Tirta berubah sumringah dan memilih menepuk pundak Danu. "Yah bagus, terus kamu nunggu apalagi,"
Danu terdiam sesaat, ia gusar memainkan kotak cincin itu sampai Dea datang membawa dua cangkir teh untuk Danu dan Tirta.
"Diminum dulu, Mas," ajak Dea duduk disamping suaminya.
Danu tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa Dan? Kok jadi gelisah gitu? Kamu nunggu apalagi?" tanya Tirta kembali.
Danu menghela napas panjang. "Aku takut ditolak sama Zara,"
"Kalian berdua tahukan seberapa keras sifat Zara dan seberapa kekeuh dia untuk gak membuka hati buat pria lain, aku takut ditolak aja walaupun Zara udah janji buat jawab semua pertanyaan ku tentang membuka hati dia, tapi ini sudah sangat lama, dan Zara masih beralasan untuk menata hati," lanjut Danu.
Tirta yang melihat kegelisahan dan kegusaran hati yang kini tengah merundung sosok pria dihadapannya menjadi iba dan salut pada perjuangan Danu selama ini.
Tirta mengelus pundak Danu pelan. "Tahu gak, pas aku lama Zara, tujuh tahun yang lalu, aku persis kayak kamu, ragu, tapi kita harus yakin jika kita ditolak itu bukan berarti kita tidak punya kesempatan lagi, jika aku jadi kamu, aku akan mengungkapkannya karena belum tentu kamu satu-satunya pria yang sedang menaruh hati pada Zara,"
Danu mengangkat kepalanya atas ucapan Tirta barusan yang penuh dengan makna serta motivasi, dia memandang tegap Tirta dan mengembangkan senyumannya. "Terima Kasih Ta, aku bakal lamar Zara, lagipula kedatanganku kesini untuk meminta kalian berdua mendampingiku melamar Zara, kalian tahukan orang tuaku jauh, dan hanya kalian yang paling dekat denganku,"
"Boleh, kapan kamu mau lamar Zaramu itu?" tanya Tirta menatap dalam Danu.
"Sekarang,"
"Hah?" sentak Dea dan Tirta bersamaan.
°°°°°
Danu kini memakai tosro berwarna putih dengan jas hitam membawa sebuket bunga dengan Dea dan Tirta dibelakangnya, berdiri dihadapan rumah Zara.
Jenis lamaran macam apa ini, dengan persiapan tiga puluh menit dan bermodalkan niat serta keberuntungan, Tirta dan Dea hanya bisa pasrah mendampingi pria yang tengah was-was akan hubungan percintaannya kedepannya, apalagi kalau sampai cinta bertepuk sebelah tangan, Tirta dan Dea memilih menutup mata daripada melihat seorang pria yang terluka.
"Udah siap?" tanya Danu pada Tirta.
"Harusnya aku yang nanya kamu, kan kamu yang mau lamar Zara," jawab Tirta yang membuat Dea menahan tawanya.
Danu menghela napas panjang dan mengguncangkan bahunya sendiri. "Bismilah!"
Mereka bertiga berjalan memasuki pekarangan rumah Zara yang sepi, karena hampir sebagai tetangga yang melihat kedatangan tiga orang ini mengintip dari jauh.
Jauh melangkah yang hanya berjarak sekitar sebelas langkah, kini Danu, Tirta dan Dea tiba didepan sebuah pintu bercat biru yang membuat Danu segera mengetuk nya.
Tiga kali ketukan tidak membuahkan apapun sampai Danu sendiri berniat membatalkan niatnya namun siapa sangka di ketukan keempat Zara keluar dan membukakan pintu yang membuat Danu gelabakan.
"Kalian? Ngapain? Kok rapi banget?" tanya Zara beruntun.
Danu, Tirta dan Dea memilih diam tidak menjawab sampai Danu bersimpuh dihadapan Zara dengan menyodorkan kotak cincin tadi dihadapan Zara.
"Za, terserah kalau kamu mau nganggap aku gila atau apa, kamu mau nganggap aku gak sabaran atau sebagainya dan tidak punya malu, niatku kesini hanya untuk memastikan lagi perasaan dari segala pertanyaan ku, jadilah-"
Ucapan Danu terpotong karena gagap dan gerogi yang membuat Zara mengerutkan keningnya.
"J-jadilah,"
"Danu kamu gapapa kan?" tanya Zara sedikit khawatir pasalnya wajah Danu kini pucat pasi dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
Melihat Danu yang gerogi membuat Tirta memutar bola matanya malas dan dengan sengaja menyenggol bagian belakang Danu dengan kakinya.
"Jadilah, Istri seorang Danu!" teriak Danu lancar.
"Abang! Gak sopan tahu!" bisik Dea pada Tirta.
"Yang penting dia lancar," jawab Tirta tersenyum tanpa dosa.
Zara yang mendengar ucapan Danu terfis sejenak, seketika atmosfer disekitar tempat itu berubah drastis yang membuat suasana canggung terjadi diantara mereka.
"Aku perlu waktu Dan,"
"Jawab sekarang, Iya atau Tidak!" ujar Danu menolak.
Melihat itu Dea segera mengoda Zara untuk sekedar meyakinkan nya bahwa Danu adalah pria yang baik dan penuh dengan perhatian sehingga Zara tidak mungkin menyesal.
"Aku gak sempurna Dan! Aku gak bisa punya anak! Kamu gak mau apa punya keturunan!" bentak Zara pada Danu.
Danu berdiri dari posisinya bersimpuh, ia melemparkan kotak cincin itu kepada Tirta yang langsung ditangkap oleh Tirta.
Danu menangkup pipi Zara dan menatap kedua bola matanya tajam seolah meminta sebuah jawaban atas pertanyaannya.
"Aku gak peduli tentang itu, aku gak peduli tentang kekurangan kamu, aku mencintai kamu, bukan fisik mu! Jadi beri aku alasan untuk tidak mencintai kamu selalu kekurangan kamu, Zara," ujar Danu emosional.
Suasana kembali canggung diantara mereka.
"Jawaban sekarang Zara, Iya atau tidak," ujar Danu terbata. "Aku butuh jawabannya sekarang,"
Zara meraih tangan Danu yang menangkup pipinya dan menggenggamnya erat. "Aku-"
- TBC
Tim Zara jawab IYA mana nih?
mubeng2 wae..ra uwis2...😃😃😃